
Robek perlahan-lahan kulit yang menutupi wajah aslinya. Hingga terlihat jelas wajah siapa dibalik kulit bertopeng itu.
“Kamu! Kurang ajar! Bisa bisanya kamu menyamar menjadi Bara! Kemana perginya Bara?!” Tanya tuan besar pada Ali.
Semua orang di ruangan itu tampak kaget. Termasuk Farah, ia sama sekali tidak menyangkal. Bahwa dirinya sudah ditipu oleh lelaki itu. Hancur sudah harapannya, yang ingin menikah dengan Bara. Pun ia juga sudah tidur dengan lelaki yang menyamar sebagai Bara.
“Tu.. tuan Bara tidak ada disini, tuan. Di.. dia ada di Indonesia.” Jawab Ali gugup bercampur dengan keringat dingin bercucuran memenuhi wajahnya yang asli.
“Sialan kamu! Bisa bisanya aku di tipu! Om dan tante harus tanggung jawab pokoknya! Dia sudah meniduriku... hiks hiks hiks.” Ucap Farah tak terima. Akting apa lagi dia kali ini?! Hm...
“Farah.. tante tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Tante minta maaf atas nama Bara dan sekeluarga. Untuk hal lainnya, tante tidak bisa berbuat banyak untukmu. Kamu bisa meminta pertanggung jawaban dari dia langsung. Karena bagaimana pun, bukan Bara yang kamu nikahi.” Jelas nyonya besar.
Tn. Kertajaya menghela napas panjang. Merasa menyesal karena telah memaksa Bara pada pernikahan itu. Ia tidak menyangkal kalau anaknya akan berbuat nekat. Sampai berani menjadikan ajudannya sendiri sebagai gantinya di hari pernikahannya. Hanya bermodal topeng kulit untuk menutupi penyamarannya.
“Ali, kau tak ingin kan? Aku melakukan sesuatu pada keluargamu.” Tn. Kertajaya bertanya pada Ali.
Sosok dibalik topeng kulit itu. Yang menyamar sebagai Bara putranya.
“Ti.. tidak, tuan.” Jawab Ali gugup.
“Aku bisa saja memaafkanmu, tapi kau harus mengganti uang perusahaan yang sudah kau ambil secara diam-diam. Kau tahu kan? Berapa besar jumlahnya?”
“Ta.. tahu, tuan.” Ali benar-benar takut dan gugup. Tak tahu lagi harus berbuat apa dan beralasan apa pada orang yang sudah berjasa atas dirinya selama ini.
“Baiklah, kalau begitu. Mulai hari ini, kau bukan lagi ajudan Bara. Dan sudah tidak terikat lagi dengan keluarga ini.” Ucap tegas tuan besar pada Ali.
“Siapkan tiket pesawat untuknya! Malam ini ia sudah harus pergi kembali ke Jakarta.” Perintah Tuan besar pada asistennya.
“Bagaimana dengan aku om?” Sambung Farah bertanya pada tuan besar.
Dasar tidak tahu malu. Huh!
“Urus dia juga!” Ucap tuan besar memberi perintah pada asisten beserta pengawalnya untuk mengurus Farah dan Ali.
Tanpa pamit dan berkata lagi, ia pergi meninggalkan kekacauan yang ada di ruangan itu. Diikuti juga oleh para pengawal yang lain.
Tidak tahu mau di kemanakan wajah keluarga Kertajaya saat ini. Semua tamu undangan yang hadir pada waktu itu sudah mengetahui pernikahan itu. Bahwa Bara telah menikah dengan Farah.
“Keterlaluan kamu Ali! Bisa bisanya mau bekerja sama dengan Bara untuk menipu kami semua.” Ucap nyonya besar berkata pada Ali. Merasa kecewa karena rencananya gagal menikahkan putranya dengan Farah.
.........
__ADS_1
Kembali ke Jakarta
Bara telah menyelesaikan pekerjaannya. Buru-buru ia bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Namun naas, ia di cegah oleh Safira.
“Kamu mau kemana?” Tanyanya Manja.
Kepingin tahu aja, atau kepingin tahu banget nih, Mba?
“Menurut Lo?” Jawaban Bara justru membuatnya kesal.
“Pulang?” Safira berusaha tenang, dan sabar. Agar bisa mencapai tujuannya.
