
Bara sampai di depan kosan dan tak sabar untuk menemui Ana, namun berulang kali ia mengetuk pintu dari luar tak ada yang menyahut dari dalam. Beruntung Bara punya kunci cadangan, jadi ia tetap bisa masuk ke dalam. Krek, pintu kosan terbuka, keadaan di dalam kamar kosan tampak hening dan sunyi tak seperti biasanya. Bara bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Ana. Sesampainya di kamar, ia melihat Ana tengah tertidur pulas dan hanya mengenakan baju tipis yang pernah ia beli untuknya.
Bara tersenyum kecil menatap Ana dari depan pintu kamar. Ada rasa senang karena Ana mulai menyukai baju pemberiannya, meskipun tidak mahal dan mewah harganya. Perlahan kakinya melangkah mendekat ke arah tempat tidur. Tangannya mengusap lembut perut Ana yang besar, dan mengecup lembut keningnya. Ana menggeliat dan perlahan membuka matanya. Senyuman kecil terukir di bibir Ana.
“Kamu udah pulang? Kok bisa masuk? Kan pintu aku kunci.” Ucap Ana dengan beberapa pertanyaan.
“Iya, bisa dong. Aku kan punya kunci cadangan. He he.” Tutur Bara terkekeh.
Bara duduk di samping Ana, sementara Ana berusaha bangun dan membenarkan posisinya menjadi duduk.
“Cium dong.” Pinta Bara.
“Kamu bauk, mandi dulu sana.” Jawab Ana, sambil mencubit kecil Bara di pipinya.
“Tapi cium dulu. Kalau gak di cium aku gak mau mandi.” Pinta Bara.
“Pemaksaan.”
“Biar in, sama Istri sendiri juga kan.”
“Tapi akunya gak mau.”
“Harus mau.”
“Enggak.”
“Iya.”
“Apaan sih Bara! Mandi dulu!”
“Enggak. Cium dulu.”
“Gak mau.”
“Yaudah kalau gitu aku yang cium kamu. Hayo!” Ucap Bara sembari mendekap Ana ke dalam pelukannya.
“Aaaaak! Ha ha ha lepas in Bara! Kamu bauk ih!” Ana terkecoh sendiri dibuatnya.
“Kamu nya gak mau cium aku.”
“Iya tapi lepas dulu.”
“Enggak pokonya.”
“Aku gak bisa napas Bara! Aw perutku!” Tertiba Ana merasakan kram di perutnya. Spontan Bara panik dan melonggarkan pelukannya.
“Kamu kenapa yang? Ma-maaf in aku please!” Bara memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kamu sih gara-garanya! Perutku sakit Bara!!! Awh! Aduh!” Keluh Ana sembari memaki Bara.
__ADS_1
“Iya maaf, aku salah.” Ucap Bara sembari mengusap lembut perut Ana. Perlahan rasa sakitnya memudar dan ia kembali tenang.
“Gimana? Masih sakit nggak?” Tanya Bara. Ana diam tanpa menjawab.
“Kamu masih marah? Maaf. Aku kangen sama kamu habisnya. Kamu nya gak mau dekat-dekat sama aku rupanya.” Tutur Bara sembari membalikkan badannya untuk bangkit dan meninggalkan Ana. Tapi.... Ana tiba-tiba memeluk Bara dari belakang. Senyuman kecil terukir di bibir Bara.
“Aku yang minta maaf, Bara. Seharusnya aku menyambut kamu pulang. Tapi malah bersikap begitu. Maaf in aku.” Ucap Ana sendu. Bara kembali duduk disampingnya dan membawa Ana ke dalam dekapannya.
“Enggak, enggak. Kamu gak salah. Tapi aku yang gak tahu situasi. Kamu pasti lelah banget kan hari ini?” Tanya Bara.
“Hm, iya sih. Tapi kamu yang lebih lelah.”
“Aku biasa aja kok.” Ucap Bara berbohong, walau sebenarnya ia sangat lelah.
“Sebagai permintaan maaf, aku kabul in apa mau kamu.” Tutur Ana. Seketika Bara membulatkan kedua matanya.
“Ka-kamu serius yang?” Tanyanya.
“Iya sayang.” Jawab Ana. Dan, cup. Ana mengecup lembut pipi Bara. Yang di cium kegirangan.
“Lagi dong.” Pintanya lagi.
Cup
Cup
Cup
“Kamu capek ya? Yaudah gantian deh. Aku yang kecup kamu.” Ucap Bara.
“Eh enggak enggak. Kamu diam aja, cukup diam! Jangan ada pergerakan apa pun itu!” Pinta Ana. Bara mengerucutkan bibirnya, namun ia tetap melakukan aksinya. Huh, dasar buaya!
