
Chapter 46: Melihat Kondisi Temanku
Red menelepon Ran.
"Kau sudah sampai dirumah?" tanya Red.
"Aku baru sampai" kata Ran.
"Red!" kata Ran.
"Syukurlah. Oh ya, aku hubungi kamu lagi besok. Bye!" kata Red.
"Bye!" kata Ran.
Didalam rumah Red sedang memegang pisau yang berlumuran darah busuk. Kaus nya yang berwarna kuning terkena darah yang keluar dari tubuh hantu penghuni rumah itu. Pemiliknya menggunakan jasa pengusir hantu yaitu Red yang bekerja dibidang ini yang ia geluti sebagai imbalannya ia boleh tinggal dirumah ini sementara selama seminggu atau sebulan sebagai tempat tinggal.
Rumah tempat tinggal Red sekarang memang sudah lama sekali tak ditinggali oleh pemiliknya namun tetap dirawat seluruh bagian rumahnya.
Red sedang mengeluarkan api biru dari telapak tangan yang berlumuran darah dari hantu wanita di depannya yang sedang sekarat menyulut hantu itu dengan api biru dari jemari jemari keluar menyiksa hantu yang sudah terkulai di lantai. Darah darah itu berceceran di lantai menghijau lalu menghitam saat api biru itu keluar dari tangan Red menghapus sendiri menghilang dari lantai perlahan lahan menjadi asap begitu juga dengan hantu yang sedang sekarat itu dia menghilang menjadi asap putih didalam ruangan tempat tidur sekarang Red berada. Matanya menatap Red dengan kesedihan memelas kepada Red.
"Tempat mu bukanlah disini" kata Red.
Hantu itu pergi dengan wajah putih sangat pucat dan hampir mengelupas kulit kulitnya diseluruh wajahnya.
"Kenapa kau mengganggu ku?" tanya Hantu itu.
Hantu itu benar benar telah lenyap di depan Red.
Red berdiri dan masuk kedalam kamar mandi mencuci muka dan tangan. Baju kaus kuning dan celana pendek putihnya penuh darah amis lalu perlahan darah darah yang menempel di pakaiannya berubah menjadi asap lagi dan menghilang seperti tidak terjadi apapun padanya.
"Ini sudah pukul satu malam" kata Red.
Selesai mencuci muka dan tangan Red keluar dari kamar mandi menaruh pisau yang ia ambil dari dapur itu ia taruh di atas meja dekat tempat tidur.
Red mengambil selimut di sisinya sekarang dan berusaha untuk tidur.
"Apa aku menyukai Ran?" tanya Red.
"Dia melindungi ku tapi juga bisa berbahaya bagi ku" kata Red.
"Aku takut perasaan ini hanya sepihak" kata Red.
Jimmy duduk didalam kamarnya diatas tempat tidur dengan mode lampu redup.
Dia masih bertanya tanya siapa orang yang mengantar Red pulang kerumah tadi.
Dia merasa tersaingi oleh Ran karena bahkan Neo ataupun Jun tak sebegitu dekat dengan Red selama ini.
Isi kepalanya berputar putar mencari jawaban atas pertanyaannya ini.
Dia membuka ponselnya yang penuh dari ringkasan panggilan tak terjawab dari Sammy dan pesan pesannya yang belum ia baca menumpuk didalam ponselnya.
Dia tak membaca satu pesan pun dari Sammy dari ponselnya dia langsung menghapus tanpa dipikir lagi.
"Bagaimana orang keren dan kaya aku, dia lebih memilih anak itu?" tanya Jimmy mengenai Ran.
"Aneh bukan. Iya kan?" tanya Jimmy.
Hera ada disana dalam sebuah misi untuk memantau Jimmy.
"Ya jelaslah. Untuk apa memilih pria cuma modal keren tapi otak kaleng" kata Hera.
"Kalau aku ketemu kamu sebelum mati dulu. Kamu ku hajar habis habisan" kata Hera tangannya ingin meninju Jimmy.
Sammy menghubungi Jimmy lagi.
