Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 63


__ADS_3

BAB 63


"Apa sudah ada tanda-tanda mengenai keberadaan, Bara?" tanya Tuan Kertajaya pada asisten setianya.


"Maaf, Tuan. Belum ada info apa pun mengenai keberadaan dari Tuan muda."


"Huh! Anak itu memang keras kepala, tapi mau sampai kapan? Terus menghindari dari keluarganya?! Apa dia tidak kasihan? Pada anaknya yang masih kecil." Bukankah ini semua kemauan Anda, Tuan?


Karena perbuatannya, Arbi terpisah dari Ibunya. Karena dia juga, Ana sudah banyak menanggung beban. Banyak hal yang sudah lama terjadi. Itu juga karena ulahnya, yang sampai saat ini, belum juga merestui hubungan Bara dengan Ana.


"Apa sebaiknya Tuan restui saja hubungan mereka? Mungkin dengan begitu, Tuan muda akan kembali dengan sendirinya." usul asistennya.


Tuan besar mengernyit. Memikirkan perkataan dari asistennya.


"Lalu, bagaimana dengan nama baikku? Yang diketahui oleh para pebisnis lain, Bara menikahi Farah, bukan wanita itu!" geram Tuan besar menolak ucapan asistennya.


"Nama baik Tuan besar tetaplah sama. Tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Baik itu sebelum Tuan muda menikah dengan Farah maupun sesudahnya. Apakah Tuan tidak tahu? Keluarga Farah juga telah mengalami kebangkrutan,” ujar asistennya.


Tuan Kertajaya tak menyangkal, kalau ternyata, Farah telah menipunya.


“Apa yang kamu katakan barusan bisa dipercayai?!” tanyanya.


“Aku sudah melakukan penyelidikan waktu itu, Tuan. Memang benar, keluarga Adijaya telah lama bangkrut. Mereka kalah telak dalam persaingan saham. Menyangkut dengan beberapa investor yang memberikan modal pada perusahaannya, Adijaya Group bahkan harus mengembalikan semua dana itu. Yang berjumlah senilah 2 triliun.” Jelas asistennya.


“Jadi, selama ini Farah memanfaatkan pernikahannya dengan Bara?! Agar dia bisa segera menguasai harta kekayaan Kertajaya Group. Dasar wanita licik! Beri dia pelajaran! Aku sudah tidak lagi memedulikan pernikahan bisnis itu.”


“Lalu, bagaimana dengan wanita yang bersama dengan Tuan muda? Apakah Tuan juga akan menyingkirkan wanita itu?” tanya asistennya.


“Untuk sekarang, biarkan saja dulu. Aku masih harus memperbaiki nama besar Kertajaya Group. Menjelaskan kepada para pebisnis lain, mengenai perceraian Bara dengan Farah. Kamu pergilah! Jika sudah tidak ada urusan lagi.”


“Baik, Tuan. Permisi!”


Pernikahan Bara dan Farah, memang tidak akan pernah terjadi. Lalu, apa lagi rencana yang akan dilakukan Tuan besar pada putranya? Sampai kapan ia terus menghalangi hubungan Bara dengan Ana?


Pencarian Bara masih terus dilakukan, tanpa ada kata lelah. Tapi sampai sekarang hasilnya masih tetap nihil. Tak ada tanda-tanda sinyal keberadaan dari Bara. Begitu pun dengan Ana. Mereka berdua tiba-tiba menghilang dari jejak keluarga Kertajaya.


Tanpa mereka cari pun sebenarnya, Bara juga pasti akan kembali pada keluarganya. Tapi mungkin tidak dengan saat ini. Masih banyak hal yang harus Bara pikirkan untuk ke depannya. Pertama, menyelamatkan pernikahannya dengan Ana. Kedua, membangun dan menjalankan sebuah perusahaan baru. Ketiga, membuat surat nikah ke pencatatan sipil.


Ya, meresmikan pernikahannya dengan Ana. Karena sebelumnya, pernikahan mereka hanya resmi secara agama. Tapi tidak resmi secara negara dan hukum.


...-...


Asisten Tuan Kertajaya memerintah kepada para pengawal. Mendatanginya ke rumah Farah. Beberapa pengawal bahkan sudah mempersiapkan mobil untuk berangkat ke sana. Termasuk dengan Asisten itu.


