Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 25: Jangan Ganggu Dia!.


__ADS_3

Chapter 25: Jangan Ganggu Dia!.


 Sammy sedang makan biskuit berbentuk stik dengan diameter panjang sekitar lima sentimeter sambil menunggu hujan reda.


"Jika hujan sudah reda. Aku akan langsung pulang kerumah" Sammy bicara sendiri.


 Ketiga remaja itu masih disana di sebuah kafe tempat Jun bekerja nanti.


"Aku sangat lapar, aku tidak mungkin bilang pada kedua anak ini" Sammy mempersiapkan untuk perang.


 Ben melirik kearah Sammy lagi.


"Ada apa?" tanya Sammy.


"Tidak" Jawab Ben. Kembali bermain game online.


 Sammy kembali sibuk sendiri dengan urusannya.


"Aku dengar suara tempur mereka. Sepertinya cacing-cacing di perutku sedang bertarung"


 Sammy masih tampak berusaha tampil anggun.


"Dan api-api di perutku mulai berkobar" kata Sammy.


 Sammy begitu nampak tenang.


"Tidak mungkin. Aku harus di traktir makan oleh Jun terus" kata Sammy.


 Sammy melihat kearah langit yang masih hujan.


"Sabar Sammy. Kau harus selalu jadi pemeran protagonis" kata Sammy.


 Sammy bersemangat.


"Aku ingin sekali lari marathon"


 Sammy membuat status ini dan mengunggahnya di akun sosial medianya.


 Satu notifikasi muncul di ponsel Ben dan Jun secara bersamaan.


 Jun dan Ben melihat Sammy.


"Mau ku pesankan taksi. Aku ingin berkata seperti itu pasti dia akan marah?" Ben berbicara ini mulutnya terkunci ketika menatap Sammy.


"Nona. Apa kau baik baik saja?" tanya Jun.


"Tidak terjadi apapun padaku" kata Sammy.


 Sammy melihat kearah ponselnya lagi.


 Ben dan Jun kembali dengan aktivitas mereka masing-masing.


 Hera dan Bling sedang makan roti bakar hangat dengan isian sayur daging sapi panggang ditemani dengan susu rendah lemak dalam botol masing masing.


"Kasihan gadis itu" kata Hera.


"Kenapa?" tanya Bling.


"Mereka berdua tidak akan tahu kalau teman mereka sedang menahan rasa lapar" kata Hera.


"Kau mengerti tentang hal ini juga?" tanya Bling.


"Tidak juga. Seingat ku, ini waktu yang ia gunakan untuk makan hampir setiap hari" kata Hera.


"Mungkin dia akan sabar, apa perutnya tidak apa-apa?" tanya Bling.


"Tentu sakit. Tenang saja, manusia adalah makhluk paling tahan menahan rasa lapar" kata Hera memakan roti bakarnya lagi.


"Oh begitu ya. Roti bakar disini lumayan, benar tidak?" tanya Bling.


"Setuju" kata Hera.


 Bling dan Hera ada di kursi kafe bagian depan dekat penyekat kayu yang ada di belakang Jun, Sammy dan Ben.


"Cacing-cacing didalam perut sedang saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan mereka"


 Sammy sedang berimajinasi.


 Kemudian, membaca lagi e-book materi tentang sastra.


"Kau dicari oleh Ayah mu?" tanya Jun.


"Dia selalu mencariku" Jawab Ben.


"Kau kabur lagi?" tanya Jun.


"Kau tempat ku untuk bersembunyi" kata Ben.


"Lebih tepatnya, aku adalah mata-mata yang dikirimkan oleh Ayahmu" kata Jun.


 Hening hujan masih deras.


"Aku suka orang yang berterus terang" Bling mengomentari obrolan mereka.


"Apa kau tidak merasakan hal aneh?" tanya Hera.


"Hal aneh. Apa tentang hantu yang kita cari?" tanya Bling dengan raut wajah cukup serius.


"Tidak mungkin semua kembali aman dan damai. Kita harus tetap waspada dengan pola serangan hantu itu" kata Hera juga cukup serius dalam gaya bicaranya.


 Jauh dari mereka bertiga ada seseorang yang sedang berusaha untuk tetap bertahan hidup dari gangguan pihak yang ia tidak duga sama sekali.


Jimmy menahan hantu di depannya berusaha terus menendang.


 Melempar dengan sekuat tenaga tanpa ampun ke lemari kamarnya.


