Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 27: Dunia Baru untuk Kakak Ku


__ADS_3

Chapter 27: Dunia Baru untuk Kakakku.


Di tempat parkir sekolah.


"Tidak terjadi sesuatu denganmu kan?" tanya Dan.


Bodyguard Jimmy sedang mengkhawatirkan Jimmy seperti khawatir pada adiknya sendiri.


"Dimana bajuku?" tanya Jimmy tak bersimpati kepada Dan.


Bodyguard Jimmy menyadari bahwa ia sedang dibohongi oleh Jimmy bahwa ia terluka dan membutuhkan baju ganti setelah berkelahi dengan teman sekolahnya.


"Jadi, foto yang diberikan oleh Jimmy itu bohong" kata Dan dalam isi pikirannya.


Tanpa ucapan terimakasih pada bodyguard nya. Jimmy pergi memberikan baju kotornya itu kepada Dan lalu pergi dari hadapan Dan.


"Ini hanya noda cat merah bukan noda darah. Anak itu harus diapakan" kata Dan.


Jimmy masuk kedalam kelas lagi.


Suasana kelas tenang.


"Wah. Dia pasti memerintahkan bodyguard nya untuk melakukan perintah konyolnya itu" Ben menebak dalam pikiran.


Kursi Red tidak ditempati oleh Red melainkan digantikan oleh Jun. Sedangkan, Red ada di kursi milik Jun.


Satu persatu siswa mengumpulkan tugas melukis mereka. Jimmy melanjutkan tugasnya.


Sammy mengumpulkan hasil lukisannya ke depan kelas bersama yang lain.


Red berjalan melewati Jimmy untuk mengumpulkan tugasnya.


Jimmy melihat Red sampai gadis itu kembali melewati meja. Red menatap Jimmy dengan tatapan biasa layaknya teman sekelas.


Jun tetap mengawasi Jimmy sejak tadi remaja ini datang ke kelas kembali. Dia sudah mengumpulkan tugasnya sebelum Jimmy datang bersama Good.


Dibelakang sekolah ada Jimmy.


"Teruskan. Aku menganggap tidak melihat mu"


Sima melewati Jimmy yang sedang merokok.


Di kantin sekolah.


Red ingin makan tapi tidak ingin makan bersama dengan Ben terdiam melihat siswa dan siswi yang sedang antri membeli makanan.


"Kalian kemari!" kata Good memanggil.


Good ada di meja kantin bersama dengan Jun dan Sima.


"Aku akan memesan makanan untuk mu dan untuk ku. Kau ke sana dulu" kata Ben mengambil antrian.


Red menarik satu kursi untuk digunakan ia duduk.


Good memberikan kudapan dari lunch box miliknya kepada Red.


Red dengan polosnya akan menerima makanan dari Good.


"Kau bilang ini untukku" Sima mengatakan ini didepan semua siswa disana.


Red tersenyum sedikit dengan kejadian ini.


"Telpon aku!"


Red mengirim pesan kepada beberapa temannya termasuk Ran.


Ponsel Red ia taruh diatas meja didepan teman temannya saat ini.


Ran menelepon Red.


Foto Ran terlihat jelas di ponsel Red saat ia menelepon Red didepan Jun di momen ini.


Red mengangkat panggilan telepon masuk dari Ran. Pergi dari kantin.


Sammy tersenyum sinis melihat ini.


Ben datang dengan dua porsi makanan yang sudah ia pesan.


"Dimana Red?" tanya Ben merasa kehilangan temannya.


Good tak menjawab pertanyaan dari Ben.


"Dia pergi menerima telepon dari Ran" Jawab Jun.


Ben bergegas menemui Red dan akan menaruh makanan yang ia beli tadi diatas meja Sammy yang bersebelahan dengan mereka bertiga Jun, Good, dan Sima.


"Kau mau kemana. Tetap disini!" kata Sammy menarik tangan Ben.


"Duduk makan bersama ku" kata Sammy.


Sammy memberikan kode yang biasa mereka lakukan saat masih pacaran. Jika ada hal bahaya yang perlu dihindari dan hanya mereka berdua yang tahu.


"Makanlah bersama ku. Bisa kan?" tanya Sammy.


"Aku melepaskan tulang-tulang ayam ini untuk mu. Kamu suka jika aku melakukan ini untuk mu" kata Sammy.


