Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 75


__ADS_3

Esok harinya, Ana dan Bara pergi menemui Arbi.


"Kamu udah siap?" tanya Bara.


Tangannya menyentuh pundak Ana. Menghadap ke arah cermin rias di depannya. Ana sudah selesai memakai polesan makeup natural. Dan hijab pashmina hitam yang menutupi seluruh rambutnya.


"Udah, kamu?" jawab Ana berbalik tanya.


Cup. Bara mengecup lembut kening Ana.


"Udah dong, sayang. Ini aku lagi nunggu kamu, he he." Bara terkekeh seraya menatap wajah Ana lewat cermin.


"Cantik." Ujar Bara memujinya.


Ya terus, menurutmu? Aih.


"Thank you, sayang." Balas Ana sambil mengecup manis bibir Bara.


Enaknya punya ayang, srepet... pet.. pet.. pet..


Eh.


"Udah, yuk! Arbi pasti udah nunggu kita." Sambung Ana lagi, mengajak Bara untuk segera pergi menemui sang buah hati.


"Yuk!" Jawab Bara. Tangannya menggenggam erat jemari Ana.


.........


Singkat cerita, mereka telah tiba di depan sekolah Arbi. Tempat yang biasa mereka datangi untuk menemui Tuan muda kecil. Wajah Ana terlihat berbinar. Ceria dan tampak tak sabar menemui sang buah hati.


Bara menatapnya diam-diam. Dari arah samping sisinya.


...'Ana, aku pasti akan memenuhi keinginan kamu. Agar kita bisa bersatu lagi dengan Arbi.' Gumam Bara dalam hatinya....


Tak berapa lama, Arbi muncul dari arah depan. Sepertinya Tuan muda kecil telah menyelesaikan sekolahnya hari ini. Wajahnya terlihat sama berbinarnya dengan Ana. Kaki kecilnya berlari ke arah Ana dengan sangat riang.


"Bunda!!!" panggil Arbi dengan suara lantang sembari merentangkan kedua tangan kecilnya.


"Sayang, anak Bunda!" ujar Ana meraih tangan kecil itu. Dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Arbi sayang Bunda!" ucap Arbi dan mengeratkan pelukannya pada Ana.


Bara yang melihat adegan itu hanya bisa terkekeh. Seraya mengembangkan senyumnya yang merekah di bibir.


"Jadi kangennya sama Bunda aja, nih? Sama Ayah enggak?" tanya Bara cemburu.


Sama anak aja cemburu. Ikan hiu makan kebab, kenapa sih ngab?


Eh.


Arbi mendengar ucapan Ayahnya. Sontak langsung merenggangkan pelukannya pada Ana. Mata kecilnya menyipit menatap wajah Bara.


"Sama Ayah? Enggak! Aku maunya sama Bunda. Ayah sama seperti Kakek!"

__ADS_1


Ana mendengar itu tercengang seketika.


"Kakek? Maksud Arbi kenapa dengan Ayah?" tanya Ana bingung.


"Arbi gak mau punya Bunda baru! Arbi maunya Bunda Ana!" jawab Arbi semakin mengeratkan tangannya memeluk Ana.


Pandangan Ana langsung tertuju pada Bara. Menatapnya seolah memberikan tanda tanya.


"Hah? Aku.. aku gak tahu sayang." Jawab Bara bingung.


"Kamu yakin gak tahu? Arbi yang masih kecil begini bahkan sudah paham, Bar." Ana mulai tersulur emosi.


"Sayang.. dengar dulu. Aku sama sekali gak tahu soal itu. Aku juga gak pernah lagi pulang ke rumah utama. Kamu tahu kan? Aku setiap hari selalu sama kamu terus."


'Iya juga sih, Bara gak mungkin berbohong' gumam Ana dalam hati.


"Sayang, kamu percaya kan sama aku?" tutur Bara khawatir pada Ana, bila ia tidak mempercayainya.


"Untuk sekarang aku percaya." Jawab Ana lugas.


"Bunda, ayo kita makan. Arbi udah lapar, nih." Ajak Arbi menggandeng tangan Ana. Mengajaknya ke sebuah restoran yang berada di seberang jalan sekolahnya.


