Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 22: Hadiah di sore hari.


__ADS_3

Chapter 22: Hadiah di sore hari.


 Bel rumah tempat tinggal Jun sekarang berbunyi.    


 Bob sedang pergi membeli keperluan yang diperlukan oleh Jun.


"Apa aku tidak salah lihat?" tanya seseorang pada Jun.


"Tidak ada Jimmy disini. Oh ya, aku mau berterima kasih karena sudah menolongku tadi" kata Jun.


 Bodyguard Jimmy masuk melepas sepatunya dan menaruh di rak dekat pintu dan mengambil slipper dan masuk kedalam rumah.


"Anggap saja aku kakakmu" kata Bodyguard Jimmy.


 Dia masuk kedalam rumah naik ke atas menuju ke  salah satu kamar diatas rumah itu.


"Aku hanya sebentar" kata Si Bodyguard Jimmy.


 Jun menghubungi pemilik rumah.


"Oh. Baik Pak. Dia putra anda yang bernama Radan itu"


"Iya. Sekarang, dia sedang ada disini"


 Pembicaraan mereka berakhir.


 Bel kembali berbunyi.


"Jun. Kami membawa banyak makanan untuk mu" Flow bersama Bob datang dengan membawa makan siang untuk Jun.


 Bodyguard Jimmy keluar dari dalam kamarnya dan turun dari tangga rumah.


"Nah. Loh, dia ada disini" Bob kaget.


"Kenalkan, dia Kak Radan anak dari pemilik rumah ini" kata Jun.


"Saya Flow" kata Flow.


"Dan saya Bob. Paman dari Jun" kata Bob.


 Flow langsung memberi inisiatif untuk cepat pergi dari rumah itu.


"Kami masih ada urusan. Jadi, harus pergi sekarang" Flow menyeret Bob agar pergi cepat dari rumah itu.


 Dan atau Radan duduk di sana di ruang tamu bersebelahan dengan Jun berjarak dua meteran.


"Bertahanlah. Kau pasti bisa mandiri dan sukses" Dan menyemangati Jun.


 Dan mengambil beberapa baju yang dimasukkan ke dalam tas dan segera pergi.


"Lalu, mereka membeli semua ini. Aku tak mungkin menghabiskan semuanya" kata Jun.


 Remaja ini merasa perlu untuk tidur siang. Dia tidur dan belum sempat untuk makan siang.


"Flow ayo kita jalan-jalan?" Ajak Bob pada Flow.


"Tadi kita sudah jalan-jalan" kata Flow.


"Tadi kita kerja Flow" Bob menegaskan.


"Iya. Tapi, aku menganggap itu liburan" kata Flow.


"Tadi, kita pergi ke tempat syuting bukan liburan atau jalan-jalan" Bob menjelaskan.


"Mereka membutuhkanmu. Kamu sedang sangat sibuk, kalau jalan-jalan bisa besok pagi" kata Flow.


"Ok" kata Flow.


"Ok. Ok!" kata Bob.


 Bob tak sempat mengantar Flow sampai kerumah karena memang ia sedang sangat dibutuhkan oleh staf-stafnya di lokasi syuting sebuah judul sinetron saat ini juga dan kebetulan Bob dan Flow tidak satu arah. Jadi, Flow pergi ke perhentian bus untuk menunggu bus datang menuju pulang kerumah.


 Bodyguard Jimmy yaitu Dan lewat begitu saja saat ia tahu bahwa ada Flow disana sedang menunggu kendaraan datang.


 Dia balik lagi berhenti di depan Flow.


"Aku bisa mengantarmu pulang?" tanya Dan pada Flow menawarkan helm pada Flow.


 Dalam perjalanan pulang diantar oleh Dan.


"Kenapa dia diam saja?" Flow bertanya dalam diam.


 Pria berpakaian serba hitam dan jaket hitam itu tak banyak bicara.


"Ayo bicara. Aku bisa menyukaimu jika kau terus diam begini?" Flow penuh pertanyaan di isi pikirannya.


 Flow yang berpakaian dari baju berwarna pink dan rok semi kulit pendek coklat yang dipakai sekarang.


"Kau harus duduk lebih benar. Jika tak ingin jatuh dari motor" kata Dan.


 Flow lebih memegang jaket Dan dengan erat di setiap kanan dan kiri pria ini.


