Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 24


__ADS_3

Mata kuliah Bara telah selesai, ia pun langsung pergi menemui Ana di kelasnya. Sepertinya, Bara sudah menjaga jarak dengan Arka sekarang. Lebih tepatnya hubungan persahabatan mereka telah renggang saat ini. Bara masih tak menyangka Arka akan benar-benar jatuh cinta pada Ana. Ia takut Arka akan merebut Ana darinya. Bahkan hatinya saat ini telah benar-benar jatuh ke dalam pelukan Ana. Semakin hari cintanya semakin bertambah subur bak tanaman yang disirami oleh air kehidupan.


Bara bergegas keluar kelas setelah semua teman-temannya pergi. Tak terkecuali Arka yang masih berada di dalam kelas bersamanya. Biasanya mereka akan pulang bersama, namun sekarang semuanya sudah berbeda. Bara meninggalkan Arka seorang diri di dalam kelas. Ia justru sudah tak peduli pada Arka.


Dengan langkah cepat ia berjalan menyusuri beberapa koridor kampus untuk sampai ke ruang kelas Ana. Sesampainya disana, ia melihat Ana masih belum selesai dengan kelas keduanya yang baru saja di mulai.


Dengan sabar ia menunggu Ana di depan kelasnya sembari duduk dan mendengarkan lagu menggunakan earphone nya. Sudah satu jam berlalu, mata kuliah Ana yang kedua telah selesai. Saat sedang asyiknya mendengarkan lagu sambil memainkan game di ponselnya, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.


Spontan Bara terkejut dan menoleh.


“Eh sayang, sudah kelasnya?” Rupanya itu Ana.


“Sudah, kamu belum makan kan?” Bara menggeleng.


“Ya sudah kita ke kantin dulu, aku juga lagi pengin makan rujak nih hehe.” Ucap Ana.


“Kamu yang mau rujak atau dedek nya?” Tanya Bara sembari mengelus perut Ana pelan. Untungnya semua sudah pergi, semua dosen dan teman-teman kelasnya Ana.


“He he, enggak tahu deh sayang. Ayuk ah! Aku sudah lapar nih.”


“Iya cinta, yuk!”


Mereka pun pergi menuju kantin kampus sembari bergandengan tangan dan menggenggam erat satu sama lain. Cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Meskipun diawali dengan takdir yang tak diinginkan. Ana sudah menjatuhkan hatinya pada Bara. Dan Bara pun sama halnya pada Ana. Cinta yang sama besar dan kuatnya membuat mereka tak ingin berjauhan satu sama lainnya. Memang kalau sudah menemukan orang yang tepat, akan terasa indah menjalani hari-harinya yang penuh cinta dan kehangatan akan kasih sayang dari dua hati yang saling mencintai.


Bara dan Ana berjalan dengan wajah ceria dan penuh cinta. Tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang terus memperhatikan mereka berdua. Bara menatap wajah Ana yang terus mengembangkan senyumannya. Ada rasa iba melihat ekspresi wajah Ana begitu. Padahal seharusnya ia tak seceria itu.


Menikah dengannya adalah suatu pengorbanan dan perjuangan yang tak mudah untuk melewatinya. Gumam Bara dalam hati. Ia merasa hatinya semakin sayang dan cinta pada Ana. Tak tega bila suatu waktu Mamanya membawanya pergi ke luar negeri. Dia takut itu terjadi. Meninggalkan orang terkasih yang amat sangat ia cintai seorang diri dalam keadaan hamil mengandung anaknya.


Tak lama, Bara pun sadar akan lamunannya pada Ana. Segera ia tepis semua bayangan buruk itu. Genggamannya pada tangan Ana masih belum ia lepaskan, perlahan ia mengangkat tangan itu dan mencium tengkuk tangan Ana.


“Aku mencintai kamu, Ana.” Bisik Bara di telinga Ana. Spontan Ana merasakan ada getaran yang kuat dihatinya. Jantungnya berdegub cepat. Ia tersenyum menatap mata Bara.


Sesampainya mereka di kantin, Bara menyuruh Ana untuk duduk dan menunggunya membelikan makanan pesanannya. Duh romantisnya Bara. Author jadi pengin nih. Eh.


“Kamu duduk aja sayang, biar aku yang beli. Kamu mau pesan apa? Selain rujak.” Tanya Bara.


“Hm, aku mau nasi ayam gepuk deh. Nasinya nasi merah ya sayang.” Ucap Ana.


“Itu saja? Gak mau nambah lagi?”


