Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 146: Histeris.


__ADS_3

Chapter 146: Histeris. 


 Enam bulan yang lalu.


 Ruang itu gelap di antara bebatuan yang kini lembab dengan tumbuhan hijau menjalar bentuk dedaunan bergerigi tak jarang menguning juga kering jatuh dari batang atau masih bertahan di batang dedaunan.


 Kupu kupu kecil bersayap putih satu dua dan tiga juga ada terbang di luar ruang gelap.


 Jarum jam di pergelangan tangan pemuda itu menunjukkan pukul satu siang.


 Jarum jam sudah berhenti berdetak bukan rusak atau kehabisan baterai. Dia melihat layar ponsel sendiri mendapatkan bahwa sinyal dan waktu ikut ikutan berhenti tepat waktu ketika ia mulai melangkah maju didepan ruang gelap yang persis berada di depannya.


 Mengambil satu langkah lagi ke depan.


 Dia mendengar lagi sebuah teriakan dari dalam ruang gelap itu teriakan yang tidak jelas apa yang telah mereka katakan menggema keluar dari dalam ruang gelap hingga didepan pemuda itu ada disana.


 Diameter ruang itu tidak cukup untuk masuk ke dalam sana berjalan seperti biasa yang bisa dilakukan adalah masuk dengan cara menunduk.


 Suara aneh itu menghilang lagi.


 Pemuda itu melangkah masuk ke dalam dengan langkah kaki terdengar lebih bertambah jelas dalam ruang gelap yang terdapat air mengalir dari dalam ruangan yang belum diketahui ujung dari tempat itu.


"Zggg zzggg zzzgg zzzggg!"


 Langkah kaki berhenti ia mendengar suara itu lagi.


 Tiga detik berlalu.


 Penelusuran dilanjutkan.


"Zzzzgg zzzggg zzggg  zzzzgggg!"


 Suara aneh itu muncul lebih menggema muncul dari dalam ruang gelap.


 Pemuda itu segera menghindar cepat lebih menundukkan badan ke bawah.


 Suara suara asing yang sama mulai meredam.


 Pemuda itu melangkah lagi dengan rasa penasaran semakin jauh dan bertambah jauh menelusuri ruang gelap itu.


 Senter masih menyala terang menjadi penerang di setiap langkah kaki selain suara suara tadi yang menggema dan cahaya cahaya asing yang keluar melewati pemuda ini, kali ini mulai terlihat darah samar samar mengalir bersama air yang ada dari dalam ruang gelap itu.


 Pemuda itu melanjutkan pergi masuk ke dalam sana kemudian remahan remahan daging ikut mengalir diantara air terus yang terus mengalir  pemuda itu pergi ke arah sumber suara  keanehan itu.


 Alat penerang yang ia bawa ia sorotkan ke dinding dinding lagi seperti sebelumnya.


 Dia berhenti ketika melihat sebuah petunjuk baru dengan ditemukannya darah membekas menempel di dinding sebelah kiri saat ini ia bergerak menghadap mencari sumber suara.


 Bau darah yang belum terlalu lama menempel di dinding.


 Di luar ruang gelap hujan turun cukup deras pemuda itu ada di dalam sana dengan air yang mengalir yang melewati kedua sepatu biru bermotif biru dengan style sporty lebih banyak dan lebih banyak lagi membawa darah darah ikut mengalir kemudian menambah kecepatan langkah masuk lebih dalam ruangan masih dengan kejutan ini.


 Cahaya merah kecil bundar berpasang pasang datang cepat mengarah ke arah pemuda ini.


 Senter yang ia pegang menyoroti benda benda yang terbang mengarahnya dengan sangat cepat.


 Dia jongkok dan menutup kepalanya dengan kedua tangan.


 Hewan hewan itu terbang melewati pemuda ini yang juga tak segan untuk mencakar karena terlalu banyak jumlah mereka dan mereka seakan akan ketakutan dikejar oleh sesuatu dari dalam sana.


 Cakaran cakaran kuku kuku mereka mencakar beberapa bagian lengan dan kedua pundak pemuda itu.


 Sepuluh detik kemudian hewan hewan itu telah pergi menjauh dari dekat pemuda ini.


 Dia mencoba untuk menyembuhkan lukanya sendiri dan itu tidak berhasil.


