Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 36


__ADS_3

Sudah satu jam Arya menunggu kemunculan Ana di hadapannya, namun masih belum juga terlihat batang hidungnya. Terlihat jelas raut wajahnya yang sudah bosan menunggu. Sampai akhirnya ia memutarkan setir mobilnya untuk pergi dari sana. Arya balik ke kantornya dengan wajah yang masam. Tindakan yang bodoh, menunggu Istri orang hanya demi kepuasan tersendiri.


“Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!” Gerutunya sambil membanting setir mobil. Siapa suruh mau jadi pebinor, ha ha.


-


Waktu terus berjalan dan sekarang sudah menunjukkan pukul enam sore hari. Bara dan Ana juga sudah berada di dalam kosan mereka, menikmati masa indah berdua. Masa-masanya untuk romantis-romantis an, serta melepas segala kepenatan setelah seharian penuh menghabiskan kebersamaan di luar. Bara tengah asyik bercerita sembari merebahkan kepalanya di pangkuan Ana. Entah apa yang mereka bicarakan berdua.


“Kamu serius mau pindah kantor? Apa gak terlalu cepat ya, sayang?” Tanya Ana sembari mengelus lembut wajah Bara yang berwajah bebelac itu.


“Iya, aku serius. Justru semakin cepat semakin bagus yang. Aku makin gak tenang sekarang.” Tutur Bara sembari mendongakkan kepalanya menatap nanar Ana.


“Gak tenang kenapa? Kamu ada masalah di kantor?”


“Iya. Apalagi itu semua berkaitan sama kamu.”


“Kok aku?”


“Iya kamu. Kamu masih ingat kan, sama CEO yang pernah aku ceritakan waktu itu?”


“Iya ingat, kenapa?” Tanya Ana penasaran.


“Dia ada hati sama kamu, An.” Tutur Bara sembari membuang wajahnya ke arah lain.


“Kok gitu? Kan dia tahu kalau aku Istri kamu.” Kata Ana polos.


“Justru itu, dia makin gila, An. Aku takut kalau dia bakalan ambil kamu dari aku.” Ucap Bara menatap dalam Ana sedu.


Spontan Ana mengecup lembut wajah Bara, memberikan ketenangan padanya. Bagaimana mungkin, Bara bisa berpikir sejauh itu. Padahal yang seharusnya takut ialah Ana sendiri. Takut akan kehilangan Bara lagi, menjalani hari-hari yang terasa berat tanpa nya. Flashback di masa lalu, Bara pergi dengan paksaan oleh keluarganya untuk pergi ke Australia untuk menikah dengan wanita pilihan keluarga Kertajaya.


Usaha yang dilakukan Ana sia-sia, mulai dari mencari informasi lewat sosial media sampai mendatangi kembali rumahnya. Disisi lain, ada Arka yang selalu setia menemaninya walau tanpa Bara sekalipun. Yang namanya kebaikan, tidak selalu berujung ketulusan. Arka menyimpan rasa pada Ana, namun ternyata ia begitu berani untuk mengatakannya. Lain halnya dengan Ana yang tetap setia menunggu kepulangan Bara, sampai akhirnya Tuhan membawanya lagi ke hadapannya.


“Hei, kamu melamun ya” Ucap Bara menghentikan lamunan Ana.


“Ah, enggak. Aku cuma ke pikiran aja, Bar.” Tutur Ana.


“Ke pikiran tentang?”


“Hm gak jadi deh, eh kamu gak Shalat ke masjid? Ini udah mau magrib loh sayang.” Ucap Ana mengalihkan topik.


“Aku Shalat dirumah aja, kan kamu lagi hamil. Gak baik kan, kalau ninggalin ibu hamil sendirian.” Celoteh Bara sembari mengelus lembut perut Ana.


“Yaudah, iya. Kamu memang Suami yang siaga.”


“Iya dong. Hm, tadi kamu melamuni apa sih? Kamu pasti lagi mikirin sesuatu.” Tutur Bara menebak-nebak.


“Enggak, apaan sih kamu.”

__ADS_1


“Tuh kan, kamu jadi sensitif gitu.”


“Kamu nya bikin kesal.”


“Kok jadi aku?”