"Eh, ayo sayang. Bunda juga udah lapar."


"Aih, kenapa jadi begini, sih?!" gerutu Bara ikut berjalan mengekor dibelakang Ana.


Sesampainya di restoran, Arbi ingin duduk di pangkuan Ana. Namun di tolak oleh Bara. Wajahnya berubah murung dan mengerucutkan bibirnya yang kecil.


"Ada dedek bayi di perutnya Bunda." Ucap Bara tak mengizinkan.


"Iya sayang." Jawab Ana seraya mengecup lembut pucuk kepala Arbi.


"Ehem.. aku gak pernah tuh di cium gitu sama kamu." Ujar Bara cemburu.


"Apa kamu bilang? Gak pernah, iya?!" Ana menajamkan tatapannya menatap mata Bara.


Aduh mamae, ampun!


Eh.


"He he he, enggak sayang." Ucap Bara menggeleng pelan.


Ana mengalihkan pandangannya memperhatikan Arbi. Yang tengah asyik menyantap makanan di depannya. Arbi tumbuh menjadi anak yang mandiri dan cerdas.


Meski terkadang ia bersikap seolah ingin dimanja oleh sang Bunda. Wajar, anak kecil memang pantas melakukan itu. Berbanding terbalik dengan Bara. Yang seakan tidak pernah puas dimanjakan oleh Ana.


*Bucin mulu sih, ngab. Kita para pembaca juga pengen, nih.


Eh*.


"Arbi.. hm.. setelah selesai makan, Arbi mau gak? Main ke rumah Bunda." Tutur Ana berusaha mengajak Arbi.


Dengan wajah chubby, dan mulut penuh terisi makanan. Arbi mengangguk cepat, menyetujui permintaan Ana. Begitu senangnya Ana melihat ekspresi wajah Arbi. Yang lucu dan menggemaskan itu.

__ADS_1


'Kebersamaan ini, aku harap bisa selalu begini seterusnya.' Gumam Ana dalam hati.


Pandangannya memperhatikan kedua orang yang ada di hadapannya saat ini. Suami beserta buah hati kesayangannya, Arbi.


.........


Di sisi lain, sang Kakek Arbi justru sedang merencanakan sesuatu. Sepertinya tidak jauh dari Ana kaitannya. Begitu tidak sukanya ia pada Ana. Bahkan keadaan Bara dan Ana yang sudah begitu berubah. Masih belum juga mendapat restu.


Di ruang keluarga, kediaman Kertajaya.


"Apa ini tidak terburu-buru, Suamiku? Bara tidak akan menyetujui rencana kita dengan mudah. Kamu lihat kan, sekarang dia jauh lebih berubah dari Bara yang dulu." Ungkap Istri Tuan besar.


"Ya, kau benar. Tapi tetap saja, semua itu juga berkat pendukung yang ada di belakangnya."


"Siapa yang kamu maksud? Arka?"


"Lalu, kalau bukan dia, siapa lagi? Hanya anak itu yang sudi berteman dengannya." Tuan besar membuang napas kasar.


"Lantas, bagaimana dengan Arsena Group? Putri tunggal mereka Sofie Arsena, yang ingin kamu jodohkan dengan Bara. Bagaimana kalau dia tahu kalau Bara sudah berkeluarga? Aih, aku tidak ingin ikut campur masalah ini. Aku masih ingin hidup tenang." Ujar Nyonya Kertajaya seraya bangkit dan pergi meninggalkan Suaminya. Yang masih ada di ruangan itu bersama dengan asistennya John.


"Tidak ikut campur, tapi kau juga ikut andil dalam mengambil keuntungan dariku juga, kan?! Dasar wanita!" gerutu Tuan besar.


Asisten John melihat pemandangan itu hanya terkekeh kecil. Tanpa berani berkata apa-apa pada Tuan besarnya. Entahlah, sepertinya ia belum menyerah. Untuk memisahkan hubungan Bara dengan Ana. Baginya, pernikahan adalah bisnis.


