Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 30


__ADS_3

Di tempat lain, Ana sudah menyelesaikan perkuliahannya. Ia tengah dilanda kebimbangan menunggu Bara yang tak muncul juga untuk menjemputnya. Mau tak mau, Ia pun pulang sendiri ke kosan dengan berjalan tertatih-tatih. Benar-benar takut, itu yang di benak Ana saat ini. Kondisi perutnya yang semakin membesar, Ia benar-benar lebih takut sekarang jika berjalan sendirian.


Saat Ana berjalan melewati koridor kampus, secara tak sengaja Ia bertemu dengan Arka. Ia justru makin mempercepat langkah kakinya agar Arka tak mendekati. Namun sayangnya Arka dengan cepat menghentikan langkah Ana untuk pergi dari hadapannya. Sontak Ana pasrah, Ia tak dapat mengelak. Karena kondisi perutnya yang hamil, Ia tak bisa berbuat apa pun.


“Kak Ana mau pulang? Aku antar ya.” Ucap Arka menawarkan diri untuk mengantar Ana agar sampai ke kosan nya.


“Hm, gak perlu Ka. Aku gak mau menyusahkan kamu, Ka. Aku bisa sendiri kok.” Ucap Ana menolak.


“Gak apa-apa, Kak. Aku justru senang di repot in sama Kak Ana. Yuk, aku bantu jalan. Maaf, ya Kak aku pegang tangannya.” Ana mengangguk pelan.


Mau tak mau, Ana pun menyetujui tawaran Arka yang ingin membantu mengantarnya pulang ke kosan. Disisi lain, Arka justru merasa senang karena bisa sedekat itu dengan Ana. Tak pernah sebelumnya Ia bisa menyentuh tangan Ana. Dan ini kesempatan yang tak bisa di ulang dua kali untuk Ia sia-siakan begitu saja. Apalagi dengan ketidak adanya Bara disisi Ana, membuat Arka merasa menang dengan kegilaannya.


Mereka berdua berjalan pelan-pelan menuju penyeberangan jalan. Karena lokasi kosan Ana memang hanya berseberangan dengan kampus. Dan ini yang membuat Ana dilanda kebingungan serta ketakutan saat akan menyeberang jalan di persimpangan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke depan pintu kosan Ana. Sesampainya di kosan, Ana langsung pamit untuk masuk ke dalam, namun keburu ditepis tangannya oleh Arka.


“Ada apa, Ka? Apa ada yang mau kamu omong in?” Tanya Ana bingung.


“Hm, aku boleh masuk ke dalam gak, Kak? Mau izin ke toilet, he he.” Ucap Arka. Seperti trauma dengan kejadian lalu saat Bara memaksa untuk izin masuk ke dalam kosan Ana yang lama. Kali ini, Ana sudah lebih paham dengan tindakan apa yang akan Ia lakukan.


“Boleh, tapi aku tunggu disini aja ya. Aku di luar, kalau kamu sudah selesai bilang aja ke depan. Sekalian aku mau tunggu Bara pulang.” Sontak ucapan Ana mengejutkan Arka. Awalnya Ia hanya sekadar berbohong agar bisa berduaan di dalam kamar kosan. Namun, rupanya Ana sudah lebih dulu paham maksud dan tujuannya.


Yang sabar ya babang tampan, Ana udah punya Bara. Jadi, cari aja wanita yang lain. Eh.


“Eh, i...iya Kak. Aku gak akan lama kok, aku masuk dulu ya.” Ucap Arka berpura-pura izin untuk ke toilet. Sementara Ana mengangguk paham dan duduk di teras kosan yang tersedia satu tempat duduk disana.


Arka mulai memasuki kamar kosan Ana, Ia melihat seprei yang berantakan. Pikirannya mulai kemana-mana, tiba-tiba gejolak hatinya berubah kacau. Ia juga melihat ada baju lelaki di kamar Ana, baju siapa lagi kalau bukan Bara. Semakin Ia telusuri di dalam kamar Ana, semakin Ia merasakan sakit di dalam hatinya. Ini salah, tidak seharusnya Ia masuk ke kamar orang dengan lancang seperti ini, pikirnya dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya dengan cepat Ia masuk ke dalam toilet hanya untuk membasahi rambutnya. Tak sampai lima menit, Ia langsung bergegas keluar untuk menemui Ana di teras depan. Terlihat Ana sedang berbicara sendiri sambil mengelus-elus perutnya yang tertutup baju gamis. Ada segelintir rasa iba dihati Arka. Merasa bersalah atas rencana buruk yang sempat Ia rancang sebelumnya, meskipun pada akhirnya Ana tetap kekeh setia pada cintanya Bara.


“Anak bunda pasti udah kangen ya, sama Ayah? Sebentar lagi Ayah pulang, kamu jangan nendang-nendang Bunda lagi ya. Soalnya perut Bunda sakit.” Ucap Ana sembari mengelus-elus perutnya. Tanpa sengaja, ucapannya di dengar oleh Arka. Rasanya ingin berada di posisi sebagai Ayah dari bayi itu. Pikir Arka dalam hati.


