
“Gimana sekarang? Udah tenang, kan?” tanya Ana lembut. Bahunya bersandar pada dada bidang Bara. Sementara tangannya memainkan jari jemari Suaminya. Bak seperti anak kecil, Ana yang saat ini.
Eh.
“Udah, dan jauh lebih tenang kalau kamu nggak keluar rumah lagi. Aku nggak mau, kamu bertemu dengan siapa-siapa selain aku.” Jawab Bara posesif. Seakan Ana hidup hanya untuk dirinya seorang.
Padahal, Ana juga butuh refreshing. Berada di dalam rumah, memang baik. Tapi tak ada salahnya, bila sesekali mengajak Istri untuk menikmati hiburan di luar. Karena wanita, juga berhak mendapatkan kebebasannya. Tidak seperti menjadi burung yang tinggal di dalam sangkar.
“Kamu maunya aku diam dirumah terus, begitu?” ucap Ana bertanya lagi. Bara sontak mengangguk dengan cepat.
PLAK!
Ana memukul pelan dada bidang Bara.
“Awh, sakit... sayang.” Keluh Bara manja.
“Tega, kamu! Aku juga mau keluar, Bara. Aku bosan, diam dirumah melulu. Aku nggak mau jadi burung sangkar yang hidup di dalam kandang.” Balas Ana seraya mendengus sebal.
“Terus aku harus gimana, An? Apa aku harus diam aja? Kamu di lihat semua lelaki yang ada di luar sana? Banyak mata yang memandangmu, aku diam juga. Itu mau kamu?” ujar Bara melarang.
Posesif banget sih, Bara! Eh.
“Bukan begitu... aku... rindu menikmati masa mudaku. Jalan-jalan keliling Mall, lalu pergi ke toko buku, mencoba kuliner-an, dan piknik seperti anak-anak muda lainnya. Aku juga ingin... melanjutkan study ke Amerika. Tapi... semua terlambat. Aku... sudah punya anak dan Suami.” Tutur Ana seraya tertunduk sedu.
Benar juga. Masa-masa muda Ana telah habis karena nikah mudanya. Tapi, bukan berarti ia merasa gagal dalam meraih impiannya. Bukankah, semuanya bisa ia lakukan? Meskipun telah bersuami dan memilik anak.
Because, nothing it’s impossible thing.
Justru dengan adanya Suami dan anak, akan menjadikan penyemangat hari-harinya.
“An, kamu mau melakukan semua itu? Aku bisa, penuhi keinginan kamu. Aku juga mau, menemani dan ikut kamu ke Amerika. Mengajakmu piknik, ke toko buku, ke mana pun, aku ikut. Kamu masih bisa mencobanya, sayang.” Celoteh Bara memotivasi Ana. Tangan kekarnya terangkat mengelus lembut rambut panjang Ana yang berwarna cokelat.
Cup! Cup! Cup!
Beberapa kecupan di daratkan Bara pada kening dan punggung tangan Ana. Kepalanya bersandar di tengkuk leher Ana yang putih bersih. Lagi-lagi, Bara menciumnya.
‘wangi’ gumam Bara dalam hati senang.
Dasar, Bara! Eh.
“Kamu benaran? Tapi... kan aku sebentar lagi melahirkan. Nggak mungkin aku meninggalkan bayi-bayiku dan Arbi,” balas Ana sedu.
__ADS_1
“Sayang... dirumah Mama ada banyak pelayan. Kita bisa menitipkan anak-anak disana. Mama juga pasti senang, kok. Ada banyak anak kecil di rumahnya. Jadi ramai suasana rumah utama.” Ucap Bara lembut. Sembari mengelus lembut perut besar Ana.
“Kalian di dalam sana, jangan nakal, ya. Jangan menendang perut Bunda. Nanti Bundanya kesakitan.” Lanjut Bara berucap. Mengajak baby twins berbicara.
“Baik, Ayah. Aku nggak akan nakal, kok.” Ujar Ana membalas perkataan Bara dengan meniru suara anak kecil. Mendengar itu, sontak membuat Bara terkejut tak percaya.
“Sayang... i-itu suara kamu?” tanya Bara memastikan. Ana mengangguk pelan seraya terkekeh kecil.
“Kamu kaget, ya?” jawab Ana berbalik tanya.
“Iya, kok gemas, sih. Coba ngomong lagi, dong.” Pinta Bara.
“Aku sayang Bara.” Tutur Ana, kembali memperagakan suara uniknya.
“Aku juga sayang Ana.” Balas Bara diakhiri kecupan manis pada bibir Ana.
Cup!
“Ternyata, masih ada banyak hal. Yang aku belum tahu tentang kamu, An. Aku jadi semakin penasaran dan mau tahu kamu lebih dalam lagi. Aku mau tahu semuanya yang ada dalam diri kamu.” Celoteh Bara.
Keduanya sekarang bertatap tatapan. Ana tersenyum kecil menatap wajah tampan Bara. Tangannya terangkat mengelus wajah lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Sementara Bara hanya diam sembari menikmati sentuhan Ana.
“Kamu kok, tampan banget sih, sayang?” Puji Ana, tanpa sadar. Bara mengedipkan sebelah matanya.
Eh.
“Aku dari dulu memang sudah tampan, sayang. Kamu aja yang nggak menyadari ketampanan Suamimu ini.”
“Ih, kamu ngeselin banget! Aku cubit, ya.” Balas Ana sambil mencubit kedua pipi Bara.
“Aw, jangan dong, sayang. Di cium aja. Kalau di cubit kan, sakit.” Bara mengerucutkan bibirnya ke depan.
