
Hari demi hari berlalu, dan hari ini adalah pesta ulang tahun yang di rayakan dirumah utama untuk Arbi. Si kecil itu rupanya tidak mengetahui. Bahwa dirinya akan merayakan pesta besar-besaran.
Ana sengaja memilih membuatkan pesta untuk Arbi di hari sekolah nya. Saat semua anak-anak pulang, mereka bisa langsung mendatangi ke rumah utama. Hadiah yang sudah sangat lama Arbi tunggu. Juga surprise untuk sang malaikat kecil itu.
"Sayang, kok Arbi belum pulang, ya? Pak John sudah on the way jemput dia ke sekolah, kan?" Tanya Ana cemas. Sembari berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah utama. Menunggu kedatangan Arbi disana.
"Sabar, sayang. Pak John sedang di jalan, kok. Mungkin lima sampai 10 menit lagi beliau baru sampai ke sekolah Arbi." Jawab Bara seraya mengelus lembut bahu Ana. Yang berusaha menenangkan Istri nya.
Ana lantas mengangguk pelan. Meski wajah cemas nya belum juga pudar.
Bara menyuruh seorang pelayan mengambilkan kursi dan air minum untuk Ana. Karena sedari tadi, rupanya mereka terus berdiri disana.
"Sayang, duduk dulu. Kamu sedari tadi berdiri terus. Pasti capek, kan?" Ujar Bara menyuruh Ana menduduki kursi itu.
"Ah, terima kasih, sayang." Balas Ana lembut. Seraya mengelus lembut wajah tampan Bara.
Uh, manisnya!
Hampir tiga puluh lima menitan, mereka menunggu kedatangan Arbi. Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Sebuah mobil hitam terparkir di depan pintu rumah utama. Diiringi oleh satu mobil putih lainnya. Juga ikut terparkir di belakang mobil yang di kendarai oleh Pak John.
Tin... Tin!
Wajah gusar Ana seketika menghilang. Tergantikan oleh senyum ceria yang mengembang. Menatap ke arah malaikat kecil yang keluar dari dalam mobil hitam itu.
"Bundaaa!!!" Teriak Arbi memanggil Ana. Tangan kecilnya terangkat ke atas. Kedua kakinya berlari menghampiri sang Bunda.
HAP!
Arbi memeluk Ana dengan sangat erat.
"Sayang nya Bunda, kok lama sekali sih? Pulang nya." Tanya Ana pada Arbi.
Bibir Arbi lantas mengerucut ke depan.
"Maaf, Bunda... nilai bahasa inggris ku tidak bagus hari ini. Karena itu... Bu Guru memberikan aku latihan tambahan di sekolah." Tutur Arbi sedu. Matanya berubah berkaca-kaca menatap Ana.
Ana merasa tidak tega melihatnya. Dengan ekspresi sedu Arbi. Pada wajah mungil nan imut itu.
"Uh, sayang. Bunda tidak akan marah, kok. Tidak apa-apa, Arbi masih bisa belajar lagi. Bagaimana kalau kita makan ice cream? Kebetulan sekali, hari ini Bunda menyiapkan banyak makanan untuk Arbi." Celoteh Ana berusaha menyemangati cipung kecil itu.
Walau sebenarnya hukuman untuk Arbi dari Guru di sekolahnya sudah di atur oleh Bara. Sayangnya, Ana tidak tahu akan hal itu. Bara sengaja memberitahu pada wali kelas Arbi. Mengenai hari ulang tahun malaikat kecil nya. Yang akan dilaksanakan secara meriah dirumah utama.
Bara mengundang wali kelas Arbi, beserta teman satu kelasnya. Untuk datang memeriahkan acara pesta ulang tahun Arbi di kediaman rumah utama.
Mendengar hari ulang tahunnya Arbi, wali kelas Arbi pun mendadak menyetujui permintaan Bara. Untuk memberikan hukuman kecil padanya. Sebagai bentuk kejutan untuknya nanti.
Agar Arbi tidak mencurigai surprise yang akan diberikan oleh kedua Ayah serta Bunda nya.
"Ehem, Arbi!" Dehem Bara memanggil Arbi.
Wajah kecil itu mendongak, menatap Bara.
__ADS_1
"Iya, Ayah?"
"Kamu tidak ingat, hari ini hari apa?" Lanjut Bara berucap tanya padanya.
Sesaat, Arbi tampak berpikir dengan keras.
"Hari ini... aku diberikan... hukuman oleh Bu Guru..." tutur Arbi sedu. Menjawab pertanyaan dari Bara.
Rupanya si cipung kecil itu tidak tahu. Atau juga, barangkali mungkin dirinya memang belum mengetahui tanggal kelahiran nya.
Sekilas, Bara tampak menepuk jidatnya pelan.
'Kalau kamu nggak ingat begitu, sia-sia saja Ayah lakukan itu tadi untukmu.' Gumam Bara pelan.
Bara merasa bersalah atas apa yang sudah dia perbuat pada Arbi di sekolah. Dengan memberikan hukuman padanya. Walau begitu, itu pun juga tidak buruk. Arbi bisa lebih terlatih dalam mengerjakan soal-soal seperti yang ia dapati tadi.
"Tidak apa-apa, hukuman itu bukan suatu hal yang buruk. Tanda nya, kamu sudah besar sekarang." Tukas Bara seraya menggendong Arbi. Menaruhnya ke atas punggung nya.
"Sayang, hati-hati!" Ujar Ana mewanti-wanti Bara.
