Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 119


__ADS_3

Hujan, rintik an nya begitu menangkan. Warna langit berubah lindap. Dersik yang samar-samar terdengar di telinga. Suasana pagi kali ini tak seindah pagi kemarin.


Meskipun langit mendung tak bergeming, asmaraloka di antara Ana dengan Bara tetap sehangat dan seindah mentari pagi. Yang biasanya bersinar benderang menyinari bumi. Itu karena, kedua cinta mereka tak akan pernah pudar. Walau badai berusaha mengusik.


Janji Bara pada Ana, yang ingin kerja dari rumah. Namun ternyata harus pupus. Pak John mengirim beberapa laporan ke apartemen Ana. Menerobos jalan saat hujan turun.


SRAGH!


Pak John keluar dari dalam mobilnya, seraya membuka payung besar itu. Kakinya melangkah mengendap-endap. Berusaha menghindari genangan air, yang tampak disekitar nya.


Tombol bel di tekan berulang kali oleh Pak John. Setelah sampai berada di depan pintu apartemen Ana. Pintu terbuka, dan keluarlah seseorang dari dalam sana.


“Pak John? Bukankah sudah pernah katakan sebelumnya?” ujar Bara.


“Benar, Tuan muda. Tapi ada satu investor yang bersikukuh, agar rapat hari ini di pimpin langsung oleh pimpinan dari perusahaan kita.” Jawab Pak John memohon.


Bara tampak menghela napas panjang.


“Memangnya Anda tidak bilang? Kalau Istri saya sedang hamil besar,” protes Bara. Menolak permohonan investor itu.


“Sudah, saya bahkan mengatakannya berulang kali. Tampaknya orang itu memang tetap bersikukuh. Dan dana yang di investor kan untuk perusahaan kita jumlahnya tidak sedikit, Tuan muda.” Lanjut Pak John berucap.


“Kalau begitu tunggu sebentar. Kau boleh masuk dan tunggu di ruang tamu. Aku akan bicarakan ini pada Ana terlebih dulu.” Tutur Bara membalas. Pak John mengangguk paham.


Bara masuk lagi ke dalam apartemennya. Diikuti Pak John yang mengekor di belakang. Wajah Bara terlihat begitu kusut. Berat baginya untuk pergi meninggalkan Ana seorang diri. Terlebih, Ana yang tengah hamil besar.


Kriek!


Knop pintu kamar di putar Bara. Degup jantungnya berdebar cepat. Hatinya begitu ragu untuk mengatakannya pada Ana.


Kedua mata Bara melihat Ana dari kejauhan. Wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya. Seperti sedang mengajak bayinya berbicara dari hati ke hati.


“Sayang...” panggil Bara. Suaranya langsung membuyarkan pikiran Ana.


Bara berjalan mendekatinya.


HAP!


Kedua tangan Bara bergelayut manja memeluk Ana dari belakang. Beberapa kecupan di daratkan pada tengkuk leher Ana. Wanita itu lantas mendongak dan menatap Suaminya.


Cup!


Kecupan terakhir yang mendarat pada kedua bibir mereka. Sentuhan manis yang begitu memabukkan. Membuat Bara semakin enggan untuk pergi.


“Ada apa?” tanya Ana. Seperti ada kontak batin. Ana tampaknya mengetahui sesuatu.


“Kamu tahu?” ucap Bara berbalik menanyakan. Ana menggeleng pelan.


“Kayaknya kamu ada sesuatu yang mau di utarakan ke aku,” jawab Ana lembut.


“Hm, iya. Aku sebenarnya nggak mau pergi. Tapi Pak John sudah menunggu di luar. Bagaimana ini, sayang? Aku gak mau jauh dari kamu.” Tutur Bara sembari mengecupi wajah cantik Ana.


“Kamu... mau ke perusahaan lagi?” Bara lantas mengangguk cepat.


“Investor tertinggi menginginkan aku untuk hadir pada rapat penting. Dan jatuhnya itu hari ini. Aku... harus bagaimana sekarang?” desah Bara seraya tertunduk sedu.

__ADS_1


Tangan Ana terangkat, menyentuh wajah tampan Bara.