"Apa kau ingin marah lagi. Iya, aku punya pacar banyak selain kamu" kata Jimmy.
Jimmy menutup obrolan dengan Sammy.
"Ada orang sejujur ini" kata Sammy.
Sammy melihat layar ponsel yang sudah tidak terhubung dengan Jimmy.
Ge menghubungi Jimmy lewat ponsel.
"Ada cewek baru. Kamu nggak ketempat biasa?" tanya Ge.
"Bodo amat!" kata Jimmy membentak sahabatnya itu.
Jimmy masih kesal dengan Red dan juga lebih utama kepada Ran.
"Jimmy matikan musik mu!" kata Ibunya Jimmy yang menggedor pintu kamar Jimmy dari luar.
Jimmy mematikan musik yang ia nyalakan di pukul sebelas lima disaat kedua orangtuanya yang baru saja pulang dari luar kota setelah urusan bisnis.
"Uang jajan mu Ibu potong bulan ini!" kata Ibunya Jimmy berteriak diluar kamar Jimmy.
__ADS_1
Jimmy mengecek jumlah uang di rekeningnya kali ini.
"Sudah berapa kali yang ku terpotong" kata Jimmy.
Hera ada disana belum pergi.
"Jangan di kasih uang jajan sekalian Tante!" kata Hera berteriak.
Jimmy merasakan merinding di kamarnya sendiri akibat dari Hera berteriak barusan.
"Lihat uang jajan ku sudah terpotong lima kali" kata Jimmy.
"Dan malam ini aku tidak bisa bersenang senang" kata Jimmy menutup matanya dengan bantal.
"Sepertinya aku bukan anak kalian" kata Jimmy.
Sammy tertawa saat Jun tadi menghubunginya yang bercerita tentang Jimmy yang di tampar oleh pacarnya yang lain lagi.
"Dia mewakili ku" kata Sammy.
Jun dan Sammy mengobrol dengan saling membalas pesan hanya beberapa menit dan Jun tertidur dengan ponsel yang masih menyala dan menerima pesan dari Sammy yang belum terbaca.
Beck keluar dari rumah sakit setelah koma dan menjalani perawatan medis di rumah sakit selama satu minggu lebih.
Dia mengalami beberapa gejala yang sedikit demi sedikit mengubah cara pikirnya melihat dunia.
Dia semakin jarang bicara kepada siapapun termasuk kepada kedua orang tuanya dan keluarga yang lainnya. Dia lebih memilih untuk berdiam diri dan mengurangi pembicaraan dengan orang lain bahkan untuk saat ini saat berada di klub malam bersama Ge dan teman temannya yang lain.
Musik klub yang terdengar keras tak membuatnya tersentuh butuh ikut mencari bersama yang lain disana tetapi dia hanya duduk dan minum dan sesekali memakan camilan yang mereka pesan bersama minuman yang memabukkan berjajar diatas meja.
Lampu berwarna warni menyala dan musik terus diputar oleh DJ baru. Suasana ramai dan Beck masih tetap di sofa bersandar berbaring duduk sesekali dia didatangi oleh pekerja cantik yang bekerja disana atau gadis gadis yang mengajaknya berkenalan dia tetap acuh tak acuh.
"Kau tidak ikut menari bersama kami?" tanya Ge.
"Tidak. Aku akan pulang" kata Beck.
Dia mengambil jaket dan pergi meninggalkan pesta malam ini.
Waktu terus berputar dan sekarang sudah pukul satu lebih dua puluh lima menit waktu yang sangat singkat menjelang pagi tiba.
Beck berjalan keluar dari klub malam menuju tempat tinggalnya untuk sementara waktu setelah ia mengalami kecelakaan motor kemarin.
Berjarak dua puluh meter dari tempat tinggalnya dia sudah ada didepan rumahnya setelah pergi ke klub malam tadi.
Sebuah kejadian lucu sekaligus horor dialami oleh Beck saat membuka pintu depan rumah.
Kunci yang ia cari dari jaketnya terjatuh ke bawah lantai.