"Rumahmu sebelah mana?" tanya Dan.


"Sebentar lagi kita sampai" kata Flow.


 Flow memberikan petunjuk kepada Dan dimana arah rumahnya.


 Dan mengantar Flow tepat didepan rumah.


"Ok. Aku pergi dulu" Dan langsung pergi dari Flow yang mau mengucapkan terimakasih.


"Lah. Dia langsung pergi" kata Flow.


 Di sebuah peternakan sapi.


"Kamu mau pesan berapa ekor?" tanya teman Dan.


"Cuma mau main kemari" jawab Dan.


"Hahhhhhh" teman Dan sedikit terheran.


"Kamu free hari ini?" tanya teman Dan.


"Tiba-tiba libur" kata Dan.


 Hening sesaat.


"Kamu tadi bareng siapa saat menuju ke rumahku?" tanya teman Dan.

__ADS_1


"Kenapa. Teman yang mana?" tanya Dan.


"Yang mana. Yang tadi saja cuma dia yang aku lihat setelah mantan mu yang itu" kata teman Dan.


"Itu sepertinya tidak mungkin" kata Dan.


"Ada benarnya juga" kata Teman Dan.


 Tertawa kemudian mereka.


"Maksudmu wanita tadi yang memakai baju merah muda?" tanya Dan memastikan bahwa dia yang temannya maksud.


"Iya. Kayaknya cocok sama tipe kamu" kata teman Dan.


"Darimana cocok. Kita baru kenal tadi" kata Dan.


"Hari ini tidak cocok, tapi besok?" tanya teman Dan agak meledek.


"Kalau dia sudah punya pacar. Apa kabar denganku?" tanya Dan balik.


"Kita kan belum tahu dia sudah punya pacar atau belum" kata teman Dan.


"Ya sudahlah. Kita selesaikan pekerjaan ini dulu" kata Dan.


 Mereka berdua sedang memandikan sapi-sapi yang nanti sore akan dikirim ke pembeli di luar kota.


"Nanti malam kita hang out kemana?" tanya teman Dan.


"Terserah" kata Dan.


"Ok. Kali ini, kita pergi ke pantai" kata teman Dan.


"Bilang saja mau ketemu pacar" kata Dan menjelaskan dengan detail.


"Sekarang. Kamu sudah dapat kerja lagi?" tanya teman Dan.


"Begitulah. Tak seberapa dengan usaha mu ini" kata Dan.


"Kau selalu merendah" kata Teman Dan.


"Lihat semua yang kau punya ini" kata Dan.


"Tapi, aku tetap seorang Leo" kata teman Dan.


"Oh ya, setelah ini aku mau pergi ke perpustakaan. Apa kau mau ikut?" tanya Dan.


"Kau mau ke tempat kerja ku?" tanya Leo.


"Iya. Ada buku yang harus ku kembalikan disana" kata Dan.


"Kau serius akan melanjutkan sekolah lagi?" tanya Leo.


"Aku hanya suka membaca saja" Jawab Dan.


 Leo cuma geleng-geleng kepala mendengar penjelasan temannya itu.


 Celana jeans biru pendek kaos berlengan hitam dan sepatu sport tak bertali. Jun mengikat kepalanya dengan kain biru motif absurd putih. Kamera di leher ia ambil kembali sedang mencari objek dari atas tebing dekat pantai.


 Pukul lima belas lebih lima menit sore di area pantai.


"Kau kemari juga?" Jun menyapa seorang gadis teman lamanya.


"Dimana Red kau tidak bersamanya?" tanya Jun saat sedang memotret laut tepi dekat pantai.


"Aku ingat dulu kita bertiga bermain disini" Sammy mengenang seseorang.


"Dia pergi lebih awal dari kita" Jun mengingat pacar pertamanya yang telah meninggal.


 Sore ini area pantai sangat ramai dengan orang-orang yang berkunjung untuk refreshing atau sebagai habits untuk hadiah setelah seharian bekerja.


 Sammy duduk tidak jauh sekarang dari Jun sedang memotret di tengah tebing tidak terlalu ke ujung atau tepi tebing.


"Kau tidak mengajak Ben kemari?" Sammy membuat obrolan lagi.


"Apakah aku perlu mengundangnya?" tanya Jun dengan nada suaranya meledek Sammy.