“Sayang... aku nggak apa-apa, kok. Kamu ‘kan juga sedang dibutuhkan perusahaan sekarang. Yuk, ganti baju! Pak John sudah menunggu lama di luar. Tidak enak, bila Pak John kelamaan duduk di sana.” Ujar Ana lembut seraya mengelus lembut wajah Bara.


Ekspresi wajah Bara tertiba kusut lagi. Dengan cepat, ia langsung mendekap Ana. Membawanya ke dalam pelukannya.


“Aku jadi nggak mau pergi, kalau kamu nya begini.. sayang.” Ucap Bara sembari mengeratkan pelukannya.


“Nanti kan, bisa ketemu lagi.” Sahut Ana lembut.


“Aku janji, akan pulang cepat. Aku akan minta Pak John untuk jemput bawa Arbi dan satu pelayan dari rumah utama ke apartemen kita.” Sambung Bara. Ana mengangguk pelan, sembari tersenyum manis mengembang.


Setelah meminta izin pada Ana, Bara langsung berganti baju. Dan kembali menemui Pak John yang sudah menunggunya di ruang tamu.


“Tolong bawakan Arbi dan satu pelayan wanita ke apartemen ini! Aku akan pergi ke perusahaan, setelah mereka datang kesini.” Tukas Bara, memberikan perintah pada Pak John.


“Baik, Tuan muda. Saya akan menelepon kepala pelayan di rumah utama.” Jawab Pak John, sambil mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam jas hitamnya.


Agak lama, mereka menunggu kedatangan Arbi dan pelayan dari rumah utama. Sembari menunggu, Bara kembali masuk ke dalam kamar. Menemani Ana yang tengah menonton drama Korea.


“Maaf, aku lagi-lagi tidak bisa menepati janjiku.” Gumam Bara sedu.


“Kan bukan salahmu juga, sayang.” Balas Ana lembut. Sembari mengelus lembut wajah Bara.


“Kamu baik banget, An. Aku jadi nggak tega.. ninggalin kamu nya.” Tutur Bara sedu.


Kedua wajah itu di dekatkan. Hingga adanya tabrakan pada hidung keduanya. Bara mengecupi bibir Ana berulang kali. Sebelum ia pergi nanti.


Saat tengah dalam balutan kasih. Tanpa mereka sadari, bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikan dari dekat pintu kamar.


Ya—orang itu sudah membuka kamar pribadi Ana dan Bara.


“Ayah!!!”


Bara dan Ana lantas kelabakan. Begitu terkejut ketika mendengar suara Arbi datang. Dan lebih tepatnya lagi, pria kecil itu rupanya sudah melihat kemesraan Ayah dan Bundanya.


“Ayah kenapa cium, Bunda?! Bunda itu punyaku!!! Ayah nggak boleh cium-cium Bunda!” gerutu Arbi kesal, sembari berjalan mendekati keduanya.


“E-eh, Arbi kok nggak bilang-bilang sih? Kalau udah datang kesini.” Balas Bara kikuk, dan Arbi langsung mendorong Ayahnya. Agar tidak berdekatan dengan Ana.


“Bunda, aku juga mau di cium Bunda.” Tukas Arbi. Bibirnya mengerucut ke depan.


Sepertinya Arbi merajuk. Eh!


“Sayang.. kamu nggak boleh begitu sama Ayah. Bunda nggak suka, ah. Kalau Arbi tidak sopan pada Ayah.” Balas Ana ikut-ikutan merajuk.


“B-bunda marah sama aku?” Tutur Arbi sedu. Matanya berkaca-kaca menatap sang Bunda.


“Bunda nggak marah, tapi Arbi yang marah sama Ayah.” Ucap Ana menjawab.


Bara terkekeh geli, saat Arbi cemburu pada Ayahnya sendiri. Ia lantas kembali mendekati Ana.


“Arbi marah? Ayah cium Bunda. Kan, Ayah itu Suaminya Bunda.” Bujuk Bara, berusaha menjelaskan pada anaknya. Lelaki kecil itu tampak mendengarkan dengan saksama.


“Ayah cium Bunda, itu karena Ayah sayang banget sama Bunda. Arbi juga mau? Kalau Ayah cium Arbi.” Sambung Bara berucap. Dari ekspresinya, Arbi seperti terkikik geli. Mendengar akan di cium Ayahnya sendiri.

