Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 128


__ADS_3

Setelah di cek oleh suster tadi, Ana ternyata sudah memasuki pembukaan sembilan. Yang berarti satu pembukaan lagi, Ana akan memulai kontraksi kedua pada tubuhnya. Bara dengan penuh perhatian, menemani Ana menunggu selama prosesi melahirkannya berlangsung.


Di ruangan persalinan, Ana diminta untuk melebarkan kedua kakinya dengan posisi mengangkang. Dalam hal ini, bertujuan agar mempercepat prosesnya kontraksi pada bayi.


‘untunglah, di ruangan ini yang laki-laki hanya aku sendiri’ gumam Bara dalam hati.


Sampai akhirnya...


“Engh... uh... s-sakit...” keluh Ana tiba-tiba merasakan kontraksi kedua.


Dokter langsung bertindak dengan cepat. Saat Ana kembali mengalami kontraksi. Bara tampaknya agak takut melihat prosesinya. Ia bahkan hanya melihat ke wajah Ana. Memberikan pelukan hangat serta beberapa kecupan di keningnya.


“Sayang... kamu pasti bisa!” bisik Bara lembut. Ana hanya meringis kesakitan dengan dahi yang peluh berkeringat.


“Ayo... sedikit lagi. Kepala bayinya sudah keluar setengah.” Ujar dokter memberitahu.


Detik-detik kemudian...


Telah lahir bayi berjenis kelamin laki-laki. Yang keluar pertama dari rahim Ana. Tak lama kemudian, Ana mengalami kontraksi ketiga. Yakni bayi satunya lagi yang masih berada di dalam sana, baru keluar setelah dua menit lamanya.


Dan bayi kedua Ana berjenis kelamin perempuan. Keduanya lahir dengan keadaan sehat serta selamat. Tak terasa, Ana menitikkan air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Tangis haru bahagia, atas kelahiran putra dan putrinya.


Cup!


Bara mengecup lembut kening Ana. Berulang kali ia mengecupinya. Tak peduli dengan suster dan dokter yang masih berada disana. Melihat keromantisannya pada Ana. Bara lalu mengadzani kedua bayi kembarnya.


Dilihatnya kedua bayi kembar itu, mata Bara tampak berkaca-kaca. Menatap satu persatu malaikat kecilnya. Yang baru saja lahir dari rahim wanitanya.


SET


Nyonya Kertajaya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan persalinan Ana. Karena ia mendengar suara bayi yang baru saja lahir. Ia begitu tak sabar melihat cucu-cucunya.


Wajah yang sudah tak lagi muda itu menampakkan gurat senyumnya. Yang terukir haru pada ekspresinya. Nyonya Kertajaya terlihat menyeka sudut matanya.


Mungkinkah ia menangis?


“Selamat, Ana! Mama bangga padamu, Nak. Maafkan Mama yang dulu pernah jahat padamu.” Tutur Nyonya Kertajaya sedu. Seraya menatap ke arah Ana.


“Terima kasih, Ma. Mama tidak perlu meminta maaf berulang kali, aku pun sudah memaafkan Mama untuk itu.” Balas Ana sedu.


“Kapan Ana bisa di pindahkan ke ruangan perawatan, dok? Bayi-bayiku juga ikut bersama Ibunya.” Tanya Bara pada sang dokter wanita itu.


“Sesudah di bersihkan, Ibu dan bayi-bayi ini akan langsung di pindahkan ke ruangan perawatan. Mohon bersabar ya, Tuan muda.” Sambung dokter.


Bara lalu mengangguk pelan. Ia hanya perlu bersabar sedikit lagi. Menunggu Ana dan bayi-bayinya dibersihkan oleh keempat suster itu.


“Terima kasih... sayangku.” Ucap Bara lembut dan berbisik di telinga Ana.


Cup!

__ADS_1


Sebuah kecupan di daratkan Bara pada tengkuk punggung tangan Ana. Kulit Ana begitu hangat saat di sentuh Bara.


“Sayang... aku... mau langsung pulang saja.” Pinta Ana sedu.


“Mau di rawat dirumah?” tanya Bara lagi. Ana lantas mengangguk pelan.


“Kamu tunggu sebentar, sayang. Aku akan menemui Pak John.” Sanggah Bara seraya mengecup lembut kening Ana.


Bara lalu meninggalkan ruangan itu. Kakinya melangkah pergi, berjalan ke luar. Matanya mencari-cari sosok Pak John disana.


“Pak John!” panggil Bara. Pak John rupanya sedang terduduk di kursi tunggu itu.


“Ya, Tuan muda?”


“Tolong beritahu dan minta pihak rumah sakit, untuk menyiapkan perawatan jalan pada Ana. Semuanya di siapkan dan dibawa saja ke rumah utama. Karena Ana tidak ingin berlama-lama dirumah sakit.” Perintah Bara.


“Baik, Tuan muda. Apa ada lagi?”


Bara tampak berpikir sesaat.


“Semua yang dibutuhkan Ibu dan bayi saat baru lahir. Siapkan semuanya!” lagi, Bara memerintahkan tugas itu pada Pak John.


Seorang asisten sekaligus sekretaris pribadi untuk Bara. Pak John sekretaris lain dari yang lain.


________


Kepulangan Ana dan Bara di sambut hangat oleh Arbi kecil di rumah utama. Anak itu berlarian menghampiri Ayah serta Bundanya.