"Mungkin akan tambah ramai tenang saja aku tidak akan menipunya lagi" Sammy merapikan rambutnya yang terkena angin pantai dengan jemari tangan kanan.


"Kau ingin aku membantumu kembali pada Ben?" tanya Jun duduk menatap Sammy.


 Ben sudah tiba di atas tebing di belakang mereka berdua berdiri disana berhenti sejenak saat kedua teman mereka sedang mengobrol.


 Jun memeriksa hasil memotretnya.


"Kau sudah banyak berubah Sam. Bagaimana kondisi Ibumu sekarang?" tanya Jun.


"Ibuku. Ibuku sudah jauh lebih baik" jawab Sammy.


"Kalian selalu menjadi sahabat ku" kata Sammy.


 Maksud kalian disini adalah Bay dan Jun.


 Sammy membuka satu bungkus permen.


"Aku bawa satu bungkus permen buah. Kau mau?" Sammy menawarkan permen pada Jun.


"Aku akan mengambilnya sendiri" kata Jun kemudian mengambil beberapa buah permen dari tangan Sammy.


 Ben mendekat berjalan ke arah mereka.


"Sepertinya akan turun hujan lagi. Kalian tidak turun kebawah?" Ben memberi saran.


"Ayo kita turun kebawah!" kata Jun pergi lebih awal dari atas tebing. Menyusul kemudian kedua sahabatnya itu.


 Baru saja Ben akan turun hujan dan hujan turun dengan deras. Belum terdengar petir tapi mereka harus cepat kembali ke kafe tempat Jun bekerja saat ini.


 Berlari menghindar dari hujan dan terlambat semua tubuh mereka telah basah terkena air hujan.


 Di samping cafe dengan atap peneduh yang tersedia untuk para wisatawan setelah berenang di pantai.


"Lihat kamu sudah bersin-bersin" kata Ben pada Sammy.


 Jun tersenyum mendengar hal ini dari Ben.


 Ben memberikan handuk yang akan ia pakai kepada Sammy.


"Kau lebih membutuhkan ini. Aku akan mengambilnya lagi di dalam tas" Ben mengambil handuk alternatif lain dari dalam tas.


 Sammy melihat tas Ben dan peralatan memancing di sebelah tasnya.

__ADS_1


"Apakah setelah hujan reda kita tetap memancing?" tanya Ben pada Jun.


 Jun sedang mengeringkan rambut dengan handuk putih miliknya.


"Kau membawa peralatan memancing kita?" tanya Jun.


"Iya. Sekalian kukembalikan milikmu" kata Ben.


"Baiklah. Kita akan memancing jika hujan berhenti" kata Jun.


"Aku tidak ikut dengan kalian. Aku akan pergi bekerja" Sammy merasa sedih.


"Bukankah kau tidak suka memancing?" tanya Ben berbicara terus terang.


"Ini sekedar basa-basi Ben!" kata Sammy pada Ben.


"Cukup saling menggodanya" kata Jun.


"Dia?" tanya keduanya kompak saling menunjuk.


 Jun membuka akun sosial media dari ponselnya. Dia melihat sebuah status dari salah satu akun yang ia kenal.


 Jun melirik sedikit ke arah Sammy.


"Ada apa denganku. Apa make up ku pudar?" tanya Sammy mengambil cermin kotak dari tas coklatnya.


"Tidak" Jawab Jun.


"Lalu, apa?" tanya Sammy balik.


 Sammy mendapatkan pesan surel dari bosnya yang juga diterima oleh karyawan lain. Sammy membuka pesan surel tersebut dan membacanya.


Sammy membaca dengan detail, ada satu nama yang ia baca ulang dan nama itu ia kenal.


"Tak mungkin kan, dia" kata Sammy.


 Sammy mengecek akun sosial media orang yang ia maksud dan apa yang baru saja ia lihat.


"Dia bekerja disana sekaligus sepupu dari Bos ku" kata Sammy dalam hati.


 Sudah jelas Sammy lebih memilih tidak bekerja disana.


"Aku bisa mencari pekerjaan lain. Dunia ini kan sangat luas pasti ada yang menerimaku bekerja" Sammy mengambil nafas berbicara dalam hati.