Yang terjadi karena saling menguntungkan. Menjodohkan Bara dengan Sofie, baginya pilihan yang tepat. Lebih tepat dibandingkan dengan Farah pada waktu lalu. Arsena Group, perusahaan yang sudah berdiri selama 30 tahun. Yang tidak kalah juga dengan Buana Group.


Meskipun Buana Group lah yang tetap berada diatasnya. Arsena juga tak kalah unggul dalam persaingan saham. Lalu mengapa, Kertajaya dan Buana tidak pernah saling bekerjasama? Karena Tuan Kertajaya, tidak pernah menyukai sang petinggi dari Buana Group.


Ayahnya Arka.


*Flashback masa lalu


Dulunya, Kertajaya dan Buana Group saling berhubungan baik. Layaknya kedua saudara yang tidak pernah terlepas satu sama lain. Ayahnya Bara dengan Ayahnya Arka dulunya sahabat. Sama seperti hubungan Bara dan Arka.


Mereka tumbuh kembang bersama. Ariyandra Buana, Ayahnya Arka. Dan Brama Kertajaya, Ayah kandung Bara. Sedari kecil, kedua keluarga mereka selalu menjaga hubungannya dengan baik. Sampai suatu hari, Ariyandra dan Brama melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas ternama. Yang ada di Negara A.


Dan disanalah, pertemuan pertama antara Ariyandra dengan Lusiana Mahesa. Ibunda kandung Arka, wanita yang sangat dicintai oleh Ayahnya. Namun rupanya, Brama juga menaruh hati pada Luci. Persahabatan diantara keduanya mulai merenggang. Dan membuat jarak yang semakin jauh.


Ariyandra awalnya tidak begitu mempermasalahkan. Mengenai sahabatnya Brama yang juga mencintai Luciana, kekasihnya. Tapi semakin kesini, sikap Brama semakin berlebihan. Dan lebih dari sekadar rasa cinta, melainkan obsesi.


Brama begitu terobsesis pada Luciana. Dengan terang-terangan ia hampir mencium Luci di tempat umum. Ariyandra yang melihat itu dari kejauhan sontak langsung berlari ke arahnya. Pukulan demi pukulan mendarat ke wajah tampan, Brama.


"Bedebah sialan! Aku pikir sikapmu sudah melewati batas, kali ini. Jauhi aku dan Luci mulai dari sekarang! Dan tolong, jangan pernah ganggu Luci, maupun juga aku. Anggap Kertajaya dan Buana tidak pernah menjalin hubungan apa-apa." Ucap Ariyandra pada Brama. Setelah mendaratkan bogem tangan kekarnya di wajah Brama.


Ariyandra lalu mengajak Luci pergi dari sana. Meninggalkan Brama dengan wajah lebam penuh luka di seluruh bagian wajahnya. Yang aat ini tengah menatap tajam punggung Ariyandra. Lalu pergi bersama Luci, dan semakin jauh dari pandangannya.


"Aku akan mengingat semua ini, Yandra! Tunggu dan lihat pembalasanku!" ujar Brama dengan penuh penekanan.


Pantas saja, Tuan Kertajaya begitu menjaga jarak dengan keluarganya Arka. Namun, setelah berita pernikahan antara Ariyandra dengan Luciana. Tidak lama kemudian, Brama juga akhirnya menikah dengan Ibu kandung Bara, Helena.


Sejak berita pernikahan mereka, hubungan Kertajaya dengan Buana kembali membaik. Namun antara Ariyandra dengan Brama, masih menyimpan dendam tersembunyi. Tanpa sepengetahuan dari kedua anak mereka.


Jadi, perselisihan memperebutkan wanita antara Bara dengan Arka. Seperti sedang mengalami dejavu. Terulang kembali, namun dengan waktu yang berbeda. Antara masa lalu dengan masa depan, masa kini.

__ADS_1


Jangan heran kalau Bara begitu tampan. Itu karena Ayahnya juga tampan, saat mudanya. Dan lagi, agresifnya Bara juga rupanya turun menurun dari sifat Ayahnya.


Aih, buah memang tidak bisa jatuh jauh dari pohonya, ya.


__ADS_2