Dia sedang mabuk dan orang yang melihat dan lewat didepan rumahnya tahu itu. Para penjaga komplek lewat sedang berpatroli keliling.
Dia mulai mengalami batuk dan seakan terkena flu. Padahal ia terkenal memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat sejak dahulu bahkan sejak pemeriksaan terakhir saat di rumah sakit kemarin.
Batuknya mengeluarkan darah ia merasakan dan melihatnya.
Dia membuka mata dengan jelas melihat tangannya yang berlumuran darah dari mulutnya.
Dia ketakutan lalu darah darah itu menghilang.
Beck akhirnya mendapatkan kunci pintunya kembali.
Beck memeriksa kembali wajahnya didepan cermin kamar mandi rumah.
Masih dalam keadaan mabuk lalu Beck membasuh muka dengan air melalui air didalam keran yang keluar dari wastafel kamar mandi.
Melihat kearah cermin diatas wastafel tatapan mata buram karena masih dalam keadaan mabuk. Hidungnya berdarah, lalu ia basuh dengan cepat dengan air dari dalam keran yang masih mengalir sejak tadi. Darah yang keluar dari dalam hidungnya belum berhenti terus mengalir dan dikuti oleh gigi dan dari dalam mulutnya darah kental.
Beck panik karena darah yang keluar tak bisa berhenti dalam beberapa detik dan saat ia kembali melihat cermin semua darah yang keluar dari hidung dan mulut hilang tak berbekas didalam wajah dan pakaiannya.
Tatapan mata Beck mulai jernih.
Kausnya ia lepas dan celana jeans birunya dan lalu ia pergi ke tempat untuk mandi untuk mengganti pakaiannya.
Dia akhirnya mengelap wajahnya dengan handuk putih kecil lalu keluar dari dalam kamar mandi setelah mengganti pakaian dengan kaus putih tipis dan celana pendek berbahan katun berwarna putih gading.
Ia sendirian didalam rumah masa kecilnya yang terletak tidak jauh dari sekolah Jimmy.
Beck cepat tertidur diatas kasur dengan pendingin udara menyala dingin.
Sepuluh menit kemudian ketika dia tertidur. Ada sebuah tangan pucat dari arah kanan Beck tidur mencoba menarik tangannya sampai ia terjatuh ke bawah lantai dengan satu tarikan keras dan cepat.
Kepalanya terbentur keramik dibawah tempat tidur. Berdarah.
Beck kaget sekaligus takut ia langsung berdiri dari lantai lalu duduk kembali diatas tempat tidur dengan kaki masih menggantung di atas lantai.
Beck kemudian mengambil kotak yang berisi obat dan plester luka kapas juga obat cairnya untuk penyembuh luka.
Membuka plester luka.
__ADS_1
Kemudian, plester luka ia lepas setelah itu ia tempelkan ke dahinya setelah diberi obat luka berwarna cokelat barusan beserta kapas putihnya.
Selesai dengan pertolongan pertama Beck kemudian berbaring kembali di tempat tidur.
Dua menit kemudian setelah ia berpura pura sedang tidur kaki sebelah kanan juga sudah ditarik oleh seseorang dan kali ini Beck tidak berhasil jatuh kebawah.
Kedua matanya kembali terbuka.
"Dia masih mencari ku. Padahal dia sudah mati" kata Beck.
Beck terbayang seorang gadis yang pernah ia lihat sebelumnya dari dalam mimpinya kali ini juga gadis yang sama yang ia cari.
Ia mulai sulit bernapas.
Batuk sangat menyiksa datang kemudian tak terasa sakit apapun.
Tiga menit berlalu dan Beck belum tertidur.
Muncul teriakan teriakan suara seorang gadis meminta tolong dan ia terus mendengarnya dengan jelas berdengung di kedua telinganya.
Menutup kedua telinga dengan dua bantal di kedua sisinya belum berhasil membuat suara suara itu tak terdengar lagi.
Beck mulai paranoid selimut kasurnya ia gunakan untuk menutup wajahnya itu.