 Darah dan remahan daging kembali melewati kaki pemuda ini jauh lebih banyak dari sebelumnya.


"Zzzgg zzzzggg  zzggg zzzggg zzgggg!"


 Suara aneh itu kembali lagi terdengar dan pemuda ini tidak menghentikan lagi langkah kaki seperti sebelumnya.


 Air terus mengalir lebih cepat bersama darah darah dari dalam ruang gelap.


 Jika menghitung waktu pemuda itu sudah ada terus masuk kedalam sana sekitar tiga puluh menit dan waktu terus bertambah seiring pemuda ini terus berjalan masuk kedalam ruang tersebut.


 Serpihan kain datang diantara darah yang melewati kedua sepatunya. Dia segera mengambil dan menyinarinya dengan senter di tangan kirinya.


 Pemuda ini memeriksa dengan lebih teliti.


 Gerak reflek lebih cepat.


"Hech!" kata Ran.


 Pemuda ini lebih cepat lagi masuk ke dalam ruang gelap itu setelah melihat serpihan baju berwarna putih milik Hech yang ia tahu dari deteksi energi yang ia miliki memeriksa siapa pemilik dari serpihan baju putih yang ia temukan.


 Tiga menit ia berjalan sudah, dia belum menemukan orang yang ia cari sedari tadi didalam sana.


 Lima menit kemudian. 


 Dia belum menemukan Hech.


 Berapa waktu lagi yang ia butuhkan untuk mencari rekan kerjanya itu. Dia terus masuk kedalam ruang gelap itu hingga lima belas menit  waktu yang ia butuhkan untuk menemukannya.


 Ran segera membantu Hech untuk bangun dan keluar dari ruang gelap tersebut.


"Zzzggg zzzhhh zzzhhhhh zzzzzgggg!"


 Suara aneh itu muncul lagi dengan jeda yang lebih cepat.


 Berteriak.


"Aaaaaaaaaaaaa!"


 Ran tergigit oleh sesuatu di pundak sebelah kanannya. Ran melihat ke arah pundaknya segera tapi apa yang ia lihat tidak ada siapapun di sisi kanan pemuda ini.


 Pundak sebelah kanan Ran terlihat kulitnya dengan daging dibawa oleh sesuatu dengan bekas gigitan yang masih baru dengan darah ada di setiap tepi daging yang seperti tergigit itu.


"Kau masih hidup kan?" tanya Ran.


"Kurasa masih" jawab Hech.


 Kembali, bagian dari tubuh Ran tergigit oleh sesuatu dan tidak terlihat sama sekali pelaku yang melakukan hal itu pada Ran.

__ADS_1


 Ran berjalan bergegas membawa Hech yang sudah terluka parah dengan bagian bagian daging di tubuhnya menghilang.


 Senter masih menyala air mengalir di bawah kaki mereka lebih cepat lagi terlihat remahan daging dan serpihan kaos yang dipakai oleh Ran dari bajunya yang ikut terbawa dengan pelaku yang menggigit Ran barusan.


"Ada di tempat ini hingga kau ada ditempat ini?" tanya Ran.


"Sesuatu yang luar biasa" kata Hech.


"Katakan padaku. Aku akan merebutnya darimu" kata Ran.


"Hahahah"


  Keduanya tertawa bersamaan.


 Mereka kembali menjadi santapan oleh makhluk makhluk yang tak kasat mata itu lagi.


 Ran terjatuh.


 Luka itu ia dapat lagi di lutut sebelah kanannya darah deras keluar dari dalam tempurung tulang lututnya begitu juga dengan Hech jatuh bersamaan di dalam ruang gelap itu.


"Kau mungkin bisa mati pergilah" kata Hech.


 Ran bangkit lagi dan kembali dengan tujuannya semula.


 Hech sudah dengan luka gigitan yang menyeluruh di bagian tubuhnya berlumuran darah dengan kemeja putih dan celana kain hitam serta sepatu hitam yang ia pakai.


 Mereka berdua berhasil kembali bangkit.


"Tidak. Tugas ini sebanding dengan bayaran yang akan kudapat" kata Ran.


"Bocah ini" kata Hech.


 Serangan gigitan gigitan yang mereka alami kali ini dengan jeda yang lumayan panjang sekitar lima menit waktu yang mereka lewati.