“Siapkan mobil, pergi ke kediaman Adijaya Group.” Ucap Asisten John.


“Baik, Tuan.”


Mereka semua berangkat ke kediaman Adijaya Group. Jarak yang lumayan cukup jauh, dari kediaman Kertajaya. Bahkan lebih jauh daripada jarak ke rumah Bara. Yang sudah diketahui oleh mereka semua.


Cukup lama dalam perjalanan kali ini.


Singkat cerita, mereka telah tiba di kediaman Adijaya Group. Rumah yang begitu besar dan megah. Namun terlihat sepi, tak ada pengawal atau pun penjaga yang berjaga di rumah itu.


Para pengawal beserta asisten John melenggang masuk ke dalam. Namun tampaknya tidak ada orang disana. Barang-barang di rumah itu bahkan terlihat berantakan. Berdebu, dan juga kotor seperti sudah lama tidak di bersihkan.


“Balik ke kediaman Kertajaya!” ucap asisten John pada semua pengawal.


“Lalu, bagaimana dengan Farah? Apa kita harus mencarinya ke tempat lain, Tuan?” tanya pengawal.


“Tidak, kita kembali dulu. Aku akan membicarakannya lagi pada Tuan besar.”


“Baik, Tuan. Semuanya, berangkat!” ujar ketua pengawal itu pada para bawahannya.


Orang yang dicari, tidak ditemukan. Entah kemana perginya Farah. Belum lama ini, dia bahkan pernah tinggal di kediaman Kertajaya. Lalu kemana dia sekarang? Dan lagi, mungkin benar adanya. Berita mengenai kebangkrutan yang terjadi pada keluarganya.


Bukti dari kejadian hari ini, sudah menjawab semuanya mengenai keadaan Adijaya Group. Apakah mungkin, semua itu ulah dari para pemegang saham? Lalu menerornya agar mengembalikan semua dana nya. Mungkinkah, Farah dengan keluarganya saat ini tengah bersembunyi di tempat lain? Bisa jadi, karena kebangkrutannya, membuatnya kesulitan dalam mengembalikan semua uang yang telah mereka terima.


Apalagi kalau uang itu sudah habis mereka gunakan.


...........


Bara dan Ana semakin hari semakin sibuk dengan perusahaannya. Bisnisnya semakin maju pesat dan berkembang. Bahkan sekarang mereka sedang dalam proses pembangunan anak perusahaan di luar negara. Tentunya, Bara ingin perusahaannya dikenal besar oleh semua kalangan. Seperti nama besar Kertajaya Group.


“Sayang, kamu mau ke kantor?” tanya Bara pada Ana.


Dilihatnya Ana yang belum juga rapi dan duduk di tepi ranjang. Wajahnya terlihat pucat, apakah Ana sakit?


“Enggak dulu, sayang. Aku gak enak badan kayaknya.” Ucap Ana pelan.


Bara berjalan mendekatinya, dan ikut terduduk di sampingnya.


“Wajah kamu pucat, suhu tubuhnya juga hangat. Tapi aku khawatir, kalau aku tinggal kamu sendirian disini,” ujar Bara sedu seraya menyentuh kening Ana, lalu menggenggam pergelangan tangannya erat.


“Aku baik-baik aja kok, sayang. Kamu mau ke kantor, kan? Ya udah, berangkat sana. Nanti telat, gak jadi dong, ketemu klien nya?” Ana mengelus lembut wajah tampan itu. Di tatapnya dalam-dalam, ada gurat senyum kecewa di wajah Bara.


Mengapa?

__ADS_1


“Kamu gak senang, ya? Kalau aku temani kamu disini,” tutur Bara bertanya.


“Aku gak bilang, loh. Aku senang kalau kamu disini, tapi perusahaan kita lebih penting, sayang.”


“Terus, kamu gak penting, gitu?”


“Bukan begitu say...” ucapan Ana terpotong.


“Listen to me, dear! Kamu, juga gak kalah pentingnya buat aku. Antara perusahaan dengan kamu, aku lebih pilih kamu. Perusahaan masih bisa kita bangun kembali, sementara kalau aku kehilangan kamu, aku mungkin gak akan bisa buat kamu kembali lagi ke sisiku.” Bara menatap mata sedu itu.


