
Chapter 79: Hanya Mirip, Bukan Berarti Aku.
"Kau sudah selesai?" tanya Red.
"Sudah" jawab seseorang dari dalam ponsel.
Dan melihat ke arah Red.
Senyum anak remaja ia tunjukkan kepada Dan.
"Kau tidak bertindak aneh aneh kan?" tanya Dan.
"Apa yang bisa ku lakukan?" tanya Red.
"Mungkin. Ya mungkin" kata Dan.
Wayne datang di saat gadis ini sedang makan malam bersama dengan Dan.
"Aku sangat lapar" kata Wayne.
Wayne mengambil makanan di atas meja lalu duduk disana.
"Kau darimana saja. Aku mencari mu?" tanya Wayne.
"Aku tidak kemana mana" kata Red.
"Kenapa kamu sulit dihubungi?" tanya Wayne.
"Itu karena kau selalu ingin berhutang padaku" kata Red.
Radan menikmati kopi yang sudah ia pesan.
"Aku memang butuh uang" kata Wayne.
"Uang mu sangat banyak kenapa selalu berhutang padaku?" tanya Red.
"Aku hanya memiliki mu saja dunia ini" kata Wayne.
"Berhenti. Berhenti mengucapkan kalimat itu!" kata Red.
Dan tertawa kecil mendengar Red membentak Wayne.
Wayne juga tak mau kalah dengan Red.
Sebelum hal itu terjadi datang lagi dua orang yang Red kenal. Mereka adalah Bee dan Good.
Good ditarik oleh Bee.
"Aku tidak akan lari" kata Good.
"Aku tahu cepat duduk disini" kata Bee.
Good menurut saja apa yang dipesan oleh pacarnya itu.
Mereka memesan dua gelas strawberry ice.
Wayne memperhatikan Bee dan Good sejak mereka ada disana.
"Mereka sangat serasi sekali" kata Wayne.
Lalu Wayne melanjutkan makan malam bersama dengan Red dan Radan.
"Kalian berdua sudah jadian berapa lama?" tanya Wayne.
"Baru hitungan jari" kata Good.
"Oh masih hangat hangatnya" kata Wayne.
"Apa mereka berantem terus. Ini tumben akur" kata Red.
"Dia penuh perhatian anggap saja seperti itu" kata Wayne.
Dia berbicara sambil mengarah ke Red.
Red melanjutkan makan dan mengambilkan makan lagi untuk Dan.
"Makasih" kata Dan.
Mereka bertiga masih dengan obrolan sesama teman.
Strawberry ice datang di meja mereka.
Good mengambilkan satu gelas untuk Bee.
"Thank you" kata Bee.
Bee meminum strawberry ice dari Good. Kemudian, Good juga meminum minuman yang sama dengan Bee minum di gelas satunya.
"Apa kalian sudah berlibur berdua di sebuah pulau?" tanya Wayne.
Good langsung tersedak mendengar pertanyaan dari Wayne.
Radan terbatuk mendengar pertanyaan itu juga.
"Kamu baik baik saja?" tanya Bee.
"Dia tidak baik baik saja" kata Wayne.
Red cuma bisa geleng geleng melihat kejadian ini dan dia sudah terbiasa dengan tingkah Wayne ketika ia bicara dengan orang lain.
Bee belum terlihat marah kepada Wayne fokusnya masih dengan Good.
"Kalau belum. Kalian bisa mendaftar di travel agen keluarga ku" kata Wayne.
Dia belum menyerah menguji kesabaran dari Good.
Red dan Radan menyibukkan diri dengan makan malam mereka yang sebentar lagi akan habis.
"Aku minta maaf atas nama sepupuku. Dia memang suka berpromosi kepada teman temannya" kata Red.
"Tidak apa kok. Aku tahu dia sedang belajar teknik marketing" kata Bee.
"Aku butuh pengendali angin" kata Good.
"Untuk siapa?" tanya Wayne.
"Untukmu!" kata Good.
Dia mulai emosi.
Bee menahan tangan pacarnya yang akan menghajar Wayne.
"Gimana tertarik?" tanya Wayne.
"Bingung" kata Bee.
"Apakah kita harus liburan?" tanya Good.
"Bagaimana kalau ajak Wayne?" tanya Bee.
