
"Sayang, barang yang kamu maksud tadi itu apa?" Tanya Ana. Setelah keduanya melakukan hal luar biasa tadi.
"Kamu mau pakai sekarang? Atau dipakai besok saja?" Balas Bara berbalik menanyakan. Seraya mengecupi lekuk tubuh Ana. Yang hanya berbalut selimut tebal itu.
Keduanya berada di atas sofa panjang. Yang di sediakan oleh kamar hotel.
"Memangnya apa, sih? Aku jadi penasaran, deh." Ujar Ana bertanyan
"Ada, deh. Tapi... nanti saja pakai nya. Aku mau seperti ini dulu sama kamu." Gumam Bara membalas. Seraya mengeratkan dekapannya memeluk Ana.
"Aku juga, sayang." Tutur Ana lembut. Seraya mengelus dada bidang Bara.
Tidak terasa, keduanya mulai memejamkan mata mereka secara perlahan. Dan waktu malam semakin larut. Dengan jam yang terus berputar. Tanpa sadar, mereka telah ketiduran di sofa itu. Meninggalkan Arbi yang tertidur
sendirian.
~
Tak tik tak tik
Suara putaran yang berasal dari jam dingin terdengar begitu halus. Seseorang rupanya telah terbangun. Tapi di waktu yang tidak tepat. Karena hari, rupanya masih belum menunjukkan tanda-tanda pagi.
"Engh..." gumam Bara. Tangannya bergerak, dan menyadari ada Ana di sisi nya sekarang.
Gurat senyum terukir dengan tulus di wajah nya. Memandangi setiap inci wajah cantik Ana. Tangannya terangkat menyentuh kelopak mata Ana yang terpejam kuat. Lalu turun memainkan hidung bangir Ana. Dan berakhir menyentuh bibir berwarna merah muda.
Cup!
Tidak cukup baginya bila tak menyentuh tempat yang disukainya. Bara mengecup lembut benda kenyal itu. Kedua matanya lalu mencari-cari sesuatu di bawah sana.
'Kamu pasti kedinginan ya?' Gumam Bara dalam hati. Berkata pada Ana.
Dengan lembut, Bara memakaikan pakaian ke tubuh Ana yang polos. Dan hanya terbungkus dengan selimut tebal. Tidak berapa lama kemudian, Bara menggendong Ana ala bridal style. Memindahkannya ke dalam kamar.
Kedua mata Ana masih terpejam kuat. Tidak tahu bahwa dirinya tengah di pindahkan Bara ke kamar. Untuk tidur lebih nyenyak bersama Arbi.
Dari kejauhan, terlihat sesosok malaikat kecil tertidur sendirian. Diatas kasur empuk itu. Sembari mendekap sebuah boneka beruang besar di sebelah nya. Gurat senyum Bara mengukir mengembang. Saat menatap Arbi dari jauh.
SET
Langkah kaki Bara sudah berada di dekat ranjang besar itu. Dengan hati-hati, Bara merebahkan tubuh Ana diatas nya. Ana tampak menggeliat. Dan berubah posisi memiring ke arah Arbi. Bara lalu ikut menjatuhkan tubuhnya di sisi Ana. Memeluk dan mendekapnya dari belakang.
Sampai kedua matanya mulai terpejam kembali.
~ ~ ~
Pagi tiba, di kota Paris. Seseorang bangun dari tidur nya. Setelah semalaman penuh berpetualang menjelajahi alam dunia mimpi. Ana terbangun lebih awal diantara Bara dan Arbi. Kedua matanya membelalak kaget tak percaya. Setelah melihat dirinya berada di atas kasur empuk itu.
'Bukankah semalam aku..' gumam Ana dalam hati.
__ADS_1
Menyadari tubuhnya sudah berbalut pakaian. Dan tidur di kamar bersama Arbi. Ana beralih menatap ke belakang. Bara masih terpejam kuat seraya memeluk erat tubuhnya.
"Sayang... sayang... bangun.." ucap Ana lembut. Membangunkan lelaki yang berstatus sebagai Suaminya itu.
Tangan Ana terangkat mengelus lembut wajah tampan Bara. Mendaratkan beberapa kecupan disana.
"Sayang... kok kita ada disini? Bukannya semalam di sofa, ya?" Tanya Ana. Setelah Bara membuka kedua mata nya.
SET
Bukannya menjawab pertanyaan Ana. Bara justru semakin mengeratkan dekapannya.
"Aku yang memindahkanmu, sayang." Tutur Bara lembut. Seraya mengecup tengkuk leher jenjang Ana.