Senyum menyeringai terukir di bibir Bara. Sembari mengedipkan sebelah matanya pada Ana.
Genit juga ya, antum!
Eh.
"Kita mau kemana, Yah?" Tanya Arbi penasaran.
Berjalan pelan memasuki ke dalam rumah utama. Di susul Ana berjalan mengekor di belakang. Sementara itu, Pak John memberikan arahan pada semua teman sekelas Arbi serta Guru wali kelasnya. Yang masih berada di dalam mobil putih tadi. Untuk keluar dan ikut masuk ke dalam sana.
"Anak-anak, ayo silakan! Acaranya akan segera di mulai." Ucap Pak John.
"Wah, rumah Arbi besar sekali ya!"
"Iya, lebih besar dari rumahku."
"Aku baru pertama kali kesini."
Para anak-anak mulai heboh sendiri. Saat mereka melihat pemandangan istana kediaman rumah utama Kertajaya. Yang begitu luas dan megah.
Mobil putih yang di naiki oleh mereka semua, adalah mobil milik keluarga Kertajaya. Dan sopir di dalamnya juga ialah pengawal pribadi yang di tugaskan oleh Bara untuk mengantar anak-anak ke rumah utama.
Hanya ada teman sekelas Arbi, yang berjumlah 35 orang. Guru sekaligus wali kelasnya, serta Arka dan Gladys. Yang ikut memeriahkan pesta kecil cipung kecil itu.
Sayangnya, Arka dan Gladys agak terlambat untuk menghadiri pesta ulang tahun Arbi. Karena kesibukan yang di jalani oleh kedua pasangan Suami Istri itu.
'Ternyata ini rumahnya Arbi. Seperti rumah nya Uncle Arka.' Gumam Tasya.
Tasya turun paling terakhir dari dalam mobil. Langkah kakinya berjalan mengikuti semua teman-teman kelasnya. Yang memasuki diri mereka ke dalam rumah itu.
Semua para orang tua dari murid, sudah diberitahukan oleh Guru wali kelas Arbi. Untuk tidak perlu menjemput. Karena anak-anak akan di antar oleh pengawal suruhan tadi.
__ADS_1
"Bunda, kok gelap sekali? Apakah di rumah ini sedang mati lampu?" Tanya Arbi kaget. Saat melihat keadaan ruang yang ia masuki bersama Ayah dan Bunda nya mendadak gelap gulita.
"Tidak, sayang. Ini bukan mati lampu. Tapi..." ucap Ana terpotong.
Klik!
Semua lampu menyala kembali.
"SURPRISE!" Ujar Ana dan Bara serentak.
"Happy birthday Arbi!" Suara teman sekelas Arbi juga ikut berucap dan mengatakan kalimat hari jadi untuknya.
Arbi tampak celingukan melihat sekitarnya. Ada sebuah kue berbentuk istana kecil. Juga sebuh ice cream cup berukuran besar. Yang tersedia di atas meja panjang di dekatnya.
Hiasan balon dan ukiran nama Arbi. Ada di sekeliling nya.
"Ayah... Bunda..." tutur Arbi sedu. Matanya berkaca-kaca.
Ana langsung sigap memeluknya erat.
"Sayang..." gumam Ana berkata pada Arbi. Seraya mengelus dan mengecupi wajah imut nya.
"Wu wu wu... ini benaran kan, Bunda? Hari ulang tahun ku?" Tanya Arbi sedu. Masih tidak menyangka dengan pesta ini.
"Sebenarnya bukan hari ini ulang tahunnya." Sanggah Bara.
"Lalu? Kenapa Ayah dan Bunda merayakannya sekarang?" Arbi tampak kecewa.
"Sayang, hari lahir kamu sebenarnya bertepatan dengan hari kelahiran Ara dan Arez, adik kembar kamu. Karena waktu itu, Bunda kan melahirkan. Ayah juga sibuk mengurus Bunda sehabis pulang dari rumah sakit. Tapi sekarang, Bunda sudah menepati janji Bunda untuk kamu." Celoteh Ana. Merasa bersalah atas janjinya pada Arbi. Yang baru bisa di penuhi saat ini.
"Wu wu wu... aku pikir... aku tidak punya tanggal ulang tahunku... wu wu..." ujar Arbi terbata-bata. Seraya menangis sesenggukan dan mengusap kedua mata kecilnya dengan jari jemari tangannya yang mungil.
"Maafkan Bunda, sayang. Bunda sayang Arbi." Ucap Ana lembut.
Dibalik kesedihan cipung kecil. Bara tampak sedang berusaha menjadi orang yang kuat di hadapan semua orang.
"Sudah... sudah. Ini kan, hari jadi kamu. Kenapa malah sedih, sih? Ayo, semangat! Hari ini kita akan memeriahkan pesta kecil ini. Anak-anak, ayo kesini!" Sambung Bara berucap. Sambil menggendong Arbi. Dan memanggil semua teman sekelasnya Arbi. Untuk berjalan menghampirinya.
"Arbi jangan sedih lagi, dong! Ayo kita potong kue nya."
"Happy birthday Arbi!"
"Bunda nya Arbi baik, ya."
Para anak-anak itu berkata pada Arbi. Seraya memeluknya sebagai tanda menyemangati.
"Arbi, selamat ulang tahun! Ini kado dariku buat kamu." Ucap Tasya. Sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Arbi.
Mulut Arbi mendadak bisu. Saat Tasya memberikan kado padanya.
Kira-kira, apa isi dari kado itu?
__ADS_1