"Nggak jadi" kata Good.
Red dan Radan merasa tidak perlu untuk mencegah keributan mereka.
Mereka memang berbeda haluan yang satu adalah anak buah Jun yaitu Good dan yang satu anak buah Jimmy yaitu Wayne.
Di sebuah mini market tepatnya di depan tempat gym Ben setiap hari berjaga.
Ben bersama dengan permen dan satu bungkus kacang panggang sedang menunggu antrian di kasir.
"Ada lagi yang ingin dibeli. Kami sedang ada promo malam minggu ini?" tanya penjaga kasir.
"Tidak. Itu saja" kata Ben.
__ADS_1
Penjaga kasir wanita menghitung jumlah uang yang harus dibayar oleh Ben.
"Kembaliannya mau didonasikan?" Penjaga mini market.
"Nggak Kak. Makasih" kata Ben.
Ben pergi dengan barang belanjaan dan uang kembalian tadi.
Ben pergi dari mini market.
"Tumben dia nggak memberi donasi" kata penjaga kasir.
"Dia yang biasa yang menyumbang paling banyak disini" kata penjaga karyawan mini market yang lain berambut lurus.
"Mungkin dia lagi ribut dengan gebetan atau pacarnya" kata cowok Penjaga kasir.
"Dikit mungkin" kata perempuan penjaga mini market berambut lurus.
Ben masih didepan mini market memandang jalan yang di penuhi lalu lalang kendaraan yang lewat di depannya.
Datang cewek dan duduk bersebelahan dengan Ben.
"Kenapa langit kita sama?" tanya Cewek disebelah kiri Ben.
"Karena kita tinggal di bumi yang sama" kata Ben.
Padahal keduanya sedang berantem.
"Apa hobi ku cuma mencintai?" tanya Pacar Ben.
"Membenci ku" kata Ben.
"Bagaimana kalau kita putus?" tanya Pacarnya Ben.
"Jangan putus dulu kita baru seminggu jadian" kata Ben.
"Kita kayaknya nggak pernah benar benar pacaran deh" kata pacarnya.
"Kamu maunya gimana?" tanya Ben.
"Kita putus saja" kata pacarnya Ben.
"Apa aku tak setampan aktor idola mu?" tanya Ben.
"Bisa dibilang begitu" kata pacarnya Ben.
"Bagaimana kalau aku jadi idola baru?" tanya Ben.
"Tidak mungkin" kata Pacarnya Ben.
Dua karyawan mini market ada di sisi pintu masuk mini market.
Kedua karyawan mini market melihat ke arah Ben yang sekarang sedang duduk sendirian di depan mini market.
Salah satu karyawan mini market itu memperhatikan Ben dengan amat teliti.
"Seseorang sedang patah hati" kata wanita karyawan mini market di belakang Ben.
"Aku baru tahu pelanggan kita sangat sabar" kata Pria karyawan mini market.
"Di pikir pikir. Dia tidak jelek jelek amat" kata wanita berambut lurus karyawan mini market itu.
"Aku tidak tahu itu. Kalian seorang wanita yang bisa menilai pria" kata pria karyawan mini market itu.
"Aku tebak sebentar lagi dia akan jadi artis terkenal" kata wanita berambut lurus karyawan mini market itu.
Ben masih didepan mini market dengan memakan kacang panggang yang ada di kedua tangannya.
Wajah sedih tak bisa ia sembunyikan dia bersama kacang panggang.
Seorang pria berteriak kepada Ben didepan tempat gym.
"Dimana kacang panggang Ayah?" tanya Ayahnya Ben.
Berbagai macam kendaraan lewat di jalan didepan mini market.
Dia sedang menghayati tentang kesedihan yang ia rasakan malam ini sejak gadis itu pergi.
Di tambah lagi lagu lagu sedih yang sengaja di putar oleh para karyawan mini market itu untuk Ben terdengar lebih membuat remaja ini sedih dan bertambah sedih.
"Hobi ku sekarang berubah bukan untuk mencintai lagi" kata Ben.
Ben pergi membawa pergi permen dan kacang panggang yang belum habis ia makan.
"Aku bakal dimarahi habis habisan gara gara kacang panggang ini" kata Ben.
