Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 67: Not Bad Love You


__ADS_3

Chapter 67: Not Bad Love You.


"Sesuai dari informasi yang telah Ran kumpulkan. Dia memang teman satu sekolah Jun dan mereka bersahabat" kata Red.


"Darimana kau tahu itu?" tanya Sew.


"Jun memang sahabat Sammy yang juga satu sekolah yang sama sewaktu sekolah menengah pertama dulu" kata Red.


"Itu saja?" tanya Sew.


"Kau belum percaya?" tanya Red.


"Iya. Aku percaya" kata Sew.


"Oh ya. Tadi, aku juga melihat seseorang sedang mengawasi Jun. Dia memiliki ciri ciri dengan tato api diatas telapak tangannya. Kakak tahu tato itu?" tanya Red.


"Maksudmu, apakah tato itu menghilang setelah kau melihatnya?" tanya Sew.


"Betul" kata Red.


"Tidak salah lagi" kata Sew.


"Dia di pihak siapa?" tanya Red.


"Aku tahu makna tato itu. Tapi, aku juga harus menanyakan hal ini kepada bos kita" kata Sew.


"Jika mereka jahat. Kenapa tadi dia tak menyerang ku?" tanya Red.


"Benarkah. Tetaplah waspada" kata Sew.


Mereka akhirnya berpisah di tempat perpustakaan. Red masih ada keperluan yang ia harus selesaikan sedangkan untuk Sew harus pulang setelah meeting bersama Red selama tiga puluh menit tadi.


"Ternyata, apa yang dikatakan oleh Ran benar adanya" kata Red.


Bling tak mendengar isi hati Red saat ia berbicara didalam hati mengacu kepada dirinya sendiri.


Bling mengagetkan Red.


"Kau melamun lagi. Ayo terus kerjakan tugas sekolah mu" kata Bling.


"Oh. Aku hampir lupa itu" kata Red.


Red mengerjakan tugas mata pelajaran sejarah yang beberapa hari lagi harus ia kumpulkan.


Jarum jam terus berputar Red sudah ada di perpustakaan umum kota sejak pukul setengah enam sore sampai saat ini pukul setengah delapan dia sudah tertidur di meja belajar di perpustakaan di dekat meja penjaga perpustakaan dengan buku buku tebal di meja dekat kepalanya yang sudah berbaring diatas meja.


Perpustakaan hari ini ramai dengan banyak pengunjung.


Leo sedang berjaga di shift kedua bersama partner kerjanya seorang wanita yang duduk disebelah kirinya dengan buku yang ia baca sekarang di depan layar monitor komputer.


Beberapa orang datang dan pergi untuk meminjam atau mengembalikan buku atau juga sekedar membaca disana di meja meja yang tersedia bagi para pengunjung.


Suasana terang nyaman yang terkonsepkan khusus para pembaca agar betah berada didalam sana.


Jun datang lebih awal dari anggota kelompoknya. Dia kemudian berjalan ke rak rak buku untuk mencari beberapa buku bahan referensi informasi tentang tugas yang sedang kelompok mereka kerjakan.


Jun dengan buku buku yang ia temukan dan ia bawa menuju meja belajar di ruang perpustakaan.


Jun berjalan melewati Red yang sedang tertidur di salah satu meja belajar perpustakaan.


Dia menghentikan langkah kakinya kemudian berbalik kearah seseorang.


"Gadis ku ada disini" kata Jun baru sadar ada di perpustakaan itu juga.


Jun memilih menaruh buku buku yang ia bawa berada tidak jauh dari tempat Red yang sedang terlelap tidur.


Leo tepat menghadap didepan Jun saat ini remaja itu duduk disebelah kanan Red.


Leo mengawasi Jun dengan tatapan tegas tapi juga usil.


"Jangan berisik" kata Leo.


Jun membaca satu pesan yang dikirimkan oleh Leo kepadanya.


"Aku akan berisik dan mengganggu kalian" kata Jun membalas pesan dari Leo.


Leo melihat kearah Jun dengan datar lalu melanjutkan pekerjaannya yang terlihat menumpuk di atas meja kerja.


Jun mengambil buku Red.


Dia membaca sampul buku gadis itu bahwa buku yang akan dibaca oleh Jun adalah buku sejarah.


"Didalamnya terdapat hasil kerja kerasnya menyelesaikan tugas sekolah mata pelajaran ini" kata Jun.


Dia membaca lagi hasil pekerjaan gadis di sebelahnya itu.