"K-kamu? Lalu... bajuku juga.." ucapan Ana terpotong.
"Aku juga yang memakaikanmu baju." Balas Bara lembut.
Wajah Ana berubah merona seketika. Dirinya di pakaikan baju oleh Bara. Dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Tidak perlu malu, sayang. Aku kan, Suamimu." Lanjut Bara berucap.
"T-tapi seharusnya kan, kamu membangunkanku dulu." Gerutu Ana sembari mengerucut sebal.
"Aku tidak tega membangunkanmu. Wajah cantikmu begitu teduh. Terlelap dalam mimpi indahmu. Pasti, kamu memimpikan aku ya?" Tanya Bara menerka-nerka.
Wah, Ana memimpikan Bara? Kira-kira mimpi apa, ya?
Eh.
"Ternyata dugaanku benar, dong. Padahal aku hanya menerka saja." Sanggah Bara.
"Tapi kok bisa benar, ya?" Gumam Ana pelan.
"Memangnya kamu bermimpiku bagaimana? Coba ceritakan, sayang." Sambung Bara berkata lembut. Sembari mengendus lekuk tubuh Ana.
"Ah... s-sayang... k-kamunya diam dulu.." ujar Ana terbata.
"Iya, iya." Bara terkekeh pelan.
"Aku semalam mimpi di cium s-seorang." Ana mulai bercerita mengenai mimpi nya.
"Apa orang nya itu aku?" Tanya Bara.
Karena memang dia, yang semalam mencium Ana.
Eh.
"B-bukan." Jawab Ana gugup.
__ADS_1
What's?
Bara mengernyitkan dahi nya sesaat. Agak kecewa setelah mendengar jawaban nya. Tapi mau bagaimana pun, itu hanya mimpi. Bara tak berhak untuk marah pada Ana, kan?
"Yah, kok bukan aku?" Lanjut Bara.
"K-karna wajah orang yang m-menciumku itu... b-buram. Makanya aku t-tidak tahu, sayang." Ucap Ana terbata.
"Fufu, itu karena aku yang menciummu semalam, Ana sayang." Tutur Bara terkekeh kecil. Seraya mengecup lembut kening Ana.
"Kamu nakal, ya!" Ana mendengus sebal.
"Kok nakal? Aku kan, Suamimu yang tersayang." Ujar Bara lembut.
"Ih, pokoknya kamu nakal!" Ana tak terima.
"Iya deh, aku mengalah saja. Hm, bagaimana kalau kita piknik ke taman? Mumpung masih di Paris, tidak seru kalau belum mendatangi Tuileries Garden." Celoteh Bara. Tiba-tiba saja mempunyai ide untuk wisata kunjungan hari ini.
Tuileries Garden adalah taman yang di buka untuk umum pada tahun 1667. Tempat terindah untuk bersantai serta piknik bersama keluarga. Sekaligus bisa melihat keindahan pemandangan dari air mancur nya, dan bunga warna-warni yang tumbuh di sekitar nya.
"Piknik kesana? Tapi... orang-orang bawaan kamu juga ikut, kan?" Tanya Ana cemas.
Bila sesuatu hal terjadi disana, sementara hanya mereka berdua yang pergi mengunjungi tempat itu.
"Iya, mereka semua juga ikut. Dan sebelum kesana, kita berborong makanan dulu. Karena disana hanya ada taman saja, sayang." Tukas Bara.
"Apa? Borong makanan? Apakah akan ada ice cream juga?" Tiba-tiba saja suara Arbi terdengar. Dan ikut nimbrung pada obrolan.
"Arbi sayang? Sudah bangun, ya?" Tanya Ana menyambut malaikat kecil nya yang baru saja terbangun dari alam mimpi nya.
Cup!
Ana mengecupi wajah imut Arbi. Begitu gemas melihat sosok kecil itu. Arbi tampaknya senang. Mendapat begitu banyak perhatian dari Bunda nya.
"Iya, Bunda." Jawab Arbi.
"Wah, anak Ayah sudah selesai berpetualang ya?" Sambung Bara.
"Petualang, Yah?" Tanya Arbi, bingung.
"Kamu lupa, ya? Semalam kan, kita sempat membicarakan itu." Lanjut Bara berucap.
"Aku lupa, Ayah. Tapi... apakah akan ada ice cream juga? Tadi Ayah dan Bunda membicarakan tentang piknik, kan? Berarti akan ada makan besar?" Celoteh Arbi bertanya-tanya.
Arbi kalau dengar kata makanan, sudah lupa dunia. Apalagi bila itu ice cream.
Aih! Gemas nya! ♡
Eh.
__ADS_1