Memang kalau pelakor tidak tahu malu.
“Minggir! Gua mau lewat.”
“Jawab dulu pertanyaanku Bara! Apa susahnya sih? Tinggal jawab doang juga.”
“Lo pikir Lo siapa? Gua gak ada urusan sama Lo!” Ucapan Bara benar-benar sadis.
“Tapi gua gak butuh asisten, asal Lo tahu. Satu lagi, jangan bersikap manja di depan gua. Karena gua sama sekali gak tertarik sama Lo. Dan gua juga udah punya istri. Minggir! Lo menghalangi jalan gua.” Jelas Bara padanya.
Safira tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya diam seraya menatap punggung Bara yang sudah menghilang dibalik pintu lift itu.
“Sialan! Benar kata Arya, dia memang susah untuk di dekati. Hm, kayaknya aku harus pake cara lain. Ha ha ha!”
Memang dasar wanita licik.
-
Di kediaman rumah Ana dan Bara.
Arbi tengah asyik bermain dengan boneka kecilnya di sebelah Ana. Jari jemari kecilnya memainkan seolah olah boneka itu adalah temannya. Ana merasa gemas dengan tingkahnya Arbi. Disisi lain, perasaan Ana mendadak berubah cemas tak karuan.
“Arbi kangen sama Ayah ya? Sabar ya sayang. Sebentar lagi Ayah pulang kok.” Ucap Ana mengajak Arbi berbicara sembari mengelus lembut kepalanya.
Tidak terasa, Arbi tertidur di pangkuan Ana. Padahal baru tadi ia bermain bersama dengan boneka kecilnya. Ana merasa kesepian, hanya ditemani Arbi yang saat ini sudah berada di alam mimpinya.
__ADS_1
Perasaannya semakin tidak karuan dan penuh dengan kecemasan. Apakah akan ada sesuatu yang akan terjadi? Pikir Ana.
Tak lama setelah itu, ia pun juga ikut tertidur bersama Arbi.
Tok
Tok
Tok
Bunyi suara ketukan dari lantai bawah. Siapa yang bertamu sore-sore begini? Bukankah tak ada siapa pun yang mengetahui rumah ini selain Bara maupun Ana. Tak ada jawaban dari Ana, karena ia masih lelap tertidur.
Srek .... srek ....
Suara dari samping kamar Ana. Tepatnya ada di lantai atas.
Bugh!
Ada sesuatu yang jatuh. Seperti kejatuhan buah durian. Ana masih berada di alam bawah sadarnya. Arbi pun sama halnya, biasanya para bayi sangat sensitif mendengar suara. Tapi rupanya bunyi suara itu sama sekali tidak mempan untuk membangunkan Arbi maupun Ana.
Terlihat ada seseorang yang mengintip dari arah jendela kamar Ana. Orang itu mencoba masuk dengan paksa. Menerobos masuk lewat jendela. Sialnya, Ana tidak menutup jendela itu dengan rapat. Karenanya, orang itu bisa dengan mudah masuk ke kamar Ana.
Set .... set .... set ...
Dia berjalan mengendap-endap menghampiri tempat tidur. Yang dimana Ana serta Arbi masih terlelap dalam tidurnya. Agak lama orang itu memperhatikan keduanya. Sampai ketika, dia berani mendekati Ana dan duduk di sampingnya persis. Gerakannya tanpa sadar membangunkan Ana dari tidurnya.
Pandangannya tertuju pada Arbi. Ana tersenyum melihatnya, dan mengecup lembut wajahnya yang mungil. Masih belum menyadari ada seseorang di belakangnya.
Orang itu justru makin berani berinisiatif menyentuh Ana.
Deg.
Ana kaget bukan main. Siapa yang menyentuh pergelangan tangannya? Bukankah pintu bawah sudah ia kunci? Lalu dari mana orang itu bisa masuk? Pelan-pelan Ana menoleh ke belakangnya. Orang itu tersenyum menyeringai menatapnya.
Agak kaget dengan tingkah yang dilakukannya. Membuat Ana sulit untuk menebak-nebak. Benar-benar diluar dugaan. Kenapa juga dia harus memanjat lewat jendela?
Siapakah orang itu sebenarnya?
Bersambung...
__ADS_1