
Chapter 10: Me and Dream.
"Kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Hera pada Bling.
"Mau gimana lagi, aku harus melindunginya" kata Bling lagi.
Jun ada di kursi panjang yang terpasang di depan toko. Memakan donat kentang isi tuna dan Red ada disana di sebelah kanan sedangkan ada di sebelah kiri ada Sammy yang memakan donat dengan rasa yang sama seperti keduanya.
"Kenapa selezat ini?" tanya Sammy.
Red dan Jun cuma geleng-geleng kepala dengan kata-kata yang Sammy keluarkan baru saja.
"Kemarin-kemarin kamu makan apa?" tanya Jun.
"Aku. Aku ya makan seperti kalian" kata Sammy.
Mereka bertiga sedang istirahat bekerja setelah membuat makanan tadi di pukul setengah sepuluh malam.
Sedang menikmati makan malam teman mereka datang. Siapa dia, dia adalah Ben.
"Kau kemari?" tanya Jun.
"Iya. Geser dikit!" kata Ben.
Ben duduk tepat di sebelah kiri Jun saat ini sedangkan Sammy ada di sebelah kiri Ben.
"Terus kenapa bawa itu segala?" tanya Jun.
"Bee juga pergi ke rumah sakit menemui neneknya disana tadi aku habis mengantarnya kesana" kata Ben.
"Intinya?" tanya Jun.
"Aku tak mau pergi ke kebun teh besok. Aku mau nonton konser band" kata Ben.
"Itu hanya alasanmu saja paling besok kau tidur seharian dirumah ku" kata Jun.
"Apa kalian dijodohkan?" tanya Jun.
"Tidak. Kami berdua tak mau pergi kesana saja" kata Ben.
"Aku ingin menjadi anak angkat Ayah dan Ibumu" kata Jun.
"Tidak mungkin. Kau juga anak tunggal" kata Ben.
Kedua teman mereka Red dan Sammy tak peduli dengan obrolan mereka berdua.
Donat mereka habis.
"Aku minta air milik mu?" kata Red pada Sammy.
"Air. Ini" kata Sammy memberikan air mineral dalam gelas miliknya itu.
Kedua tangan mereka tanpa peduli dengan remaja laki-laki disamping merek santai lewat begitu saja.
"Kita akan tutup masih lama. Tak apa disini?" tanya Red.
Jun melirik sedikit kearah Red.
"Aku takkan mengambil dia darimu. Bisa nggak, wajahmu jangan membuat ku takut?" kata Ben.
"Aku sudah biasa" kata Jun.
Alih-alih sebuah cinta yang tak pernah ada lagi bisa diwujudkan dengan orang yang ada disana, dia masih saja sendiri. Tidak pergi atau tinggal dia belum bisa menentukan akhir kisah hidupnya yang ia pikir masih tertinggal di suatu tempat yang sama sekali ia tidak tahu. Ia merasa tersesat dan ingin cepat pulang karena ia sadar ini bukan tempatnya untuk tetap tinggal.
"Aku akhirnya menemukan mu. Aku juga senang saat kau bisa tersenyum lagi. Aku ingin pergi, tapi aku tidak tahu kenapa tetap disini?" kata Bling.
Dia di seberang jalan di depan toko es krim melihat kearah Jun. Angin malam dingin menyusup ke arah Bling. Bling lama ada disana.
"Siapa yang kulihat di seberang sana. Dia tidak mungkin, Bay?" Kata Jun.
Bayangan tak begitu jelas yang telah Jun lihat saat mengobrol dengan Ben sejak tadi ada di depan toko es krim yang belum tutup dengan para pelanggan yang masih berdatangan di malam ini malam minggu.
Wisata malam kali ini sangat ramai dengan banyak pengunjung yang berdatangan yang meramaikan malam ini.
"Ada hantu disekitar kita" kata Jun bicara dalam hati.
Kendaraan-kendaraan melintas dengan berbagai tingkat kecepatan melintas di depan Bling yang belum pergi menatap kekasihnya dari kejauhan. Dia jelas sedang menahan air mata yang berbinar menyadari hidupnya sudah berakhir sejak lama didunia ini.