“EIT! Tidak boleh dekat-dekat dengan Bunda dulu. Bunda masih sakit, Arbi.” Tukas Bara menahan pergerakan Arbi.


Pria kecil itu lantas kebingungan.


“Apa? Bunda sakit, Yah?” Tanya Arbi. Bara lalu mengangguk cepat.


“Sakit apa, Bunda?” ucapnya lagi bertanya.


“Bundamu habis melahirkan, Nak. Adik bayi sudah lahir ke dunia.” Sanggah Nyonya Kertajaya. Yang tiba-tiba muncul dari belakang. Sembari mendorong keranjang bayi di kedua tangannya.


Mata Arbi tampak berbinar seketika.


“Adik bayi sudah lahir, Nek?”


“Iya, kamu mau lihat? Tapi, jangan dekat-dekat ya! Soalnya, Adik bayinya masih belum boleh di ajak bermain.” Sambung Bara.


“Sayang... aku mau langsung istirahat ke kamar.” Tutur Ana meminta Bara agar membawanya ke kamar.


“Eh, aku lupa, sayang. Ini nih, gara-gara Arbi. Yang bertanya terus seperti wartawan.” Gerutu Bara dengan lawakan nya.


“AYAH!” teriak Arbi tak terima. Seraya berkacak pinggang, dengan wajah masam. Dan bibir kecilnya tampak mengerucut ke depan.

__ADS_1


Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Ana menjadi lebih diam dari biasanya. Mungkinkah ia sangat kelelahan. Karena nya, sudah melahirkan dua bayi sekaligus. Bara pun tidak tega melihatnya. Namun, sebisa mungkin Bara terus mengajaknya bicara. Dan memberikan perhatian-perhatian kecil pada Ana.


Agar, Ana tak lagi mengalami baby blues seperti sewaktu saat lalu.


Kejadian yang tidak akan pernah lagi Ana alami. Kali ini, Bara berusaha untuk jadi seorang Suami sekaligus Ayah yang baik. Bagi Ana maupun anak-anaknya. Usia muda bukan jaminan, seseorang tak bisa berlaku dewasa.


Bahkan ada yang usianya sudah cukup matang, namun sikapnya masih terbilang kekanakan. Egois, dan mau menang sendiri. Apalagi tidak mengerti keadaan Istri maupun rumah tangga. Itu yang menyebabkan, banyaknya Ibu muda saat ini mengalami baby blues.


Baby blues hanya dialami oleh wanita dan terjadi akibat adanya perubahan hormon usai melahirkan. Kendati demikian, masyarakat awam lebih mengenalnya dengan istilah baby blues.


Ada yang membedakan, antara baby blues dengan postpartum. Baby blues umumnya lebih disebabkan oleh perubahan fisiologis yang dialami ibu setelah melahirkan, dan intensitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Sementara postpartum depression lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor psikososial seperti stres berlebih yang dialami ibu.


Dan Ana, mengalami keduanya pada waktu lalu.


"Sayang... mau makan?" Tanya Bara lembut pada Ana. Setelah keduanya berada di dalam kamar. Sementara baby twins, tengah tertidur lelap di dalam keranjang bayi. Tepatnya ada bersebelahan dengan ranjang mereka.


"Baby kita dimana?" Bukan menjawab, Ana justru berbalik menanyakan baby twins pada Bara.


"Di sebelah kita," sambung Bara membalas.


"Aku mau susui mereka.." lanjut Ana.


Bara mengangguk pelan, dan beranjak bangun dari ranjang. Berjalan mendekati keranjang baby twins. Dilihatnya kedua bayi mungil itu. Terukir gurat senyum di wajah Bara. Menatap wajah imutnya mereka.


Pelan-pelan, Bara menggendong bayi itu satu persatu secara bergantian.


"Sayang... yang perempuan, wajahnya mirip kamu. Kalau yang laki-laki, mirip sama Arbi." Gumam Bara lembut berkata. Sembari mengecupi bayi kembar itu.


"Iya, dia mirip sekali denganku." Balas Ana sedu. Suaranya terdengar lemah bak tak bertenaga.


"Kamu makan, ya? Aku minta pelayan untuk ambilkan kesini." Tutur Bara tak tega. Ana lalu mengangguk pelan.


TUT!


Bara memencet telepon rumah yang ada di sebelah ranjangnya. Menelepon pelayan, agar membawakan semua makanan ke dalam kamarnya. Tak lama setelah itu, pintu kamar Bara diketuk beberapa kali.


Tok tok tok


"Masuk!" Sahut Bara.


Pintu kamar terbuka, menampakkan satu orang pelayan wanita paruh baya. Berjalan masuk ke dalam kamar Bara. Sembari mendorong trolly makanan di kedua tangannya.


Selesai menaruh semua makanan itu diatas meja, pelayan tadi langsung bergegas pergi. Bara mengambil satu porsi makanan berat serta jus buah yang di siapkan untuk Ana. Sesuap demi sesuap nasi dan lauk, ia suapkan ke dalam mulut Ana.


Wajah Ana langsung berubah berbinar. Setelah kenyang makan dan meminum jus. Rasa kekhawatiran Bara mulai lega sekarang.


Cup!


Bara mengecup lembut kening Ana.

__ADS_1


'Akhirnya kamu sehat lagi, An!' Gumam Bara dalam hati tersenyum lega.


__ADS_2