Tanpa sadar, bulir bening di sudut mata Ana luruh begitu saja. Ana tertegun mendengar penuturan Bara. Suami yang selama ini ia anggap seperti kekanakan bak bocil, nyatanya benar-benar berubah dewasa 250 derajat.


Wajah Ana memerah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajah Bara kian mendekati wajah Ana. Ana memejam kedua matanya. Seperti sudah siap dengan kisah berikutnya. Eh, maksudnya?


“Hayo, kamu pasti lagi mikir yang aneh-aneh, ya?” Jahil Bara meledek.


Lah, adegan romantisnya gak jadi?


Ana mendorong Bara dengan wajah kesalnya.


“Kamu! Ngeselin!” ucap Ana.


Gemas deh, sama tingkah berondong satu itu. Eh.


“He he he, iya, maaf sayang. Aku gak akan pergi ke kantor, hari ini. Aku bakal temani kamu seharian disini.” Bara menunjukkan senyum manisnya yang mengembang di bibirnya.


Cup, kecupan manis yang mendarat di kening Ana.


“Kamu gak bohong, kan?” tanya Ana ragu.


“Kapan aku bohong, sama kamu?"


“Dulu, kamu janji gak akan pergi. Nyatanya kamu pergi selama berbulan-bulan,” ujar Ana sedu.


Bara teringat dengan kejadian lalu. Benar, ia memang pernah mengingkari janjinya. Meninggalkan Ana dengan goresan luka. Meski bukan luka yang terpampang nyata dari fisik. Tapi terluka di bagian


Hatinya, Ana.


“Maaf..... aku gak tahu kalau kamu ternyata masih ingat kejadian itu,” tutur Bara tertunduk sedu.


Tubuhnya tiba-tiba memeluk Ana. Suara tangis kecil terdengar di pendengaran Ana.


Bara, menangis?


“Kamu, nangis?” tanya Ana heran. Padahal yang seharusnya nangis, adalah dirinya. Mengapa jadi, dia?


“Kok Kakak, sih? Sayangnya, mana?”


“Iya, Kakak sayang. Maaf... aku gak romantis.”


“Kamu gak romantis? Bumi bergetar, Bara.”


Ana menepuk pelan pundak Bara. Mengecup lembut wajah tampannya.


Cup.


“Memaafkan tidak semudah dalam melupakan, sayang. Aku memaafkanmu, bukan berarti aku lupa dengan kejadian itu. Aku gak akan bisa lupa, mau aku memaksakan diri sekali pun, supaya aku lupa, itu gak akan bisa. Kecuali kalau aku, amnesia.” Ucap Ana seraya mengelus lembut wajah tampan Bara.


Helaan napas keluar dari hidung Ana.


“Terus, aku harus gimana? Supaya kamu bisa lupa, selain dengan amnesia.” Tanya Bara antusias.


“Hm... mungkin aku butuh refreshing?”


“Kamu mau bulan madu kemana? Ke Italia? Swiss? New York? Amerika? Korea? China? Jepang? Kemana? Aku bakal langsung suruh asistenku buat pesan tiketnya sekarang!” ujar Bara tak sabar-an.


Bulan madu? Pengantin baru kali, ah. Eh.


“Ih, kok bulan madu? Kita kan udah lama nikah.” Tutur Ana bingung.


“Ya terus? Memangnya pengantin baru aja? Yang boleh bulan madu. Lagipula, kita sekalian juga merayakan pernikahan resmi kita. Gak apa-apa, kan?” Bara memeluk erat pundak Ana.


Di hirupnya leher jenjang Ana yang tampak terlihat aurora nya. Aurat, maksudnya.


Eh.


“Kamu.... sakit aja, masih wangi.” Ucap Bara dengan mata terpejam.


“Menurutmu? Aku harus bau badan, gitu?”


“Ya enggak dong, sayang. Aku...... suka aroma tubuh kamu.”


Bara melakukan aksinya. Aksi apa, ya?


Eh.


“Sayang... stop! Aku gak enak badan.” Ana mendorong Bara pelan.

__ADS_1


“Oh iya, aku lupa. Maaf... ayang. Sebentar, aku telepon Arka dulu.” Ujar Bara seraya mengambil ponselnya di meja kecil samping ranjang.


Ana mengangguk paham.