Red dan Radan telah selesai dengan makan malam mereka.
"Kau yang membayar ini semua" kata Red.
"Ya" kata Wayne.
Radan melihat Red.
"Sudah. Ayo kita pergi" kata Red.
Bling berbicara kepada Red didalam hatinya.
"Dia siapa?" tanya Bling.
"Sepupu ku" kata Red.
"Aku tahu. Tapi bukan itu maksud pertanyaan ku" kata Bling.
"Dia partner kerjaku sejak kecil" kata Red.
"Baiklah. Aku tidak khawatir lagi" kata Bling.
"Sekarang, aku tahu kenapa temanku menyukai mu" kata Red.
Maksud Red adalah Jun.
"Sebagai sahabat harus saling melindungi" kata Bling.
"Andai kita bisa bertemu dengan mu sejak dulu" kata Red.
Hantu yang bernama Hera ada ditempat disekitar Ben sekarang duduk didepan mini market. Dia kali ini sedang bertugas mengawasi Ben.
Dia sedang membuat pelindung penghalang agar dia tidak ditemukan oleh anak buah "Orang itu".
"Kau siapa tiba tiba mengikuti ku?" tanya Ben.
"Akhirnya, kau mengaku bisa melihat ku" kata Hera.
"Yang ku tahu kau selalu mengikuti Jun. Kenapa sekarang mengikuti aku?" tanya Ben.
"Kenapa kau banyak bertanya?" tanya Hera.
"Kenapa. Itu hal yang wajar bukan" kata Ben.
"Kita bisa lebih akrab kedepannya" kata Hera.
"Tidak mungkin" kata Ben.
"Kau terlihat berbeda setelah diputuskan oleh pacar mu tadi" kata Hera.
"Siapa yang menyuruh mu datang?" tanya Ben.
"Kau sudah tahu tapi pura pura tidak tahu" kata Hera.
"Aku akan pergi dari sini. Aku sudah mengantuk" kata Ben.
"Pergi saja" kata Hera.
__ADS_1
Ben pergi membawa barang barang yang ia beli dari mini market tadi yang ada didalam kantung plastik putih di tangan.
Di tempat pemakaman.
Presdir Ma ada disana memimpin proses pemakaman Sew.
Anak buah Presdir Ma hadir disana selain Ran dan mata mata yang benar benar sedang memiliki misi khusus tidak bisa hadir.
Pemakaman berlangsung di malam pukul sebelas lebih dua puluh menit.
Suasana hening dan berduka ada disana terasa.
Angin malam datang membawa suasana semakin sepi didalam hati. Seperti kenangan yang teringat kembali di waktu ini dan telah berakhir di saat Sew sudah ada disana dengan bunga bunga yang bertabur diatas makamnya.
Bunga bunga berwarna putih di taruh disana secara bergiliran oleh para anak buah Presdir Ma yang di awali oleh Presdir Ma yang menaruh diatas makam Sew pertama kali.
Jimmy menaruh bunga mawar putih setelah Red menaruhnya lebih awal diikuti oleh Jun dan seterusnya oleh anak buah Presdir Ma yang lain.
Mereka terlihat sedang berdoa untuk Sew.
Tak berapa lama Jun pergi menuju makam kedua orang yang ia sayang. Benar, itulah makam Bay dan Dree.
Dia pergi kesana dengan membawa dua ikat bunga mawar putih untuk akan ia taruh diatas makam keduanya.
Jun sampai didepan makam Bay dan Dree yang bersebelahan berjarak tidak jauh untuk keduanya dimakamkan.
Jun menaruh bunga mawar itu diatas makam Bay kemudian satunya lagi di atas makam Dree.
"Apa kalian mendengar ku?" tanya Jun.
"Aku sekarang disini. Apa kalian melihat ku?" tanya Jun.
Jun menangis disana didepan makam keduanya. Dia berusaha menghapus lagi air matanya yang belum berhenti mengalir.
"Maaf" kata Jun.
"Waktu tak bisa dibalikkan kembali oleh ku" kata Jun.
Red melihat ke arah Jun setelah selesai mendoakan Sew.
Yang sedang mengendalikan raga Red sekarang adalah Bling.
"Ayo kita pergi" kata Bling.