Malam ini terdengar suara-suara anjing lebih sering terdengar dengan jarak waktu yang cukup berdekatan. Suara serigala juga ikut lebih sering hadir di malam ini bersamaan dengan lolongan anjing.
__ADS_1
Jalan yang sudah sepi dengan sisa air hujan dua jam yang lalu di jalan kecil itu. Toko-toko di sana sudah tutup.
Para penjaga lingkungan tempat tinggal mereka yang berjumlah enam orang berbagi kelompok menjadi tiga bagian berbagi wilayah berkeliling menjaga keamanan di daerah mereka sepanjang malam kadang bergantian istirahat jika memang harus istirahat.
Tak ada apapun selama mereka semua berkeliling menjaga keamanan di daerah mereka. Namun, entah kenapa banyak anjing-anjing berkeliaran di malam ini pergi berlari saat di dekati oleh para petugas keamanan yang berjaga.
Lampu-lampu baik didalam maupun diluar belum menyala sejak tadi sore. Tak ada tanda suara apapun terdengar dirumah yang terkunci tersebut. Semua terlihat baik-baik saja tak ada rasa suram disekitarnya semua lampu disana menyala terang kecuali rumah yang didatangi oleh Jimmy tadi sore sepulang sekolah.
"Dia sulit sekali untuk dihubungi" kata Jimmy.
Dia sedang menghubungi temannya itu dan lagi lagi tak ada jawaban.
Wali kelas mereka yaitu Pak Gerry sudah memberikan tugas baru sejak sore tadi kepada seluruh murid di angkatan Jun untuk mengerjakan sebuah tugas dan harus berbeda obyek penelitian mereka meski itu sama tidak boleh mengumpulkan hasil penelitian mereka dengan hasil yang sama persis atau mengcopy. Itu jelas dilarang dalam isi pesan surelnya dengan huruf besar.
"Besok kita tak bisa berlibur. Kita harus mengerjakan ini" kata Ben.
Itu alasan yang ia ambil agar tidak bisa ikut bersama Bee ke perkebunan teh besok pagi. Meski ada sedikit alasan lain yang membuat mereka berdua memang tak ingin ikut pergi kesana besok.
Tak ada yang bertengkar di dalam kamar Jun, Ben dan Bee juga masih sempat berbagi tips mengerjakan tugas. Lebih tepatnya, dia sedang meminta bantuan kepada Bee untuk tugas kali ini melalui ponsel.
Good juga ada disana bersama Jun dan Ben dikamar Jun mengerjakan tugas. Kalau Good tipikal penurut apalagi jika Jun sedang mengajarkan materi dalam hal akademis.
"Kau tidak merokok lagi?" tanya Good.
Good mengambil rokok rokok yang belum terbuka yang ada di atas laci meja kamar Jun.
"Tidak. Aku sedang taubat" kata Jun.
"Kau juga tahu kalau gadis itu tidak suka dengan laki laki perokok" kata Ben.
"Aha. Aku ingat" kata Good.
Jun tiba-tiba saja ingat dengan seseorang yang selalu mengatakan kalimat yang sama dengan Good barusan.
Bunga bunga berjatuhan nampak jelas ingatan itu masih sangat baru meski sudah satu tahun lamanya berlalu.
"Siapa gadis ini?" tanya Good yang tak sengaja melihat sebuah foto yang terjatuh dari buku notes milik Jun.
Jun tak langsung merebut foto yang Good temukan.
"Dia agak mirip dengan teman kita. Coba lihat?" tanya Good pada Jun.
"Iya" jawab Jun tanpa basa basi.
"Coba kulihat" kata Ben.
Ben melihat dengan teliti siapa yang ada di foto milik Jun.
"Dia agak mirip dengan Bling. Benarkan, apa aku salah?" tanya Ben pada mereka.
"Iya. Dia mirip dengan Bling" jawab Jun santai.
"Lalu, ini siapa?" tanya Good.
"Dia pacarku" kata Jun.
"Pacar?" tanya Ben, dia mulai berlebihan lagi dalam bertanya nada suara penuh ekspresif.