“Iya, kamu. Udah sana mandi, katanya mau Shalat.” Ucap Ana sembari mendorong Bara.


“Awas ya kamu.” Ledek Bara sembari menampilkan senyum menyeringai.


“Awas kenapa?” Tanya Ana.


“Awas nanti malam.”


“Nanti malam kenapa memangnya?"


“Aku terkam kamu.” Tutur Bara lagi-lagi dengan senyuman menyeringai itu, dan perlahan menghilang dibalik pintu toilet.


Ana hanya bisa menggeleng-geleng kelakuannya yang masih saja seperti bocah.


“Dasar bocil.” Gerutu Ana.


-


Keesokan harinya, Bara berangkat ke kantor seperti biasanya. Ia bahkan sudah menyiapkan surat pengunduran diri. Dasar bocah nekat, dia gak tahu kalau Arya sudah tahu akan rencananya itu. Disisi lain, Arya juga menyiapkan rencana liciknya agar Bara tak bisa pergi dari kantornya. Dia pikir bisa dengan mudah keluar masuk seenaknya di kantorku, ucap Arya dalam hati.


Masih pagi sekali, dan baru beberapa karyawan yang datang pagi ini, termasuk Bara. Di depan pintu masuk sudah berdiri petugas keamanan kantor bersama dengan rekan kerjanya.


“Pagi pak, Bara.” Sapa salah seorang petugas keamanan itu. Orang yang waktu itu pernah mengusir Bara.


“Pagi.” Jawab Bara dingin dan langsung masuk ke dalam lift untuk sampai ke ruangannya.


“Dasar belagu, pegawai baru aja udah sombong.” Umpat security itu. Hei pak, introspeksi diri atuh.


Bara enggan membalas perkataannya meskipun ia mendengar jelas apa yang security itu ucap.


Waktu bergerak cepat, dan sekarang sudah pukul 08.00 WIB pagi. Arya sang CEO sekaligus founder dari perusahaan sudah tiba pagi ini. Tampilannya yang selalu rapi nan elegan membuat para pegawai wanita disana tergila-tergila padanya, pun dengan aroma parfum mewah dari khas bajunya. Siapa yang tak suka pada CEO muda, tampan, dan juga mapan sepertinya. Sayangnya di luar dugaan mereka semua, kelebihan yang Arya miliki justru malah berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan dan juga harapkan, ialah mencintai istri orang. Dan berniat untuk merebutnya dari Suaminya, tindakan bodoh yang dilakukan oleh seorang CEO sepertinya.


“Rajin sekali ya, pagi ini sudah tiba lebih awal ke kantor.” Tutur Arya pada Bara sembari berjalan ke arahnya.


“Hm, Iya pak. Oh ya, ini saya mau menyerahkan surat pengunduran diri saya.” Ucap Bara sembari menyerahkan sebuah map berisi surat resign yang sudah ia buat semalam.


“Kamu mau resign dari kantor ini?”


“Ia, Pak.”


“Dengan alasan?” Tanya Arya dengan mimik wajah yang sok cool itu. Dasar picik.

__ADS_1


“Kehamilan Istri saya sudah memasuki masa melahirkan, jadi saya harus lebih ekstra menjaganya.” Ucap Bara beralasan, walau sebenarnya ia sudah muak dengan kelakuan CEO itu.


“Kan bisa untuk ambil cuti, kenapa harus resign?”


“Kalau untuk cuti dalam waktu panjang, saya pikir justru akan menimbulkan masalah baru pada kantor ini, Pak.”


“Tidak, kalau mengambil cuti karena alasan yang tidak jelas, baru akan saya proses untuk mendapat diskualifikasi. Jadi, saya pikir tidak ada alasan untuk kamu resign dari kantor ini. Karena kamu sudah menandatangani surat perjanjian ini.” Jelas Arya sembari menyerahkan amplop putih.


“Apa ini, Pak?” Tanya Bara.


“Surat perjanjian yang pernah kamu tanda tangani dulu, sewaktu diterima kerja di perusahaan ini.”