 Panik bercucuran keringat mulutnya juga sudah mengeluarkan banyak darah. Tak ada satupun yang mendengar Jimmy berteriak dari dalam kamarnya.


 Tidak sampai disitu, Jimmy dicekik oleh hantu bergaun hitam hingga diseret ke arah ruang tamu.


 Jimmy melawan dengan mengambil beberapa benda yang berada dekat dengan dirinya namun serangan dari hantu itu belum bisa dikendalikan.


Jimmy diangkat ke atas dan dibanting ke lantai.


 Jimmy merasa dia hampir mati tapi masih beruntung nyawanya masih selamat.


 Hantu itu kembali akan menyerang Jimmy.


 Mencekik kembali leher Jimmy.


 Jimmy meronta sulit bernapas.


 Jimmy mencekik kembali hantu wanita tersebut.


 Darah berbau busuk dan bercampur nanah mengalir di tangan sampai tangannya dari leher hantu yang dicekik oleh Jimmy.


 Hantu itu tertawa sangat gembira saat melihat Jimmy dalam keadaan seperti ini.


 Dia menghilang lagi hantu yang menyerang Jimmy barusan.

__ADS_1


 Dengan nafas dan jantung berdetak sangat cepat dia duduk di lantai rumahnya dengan bersandar di dinding rumah dekat kamar utama dekat sofa ruang tamu.


"Kenapa dia mencari ku, apa yang dia inginkan padaku?" Jimmy ingin tahu dan penuh tanya tentang kejadian misterius yang sering ia alami.


 Belum ada yang datang sama sekali dari Jimmy dikamar berteriak disana dari jam empat sore tadi hingga pukul lima sore ini dia duduk di lantai ruang tamu bersandar di sofa ruang tamu tak ada yang mendengar segala teriakan Jimmy meminta tolong dengan jarak para penjaga rumahnya yang tidak terlalu jauh.


 Jimmy sedang mengembalikan kondisi psikologisnya yang belum stabil memandang luas ruang rumahnya lampu lampu belum dinyalakan gelap dengan tirai-tirai belum sempurna tertutup dan angin datang bersama hujan masuk kedalam rumah.


 Jimmy menatap kedepan pandangan yang tidak kosong ia usahakan.


 Genderang musik berbunyi keras.


 Ponsel Jimmy berdering, Jimmy mengambil ponselnya yang terlempar ke lantai saat ia diseret ke ruang tamu.


 Jimmy berdiri dengan tenaga yang masih tersisa mengambil ponsel dan siapa yang menghubungi Jimmy kali ini.


 Ge menghubungi nomor ponsel Jimmy.


 Suaranya terbata-bata tapi masih bisa didengar oleh Jimmy.


"Apa dia tidak mempunyai teman selain aku?" tanya Jimmy.


 Jimmy bercermin.


 Jimmy membasuh wajahnya di kamar mandinya.


"Diluar masih hujan, aku tidak mungkin keluar sekarang" Jimmy ragu untuk keluar rumah menemui Ge.


 Kembali ke ruang perpustakaan.


 Flow membantu Leo untuk sadarkan diri.


"Apakah dia benar-benar pingsan?" tanya Flow agak panik sedikit tidak percaya.


"Apa benar dia pingsan karena hantu?" tanya Flow kembali.


"Coba kau beri dia air minum itu!" Perintah Dan pada Flow.


 Flow mengambil air minum milik Leo yang ada di depan meja.


"Kau benar. Lalu, bagaimana ini?" tanya Flow.


 Leo tidak bisa meminum air minum yang diberikan oleh Flow.


"Tunggu. Aku akan mengambil minyak aromaterapi dari dalam tasku" kata Flow.


 Flow akan mengusap hidung Leo dengan minyak aromaterapi dari jemari tangannya.


"Stop. Aku saja!" kata Dan mencegah Flow melakukan itu dan mengambil minyak aromaterapi dari tangan Flow.


 Flow diam berdiri terpaku.


"Itu terlalu banyak. Kulitnya bisa iritasi" kata Flow melihat Dan memberikan banyak minyak aromaterapi pada Leo.


"Agar dia cepat bangun" kata Dan.


 Leo belum terbangun dan kemudian Dan mencoba membawanya keluar ruang perpustakaan.


 Kejadian ini membuat orang orang disana juga merasa was was dengan apa yang dialami oleh Leo barusan.


"Aku akan membantumu" kata Flow meraih lengan Leo sebelah kiri.


