Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 138


__ADS_3

“Nenek, Kakek dan Nenek keduaku boleh menginap disini tidak, Nek?” tanya Arbi bersemangat, pada Nyonya Kertajaya.


Pak Ali dan Bu Ayu tampak saling pandang, dengan mimik wajah yang gusar. Sementara wajah Arbi, penuh pengharapan pada Nenek keduanya.


“Boleh. Tapi Arbi harus ganti panggilan untuk Nenek.” Balas Nyonya Kertajaya.


Wajah Arbi seketika berbinar. Namun sesaat kemudian, kedua mata kecilnya membelalak.


“Ganti panggilan, Nek?” tanya Arbi bingung. Nyonya Kertajaya mengangguk pelan.


“Iya, supaya Arbi tidak bingung memanggilnya.” Lanjutnya lagi berucap.


“Memangnya kalau panggilan Nenek kenapa, Nek?” Arbi penasaran


“Sekarang Nenek Arbi ada dua. Jadi mulai sekarang, panggil Nenek Grandma. Supaya tidak bingung untuk membedakannya.” Tutur Nyonya Kertajaya.


“Wow, Grandma?” kedua mata Arbi berbinar ceria.


Nyonya Kertajaya tersenyum ramah, seraya mengangguk pelan. Tangan keriputnya terangkat menyentuh pucuk kepala kecil Arbi. Dan mengelusnya berulang kali. Sementara anak kecil itu, tampak berlompat-lompat kegirangan. Setelah mendapat persetujuan dari sang Nenek besarnya.


Pak Ali sangat berterima kasih pada Nyonya Kertajaya. Karena telah menerimanya serta Istrinya sebagai besan di keluarga ini. Dengan begitu, mereka bisa beristirahat dengan tenang disini. Tanpa perlu lagi merasa tidak enak, atau pula canggung.


“Kalian bisa istirahat di kamar tamu. Akan ditunjukkan oleh pelayan dirumah ini, dimana letak kamarnya.” Ucap Nyonya Kertajaya pada kedua besan nya.


“Nggih, terima kasih Bu. Karena sudah menerima kami disini dengan sangat baik sekali.” Sahut Pak Ali, berujar. Membalas perkataan besan nya.


Nyonya Kertajaya lantas mengangguk pelan.


“Silakan, dan tidak perlu sungkan. Kalau begitu, saya duluan masuk ke dalam. Mari!” Pamit Nyonya Kertajaya pada Pak Ali dan Bu Ayu. Dan Arbi, juga ikut masuk ke dalam bersama sang Nenek besarnya.


Seperginya Nyonya Kertajaya ke dalam rumah utama, Pak Ali dan Bu Ayu juga ikut masuk ke dalam sana. Untuk menempati kamar tamu yang sudah di sediakan untuk mereka berdua.


Kedua mata Bu Ayu tampak terbelalak kaget. Saat melihat ruang kamar tamu yang akan ia tempati bersama Pak Ali, Suaminya.


“Besar banget loh Pak, iki kamar nya.” Celetuk Bu Ayu, saat mereka memasuki kamar itu.


“Maklum toh, Bu. Ini kan rumah orang kaya. Besan kita itu keluarga konglomerat. Ya wajar kalau mewah.” Sambung Pak Ali membalas.


Bu Ayu memagut-magutkan kepalanya paham.


.


.


.


Sementara itu...


“Sayang, aku sudah tahu nama apa untuk kedua baby twins kita.” Ujar Bara lembut. Sembari mengecupi rambut panjang Ana yang berwarna cokelat keemasan.


“Apa? Kok aku nggak di ajak, sih? Untuk pemilihan nama nya.” Sahut Ana cemberut sebal.

__ADS_1


Cup!


Bara mendaratkan kecupan di bibir manis Ana. Lalu menatapnya dalam-dalam. Pelukan keduanya semakin di eratkan oleh Bara.


“Aku juga baru memikirkannya sekarang, sayang. Tiba-tiba saja itu semua terlintas di pikiranku.” Balas Bara lembut.


“Hm... begitu, ya?”


Bara mengangguk pelan.


“Terus, namanya apa?” tanya Ana penasaran.


“Ara dan Arez. Gimana menurut kamu?” ucap Bara memberi usul.


“Kok namanya A terus sih, sayang? Huruf awalan depannya. Arbi juga A.” Tutur Ana sembari menghela napas panjang.


“Iya, kan nama awalan huruf kamu itu A. Jadi semuanya juga harus A. Mengikuti huruf awalan nama dari Bunda nya.” Celoteh Bara menjelaskan.


“Kenapa nggak pakai huruf awalan nama kamu juga?”


“Namaku? Hm... sepertinya lebih bagus kamu, deh.” Tukas Bara diakhiri tawa kecil nya.


Dan lagi, bibirnya tak bisa berdiam. Untuk mengendus lekuk leher jenjang Ana.


Bara... Bara...


Eh.


“Kok masih bertanya sih, sayang?”


“Memangnya kenapa? Aku kan, hanya bertanya... Bara.” Ana mendengus sebal.


“Rasa sayangku itu... melebihi rasa sayang kamu ke aku, Ana.” Gumam Bara lembut. Suaranya terdengar sedu.


“Eh, s-sayang?” Ana mendadak khawatir tidak jelas. Melihat ekspresi Bara yang cenderung berlebihan padanya.


Ya—bukankah mencintai dan menyayangi seseorang dengan tulus, memang seperti itu? Rasanya takut akan kehilangan orang itu. Bukan cengeng, atau pula lemah. Tapi ketulusan yang teramat dalam. Hingga menjadi lemah dan tak berdaya. Di hadapan orang yang kita sayang.


