Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 54


__ADS_3

"Ya udah makanya dengerin. Jangan potong ucapan Gue." Tutur Arka.


"Dih, siapa juga yang motong ucapan Lo? Ada juga Lo sendiri yang gak jelas. Ngomong setengah-setengah. Lawak Lo ah!" Ucap Bara seraya melempar sesuatu ke wajah Arka.


"Mpleh.... mpprttt sialan Lo! Bau banget ini kaos kaki. Kam*pret Lo malih! Jorok betul jadi orang. Gak pernah di cuci setahun kali ya? Gila Lo! " Umpat Arka seraya mengusap wajahnya berkali-kali menggunakan baju nya.


"Ha ha ha ha ha. Mam*pus! Lagian bercanda mulu dari tadi." Balas Bara sambil tertawa terbahak-bahak.


brrrrrrgggg.... brrrrrrgggg...


Bunyi suara yang berasal dari dalam perutnya Bara.


"Ha ha, perut Lo kayaknya butuh nutrisi tuh." Kata Arka.


"Hm, iya ya. Kemarin perasaan gak bunyi ini perut."


"Memangnya dari kapan Lo belum makan? Jangan sampai Lo tiba-tiba mati kelaparan di depan Gue, Bar! Takutnya malah Gue yang jadi pelaku pembunuhan Lo. Su*e Lo ah!" Gerutu Arka


"Yailah, takut amat Lo. Kalau pun Gua mati juga, orang yang pertama Gua datangin ya itu Lo sendiri. Ha ha ha ha. Hiiii hiiii hiii!" Ledek Bara pada Arka menakut-nakuti.


"Jangan ngeselin Lo, Bar. Gue takut hantu, sialan! Udah, ayo kita keluar. Gue traktir Lo makan. Kita cerita disana aja." Ajak Arka mengalihkan topik.


"Oke, tunggu." Jawab Bara menyetujui.


Bara pun bergegas mengambil beberapa pakaiannya. Dan pergi ke dalam kamar mandi kamarnya. Tak lama ia kembali dengan penampilan yang sudah rapi. Meskipun hanya menggunakan kaos oblong, dan celana bahan yang tingginya selutut.


"Terlalu simple menurut Gue. Lo gak takut Bokap Lo curiga?" Tanya Arka ragu dengan penampilan Bara.


"Kenapa? Dia gak bakal khawatir kalau Gua perginya sama Lo. Lagian juga posisi saham Lo sekarang naik 3% diatas saham keluarga Gua kan?" Tutur Bara berbalik tanya.


Tahu darimana dia? Kalau saham Buana Group naik 3%.


"Lo tahu?" Tanya Arka penasaran.


"Tahu lah! Gua kan pernah jadi penguntit di dunia maya. Itu, cuma laptop doang yang Gua punya sekarang. Jadi ya... you know lah ya! Ha ha ha." Balas Bara terkekeh.


"Oh iya, Gue hampir lupa. Eh, kenapa sama handphone Lo?" Tanya Arka.


"Kan Gua kasih ke Ana." Jawab Bara.

__ADS_1


"Terus Lo hubungi dia pakai apa? Kalau Lo sendiri gak punya handphone."


"Ya gak hubungi dia lah. Gimana caranya, orang gak punya handphone bisa hubungi seseorang. Aneh, Lo!" Ucap Bara.


"Maksud Gue, keluarga Lo gak kasih Lo handphone baru gitu? Ya gila aja kali, berhari-hari gak pegang gadget. Bosan banget kam*pret! Gue aja bosan kalo gak pegang gadget sehari. Apalagi yang punya pasangan. Duh, gak bisa romantis romantisan bareng ayang via chat. Hu hu hu, kacian." Ledek Arka pada sahabatnya.


"Sialan Lo! Bikin otak Gua meletup-letup aja Lo, Ka."


"Huh, Bokap apalagi Nyokap Gua sekarang membatasi semua hal yang Gua lakukan. Termasuk gadget. Makanya, sewaktu mereka tahu kalau Gua gak punya gadget. Gua bilangnya sih handphone Gua hilang. Jadi ya, mereka gak mempermasalahkan itu. Tadinya bahkan Nyokap Gua mau belikan Gua gadget baru. Versi Iphone terbaru sekarang, udah tahu belum Lo?" Sambung Bara.


"Ya tahu lah! Babang tampan kayak Gue ya kali ketinggalan jaman. Nih, tengok. Ponsel terbaru milik Arka Buana. Iri kan Lo? Ha ha ha." Ucap Arka seraya memamerkan ponsel Iphone terbarunya pada Bara.