"Kau tidak bisa mengaktifkan energi penyembuhmu?" tanya Hech.


"Iya. Ini tidak permanen kan?" tanya Ran.


"Sembilan puluh sembilan persen permanen" kata Hech.


 Ran melepas Hech.


 Hech jatuh ke bawah.


"Kalau tahu seperti ini. Aku takkan mengambil misi ini" kata Ran.


 Hech tertawa dengan suara kecil.


"Hahahahaha"


"Sudah kuduga pantas saja hanya orang sepertimu yang mau mengambil misi seperti ini" kata Ran.


"Bagaimana dengan kakakmu?" tanya Hech.


"Kalian sama saja!" kata Ran mulai emosi.


 Dia membantu Hech kembali bangun dari jatuh tadi.


 Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk keluar dari tempat gelap itu.


 Ran masih bertahan dengan rasa keingintahuan.


"Apa itu sama berharganya dengan nyawamu?" tanya Ran.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Hech.


"Sudahi saja kepura puraan kita" kata Ran.


"Terlalu pintar terkadang bisa membuat kita menyebalkan" kata Hech.


"Aku adalah menyebalkan yang berbeda" kata Ran.


 Sedari tadi mengalir deras darah dari tangan Hech terlihat jelas oleh Ran dari tangan yang menggenggam sesuatu dengan sangat erat.


 Padahal keduanya sedang mengalami rasa sakit yang luar biasa dengan luka luka mereka mengusahakan agar tetap bisa bertahan dan keluar dari tempat itu dengan nyawa yang masih ada di raga.


"Seharusnya kau sudah sekarat sedari tadi" kata Hech.


"Aku sedang sekarat" kata Ran. 


"Kakak, kenapa kau terus bicara!" kata Ran ngegas.


"Ini hanya hiburan kau saja yang terlalu serius" kata Hech.


 Hech terjatuh lagi.


 Kaki Ran tertarik ke dalam ruang gelap menjauh dari Hech.


 Teriak Ran keras.


"Aaaaaaaaaaaaa!"


 Kini menjauh dengan bayangan tangan Ran  yang terakhir terlihat oleh Hech.


 Hech tak bisa bergerak dengan luka yang cukup parah sedang dia dengan kekhawatiran yang luar biasa datang saat ini hadir yang tidak bisa diumpamakan ini.


 Hening dengan suara air yang mengalir mengisi ruang gelap itu.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


 Ran berteriak lagi menggema.


 Hech yang sudah kehilangan banyak tenaga yang ia miliki begitu juga dengan energi penyembuh yang ia miliki sudah mulai cemas dan menghapus terus menghapus pikiran pikiran buruk yang muncul dari dalam pikirannya.


 Benda yang ia genggam juga belum berhenti memberontak ingin lepas dari genggaman telapak tangan pemuda ini terus menekan dan menekan memaksa darah keluar dari telapak tangan.


 Hech menatap ruang gelap itu lagi.


 Menatap lagi.


 Dari dalam ruang gelap itu lagi disana kedua mata biru itu melihat lagi ada kedua pasang mata lagi hadir disana.


 Sepasang mata biru itu berkedip lagi.

__ADS_1


 Bertambah lagi kedua pasang mata yang lain.


 Ran bersandar di dinding nafasnya masih terengah engah akibat terseret dan terlempar di dinding ruang gelap itu.


 Ran mengatur nafas agar mulai stabil lagi.


 Bertambah lagi bertambah lagi sepasang sepasang mata lain hadir diantara Ran.


"Aaaaaaaaaaa!" 


 Dalam gelap remaja ini berteriak sekeras kerasnya ia berteriak.


 Dia jatuh sedikit tak sadarkan diri dengan sisa nafas yang sedang ia pertahankan melihat mata mata yang memerah menyala memandang matanya dengan sangat tajam tajam mendekat menggigit bagian bagian lain tubuh Ran.


 Ran sudah tidak bisa mengartikan rasa sakit itu lagi, dia berpikir bahwa dia hanya mempunyai sebuah harapan untuk bisa selamat dari tempat itu.


 Suara terbata bata.


"Sungguh ini tidak lucu" kata Ran.