"Aku tidak jadi bicara lagi. Ayo kita belajar lagi" kata Ben mengajak Good.
Good menjadi patuh lagi.
"Dia sudah meninggal" kata Jun.
Raut wajahnya terlihat sedih saat ia mengatakan hal ini. Apalagi mendengar penjelasan dari Jun barusan mereka berdua tambah tak banyak bicara lagi dengan Jun.
Mereka bertiga sangat sibuk dengan tugas tugas mereka dalam situasi ini berbeda dengan Jimmy dia belum berubah sesuai tebakan Sammy dia datang di rumah lama Sammy mencari gadis itu di tengah malam dengan keadaan mabuk membuat kegaduhan yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Driver pribadinya ada disana mengantar remaja ini sampai didepan rumah Sammy dan dia belum pergi dari sana.
"Yang kutahu anak orang kaya tidak semua seperti Jimmy" kata Driver pribadi Jimmy menunggu di luar mobil.
Jimmy ada duduk di depan gerbang rumah lama Sammy. Meski berkomentar seperti itu, dia tak tega melaporkan hal semacam ini kepada Bos besarnya tentang perilaku anaknya ini. Dia baru bekerja dua hari menjadi driver sekaligus bodyguard pribadi tuan muda ini.
Tuan muda sedang muntah muntah disana akibat kebanyakan minum dan bodyguard pribadi Jimmy membiarkan tuan mudanya muntah sendirian disana dengan puas.
"Aku terlalu baik jika membantunya saat ini" kata Bodyguard Jimmy lalu mengambil rokok dan menyalakan rokoknya dengan pemantik besi.
Bodyguard Jimmy menunggu sampai rokok yang ia hisap habis baru dia akan membawa tuan mudanya pulang dan itu juga tidak pulang kerumah melainkan ke rumah sewanya.
Karena terlalu malam jika akan pulang kerumah maka Sammy memutuskan untuk menginap di toko bersama Red disana.
__ADS_1
Hantu itu mendatangi Flow lagi di tengah malam dengan membawa jejak darah di setiap ia melangkah menuju tempat Flow tidur diatas karpet lantai kamar. Dia sampai tertidur saat berlatih skill baru.
Tangan hantu itu juga meneteskan darah segar gaun yang ia pakai telah berubah menjadi menghitam sangat menghitam terlihat lebih menyeramkan dari waktu pertama ia mendatangi Flow sebelumnya di waktu itu.
Dia menyentuh wajah gadis itu dengan lembut. Siapa sebenarnya gadis hantu yang datang ke rumahnya. Dia belum menyadari kehadiran hantu ini dia masih terlelap tidur disana dengan bantal tebal putih dipeluknya.
Kedua pasang matanya terbuka indera perabanya merasakan seseorang telah menyentuh pipi.
Melihat ke seluruh sudut kamar.
Semua baik baik saja tak ada orang lain selain dirinya.Flow kembali berusaha tidur. Hantu itu sekejap pergi dari hadapan Flow dan belum kembali lagi dirumah Flow.
Bling dimana ia sekarang. Dia pergi ke suatu tempat yang ia tahu itu adalah sebuah tempat terakhir ia memeluk Jun.
"Tak ada siapapun disini. Kenapa aku disini, aku takut sendiri. Tolong aku" kata Bling memandang jauh jalan lebar didepan.
Mobil mobil juga sudah mulai terlelap beristirahat di rumah mereka.
"Dimana rumahku?" tanya Bling menangis disana berteriak di pinggir jalan dekat sebuah pohon tak berdaun, kering sudah berkayu.
Hera yang tiba disana tak berapa lama melihat Bling ada disana. Kenapa Hera selalu mencari Bling karena yang ia tahu dialah teman terbaiknya.
Dia belum berani menyemangati gadis hantu itu, dia nampak belum bisa menerima bahwa dia telah meninggal.
Hera tak tahan melihat sahabatnya itu terus terusan sedih. Dia langsung memeluk Bling yang belum berhenti menangisi akhir hidupnya.
"Berhenti. Cukup, ayo kita pergi!" kata Hera pada Bling.