Sammy melakukan itu untuk Ben. Setidaknya, mereka tidak bertengkar lagi.


Makan bersama satu meja.


"Aku harap, Ben tidak masuk dalam perangkap Sima" kata Sammy dalam hati saat memberikan ayam goreng untuk Ben.


Ran dan Red melakukan telepon video dibelakang sekolah.


"Kenapa. Ada apa biasanya aku yang minta di telefon?" tanya Ran.


"Aku ingin melihat mu" kata Red.


Ran tertawa merasa tidak mungkin.


"Aku ingin kau mengatakan kau merindukan ku" kata Ran dia mulai dengan karakternya.


"Seharusnya, aku mendengar nasihat mu" kata Red.


Red terlihat sedih.


"Tunggu. Tunggu, aku akan mencari tempat yang sepi. Disini banyak teman-temanku" kata Ran.


Kembali mengobrol keduanya.


"Kamu kenapa sih, cerita. Ada apa sebenarnya?" tanya Ran.


"Kamu sedih kenapa. Karena Jun atau Jimmy?" tanya Ran.


"Kok kamu kenal Jun dan Jimmy?" tanya Red.


"Pokoknya kenal begitu saja" kata Ran.


Terdiam saling menatap.


"Kalau tidak mau cerita, nanti pulang sekolah aku jemput. Sekalian, kita kerja?" tanya Ran.


Jimmy lewat didepan Red.


"Ternyata aku punya rival lagi, selain Jun" Jimmy langsung pergi setelah mengatakan ini pada Red sambil jalan.


"Siapa yang berbicara dengan mu tadi?" tanya Ran.

__ADS_1


"Pulang sekolah. Benar?" tanya Red.


"Iya. Iya, sudah jangan sedih lagi" kata Ran


Bel masuk ke kelas berbunyi.


"Ok. Aku masuk kelas dulu, bye bye" kata Red pada Ran.


"Bye bye" Ran mengatakan ini.


Red kembali ke kelas yang ternyata Jimmy sedang menunggunya disamping gedung sekolah tempat Red akan lewat.


"Kau takut. Aku hanya ingin masuk ke kelas bersama" kata Jimmy.


"Terserah kau saja" kata Red yang masih dalam kondisi sebal.


Red berjalan cepat didepan Jimmy dan Jimmy dengan senang hati mengejar Red.


Jun dan Good termasuk Sima melihat Red yang berjalan satu arah dengan Jimmy.


"Kelihatannya Jimmy yang mengejar Red" kata Sammy.


Sammy dan Ben berjalan mendahului ketiga temannya itu.


Ben dan Sammy menjadi akur setelah melewati berbagai pertengkaran sebelumnya. Dan mungkin bisa bertahan lama atau ini hanya pura-pura yang jelas mereka sangat mendalami peran mereka kali ini.


Sima terus menempel pada Jun sampai ke ruang kelas.


"Hal paling dungu yang pernah kulihat tentang percintaan anak muda" Hera melihat ini saat tidak menemukan Bling sahabatnya.


Setelan serba putih celana kain panjang dan blouse putih berlengan panjang dengan kerah leher square, high heels putih rambut hitam terikat dan earing gold bulat.


Hera berjalan santai menuju kelas remaja-remaja tadi.


Bee menghampiri Sammy membagi cat kuku barunya yang ia beli hari minggu kemarin saat bersama Ben.


"Jam ini guru kita sedang rapat. Aku akan memakaikan ini padamu" kata Bee langsung meraih jemari-jemari Sammy saat Sammy baru duduk di kursinya.


"Apa hanya aku?" tanya Sammy.


"Mereka semua sudah mendapatkannya tadi sebelum kau datang" jawab Bee.


"Oh ya. Ini botol kedua yang kubuka. Tenang saja" kata Bee.


"Bagaimana dengan Red?" tanya Sammy.


"Nona itu. Dia menyukai hal lain" kata Bee.


"Apa?" tanya Sammy.


"Jangan gerak gerak terus" kata Bee yang duduk disebelah kanan Sammy.


Jimmy melihat tangan Sammy yang sedang di lukis oleh Bee.


"Dia harus rajin belajar. Dia tidak lebih pintar dari mu" kata Jimmy.


"Jangan dengarkan orang itu. Satu lagi ini akan selesai" kata Bee.