“Hm, Kak Ana. Maaf ya, jadi merepotkan begini. Aku sudah selesai acara buang hajatnya. He he, kalau begitu aku langsung pamit. Gak enak sama tetangga, Kak Ana masuk ya ke dalam.” Ucap Arka.


“Kamu gak mau menunggu Bara pulang juga kah? Mungkin ada sesuatu yang mau di omong in sama kalian berdua.”


“Gak perlu Kak, lain waktu aja. Ini udah sore, aku pamit ya. Jangan nakal sama Bunda ya!” Ucap Arka pamit sembari mengelus perut Ana tanpa aba-aba terlebih dulu. Spontan Ana kaget dengan tindakan Arka. Agak lancang baginya mengelus perut wanita hamil yang bukan Istrinya. Namun, Ia tak bisa mengelak. Arka sudah banyak membantu atas hidupnya dan juga bayinya selama ini.


“Hati-hati ya, Ar.” Ucap Ana sambil memandang Arka yang sudah masuk ke dalam mobilnya, dan sekilas membuka penutup kacanya.


“Iya, Kakak juga ya. Langsung masuk, Kak. Kunci pintunya yang rapat.” Ana mengangguk paham.


“Huh, semangat! Demi Ana dan baby.” Gumam Bara di tengah kesibukannya membuat laporan keuangan perusahaan.


~


Hari sudah sore, dan waktu kerja Bara sudah habis. Saat yang Ia nantikan untuk bisa cepat sampai ke kosan. Bergegas Ia pergi dan meninggalkan ruang kerjanya. Saat Bara mulai menaiki lift, rupanya juga ada CEO itu di dalamnya. Hanya anggukan sapaan yang dilakukan Bara padanya.


“Hm, laporanmu cukup bagus hari ini.” Tiba-tiba saja sang CEO itu menyeletuk begitu. Sontak Bara menoleh ke arahnya.


“Maksud Bapak saya?” Tanya Bara.


“Ya, kinerjamu sangat bagus. Kenapa kamu sebelumnya berhenti bekerja di perusahaan Kertajaya? Banyak orang yang berkeinginan besar untuk bekerja di perusahaan itu, tapi kamu malah berhenti. Ha ha.” Ucap CEO terkekeh.

__ADS_1


Hei, Anda tidak tahu yang sebenarnya. Jadi berhenti berlaku sombong Pak.


“Ya namanya orang kerja, pasti ada rasa bosan nya Pak.” Ucap Bara berbohong. Sebenarnya bukan itu alasannya.


“Orang bosan saat bekerja itu wajar, bisa dengan cara melakukan aktivitas lain misalnya seperti gym atau refleshing. Bukan malah berhenti seperti yang kamu lakukan ha ha.” Jangan ditanya ekspresi Bara bagaimana para readers, mukanya bak kepiting rebus menahan emosi saat ini. Duh yang sabar ganteng. Eh.


“Hm, iya Pak.” Ucap Bara singkat. Rasanya sudah muak sangat dia dengan CEO ini. Ana, aku rindu sentuhanmu. Gumam Bara dalam hati.


“Ngomong-ngomong, kamu tinggal dimana?” Tertiba dia menanyakan tempat tinggal, tadi Meremehkan. Dasar mvrit.


“Di kos kosan seberang kampus ***** Pak.”


“Oh, tahu. Saya dulu pernah jadi motivator di kampus itu saat di undang oleh pihak kampus untuk mengisi acara webinar disana. Kamu kuliah disana juga?”


“Sebelumnya iya, tapi sekarang sudah out Pak.”


“Oh, oke saya paham. Tapi kamu masih mau kuliah disana?” Kepo amat si ini orang.


“Mau sih, tapi sekarang saya lebih fokus untuk bekerja. Kasihan sama Istri dan calon bayi saya kalau saya gak kerja.” Spontan Bara kelepasan ngomong. Duh Bara! Gagal maning menutup rahasia. Haih.


“Kamu udah punya Istri? Wah hebat ya. Di usia dini tapi sudah menikah, pikiranmu juga cukup dewasa menurut saya.” Lah wong nikah nya juga karena di gerebek warga kos kosan. Antum banyak tanya.


“Hm, terima kasih Pak.” Sudah muak sekali Bara menanggapi pertanyaan dari CEO itu. Sampai akhirnya, lift terbuka di lantai dasar. Fiuh! Akhirnya bisa cepat keluar dari sini. Pikir Bara dalam hati.


“Mari Pak.” Ucap Bara pamit. Sang CEO hanya tersenyum sambil memperhatikan Bara pergi lebih dulu meninggalkan kantor itu. Seperti pernah bertemu dengan anak muda itu, tapi dimana? Pikir CEO itu dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2