Jun masih belum melupakan kejadian itu bahkan selalu terbawa saat ia tidur dalam mimpinya di hampir setiap malam. Sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya itu dia terjatuh dari atas motor Jun saat bersamanya untuk pergi ke suatu tempat saat setahun yang lalu saat merayakan kelulusan sekolah menengah pertama dulu. Sebuah pukulan berat untuk hidupnya kala itu hingga kini.
Jun telah membuka mata dalam tidurnya dan ia kemudian duduk mengambil air minum diatas meja dekat tempat tidur lalu meminumnya dalam dua teguk.
Dia melihat Ben dan Good juga sudah tertidur tak beraturan arah tidur mereka. Good dibawah dengan tikar hitam plastik sedangkan Ben ada di atas bersama Jun dengan arah kaki yang berlawanan dengan Jun.
"Kemana aku mencari mereka lagi?" tanya Si Hantu dengan tangan penuh darah di tangannya.
Dia sedang hilang arah tak terlihat baik baik saja tentunya. Dia tak mencari pertolongan kepada siapapun, dia sudah menjadi hantu dengan kontrol sendiri tak ada yang mampu berteman dengan hantu ini.
Dia memang memiliki tujuan hidupnya sendiri tanpa bercanda dengan siapapun.
"Apa aku seburuk itu. Tapi, aku yakin aku tak bersalah" kata Si Hantu.
Flow tak bisa tidur lagi setelah terbangun tadi.
Sammy dan Red sudah berencana untuk pergi ke museum pagi ini. Mereka berdua perlu kesana untuk objek penelitian mereka dalam tugas sekolah yang diberikan oleh Wali Kelas mereka, Pak Gerry.
"Apa boleh menyanyi di depan museum?" tanya Sammy.
"Ku rasa mereka diundang disini" kata Red.
"Anggap saja aku tadi salah bicara" kata Sammy..
"Kita harus menonton. Jun sedang menyanyi di sana" kata Sammy menarik Red.
"Lihat ini, kita belum selesai menyelesaikan tugas kita" kata Red menunjukkan lembar buku yang belum terisi penuh informasi yang mereka butuhkan.
"Ok. Lain kali saja, kita menontonnya" kata Sammy.
Apa yang dilakukan Bee memang adalah perjuangan. Dengan semangat yang Neneknya miliki tanpa sungkan menjelaskan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh cucunya itu. Dia adalah seorang pensiunan guru sejarah.
Bee berencana disana sampai nanti malam untuk mengerjakan tugasnya. Sebenarnya bukan hanya kali ini dia kesana tapi hampir setiap hari sepulang sekolah dia menyempatkan waktu untuk menjaga Nenek satu satunya itu yang masih hidup hingga sekarang.
Jun ada di museum untuk tampil disana menghibur pengunjung yang datang. Dia diundang dari salah satu staf disana secara resmi dalam sebuah kontrak kerja mengisi acara menyanyi di sana berganti dengan penyanyi jalanan yang lain.
Dia mengisi acara selama satu jam kemudian langsung pulang setelah acara berakhir.
Di sebuah restoran Jun dan anggota band ada disana. Dia dan teman-temannya mendapat traktiran dari penyelenggara musik di museum. Sebuah makan siang sederhana khusus untuk semua staf yang bekerja hari ini.
Tentu sangat ramai dan Jun serta anggota bandnya sedang berusaha belajar untuk lebih bersosialisasi dengan orang-orang yang ada disana.
"Kau pesan apa Jun?" tanya salah satu anggota bandnya yang berambut keriting berwajah oriental.
"Aku yang tidak terlalu mahal tapi tetap enak. Bagaimana kalau ini?" kata Jun menunjuk sebuah menu.
"Baiklah. Aku ikut denganmu" kata temannya itu.
Setelah makanan yang ia pesan telah habis Jun langsung membersihkan meja dan merapikan tempat makannya tadi serta membuang wadah makanan tadi ke sebuah tempat sampah yang berada di sudut restoran yang telah disiapkan oleh pihak restoran tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai dengan itu, Jun pergi ke wastafel yang juga masih di dalam restoran untuk mencuci kedua tangannya.