"Apa aku perlu mengkoreksi. Itu mungkin bisa membantunya" kata Jun.


Sebelum semua anggota kelompoknya datang Jun membaca hasil pekerjaan Red dan sekaligus mengkoreksi beberapa kekeliruan yang dikerjakan oleh Red dengan menempelkan beberapa notes di setiap sisi bagian yang keliru dengan notes notes yang berisi catatan kecil yang ia harap bisa membantu Red.


Ben datang kemudian Jimmy dengan bodyguard di sebelahnya itu.


Ben berbicara pelan kepada Jun.


"Ada Red disini" kata Ben.


Jimmy sudah pasti melihat ada Red begitu juga dengan Radan.


Radan mengambil satu buku dari dalam tas selempangnya lalu ia baca di dekat meja Red yang sedang tertidur. Dia mengambil kursi sebelah kiri tempat Red berada.


Leo dan Radan pura pura tak kenal.


Ben dan Jimmy mengerjakan tugas mata pelajaran sejarah mereka sesuai dengan bagian yang harus mereka kerjakan.


Suasana sangat tenang di perpustakaan ramai ini semua dengan fokus membaca dan menulis disana.


"Ran kau kapan pulang. Jun selalu menganggu ku" kata Red.


Red berbicara ketika sedang tertidur.


Radan melihat kearah Jun dan Jimmy serta Ben melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Radan.


"Apa, aku tidak melakukan apapun" kata Jun.


Mereka ingin sekali tertawa tapi mereka sadar dimana mereka sekarang.


"Maaf Red. Aku selalu menganggu mu" kata Jun.


Dan akhirnya, mereka semua tertawa.

__ADS_1


Leo memberi intruksi agar bisa tetap tenang.


"Yang tidak mau tenang. Boleh keluar" kata Leo.


Seseorang sedang marah marah dengan teman sekelasnya.


Seseorang dengan diam saja ketika terus dimarahi dengan gadis di sebelahnya itu.


"Gara gara kamu tugas kita belum kelar kelar" kata Bee.


"Iya. Aku salah" kata Good.


"Kerja terus. Sekarang, sudah malam kita nggak punya bahan buat tugas kita" kata Bee.


"Ayo kita pergi ke perpustakaan umum kota jam segini masih buka" kata Good.


"Kamu sajalah yang pergi" kata Bee belum berhenti marah marah.


"Masa aku. Kamu percaya sama aku" kata Good.


"Terus gimana?" tanya Bee.


"Kamu mau ikut apa nggak ke sana?" tanya Good.


"Ya sudah. Aku ikut kamu, tapi pakai mobil aku aja" kata Bee.


Mereka sedang di depan kafe ibunya Bee.


Bee sudah menunggu Good sejak setengah enam sore tadi tapi jam delapan malam baru datang itu membuat Si Putri kerajaan marah besar kepada Si Pangeran.


Hari ini Good mendapatkan banyak pesanan di usaha kuliner yang baru ia rintis. Jadi, dia tidak mau kehilangan kesempatan ini meski ia tahu dia akan dimarahi habis habisan oleh anggota kelompok yang lain yang sudah menunggu di kafe milik Ibunya Bee sejak tadi dan hanya tersisa Bee yang masih menunggu Good disana itu juga karena dia sedang menjaga kafe ibunya seperti hari hari biasa.


"Seperti ini dia kalau marah. Biasa saja, dia tidak jauh berbeda dengan ibuku" kata Good.


"Tadi kamu bicara apa?" tanya Bee.


"Tidak. Aku tidak bicara apa apa. Ayo kita pergi ke perpustakaan sebelum terlalu malam" kata Good.


Good sudah memarkirkan motornya di area parkir kafe.


"Disini amankan jika aku menaruh motor ku disini?" tanya Good.


"Lihat tiga security itu" kata Bee.


"Iya. Aku melihatnya. Ayo kita pergi" kata Good.


Mereka pergi dengan diantar driver pribadi Bee menggunakan mobil.


Jimmy tidak berhenti untuk mencuri waktu untuk menatap ke arah Red yang sedang tertidur di meja menatap ke arah Jun, Ben dan Jimmy.


Red dengan jaket jeans yang ia pakai sekarang.


Ponsel Red bergetar beberapa kali.


Satu notifikasi muncul di ponsel Red.


Dan akhirnya, Red terbangun dari tidur singkatnya.


Dia tentu terkejut setelah membuka mata.