"Sialan Lo, Ka! Udah punya aja Lo. Gua juga mau, bang*ke!" Umpat Bara kesal.


"Sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan." Balas Arka mendinginkan suasana.


Bara tampak acuh tak acuh.


Hiya hiya hiya.


Eh.


"Beneran Lo, Ka? Mau belikan Gue ponsel Baru?" Tanya Bara meyakinkan.


"Iye, Bambang. Bawel juga ya ini anak." Jawab Arka seraya mengalungkan tangannya ke pundak Bara.


"Nama Gua Bara, sialan. Bukan Bambang!" Gerutu Bara.


"Iya iya, Bara. Yuk ah! come on." Balas Arka.


Mereka berdua pun keluar dari dalam kamar Bara. Berniat untuk pergi meninggalkan kediaman rumah utama Kertajaya. Gerak-gerik mereka tampak di curigai oleh beberapa pengawal serta asisten pribadi Tuan besar. Tapi yang di curigai adalah Tuan muda dari Buana Group. Mereka tak bisa bertindak apa pun.


Sedikit saja mereka mengusik ketenangan Arka, Kertajaya Group bisa turun 5%. Dan itu akan mengalami kerugian yang besar. Bagi Tuan besar beserta Kertajaya Group.


.........


Singkat cerita, Arka dan Bara telah sampai di cafe. Tempat biasa mereka berdua menongkrong bersama sewaktu sehabis pulang dari kampus. Dan tempat dimana Arka sebelumnya tengah merencanakan sesuatu. Saat sebelum ia bertemu dengan Bara.


"Mau makan apa Lo? Pesan yang banyak kalau perlu. Badan Lo kurus banget sekarang. Puas puasin makan disini. Sekalian pesan juga buat di bungkus satu." Ucap Arka.

__ADS_1


"Bungkus buat siapa? Lo mau makan dirumah?" Tanya Bara bingung.


"Bodoh! Ya buat Kak Ana lah. Gak ingat Lo sama dia? Dia masih istri Lo, kam*pret!" Jawab Arka kesal pada sahabatnya.


Saking laparnya perut sendiri, sampai tidak terpikirkan pada perut orang yang disayang. Duh!


"Ya Tuhan! Gua lupa, Ka. Ana! Ya udah nanti kita bungkus dua. Takutnya dia tengah malam kelaparan. Terus gak ada stok makanan di dapur." Tutur Bara.


"Ya udah, kalau gitu sekalian aja nanti. Sebelum kesana, kita mampir dulu ke supermarket. Buat beli bahan-bahan dan stok makanan buat dia. Kasihan dia sendirian. Andai, Gue yang jadi Suaminya. Gue bakal bahagiakan dia sepanjang hidupnya. Terus kita punya anak yang banyak. Dan hidup damai bahagia selamanya." Ucap Arka asal pada perkataan terakhirnya, seraya membayangkan sesuatu sambil memejamkan kedua matanya.


Dasar Arka, halu mulu kerjaan nya.


Eh.


"Daripada Lo menghalu mulu, mending lanjutin cerita yang tadi." Sanggah Bara.


"Oh iya. Gue hampir lupa. Ya udah Lo sambil makan aja."


"Iya iya. Bawel banget Lo, kayak emak-emak." Tutur Bara seraya mengunyah makanan.


"Kalau makan tuh gak boleh sambil ngunyah makanan, Barbar. Kalau tiba-tiba malaikat maut datang terus cabut nyawa Lo pas lagi makan, gimana? Kan gak lucu, orang mati gara-gara keselek makanan." Ucap Arka menasihati.


Maklum, dia kan belum makan udah dua hari.


Eh.


"Iya iya. Cerewet banget Lo, Ka. Ya udah lanjut aja ceritanya. Dari tadi ngoceh mulu. Gak jadi-jadi cerita." Gerutu Bara setelah menelan makanannya.


"Ya udah. Jadi gini....."


Setelah beberapa menit menjelaskan.


"Ana pingsan?" Tanya Bara terkejut.


"Iya, kata Kakak Gue dia pingsan. Terus di gotong sama dia dibawa ke dalam."


"Jangan bilang kalau CEO sialan itu sentuh Ana dan ambil kesempatan dalam kesempitan?!" Jawab Bara dengan penuh kebencian.


"Enggak, santai aja. Dia cuma menolong doang kok. Dia justru memasak makanan buat Kak Ana. Gue juga ikut makan disana. Tenang aja, ada Gue. Dia gak berani macam-macam sama Kak Ana." Jelas Arka seraya mengelus pundak Bara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2