“Itu sih, maunya kamu.” Ana mendengus sebal. Namun tetap dilakukan. Menyenangkan hati Suami, apa salahnya, bukan?
Cup!
Bara tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Rasanya, ia masih belum puas. Ingin memeluk Ana lebih mesra lagi. Namun, Bara mengkhawatirkan kondisi bayi yang ada di dalam perut Ana.
“Aku masih harus banyak bersabar lagi, ya? Menunggu kamu melahirkan anak-anak kita. Habis itu, bersabar lagi selama 40 hari.” Keluh Bara.
“Memangnya kalau sekarang, kamu nggak mau?” ujar Ana bertanya.
__ADS_1
“Mau, tapi aku khawatir sama kamu, dan baby twins kita.”
“Kamu udah banyak berubah ya, sekarang. Dulu, waktu aku hamil Arbi, kamu masih agak kekanakan. Maunya di manja terus. Nggak ada hari tanpa bermanja sama aku. Sekarang, malah aku yang manja ke kamu.” Celoteh Ana bercerita. Mengingat-ingat masa kehamilan pertamanya dulu.
“Dulu aku belum tahu, apa itu cinta. Dan caranya mencintai dan memperlakukan wanita dengan baik. Tapi, berkat kamu, aku jadi banyak belajar. Untuk jadi lelaki yang lebih bertanggungjawab dan mendewasakan keadaan. Karenamu, aku merasa lebih dicintai.” Jelas Bara. Lalu mengecup lembut bibir Ana.
“Aku juga, banyak belajar dari kamu, dan dari pernikahan kita. Ya, meski awalnya aku agak benci, sih.” Balas Ana menggerutu.
“Bencinya?”
“Karena kamu diam aja, waktu aku di caci maki sama Ibu kos.” Ana mendengus sebal, bila teringat kejadian itu lagi.
“Maaf, aku juga sebenarnya bingung, mau menjelaskan apa pada mereka semua. Di satu sisi lainnya, aku ikut senang. Karena nikahnya sama kamu. Dari awal kita ketemu, aku udah tertarik dan suka sama kamu.”
“Tapi nggak seharusnya kamu menjadi bisu pada saat itu, Bara. Diammu itu justru membuat semua orang yakin, kalau kita berbuat hal tidak senonoh. Seolah kamu juga ikut membenarkan kesalahpahaman itu.”
“Hm, kamu benar. Aku nggak ada pikiran lain lagi. Nggak tahu, otakku tiba-tiba jadi buntu. Gak bisa mengelak tuduhan mereka semua.”
“Jahat, kamu. Gunanya kamu belajar selama ini tuh, apa coba? Kalau kamu sendiri nggak bisa membela diri di hadapan orang lain.” Tutur Ana kecewa.
“Iya, iya, maaf. Aku minta maaf, se maaf-maafnya ke kamu. Aku... banyak salah. Maaf-in aku, sayang.” Ucap Bara memohon.
“Huh, aku udah memaafkan kamu. Tapi... rasanya masih belum menerima, tuduhan mereka semua. Agak sulit, berdamai dengan masa lalu kita. Padahal kan, kita nggak berbuat macam-macam.” Keluh Ana tertunduk sedu.
Mau membela diri kayak gimana pun, kalau nggak ada bukti yang kuat, tetap salah. Karena jaman sekarang, apa-apa di videokan. Di rekam, dan di unggah ke media sosial. Supaya orang di dalam video itu di viralkan. Lalu namanya berubah jadi buruk, dimata manusia lainnya.
Tapi Ana dan Bara cukup beruntung. Karena tak seorang pun yang merekam kejadian itu.
“Terus, mau kamu gimana, sekarang? Apa kita harus menuntut mereka semua? Terutama Ibu kos itu.” Ujar Bara bertanya, meminta pendapat Ana.
“Nggak, kita nggak perlu melakukan itu, sayang. Kasihan, kan. Kalau mereka semua di pidana kan. Apalagi, mereka masih punya keluarga.” Balas Ana sembari menggeleng pelan.
“Kamu tuh, baik banget sih, sayang. Mereka aja bisa, nggak punya hati gitu. Dan main hakim sendiri ke kita. Masa kita nggak boleh, sih? Menghakimi perbuatan fitnahan mereka?” mendengar pernyataan Bara, Ana lantas menggeleng lagi.
“Nggak, kita nggak boleh kayak gitu, sayang. Mereka boleh aja berlaku jahat, asal jangan kita yang jahat. Namanya juga hidup, kalau nggak ada orang jahat, dunia pasti sudah kiamat. ” Tutur Ana lembut.
“Antara baik dan jahat, itu tergantung masing-masing orangnya, sayang. Dia yang memilih jahat, berarti memang dia tak mampu berlaku sabar. Karena kejahatan itu timbul, dari kemarahan manusia. Sejauh mana mereka bisa menahan amarah itu. Kadang pula, ada orang yang tak pernah marah. Tapi sekalinya dia marah, bisa berubah menjadi sosok yang menyeramkan.” Lanjut Ana berucap dalam argumennya.
“Itu karena kesabarannya telah habis, sayang.” Balas Bara seraya mengelus lembut anak rambut di dahi Ana.
“Iya, memang jadi orang sabar itu nggak semudah yang di ucapkan, ya.” Sambung Ana.
__ADS_1
“Karena itu, aku beruntung punya kamu. Peri angel-ku! Ana sayang..” puji Bara sembari mengecup lembut kening Ana.
..."Seeing your smile is happiness for me. Meanwhile, having you is the most beautiful gift in my life." -Bara....