Siswa dan siswi didalam kelas sudah mendapatkan tugas untuk mengerjakan soal soal latihan yang sudah dibagikan oleh ketua kelas mereka satu persatu.


Ran mengirim pesan.


"Bagaimana nanti Kak Sew yang akan menjemputmu?" tanya Ran.


"Aku tahu ini rencana mu" kata Red.


"Karena aku sayang kamu" kata Ran.


"Kita akan menjemputmu. Kak Sew pulang kerja mau membicarakan hal penting" kata Ran.


"Ok" jawab Red.


"Apa kau sedih?" tanya Hera.


"Tidak" Jawab Bling.


"Lalu, kenapa kau jadi bad mood?" tanya Hera.


"Tidak apa-apa" jawab Bling.


Bling merasa bahwa dia tidak perlu menolong kekasihnya itu. Bling menatap wajah Jun dengan mata berkaca-kaca.


"Mungkin, kita memang sangat muda"


"Dan aku pergi lebih awal"


"Lebih awal merasakan ini daripada kamu"


"Jadi, kau belum mengerti apa yang kurasakan"


Bayangan langit dan dedaunan memantul di kaca jendela kelas. Bling dan Hera pergi meninggalkan tempat itu.


Ingin menulis sebuah kata.


"Apa yang kau inginkan hari ini?"


"Sudah kah kau menggapai impian mu?"


"Aku ingin tahu, apakah mimpi yang ku pilih sudah sesuai jalan ku?"


"Apakah alam semesta ini setuju dengan pilihanku?"


"Atau ini hanya obsesi ku?"


"Apakah aku harus berhenti?"


"Ketika aku baru memulainya, kenapa sudah sangat berat bagiku yang merasakan?"


"Aku hanya ingin kembali ke alam ku. Bukan disini, disini bukan tempat ku"


Bling dan Hera ada dilapangan sekolah.


Bling duduk disana menulis di lantai lapangan basket.


Hera menatap langit.


"Apa akan turun hujan lagi?" tanya Hera.


"Itu sudah biasa bukan?" tanya Bling kembali.


"Hari ini kau berbeda" kata Hera.


"Mungkin" jawab Bling.


Bling ikut menatap langit seperti Hera.


Hujan.


Mereka disana, bermain hujan.


Berlari saling mengejar satu sama lain semua beban yang mereka miliki seakan hilang.


Red menatap keluar jendela.


Air hujan mengalir di dinding sekolah dan jendela.


"Andai aku bisa seperti mereka" Red melihat Bling dan Hera.

__ADS_1


"Tapi, aku belum ingin mati" Red berkata ini kemudian dalam hatinya.


Air matanya mengalir.


Red mengusapnya kembali.


Udara sama saja bagi Red baik itu hujan atau panas.


Ben dan Jun menutup kaca jendela mencegah air hujan masuk terbawa oleh angin.


"Aku kembalikan milik mu. Ku rasa, kau lebih membutuhkannya" Jimmy memberikan tisu milik Red.


Jun melihat mereka yang bertambah akrab.


Seseorang selalu ingin membuktikan bahwa dari semua tentang dirinya pasti memiliki sisi baik dan ingin memiliki sebuah hubungan baik dengan orang lain, karena mereka memiliki hak untuk mendapatkan itu dengan dunia yang begitu sangat rumit ini bagi orang orang yang memiliki hati nurani.


Red sudah kehilangan satu kepercayaan dari seseorang yang bernama Jun.


Ben juga belum bisa membantu kedua temannya itu. Dia melanjutkan menutup jendela lalu menyalakan lampu kelas.


Jun dan Ben kembali duduk di kursi masing masing untuk menyelesaikan tugas dari guru mereka.


Belajar sendiri.


Pulang sekolah Red berusaha menghindari obrolan dengan teman kelasnya.


Jun ingin menyapa Red, gadis ini terlihat tak bisa memaafkan kejadian di kantin tadi.


"Mereka bertengkar. Kenapa, tadi mereka baik baik saja?" tanya Jimmy saat Red berjalan lebih cepat keluar dari kelas.


Jimmy tertawa kecil melihat Jun mengalami apa yang pernah ia alami dulu.


Bahkan, Sammy tak berani menyapa Red. Dia lebih memilih mengakrabkan diri dengan Ben dan Bee.