Bling pergi dari area pemakaman itu meninggalkan Jun pergi dengan sepeda motornya.
Red tak bisa berkata banyak tentang hari ini.
Bling yang sedang mengendalikan raga Red juga tak membuat sebuah obrolan dengan Red. Dia berusaha melupakan tentang dia dan Jun yang seharusnya memang harus dilupakan sejak lama. Karena, dia bukan siapa siapa untuk Jun.
"Jika aku menyambutnya. Dia tidak bisa melepas ku" kata Bling.
"Apa salahnya jika hobi ku berubah" kata Bling.
"Berhenti mencintai orang itu" kata Bling.
Minggu sore pukul setengah enam di area pejalan kaki yang biasa digunakan untuk olahraga berlari.
Gadis itu sepertinya belum berhenti berlari sejak pukul empat sore.
"Apa dia ingin mati?" tanya Hera.
"Dia tidak akan mati" kata teman Hera.
"Dia kenapa lagi?" tanya Hera.
"Dia tidak mungkin bertingkah seperti itu jika tidak ada penyebabnya" kata teman Hera.
"Doe. Kau terlihat sangat senang masuk ke raga remaja ini" kata Hera.
"Dia bisa di diandalkan sejauh ini" kata Doe.
"Kau pasti tahu alasan kenapa dia bisa segila ini" kata Hera.
Yang Hera maksud adalah Red.
Doe dengan raga milik Jun sedang duduk diatas rumah Sew yang berlantai dua dengan banyak tumbuhan bunga disekitarnya.
Doe meminum kopi yang ada didalam cangkir hijau toska di tangannya.
"Katakan. Dia kenapa lagi, sebelum dia datang kemari dia pergi kemana?" tanya Hera.
"Aku bukan diri ku yang dulu. Aku tidak bisa leluasa mengikutinya kemanapun" kata Doe.
"Jawaban yang kau berikan seperti sedang menutupi segalanya" kata Hera.
"Yang jelas dia ingin menangis sendiri. Tapi, dia tidak bisa" kata Doe.
"Itu alasan mu terus mengganggunya sejak dulu" kata Hera.
"Itu semua sudah terlihat dari sikap gadis itu sekarang tanpa aku jelaskan" kata Doe.
"Selesai minum kopi pergi dari tempat ini" kata Hera.
Doe terlihat dengan mata milik Jun bola mata putih ingin melukai Hera.
"Kau tidak ingat dulu aku seorang hantu seperti apa" kata Hera.
Gelas yang ada di tangan Doe tidak jadi ia remuk dengan tangan kanan Doe.
"Gadis baik" kata Doe.
Doe langsung pergi dengan menjatuhkan cangkir hijau toska yang masih terisi separuh cangkir kopi didalamnya.
"Sekarang gadis itu sudah menyerah setelah berlari lima kali putaran dalam kompleks ini" kata Doe.
"Kau ini sahabatnya atau musuhnya?" tanya Jun.
"Sudahlah lihat saja" kata Doe.
Red sedang duduk tertunduk di bangku depan rumah tetangganya dekat area pejalan kaki.
Suara langkah kaki datang di sore ini.
Dia mengangkat wajahnya melihat suara langkah kaki itu.
Dia melihat seorang balita datang dengan Ayahnya.
Ekspresi wajah Red berubah seketika itu juga. Tak mengucapkan kata kata apapun dengan apa yang ia lihat sekarang lisan terkunci. Namun hatinya langsung berbicara.
"Ran" kata Red.
"Kenapa wajahnya mirip dengan wajahnya?" tanya Red.
"Apa aku sedang merindukan anak itu?" tanya Red.
"Tapi kenapa mereka mirip" kata Red.
"Sepertinya aku harus menghubungi Ran" kata Red.
Balita dan Ayah itu pergi menghampiri seorang wanita.
Balita itu memanggilnya, dan berkata "Mama".
"Kenapa aku baru saja melihat seseorang mirip dengan mu?" tanya Red.
"Mungkin kau merindukan ku" kata Ran.
"Sudah tidak sedih lagi kan?" tanya Ran.
"Sungguh tadi aku melihat seseorang sangat mirip dengan mu" kata Red.
"Hanya mirip bukan berarti aku" kata Ran.
__ADS_1