“Bara ih! Bara... Ka-kamu aha ha ha ha. Bara diam ih!” Ucap Ana.
“Aku suka wangi tubuh kamu An.”
“Memang wanginya gimana?” Tanya Ana.
“Wangi baby gitu.” Ucap Bara.
“Kan sebentar lagi kita mau punya baby.” Tutur Ana. Spontan Bara menghentikan aksinya, dan ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh Ana.
“Udah?” Tanya Ana menoleh ke arah Bara.
“Udah, aku takut baby kita kenapa-kenapa yang.” Jawab Bara sembari menatap mata Ana.
Mata indah itu, ucap Bara dalam hati. Ia mengingat pertemuan singkatnya dengan Ana pada saat itu di kantin. Tak pernah terpikir sebelumnya untuk menikah di usia muda, apalagi pada orang yang baru ia kenal. Kejadian beberapa waktu lalu kembali terputar di memori otaknya. Perlahan wajahnya mendekati Ana, dan mengecup keningnya dengan lembut.
“Aku sayang kamu, Kak.” Ucap Bara.
__ADS_1
“Kok panggilnya, ‘Kak’ lagi sih? Kan kita udah sepakat buat panggil pake bahasa cinta.” Tutur Ana.
“Aku tiba-tiba ke ingat kejadian kita waktu awal kenal.” Ucapnya. Ana tersipu malu, pipinya merona.
“Cie, kamu malu ya? Ha ha ha.” Ledek Bara padanya.
“Ih apaan sih kamu.” Tutur Ana kesal.
“Kalau di pikir-pikir, semuanya berjalan kayak cepat banget ya An?” Ucap Bara.
“Ya kan waktu terus berjalan, Bara. Kamu maunya waktu gak jalan-jalan gitu?”
“Ya enggak juga, maksud aku, gak menyangka aja gitu. Aku bisa kenal kamu secara gak sengaja, terus kita dinikahi secara paksa karena kesalahpahaman. Dan setelah itu, aku jadi benaran cinta sama kamu.” Jelas Bara. Sementara mata Ana sudah berbinar dan berkaca-kaca menatapnya.
“Terus dulu kamu gak cinta dong sama aku?” Tanya Ana memastikan.
“Cinta, tapi gak sebesar sekarang. Apalagi sekarang udah ada baby di perut kamu.”
“Tapi orang tua kamu belum merestui pernikahan kita.” Ucap Ana tertunduk sendu. Bara mengecup lembut keningnya.
“Kalaupun mereka tetap gak beri kita restu, yang penting kamu tetap punya aku. Aku janji gak akan pergi lagi An.”
“Kamu ngomong gitu biar aku gak sedih aja kan? Iya kan? Aku gak tahu kamu bakal pergi lagi atau enggak. Yang jelas aku gak siap jika harus membiarkanmu pergi lagi. A-aku gak siap, Bara! A-aku aku gak siap! Hu hu hu!” Tangis Ana pecah. Bara mengeratkan dekapannya, dan berulang kali mengecup wajah Ana.
“Aku janji tetap sama kamu, apa pun kondisinya. Aku sayang kamu, cintaku.”
“Berhenti berucap begitu, Bar. Aku gak butuh pengakuan, tapi butuh pembuktian. Feelingku udah gak enak. Aku takut kamu bakal ninggalin aku lagi.”
“Atau justru kamu yang akan ninggalin aku, An.” Kali ini Bara yang tertunduk lesu. Pikirannya tertuju pada Arya, CEO di perusahaan tempat kerjanya.
“Maksud kamu? Aku? Aku gak mungkin pergi ninggalin kamu, Bar. Sementara aku disini gak punya siapa-siapa selain kamu.”
“Iya, aku tahu. Bagaimana dengan munculnya kehadiran pria dewasa yang lebih kaya, pasti kamu jauh lebih memilihnya dibanding aku yang sekarang sudah tak punya apa-apa, An.” Tutur Bara, pandangannya menatap lurus dengan tatapan kosong. Ia justru yang lebih takut dan mencemaskan Arya yang akan merebut Ana darinya.
Bagaimana dengan kelanjutan kisah cinta mereka?
VISUALISASI ARYA as RIZKY NAZAR
Buat yang kepo sama Arya, udah author kasih yaa. Mohon maaf untuk readers tercinta author, akhir-akhir ini jarang update, dan gak konsisten terhadap karya ini. Kedepannya semoga bisa lebih baik. Terimakasih tetap setia pada perjalanan kisah Bara dan Ana. Jangan pernah bosan, karena perjalanannya masih panjang untuk dilewati. Masih harus menempuh beberapa kerikil-kerikil kecil maupun besar, yang harus dihadapi oleh Ana dan juga Bara.
SPECIAL VISUAL TERBARU ANA DAN BARA
__ADS_1
ANA