"Dunia ini terlalu indah untukku berkata menyerah" kata Ran.


 Energi Ran tiba tiba saja semakin menurun ke level yang sangat jauh ke bawah menurun drastis jika dihitung oleh kekuatan yang dimiliki Jimmy jumlah persentase yang masih tersisa tinggal sepuluh persen. 


 Berteriak Hech.


"Aaaaaaaaaaa!" 


 Suaranya juga menggema keras sampai ke arah Ran.


 Mata birunya semakin meredup Ran menyadari hal ini dengan energi biru yang semakin sedikit terlihat dari kilatan kilatan petir di telapak tangan.


"Darrrrrrrr!"


 Satu ledakan dari dalam ruang gelap itu terdengar sampai arah Hech sekarang sedang sekarat.


 


 Dia sedang menulis nama Ran di atas kulit, kulit yang tidak tergigit oleh  makhluk makhluk yang tidak terlihat itu.


 Pulpen yang ada di tangan Hech menuliskan sendiri nama Ran di atas kulit bagian tubuh Hech membakar seperti bara api tajam yang ia rasakan disaat pulpen itu menulis nama Ran di lengan.


"Ini sudah berfungsi di tangan ku" kata Hech


 Hech dengan tawa tanpa suara.


"Darrrrr!" 


"Daaarrrrrr!" 


"Daarrrrr!"


 Mereka terpental keluar dari dalam ruang gelap itu dengan semburan darah dan bagian tubuh yang hampir hancur keluar bersama mereka.


"Buuuuuggggggggg!"


 Pepohonan mereka tabrak dan itu bukan hanya satu dua pohon mereka tabrak itu lebih dari itu.


 Mereka jatuh terpental jauh sejauh lima puluh meter.


 Keadaan saat ini yang terlihat sudah kacau dengan berbagai mayat mayat yang hampir benar benar hancur dan lebih hancur lagi setelah menabrak pepohonan besar tadi.


 Melihat cahaya masih bisa dilihat.


 Dari balik tumpukan mayat mayat yang hancur itu muncul tangan sedang berusaha untuk bisa merasakan udara di dunia yang katanya sangat indah itu.


 Cincin hitam itu terlihat dari jari manis remaja itu dengan sisa energi yang ia miliki yang sebesar sepuluh persen itu, dia bangkit menyingkirkan remahan remahan mayat yang menimpa raganya.


 Duduk diantara mayat mayat disana mencari dan menyingkirkan mayat mayat itu dari sekitar bagian tubuhnya bagian perut sampai kaki.


"Dimana orang itu?" tanya Ran.


"Aku disini!" kata Hech.


"Aku kira kau sudah mati" kata Ran.


 Ran menyingkirkan tumpukan potongan mayat mayat yang hancur diatas raga seniornya itu.


 Wajahnya sudah mulai terlihat menyusul bagian leher dan bagian pundak lengan dan dia berusaha untuk bangun sendiri.


"Bangun sendiri!" kata Ran.


 Hech bangun sendiri.


"Aku telah masuk neraka bersamamu" kata Hech.


"Kau saja yang masuk neraka!" kata Ran ngegas lagi.


"Aku tidak ingin kehilangan uang itu" kata Hech.


 Kondisi Hech sudah tidak karuan untuk dilihat dengan luka luka darah masih keluar terlihat deras.


 Ran melihat penderitaan Hech kemudian melihat penderitaannya sendiri.


"Kenapa ini sangat sakit?" tanya Ran.


 Dia duduk bersandar di pohon yang juga terbelah dua akibat ledakan tadi.


 Hech sedang menyingkirkan mayat mayat itu dengan sisa energi yang ia miliki.


 Remaja di sebelah Hech sedang menggerakkan kedua tangannya. Hech memperhatikan dengan tertawa.


"Hahahahahaha!"


"Kenapa tertawa?" tanya Ran


"Kau sekarang percaya energi penyembuhmu menghilang" kata Hech.


"Kau pasti bercanda!" kata Ran histeris.


"Sebentar lagi dia datang" kata Hech.


 Energi teleportasi datang terasa dari jarak sekitar  enam puluh meter oleh Hech.

__ADS_1


 Seorang dari agen Presdir Ma datang ada berdiri diantara kedua pemuda ini.


 


__ADS_2