Suara suara itu makin keras berdengung di kepalanya.
Dia tak menyerah untuk mengisi ruang kepala Beck juga hadir dalam mimpi. Wajahnya nampaknya jelas teringat selalu oleh Beck teriakan meminta tolong dan tak ada yang menolong dia yang menjadi seseorang yang menangis sendiri didalam ruangan hampa itu.
Duduk sendiri tanpa kata menatap Beck yang tak bisa lari ketakutan dari wajah yang ia lihat di mimpinya.
Gadis itu bergabung hitam menatap Beck tanpa kata kemudian tersenyum melihat Beck yang sedang ketakutan rambut panjang acak acakan tersudut dalam derita yang tak bisa ia bicarakan.
Gadis itu dengan cepat berdiri dari sudut ruang itu menyerang Beck lalu Beck terbangun dari mimpi buruknya itu.
Wajah penuh keringat dan tubuh gemetar Beck alami.
Hening.
Suara tak ada yang ia dengar lagi.
Itu terjadi hanya beberapa detik saja lalu suara gadis tertawa terus terdengar didalam rumah kemudian menangis meronta meminta pertolongan.
Hening.
Terdengar suara kendaraan bermotor yang lewat di sekitar komplek rumah.
"Aku akan membunuh mu"
"Kau akan segera mati"
"Kau pasti mengingat aku"
Suara itu hadir di malam yang sepi menuju pagi di pukul dua pagi.
Beck menghubungi Ge agar mau menginap di rumahnya untuk beberapa malam.
"Dia pasti sedang mabuk. Dia tak mengangkat panggilan ku" kata Beck.
Sedangkan nomor ponsel Jimmy tidak bisa dihubungi apalagi dia sudah beberapa hari tidak bisa bertemu dengan Neo yang tak ada kabar sama sekali.
Hingga tiba saatnya ia tertidur sendiri dan hantu bergaun hitam itu pergi tak mengganggu Beck lagi.
Di tempat lain dirumah Sima.
Gadis cantik itu bernapas seperti orang yang seperti habis berlari melihat ke segala sudut kamar dengan lampu yang redup ia belum tidur di pukul tiga pagi sejak satu jam yang lalu.
Dia di dekat lemari kayu ukir cokelat memakai selimut putih dari tempat tidurnya. Menutup sebagian tubuhnya yang duduk didepan lemari dibawah lantai malam yang amat cerah untuk seseorang setelah kabut datang tadi.
Sima melihat kulitnya memerah dan wajahnya juga mengalami hal yang memerah dan akan mengelupas dan itu sakit sekali.
Ia berusaha mengambil cermin dari atas meja dekat tempat tidur dan dekat dengan dia bersandar di sebuah lemari.
"Ada apa dengan wajahku?" tanya Sima.
Lalu wajah aslinya kembali saat ia bercermin dua kali mengulang dari wajah yang terlihat pertama.
"Dree pergilah dari hidupku!" kata Sima tidak berteriak malam malam seperti ini.
"Kenapa kau selalu datang dalam hidupku?" tanya Sima kesal dengan hantu yang mirip dengan Dree.
"Jangan datang lagi. Kau sudah mati" kata Sima berteriak.
Hera melihat gadis yang bernama Sima sedang terus ketakutan dengan kesalahan yang ia buat terlalu fatal untuk seseorang yang ia anggap bukan teman.
Kepada seseorang yang bernama Dree yang ia tak mau tahu bagaimana dia menjalani hidup sebelum menjadi korban keegoisan dari seseorang yang ia anggap teman padahal sebaliknya tak ada kata maaf untuk seseorang yang disebut teman oleh Dree.
"Kalau seperti ini terus. Hantu itu akan lebih mudah menjalankan dendamnya" kata Hera.
__ADS_1
Hera datang dirumah Sima setelah memeriksa gadis yang dilihat olehnya diwaktu hujan berada didalam mini market sedang menangis sendirian disana.
"Seperti tak ada kata maaf yang bisa diterima" kata Hera melihat kondisi Sima.