__ADS_1


“Kenapa? Arbi geli?” lanjut Bara bertanya. Arbi diam tak bergeming. Bara lantas mendekati lelaki kecil itu, yang mirip dengan wajahnya.


Cup!


Bara mengecup kening Arbi lembut.


“Kamu kenapa geli, sama Ayah? Dulu sewaktu bayi, kamu diam aja. Kalau Ayah cium kamu.” Celetuk Bara lagi.


“Ya beda dong, sayang. Arbi kan, sekarang sudah besar.” Sanggah Ana.


“Iya juga, ya. Karena Arbi sudah datang, aku dan Pak John harus pergi sekarang. Kamu kalau butuh sesuatu, bilang sama pelayan itu ya, sayang? Dia ada di luar bersama Pak John.” Tutur Bara seraya mengecup kening Ana dan Arbi secara bergantian.


“Kamu hati-hati di jalan. Bilang Pak John, supaya tidak mengebut saat menyetir mobilnya.” Balas Ana lembut. Bara mengangguk pelan sembari tersenyum manis mengembang.


Kriek!


Bara keluar, setelah lama berada di dalam kamar. Terlihat Pak John sedang mengatakan sesuatu pada pelayan wanita itu. Usianya seperti tidak jauh berbeda dengan Pak John. Ya, itu karena semua pelayan di rumah utama rata-rata berusia 30an hingga 40 tahunan.


“Bisa kita pergi sekarang, Tuan muda?” tanya Pak John pada Bara. Setelah menyadari kehadirannya di sana. Bara mengangguk cepat.


Bara dan Pak John pergi. Seperginya mereka berdua, Ana dan Arbi keluar dari kamar. Tidak banyak mengerjakan sesuatu. Selain menemani Ana dan Arbi di apartemen mereka. Kehadiran pelayan itu cukup membantu Ana. Yang begitu kesulitan melakukan ini dan itu.


Membantu menyiapkan makanan, serta memapah Ana berjalan ke dalam toilet. Ia juga begitu konsisten saat bersih-bersih ruangan. Seperti sudah sangat terlatih dalam bekerja. Itu karena, semua pelayan di rumah utama sudah bekerja selama bertahun-tahun lamanya.


Dan gaji yang mereka terima pun, tidak sedikit jumlahnya. Makanya, mereka benar-benar-benar serius dalam bekerja.


“Nyonya membutuhkan sesuatu?” Ujar pelayan itu bertanya pada Ana.


“Aku mau minum jus buah strawberry, Mbak. Tolong dibuatkan, ya?” jawab Ana.


“Baik, Nyonya muda.” Sahutnya membalas permintaan Ana.


Ana tampaknya senang, dengan adanya seorang pelayan di apartemennya. Ia jadi sedikit lebih tenang. Tak khawatir, bila ada sesuatu terjadi. Saat tak ada Bara di sisinya.


Saat sedang menunggu jus datang, Ana menemani Arbi yang tengah sibuk pada buku gambarnya.


“Arbi gambar apa, sayang?” tanya Ana. Pandangannya melihat ke arah kertas gambar Arbi. Terlihat ada satu keluarga. Yang di gambar oleh Arbi.


Ada Ayah, Ibu, seorang anak kecil, dan dua bayi. Di gambar itu, mereka tampak tersenyum bahagia. Sepertinya Arbi menggambar keluarganya.


Melihat itu, gurat senyum Ana terukir begitu saja. Ia senang, Arbi begitu sayang pada keluarganya.


“Bagus tidak, Bunda?” tutur Arbi bertanya. Meminta pendapat pada Ana.


“Bagus, Bunda suka. Arbi pintar!” puji Ana seraya mengecup lembut kening Arbi.


“Aku juga mau dong, Bunda.” Sambung Arbi.


“Arbi mau apa?” tanya Ana penasaran.


“Di cium Bunda, seperti Ayah tadi.”


Nah, loh!


Ana langsung tergelak kaget. Kedua matanya membulat.

__ADS_1


“Cium bibir Arbi juga, Bunda.” Pinta Arbi lagi.


Apa yang akan dilakukan Ana selanjutnya?


__ADS_2