"Kau masih baik-baik saja kan. Aku lebih suka kau marah-marah daripada seperti itu" kata Ben yang sibuk dengan game online.


"Kau ikut saja dengan kami. Entah hujan atau tidak ikut kami" kata Jun.


 Orang yang baru saja Sammy lihat adalah seorang yang tak perlu untuk disebutkan namanya di daftar nama memori internal kepala.


 Ben istirahat sejenak saat bermain game online dan mengambil sebuah tas kecil yang berwarna merah muda pastel.


"Tadi aku membelinya saat bersama Bee. Dia menyuruhku membeli ini untuk mu" kata Ben.


 Hening dan hujan masih deras ombak datang terdengar ke arah mereka.


"Kau tidak membelikan ku parfum?" tanya Jun sengaja merusak suasana keduanya.


"Aku mengaku telah menghabiskan parfum edisi terbatas mu itu. Aku ganti, bener aku ganti" kata Ben.


"Tak perlu. Itu juga hadiah dari Paman ku" kata Jun.


 Sammy tak jadi sangat senang dengan hadiah yang Ben berikan padanya.


"Kembalikan permen ku!" kata Sammy mengambil permennya dari tangan Ben.


 Ben diam saja dan tak marah kepada Sammy apalagi Jun. Dia kembali bermain game online di ponselnya.


 Sammy bersandar ke arah belakang bangku tempat mereka duduk berjajar saat ini. Melihat langit yang masih belum berhenti hujan dan bertambah deras. Dia tahu dia tak memiliki kuasa untuk menghentikan hujan di langit dan dia tak bisa menghindar yang ia tahu.


"Tugasku adalah tetap terus menjalani hidupku ini dan Tuhan tahu kapan ini akan berakhir" kata Sammy. Hatinya berbisik.


"Aku akan pesan makanan untuk kalian" Ben menaruh handuknya di bangku disebelah kanan tasnya.


"Tunggu. Aku air mineral saja" kata Sammy.


"Kamu diet lagi?" tanya Ben.


"Aku belum lapar" Jawab Sammy.


"Aku juga belum lapar. Aku air mineral saja" kata Jun.


"Ok. Kita makannya nanti saja" Ben kemudian pergi ke minimarket di sebelah cafe untuk membeli air mineral.


 Masih dalam kondisi hujan ada seorang remaja laki-laki pergi ke pasar dengan peralatan payung tak berwarna, bening berhenti di samping gerbang pasar. Wajahnya yang cemberut harus tetap senyum menghadapi kenyataan hidup.


 Disisi gerbang kanan gerbang pasar disana penuh keceriaan membawa payung hijaunya. Tidak peduli hujan sangat deras dia sudah menunggu hari ini.


"Aku akan membeli kue itu" Bee penuh semangat.


Remaja di sisi kiri melirik kearah Bee.


"Ini demi kakakku" kata Good yang sedang mencari kue untuk kakaknya yang sedang ngidam meminta untuk membeli kue yang hanya dijual di pasar tradisional ini.


 Good tahu siapa orang yang ada tidak jauh dari sekarang ia ada didepan gerbang.


"Apa kita saling kenal?" Teriak Good pada Bee.


"Tidak" Jawab Bee. Dia berjalan dengan riang gembira dibawah hujan.


"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Good dan berjalan dibelakang Bee.


"Kau mau membeli apa?" tanya Good.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Bee.


"Inikan jalanan umum. Siapa saja boleh lewat disini" kata Good.


 Masuk kedalam pasar payung keduanya ditutup dan dibawa oleh mereka.


"Mau sampai kapan kita berjalan bersama?" tanya Good.


"Awas!" Good menarik Bee agar menghindar dari orang-orang yang sedang membawa ikan-ikan dalam ember-ember besar yang didorong ke arah Bee.


 Seharusnya situasi berubah menjadi romantis tapi yang terjadi adalah mereka berdua jatuh di lantai yang basah karena air yang terbawa dari jejak kaki para pengunjung setelah melewati hujan sejak tadi.


"Amazing!" kata Bee berkata ini pada Good.


"Sorry. Kau baik baik saja kan?" tanya Good.

__ADS_1


"Aku harus membeli kue kesukaan ku. Aku tak sempat marah padamu" Bee lalu segera pergi ke toko penjual kue yang ia cari.


__ADS_2