“Enggak, memangnya kenapa?”


“Kan kamu sekarang sudah ada baby di dalamnya. Takutnya nanti lapar lagi, dan gak kenyang.” Peka banget sih, Bar.

__ADS_1


Author juga mau deng punya Suami kayak Bara. Eh.


“Uh manisnya Suamiku!” Ana mencubit pipi Bara kecil.


“Kamu gemas ya? Hehe.”


“Iya, kamu peka banget deh. Ya sudah, kalo gitu pesannya dua ya, buat aku. Kamu pesan apa sayang?” Tanya Ana. Bara nampak senyum-senyum tidak jelas menatap wajah Ana.


“Disamakan saja deh kayak kamu. Kamu kenapa cantik banget sih sayang? Aku heran deh. Hehehe.” Dasar cumi, kemana aja kamu hei?!


“Kamu tanya sama aku, ya tanyanya sama penciptaku lah. Tuhan kita. Udah, kamu kapan pesannya? Aku udah lapar banget nih.” Ucap Ana yang sudah tidak sabaran.


“Oh iya, sebentar ya sayang. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana. Oke?”


“Oke, cintaku.” Ucap Ana sembari mengedipkan matanya. Ana udah mulai kena virus buaya nih kayaknya bund. Gara-gara si bekicot Bara. Eh.


“Oh sayang. Aku gak sabar mau pulang nih.” Bisik Bara di telinga Ana sembari beranjak bangun dan pergi membeli pesanan mereka.


Tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima menitan Bara pun datang bersama dua orang pelayan yang membawa pesanan mereka. Yang satu membawa pesanan rujak Ana, dan yang satunya lagi membawa pesanan ayam gepuk mereka berdua. Dan tak lupa dengan minumnya air mineral.


“Makasih ya, Bu.” Ucap Ana pada dua orang pelayan itu.


“Iya, sama-sama nak.” Balasnya dan pamit pergi. Tinggalah mereka berdua.


“Iya. Mau di suapi kan?” Ana seperti sudah paham dengan rengekan Bara.


“Kamu kok tahu?” Ya iyalah, biasanya juga begitu kalo mau makan ngerengek dulu. Eh.


“Biasanya juga begitu kan? Kesini, aaa.” Ucap Ana sembari menyuapi Bara.


Dasar manja. Huh!


Saat mereka sedang suap-suapan, tiba-tiba Arka datang sambil membawa beberapa tumpukkan buku ditangannya.


“Hm, lagi pada makan ya? Aku ganggu gak nih?” Tutur Arka.


Bara yang awalnya sedang senang suasana hatinya tiba-tiba berubah mendung penuh amarah.


“Sudah tahu ganggu pakai nanya lagi!” Ucap Bara ketus.


“Bar, gak boleh gitu. Dia kan teman kamu.” Ana belum tahu kalau mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.


“Kamu kok jadi bela-in dia sih? Aku Suamimu, bukan dia!” Bara berubah jadi emosional.

__ADS_1


“Ka.. Kamu jadi emosi gitu sih, sayang? Aku gak bermaksud buat kamu marah.” Ucap Ana yang sedikit gugup dengan sikap Bara yang berubah.


“Gak apa-apa Kak, dia mungkin gak suka ada aku disini. Kalau gitu aku pergi dulu. Jangan lupa Kakak juga makan ya! Aku permisi!” Sikap Arka yang lebih dewasa dibanding Bara spontan membuat Ana kagum dengannya.


“Aku sudah kenyang.” Bara berucap dingin saat Ana hendak menyuapinya lagi.


Sikapnya Bara kekanakan dan manja memang menggemaskan. Tapi sikap dewasa yang dimiliki Arka membuat Ana tersenyuh hanya dalam hitungan detik. Apakah Arka akan merebut Ana dari Bara?


“Kamu kenapa sih, Bar? Tiap kali ada Arka bawaannya emosi mulu. Dan kamu selalu melampiaskannya ke aku. Aku salah apa sih sama kamu?” Tanya Ana dengan banyaknya pertanyaan.


“Kamu gak salah, aku yang salah!” Ucap Bara dingin sambil beranjak pergi dari tempat duduk. Ia berniat untuk pergi meninggalkan Ana seorang diri di kantin. Dasar egois!


“Kamu mau kemana? Makanannya belum habis, Bara. Aku juga belum sempat makan gara-gara menyuapi kamu terus dari tadi.” Ucap Ana menahan Bara untuk tidak pergi. Tapi Bara sudah terlanjur terbawa emosi. Ia menepis tangan Ana dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Ana.