"Tidak perlu. Aku saja" kata Dan.


"Apakah kalian akan tetap disini lihat teman kalian?" kata murid sekolah dasar  yang memberitahu keberadaan hantu itu tadi kepada Leo.


 Flow dan Dan membawa Leo dengan cepat keluar dari perpustakaan.


Hujan cukup deras.


Leo berhasil dibawa masuk ke dalam taksi.


Taksi bergerak ke rumah sakit.


"Kakak tidak jadi pergi. Kakak di rumah sakit dekat tempat kerjamu"


 Flow mengirim pesan kepada Sammy tanpa menjelaskan apa alasannya.


 Ekspresi wajah Sammy datar dan tetap tenang.


"Kakak kenapa. Tidak terjadi apa apa kan?"


 Sammy membalas pesan dari Flow, dia tidak membalas.


 Mulai khawatir, Sammy.


"Aku pergi ke kamar kecil sebentar" Sammy mengatakan ini kepada kedua temannya yang ada disampingnya.


 Masih hujan deras.


 Sammy melihat kearah kedua temannya dan dia kabur dari sana.


 Dibawah hujan deras Sammy berjalan hati-hati agar tidak terpeleset menuju perhentian bus.


 Menunggu lima menit di tempat perhentian bus. Basah kuyup dilihat oleh banyak orang yang sedang berteduh disana.


"Aku tidak peduli" kata Sammy.


"Ya ampun. Kenapa aku berburuk sangka anggap saja mereka sedang bersimpati padaku" Sammy mengubah jalan pikirannya segera.


 Bus datang dan Sammy mengantri masuk ke dalam bus bersama orang orang lainnya yang juga akan naik bus.


 Setelah Sammy pergi dari kedua temannya, Bling mengejar Sammy yang terlihat Bling dan Hera tidak pergi ke toilet tapi pergi dari tempat itu.


"Aku mengikuti Sammy" kata Bling.


"Aku akan tetap disini. Hati hati kawan" kata Hera.


 Selain pergi kerumah sakit setelah menerima pesan dari Flow. Sammy juga mendapatkan pesan kabar dari Ayahnya untuk menjaga Ibunya malam ini.


 Dan dan Flow tiba dirumah sakit. Dan membuka pintu taksi dan membawa keluar Leo dari dalam taksi kemudian Flow keluar dari taksi setelah Leo.


Flow membantu Dan lagi membawa Leo sampai ke ruang pemeriksaan pasien di unit gawat darurat rumah sakit ini.


 Leo sampai di ruang pemeriksaan pasien.


 Seorang dokter wanita datang bersama dengan perawat yang bertugas di sana.


 Bertanya dokter wanita itu, dan berkata "Kakak ini kenapa sampai pingsan begini?".


"Mau jawab. Dia temanku" kata Dan dalam hati.


"Habis lihat hantu langsung pingsan, Dok" kata Dan dengan terpaksa mengatakan ini.


 Para pasien lain di sana  ada yang senyum-senyum dan tertawa kecil mendengar penjelasan dari Dan.


"Ok. Kami akan memeriksa teman kalian tetap  tenang. Kami segera  menolongnya" kata Dokter wanita itu.


 Dan dan Flow duduk di depan ruang unit gawat darurat bersama orang lain yang sedang menunggu saudara atau kerabat mereka disana.

__ADS_1


 Dari kejauhan berbaju kaos orange dan celana jeans biru gelap pendek dan sandal pantai berjalan cepat.


 Keadaan basah kuyup terkena hujan.


"Sammy?" tanya Flow melihat gadis itu dari jauh.


 Flow langsung berdiri dan berjalan ke arah Sammy.


 Dan melihat ini.


"Kenapa basah kuyup begini. Terus, kenapa buru buru?" tanya Flow.


"Aku harus pergi menemui ibuku" kata Sammy.


"Kakak ikut kamu" kata Flow.


 Ikut bersama Sammy, Flow berbicara pada Dan.


"Aku harus pergi, maaf Dan" kata Flow berjalan dengan Sammy meninggalkan Dan yang sedang menunggu Leo diperiksa oleh dokter.


"Aku baru melihat orang sesibuk itu" kata Dan.


 Jimmy lewat didepan Bodyguard nya.


 Dan menghampiri Jimmy.


"Ada apa dengan wajahmu. Kau tidak berkelahi lagi kan?" tanya Dan.