[Ka, hari ini Gua izin gak masuk kantor. Ana juga, dia sakit soalnya.] ~ Bara


[Sakit? Kemarin kayaknya baik-baik aja, deh. Ini pasti gara-gara Lo, Bar.] ~ Arka


[Ya gak tahu lah, Ka. Namanya juga penyakit, siapa sih, yang mau sakit? Datang gitu aja, tanpa beri kabar.] ~ Bara


[Ya udah, Gue titip Ana baik-baik. Awas, kalau sampai bikin dia sakit lagi.] ~ Arka


[Ada juga Gua yang bilang begitu. Sialan, Lo, Ka! Gua sekalian minta tolong, bilang asisten Gua suruh panggil dokter ke apartemen Gua.] ~ Bara


[Ashiap!] ~ Arka


[Ka, Gua serius!] ~ Bara


[Iya, elah. Bawel banget Lo, Bar. Tunggu aja, nanti juga datang. Gue sekalian mampir deh, kesana. Bawa-in jus sama camilan buat Kak Ana.] ~ Arka


[Thanks, Ka. Gua tutup dulu teleponnya. Bye!] ~ Bara


TUT


Panggilan terputus.


Bara kembali menaruh ponselnya lagi ke tempat semula. Dan merebahkan tubuhnya persis di samping Ana. Rebahan sambil produktif membuka laptop kerjanya.


“Kenapa gak di ruang kerja aja, sayang?” tanya Ana.


“Gak apa-apa, aku gak mau tinggal-in kamu sendirian. Kamu... keberatan, ya?”


“Bukan begitu, aku takut ganggu kamu.”


“Enggak kok, aku malah senang. Kerja sambil bermanja-manja sama kamu, he he he.” Usai berkata begitu, kecupan manis mendarat di bibir manis Ana.


Cup.


“Kamu... manis.” Bisik Bara mesra.


Ana terkekeh malu dengan wajah merah meronanya.


“Cie, malu. He he he.” Ledek Bara pada Istrinya.


GBL GBL GBL!


Gemas Banget Loh! Eh.


“Stop bercandanya, Bara! Kerjakan dulu pekerjaan kamu.” Tutur Ana mulai emosi.


“Iya, sayangku. Cintaku, peri cantikku.”


Rayuan buaya muaranya mulai keluar.


Ana mengganti posisi duduknya menjadi rebahan sekarang. Sambil menonton film drama Korea, A bussines proposal. Film kesukaannya saat ini. Sesekali Bara melihat gerak-gerik Ana yang aneh. Kadang dia senyum tidak jelas. Kadang juga dia sedih tanpa sebab.


“Sayang... kamu, kenapa?” tanya Bara polos.


Ya namanya demam drakor, pasti begitu.


“Ini loh sayang... film nya gantung hiks hik hiks,” ujar Ana dengan tangis konyol nya.


“Astaga, aku kira kamu kenapa. Gantung di episode berapa memangnya?”


“Episode 8, yang ke 9 nya masih tayang seminggu lagi. Yang ada bakal lumut-an kayaknya, hatiku digantung bak jemuran.”


Bara menaruh laptopnya di meja samping tempat tidur. Tangannya mulai bergelayut manja memeluk Ana dari belakang. Yang di peluk masih terfokus pada layar ponselnya. Menonton episode sebelumnya secara berulang.


“Sayang... udah dong, nontonnya. Kamu gak lapar, kah?” tutur Bara lembut bertanya.


“Enggak,” sayangnya ucapan di mulut tidak sama seperti halnya suara bunyi yang berasal dari perut.


Kruukkkkk.... kruuukkkk.


“Lapar gitu masih bilang enggak. Huh!” Bara mencubit pelan hidung Ana. Ditinggalnya Ana seorang diri.


“Kamu mau kemana?” tanya Ana kepingin tahu.


“Masak, buat kamu.”


Senyum manis terukir di bibir Ana. Menatap punggung tegap itu yang semakin jauh dan menghilang dari pandangannya. Mengilang dibalik pintu.


Suara riuh terdengar dari arah dapur. Ana ingin sekali membantu. Tapi kondisi tubuhnya yang lemah, tidak memungkinkan untuknya berdiri lebih lama. Hanya bisa terbaring diatas kasur sambil menonton drama serial kesukaannya.


Benar-benar membosankan. Huh!


..........

__ADS_1


__ADS_2