“Kamu kenapa?” tanya Ana bingung. Tangannya terangkat mengelus lembut wajah Bara. Lelaki itu lantas membenamkan kepalanya di buah dada Ana.


“Aku nggak tahu, An. Aku begitu lemah, kalau di hadapan kamu. Rasanya bukan seperti lelaki sejati.” Gumam Bara berkata sedu. Pelukannya kian mengerat pada Ana.


“Tandanya kamu orang yang tulus, sayang. Cintamu nggak palsu. Dan aku suka dirimu yang begini. Tapi hanya denganku saja.” Balas Ana lembut, seraya mengelus rambut hitam Bara. Di kecupnya kening itu beberapa kali oleh Ana. Hingga membuat sang empu tertidur nyenyak di pelukannya.


“Aih, sayangku tertidur disini.” Bisik Ana pelan. Gurat senyumnya tanpa sadar terukir begitu saja. Melihat wajah Bara yang begitu lelah.


“Kamu pasti sangat lelah, kan? Pekerjaanmu begitu berat dan banyak, sayang. Aku akan selalu jadi Istri yang baik untuk kamu, Bara.” Ucapnya lagi berbisik. Dan kemudian, Ana memindahkan Bara di sebelahnya.


Bara tertidur begitu pulas. Padahal, baru beberapa menit yang lalu. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Ana.


Cup!

__ADS_1


Ana mendaratkan kecupan di kening dan juga wajah tampan Bara. Lalu menyelimuti lelaki itu dengan selimut tebal. Menutupi tubuh kekar yang tak berbusana. Ana lantas beranjak bangun, setelah menidurkan Bara. Kakinya berjalan mendekati keranjang bayi kembar itu.


Ara dan Arez, adalah nama dari kedua baby twins.


Ana menggendong satu persatu kedua bayi itu. Yang pertama di gendong ialah bayi perempuan. Ana memanggilnya dengan sebutan Ara. Mengecupi wajah imut kecilnya yang terlihat begitu mirip dengannya.


“Sayang... nama kamu sekarang adalah Ara. Jadi, mulai saat ini, Bunda akan memanggilmu Ara. Bunda sayang Ara.” Bisik Ana berucap pelan. Mengajak bicara bayi perempuan itu.


Mengecupi berulang kali bayi mungil yang ia gendong. Ana lantas menaruhnya kembali. Setelah puas menggendongnya, dan memberikan ASI pada Ara. Dan sekarang, bayi kembar lelaki yang Ana gendong.


Arez rupanya sangat kehausan. Sampai-sampai, Ana agak kesulitan saat menyusuinya. Dan harus membawanya ke tepian kasur. Berada di dekat Ayahnya, Bara.


Pergerakan kecil dari tangan dan kaki mungilnya, membuat Ana tertawa geli. Melihat aksi dari bayi kecilnya yang aktif. Sementara Ara, lebih mudah tertidur. Berbeda dengan Arez yang bila sudah bangun, tapi sulit untuk tidur lagi.


Ana menyusui dan mengajak Arez berbicara.


“Arez sayang... namamu sekarang, Arez. Ayah kamu baru memberimu nama tadi.” Gumam Ana lembut. Sembari menyusui Arez di kasur empuk itu.


Tangan kecil Arez, di dekatkan Ana pada dada bidang Bara. Jari jemari mungil nya bermain-main menyentuh tubuh Ayahnya. Ana tersenyum kecil melihat tingkah imut nya. Tanpa sadar, hal itu membuat Bara terbangun dari tidurnya.


Samar-samar, mata Bara perlahan terbuka. Meski masih meremang, ia bisa merasakan sentuhan kecil dan halus dari tangan mungil Arez.


Bara memeluk dan mencium bayi mungilnya. Di taruhnya di atas dada bidang tubuhnya yang tak berbusana. Ana agak terkejut dibuatnya.


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Ana lembut.


“Iya... aku terbangun karena makhluk kecil ini.” Balas Bara dengan suara parau.


“Namanya Arez, sayang.” Tukas Ana mengingatkan.


“Arez?” Bara mengulangi kata-katanya. Ana lantas mengangguk pelan.


“Berarti kamu jagoan nya Ayah. Kamu sebentar lagi pasti akan tumbuh besar seperti Kakakmu, Arbi.” Bisik Bara pada Arez, seraya mengelus lembut kepala kecilnya. Dan menciumnya berulang kali.


SET


Ana berubah posisi menjadi terlentang di sebelah Bara. Tangannya bergelayut mesra memeluk Bara dan Arez. Suasana ruang kamar itu semakin hangat terasa. Karena sebuah keluarga kecil yang begitu harmonis tercipta.


Cup!


Bara mengecup lembut kening Ana. Saat Ana memiringkan wajahnya menghadap Suaminya, Bara. Keduanya sama-sama tertawa kecil. Dengan perasaan bahagia yang tidak bisa di ungkapkan hanya dengan sebuah kata-kata.


Kehadiran Ara dan Arez begitu menambah kehangatan. Pada keluarga kecil mereka setelah adanya Arbi.


“Aku sayang kamu... Bara.” Bisik Ana lembut.


“Aku lebih mencintaimu, sayang.” Bara membalasnya tak kalah lembut dari Ana.


Ya—bukankah itu bahagia? Mempunyai keluarga harmonis dan selalu baik-baik saja. Tanpa perlu bertengkar dan merasa paling hebat satu sama lainnya. Ana dan Bara mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang baik dan sempurna terhadap pasangan.


Semoga kelak cinta mereka akan abadi selamanya.

__ADS_1


__ADS_2