Di depan sekolah senyum lebar manis menawan terpancar tulus Ran tunjukkan kepada Red.


Red akan melewati gerbang sekolah.


Ran menghampiri Red begitu juga dengan Red.


"Rival utama telah datang" Good mulai bersuara dan didengar oleh Jun dan Jimmy.


Ketiga remaja ini hampir sampai di gerbang utama sekolah.


Sima juga ada disebelah Jun mendengar apa yang dikatakan oleh Good.


"Kau sudah menunggu lama?" tanya Red.


"Tidak juga. Aku bawa salad kesukaan mu" kata Ran.


"Kita makan bersama" kata Red.


Good kembali bersuara.


"Red terlihat sangat senang saat bersama dengan sahabatnya itu" kata Good.


"Kau tidak pulang. Driver mu sudah menunggu?" tanya Ben kepada Good. Kemudian, langsung menuju mobil Bee.


Sammy ikut bersama Bee dan Ben ke rumah sakit yang sama menemui orang yang mereka sayang.


Sew membuka kaca jendela mobil baris kedua sebelah kanan dari dalam mobil.


"Ayo cepat kita harus kerja" kata Sew.


Jimmy masih bertiga bersama Jun dan Sima disana memperhatikan Red.


Jimmy teringat dengan seseorang yang pernah ia kenal sebelumnya dari balik kaca jendela mobil sahabat Red.


Perasaan Jimmy berubah saat melihat wanita itu. Dia menjadi banyak pikiran negatif diseluruh isi kepalanya.


"Apa aku salah mencintai seseorang?"


"Aku belum yakin tak memiliki kesempatan lagi?"


"Tapi, aku berpikir aku juga akan lebih sulit mendapatkan gadis itu"


Menghitung semua kemungkinan dan ia mendapat nilai paling rendah untuk menjadi yang terpilih.


Jimmy menunggu bodyguard nya yang belum datang menjemput.


Bodyguard Jimmy.


"Kapan lagi memberi pelajaran kepada Jimmy" kata bodyguard Jimmy yang sedang minum kopi.


Mobil Jimmy masih di parkir didepan kafe tempat Dan sedang nongkrong bersama Leo dan pacarnya.


"Malas banget disuruh nunggu" kata Jimmy.


Red naik ke mobil Ran bersama dengan Sew juga disana di kursi baris kedua mobil Ran.


Ran masuk kedalam mobil dan pergi.


Jimmy lalu pergi naik taksi untuk pergi ke suatu tempat.


Jun bersama Sima pergi ke perhentian bus.


"Kau yakin ikut dengan ku?" tanya Jun.


"Yakin" kata Sima.


Waktu pulang kantor untuk Flow dan teman temannya.


Mereka berbisik tak memberitahu atau membagi apa yang mereka rencanakan setelah pulang dari kantor.


Flow ingin nangis, terdiam sendiri.


"Sabar Flow. Kamu sudah pernah melalui hal lebih dari ini"


Flow membereskan meja kerjanya sedangkan teman teman kantornya sudah pergi dari sana.


"Ada waktu sepulang kerja?" tanya Bob.


"Ada. Kenapa?" tanya Flow .


"Masalah pekerjaan lagi?" tanya Bob.


"Ok" jawab Flow.


Bob mengirimkan alamat kepada Flow dimana mereka bertemu.


Disebuah kafe yang berada di dekat ditengah kota.


Cukup ramai diwaktu orang-orang pulang kerja.


"Ingat anak baru itu?" tanya salah satu dari mereka kepada teman kantornya.


"Maksudmu, dia yang cantik itu?" tanya pria teman kantornya juga.


"Dia yang di panggil Flow itu" kata orang pertama yang memulai membahas topik ini.


"Dia itu katanya lulusan perfilman tapi gagal jadi artis" kata wanita lain masih teman sekantor.


"Mungkin dia miskin atau kurang cantik" kata pria yang ikut membicarakan Flow.


"Sudah jelas, pasti itu alasannya" kata pria lain yang sekantor dengan Flow.


Mereka semua sedang merayakan keberhasilan proyek mereka kali ini tanpa mengajak Flow ikut bersama bergabung.

__ADS_1


Dan ada disana bersama dengan Leo dan Rose kekasihnya.


Dan masih berpikir positif dengan obrolan yang ia dengar saat ini.


__ADS_2