“Kamu kenapa sih, Bar? Kalo kamu dingin begitu aku jadi sedih.” Ucap Ana lirih sambil memandang punggung Bara yang semakin menjauh dari pandangannya. Buru-buru Ana membereskan semua makanannya dan membukusnya untuk dimakan nanti.


Apakah rasa cinta itu bisa hilang dalam sekejap? Apa yang terjadi diantara mereka berdua? Kenapa aku juga harus terlibat dalam permasalahan mereka? Gumam Ana dalam hati sambil melangkah pergi meninggalkan kantin juga. Berniat langsung balik ke kosan dengan hati yang rapuh.


Rasanya baru saja tadi hatinya berbunga-bunga, namun kini hilang tergantikan perasaan kecewa.


Arka yang memperhatikan Ana dari kejauhan melihatnya dengan tatapan iba. Sebenarnya Arka tidak benar-benar pergi, ia hanya berpindah tempat agar tak terlihat oleh Bara. Melihat Ana dengan wajah yang murung, Arka berniat untuk mengikutinya. Ia khawatir takut terjadi sesuatu dengan Ana. Apalagi dengan kondisinya yang tengah hamil muda.


“Dasar brengsek! Istrinya lagi hamil muda malah dia yang pengin di manja-manja. Sekarang malah ditinggal pula. Gak tahu diri lo, Bar! Lihat saja nanti, gue bakal rebut Ana dari lo!” Gumam Arka emosi. Dengan sigap Ia sudah berada di belakang Ana dan menjaga jarak sedikit agar tidak diketahui oleh Ana.


Saat Ana sudah mendekati gerbang pintu keluar kampus, Ia melihat Bara tengah mengobrol dengan seseorang yang Ia kenal. Iya, dia Ibu mertuanya. Mau apa dia? Gumam Ana bertanya dalam hati. Dengan hati-hati Ia mendekat dan menghampiri ke arah mereka.


Terdengar ada suara perdebatan diantara mereka. Arka yang berada di belakang Ana langsung berpindah posisi, agar tidak terlihat oleh Bara.


“Mama gak ngerti sama pola pikir kamu, Bara! Apa sih kelebihan dari wanita udik itu ha? Dia bahkan bukan dari golongan yang sama seperti kita! Mama sudah menyiapkan tiket pesawat untukmu pergi ke Aussie. Papamu juga sudah lebih dulu berangkat ke sana dan mengurus semua pendidikanmu. Kamu pindah kuliah ke sana. Gak lama Mama juga akan menyusul juga.”


“Mama kenapa sih? Selalu ngatur hidup aku! Mama lupa ha? Dulu bukannya Mama gak peduli dengan keadaanku? Kenapa mendadak tiba-tiba berubah jadi sok peduli? Gak cukup ngatur hidup aku?”


“Kamu tuh ya...” Ny. Kertajaya terhenti dengan ucapannya ketika melihat Ana datang.


“Hei! Wanita udik! Bagus kamu sudah ada disini. Dengar ya! Mulai saat ini, jauhi Bara. Dia akan ku bawa untuk pindah ke Aussie bersama dengan Papanya. Lupakan Bara dan mulai hidupmu kembali seperti dulu.”


Perkataan Nenek lampir itu seketika membuat hati Ana sakit. Bara melihat wajah Ana yang berubah sendu seketika menjadi merasa bersalah dengan tindakan egoisnya tadi.


“Ma, cukup! Ana itu Istriku! Mama gak bisa menjauhkan aku darinya. Karena Ana sedang hamil saat ini.” Spontan si Nenek lampir itu terkejut bukan main.


“Apa?! Ja.. Jadi dia sudah.. Bara! Kenapa kamu menghamilinya ha? Mama akan tetap menjodohkanmu dengan Farah. Apapun kondisinya, mau dia hamil atau pun tidak Mama gak peduli. Kalau perlu gugurkan saja kandungan itu.” Dasar wanita keji! Enak aja main nyuruh gugurin segala. Hei! Belum pernah di sodorin sapu nih si Nenek lampir


“Cukup, Ma!! Aku muak dengan ocehan Mama yang terus menghina Ana. Jangan pernah sekalipun Mama menyuruh untuk menggugurkan bayi itu! Dia itu anakku!!”

__ADS_1


Bagaimana dengan kelanjutannya? Apakah pernikahan Ana dan Bara berakhir sampai disana?


__ADS_2