"Tenang saja. Aku tidak berkelahi dengan siapapun, kau tidak akan dipecat" kata Jimmy kemudian berlalu pergi meninggalkan Dan.


"Anak itu pasti berkelahi lagi" kata Dan.


 Wajah Jimmy memang terlihat jelas seperti orang yang habis berkelahi.


 Hampir sampai dikamar Ge dirawat sekarang.


"Untuk apa orang itu bersimpati padaku" kata Jimmy yang ia maksud adalah bodyguard nya, Dan.


 Flow sudah di dalam ruang rawat ibunya Sammy. Dia tertidur setelah minum obat tadi.


 Sammy sudah mengganti pakaiannya yang basah tadi dengan baju alternatif miliknya yang ada di ruang rawat ibunya.


"Ini untuk kakak dan Ayah" Sammy membuat air madu hangat.


 Flow duduk di sebelah ibunya Sammy dengan kursi yang tersedia disana.


"Ayah harus pergi sekarang untuk memeriksa toko" kata Ayahnya Sammy.


 Ayahnya Sammy harus menyelesaikan pekerjaannya di toko.


"Tadi, aku khawatir dan lagi setelah mendapat pesan dari Ayah" kata Sammy.


"Pada intinya kau mengkhawatirkan kita berdua kan. Sudah jangan merasa bersalah begitu" kata Flow tersenyum kepada Sammy.


"Kakak, ayo kita makan ini. Ayahku sudah memberikannya untuk kita" Sammy memberikan satu box makan malam kepada Flow.


"Kau makanlah dulu. Kakak akan menelepon Red diluar" Flow kemudian keluar dari ruangan tersebut.


 Pintu ditutup dengan pelan oleh Flow.


 Di luar kamar rawat ibunya Sammy.


"Ponselnya belum juga aktif" kata Flow.


 Flow masuk kedalam ruang rawat ibunya Sammy lagi.


"Ayo kita makan" kata Sammy.


 Flow menatap wajah Sammy.


"Anak ini tetap tidak berubah dari kecil" kata Flow.


 Flow lalu membuka box makanan dari Sammy kemudian makan bersama dengan Sammy.


 Ada Bling di ruangan itu juga sedang duduk di ranjang kosong yang belum digunakan lagi oleh pasien lain.


 Menatap Flow dan Sammy.


"Aku merindukan kalian" kata Bling.


"Aku juga merindukan gadis itu dan Jun" kata Bling.


 Bling berbicara dan mereka berdua tak menyadari kehadirannya meski Flow bisa melihat hantu tapi kali ini Flow belum bisa melihat Bling.


 Mengantri untuk membeli beberapa macam buah buahan di minimarket rumah sakit.


 Dia memberanikan diri.


"Kau juga disini?" tanya Dan yang ada dibelakang Flow.


"Dan. Bagaimana dengan Leo, dia sudah sadar?" tanya Flow.


"Belum. Tapi, kata dokter dia akan baik baik saja setelah siuman nanti" Dan menjawab seadanya.


 Kembali mengantri membayar buah buahan.


 Dan memperhatikan Flow.


"Pakai ini?" Dan melepas jaket bomber miliknya untuk dikenakan oleh Flow.


"Jaket mu?" tanya Flow.


"Iya. Kau pasti kedinginan jika tak memakai pakaian berlapis" kata Dan.


 Flow sedikit ragu.


 Flow dengan kaos putih berlengan pendek dan celana jeans denim diatas lutut dan sepatu hitam tak bertali dan tas selempang hitam.


"Berikan buah buahan ini. Cepat pakai saja!" Perintah Dan.


"Aku seperti ada di drama drama televisi" kata Flow melempar senyum manis kepada Dan.


"Kenapa tidak?" tanya Dan balik tersenyum kepada Flow.


 Seseorang mengganggu.


"Aku juga ingin makan buah?" kata Good dengan senyum yang memang sangat menawan.


"Good" sapa Flow.


"Hallo, Kakak Cantik" Good membalas sapaan Flow.


 Good dengan buah-buahan ditangan mengantri persis di belakang Dan.


 Suasana terdiam lima detik.


"Sudah pakai saja jaketnya. Cuaca sedang tidak bersahabat" kata Good.


 Flow kemudian menerima jaket dari Dan.

__ADS_1


"Aku memang akan menerima bantuan dari mu" kata Flow.


 Bling mengawasi dengan tatapan sangat tajam kepada pria yang mulai akan mendekati kakaknya itu.


__ADS_2