Bara membuka amplop itu dengan perlahan dan membaca keseluruhan isi dari surat yang diberikan oleh Arya. Seketika itu membuatnya emosi dalam hati yang tak bisa ia luapkan. Ada kalimat yang bertuliskan bahwa jika ingin resign dari kantor ini maka harus membayar denda sebesar seratus juta rupiah. Jadi itu yang di rencanakan Arya, membuat Bara tak bisa berkutik. Karena ia tahu dengan keadaan Bara yang tak memungkinkan untuk bisa membayar jumlah nilai mata uang itu.


“Sialan!” Umpat Bara dalam hati.


“Jadi, gimana? Kamu masih tetap mau resign dari kantor ini?” Tanya Arya sambil melipatkan kedua tangannya.


“Maaf, Pak sebelumnya. Seingat dan setahu saya, sewaktu saya menandatangani surat perjanjian penerimaan kerja waktu itu, saya tidak menemukan isi dari surat perjanjian yang seperti ini. Karena saya masih ingat jelas dengan apa yang saya baca pada waktu itu.” Jawab Bara sambil menyerahkan kembali surat perjanjian yang diberikan Arya tadi.


“Kamu mungkin saja lupa, kalau kamu masih tidak percaya, akan saya panggilkan sekretaris saya dari kantor ini.”


“Baik, saya akan tunggu, Pak.”


Seketika Arya memanggil sekretarisnya untuk menjelaskan semuanya kepada Bara.


“Jelaskan semuanya secara rinci padanya” Ucapan Arya seperti sudah tahu apa yang harus sekretaris itu jawab untuk memberikan pernyataan yang membenarkan atas isi dari surat perjanjian itu.


“Baik, Pak. Saya akan jelaskan lebih detail lagi ya, Pak Bara. Dalam isi surat perjanjian kontrak kerja dari perusahaan ini, bagi setiap pegawai yang ingin resign dari kantor ini, namun kurang waktu yang ditentukan atau belum lama kerja namun sudah ingin resign maka harus membayar denda pada perusahaan ini sebesar seratus juta rupiah. Dan kalau tak mampu untuk membayarnya, maka harus tetap bekerja kembali seperti biasanya di kantor ini. Sampai waktu kontrak yang ditentukan itu habis.” Jelas sekretaris itu.


“Semuanya seperti sudah direncanakan, lu pikir gua bodoh?!! Oke, gua ikuti permainan lu!” Pikir Bara dalam hati.


Mau tidak mau, Bara harus menerima keputusan itu. Ia tetap bekerja di kantor Arya, dan harus bertahan selama dua sampai tiga tahun ke depan. Entah apa yang akan terjadi nantinya, ia sudah pasrah dengan keadaan ini. Pasrah kalau memang Ana bukan untuknya, maka ia akan pergi darinya. Dan begitu pula sebaliknya, semua yang ia lakukan pun juga percuma untuk berniat pergi dari kantor ini.


-


Sementara di kosan sana, Ana masih membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia tidak pergi untuk berangkat kampus hari ini, mungkin itulah penyebabnya Bara bisa berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Kehamilannya yang semakin besar membuatnya kesulitan untuk bergerak bebas. Pun juga akhir-akhir ini sering merasakan kontraksi palsu, dan hal itu pula yang membuat Ana beralasan untuk tidak ke kampus hari ini. Namun ia tetap meminta izin pada pihak kampus dan dosen karena alasan sakit, sebab tak ada yang tahu kalau Ana sudah menikah dan tengah hamil besar.


######


UNEK UNEK AUTHOR!


Terimakasih untuk para pembaca setia DB, semoga Allah limpahkan atas rezeki untuk kita semua. Aamiin. Author minta doa dari semuanya, agar bisa menyelesaikan novel ini sampai the end. Karena makin terus lanjut, makin banyak konflik yang terjadi nantinya. Hayooo, gimana dengan Ana dan Bara? Coba tebak, apakah mereka akan berpisah atau justru akan terus bersama? Komen yaaa....


Terimakasih telah membaca dan menshare cerita ini, semoga senantiasa sehat selalu, berkah dan dilancarkan rezekinya, dimudahkan segala urusan-urusannya. Serta bahagia di dunia maupun akhirat. Aamiin. Semoga Allah mengangkat derajat kita semua aamiin yaa Rabbal Aalamiin.


Salam author terkasih. 🥰❤☀️

__ADS_1


__ADS_2