"Hohhhhh!" kata Red.


Semua tersenyum mendengar ekspresi wajah Red setelah bangun tidur barusan.


"Apa aku perlu mengadu kepada pacar mu bahwa kau sedang mengganggu seorang gadis?" tanya Jun.


"Kau ... !" kata Jimmy.


"Kalian sudahlah berhenti bertengkar" kata Red.


Red berbalik ke arah sebelah kiri dan dia lebih terkejut dengan orang yang ada disebelah kirinya.


"Ya Tuhan" kata Red.


Radan memberikan senyuman hangat kepada gadis ini.


Red mulai salah tingkah dan dia mulai berbenah membereskan buku buku yang ia ambil di rak rak perpustakaan tadi.


"Jika kau merindukan adikku. Kakak bisa telefon dia sekarang juga" kata Radan.


"Hah?" tanya Red.


Sudah tentu semua menahan tawa.


Red melihat ke arah Hera yang masih terjaga di depannya.


"Jangan bicara apapun" kata Hera.


Red menuruti perkataan dari partner kerjanya itu.


Disaat Red sedang membereskan buku buku yang ia pinjam tadi Si Putri dan Pangeran Kerajaan datang untuk mencari ilmu di perpustakaan.


Mereka lebih heboh lagi dalam situasi ini.


Semua membuat seakan mereka menjadi pusat perhatian.


Red memberi kode kepada Good agar lebih santai. Dia akan menaruh buku buku di rak perpustakaan tempat dimana ia mendapatkan buku buku yang ada di kedua tangannya.


"Ok. Thank you, Red" kata Good didalam hatinya setelah melihat kode dari Red.


Mereka bertiga melihat ke arah Red lalu Red berusaha baik baik saja dengan situasi ini.


Good dan Bee langsung mencari buku buku yang ia butuhkan mendekat ke arah Red melewati ketiga teman satu kelasnya yang kembali mengerjakan tugas kelompok mereka.


Red menaruh buku buku itu dengan cepat sedangkan untuk Bee merasa seseorang sedang memberi contoh kepada dirinya.


"Ayo kita cari buku buku itu lalu langsung pulang!" kata Si Putri Kerajaan kepada Sang Pangeran.


Good seperti merasa dia sedang diancam oleh Bee tapi tetap saja dia nurut saja sama perkataan Bee.


Bee dan Good mengambil beberapa buku kemudian memberikannya kepada petugas yang bertugas pada malam ini.


"Kami pinjam semua buku buku ini" kata Bee.


Mereka berdua meminjam sepuluh buku sekaligus dengan tingkat ketebalan yang lumayan.


"Nona akan membaca semua buku ini?" tanya Leo.


"Iya" kata Bee.

__ADS_1


Leo kemudian mengecek layar komputer tentang semua buku yang akan mereka berdua pinjam satu persatu.


"Mereka tidak tahu Bee seorang maniak buku" kata Ben.


Kata katanya membuat Jun tertawa dengan lirih. Jimmy cuma senyum senyum sambil mengerjakan tugas. Kalau untuk Mr. Radan tetap stay cool bersama bukunya yang ia baca.


Dimana Red dia sudah selesai dengan buku buku yang ia taruh di rak rak perpustakaan.


Dia kembali di mejanya semula.


"Kau mau pulang sekarang?" tanya Radan.


"Iya. Bye bye semua" kata Red.


"Dia terburu-buru sekali" kata Jimmy.


"Tidak ramai kalau tidak ada Red" kata Ben.


Si Putri dan Pangeran Kerajaan juga ikut ikutan terburu buru pergi dari perpustakaan.


Leo cuma bisa berkata, "Masa muda memang penuh semangat".


Hera masih menjaga Jun sendirian.


"Berikan satu teman untuk ku Tuhan, sekarang juga" kata Hera.


Datanglah Doe seketika di sebelah kanan Hera.


"Ya ampun!" kata Hera.


Dia dengan mini pizza di box yang ia bawa.


"Aku tahu kau pasti lapar. Ini untuk mu" kata Doe.


Hera tidak jadi marah. Dia mengambil makanan yang Doe bawa untuk makan malam.


"Sudah lama sekali. Aku baru makan makanan manusia lagi" kata Hera.


"Makan yang banyak. Ini semua untuk kita" kata Doe.


"Terimakasih makanannya" kata Hera.


"Cium aku" kata Doe.


"Mau dipukul!" kata Hera.


"Oh ya ini lezat. Crunchy di bagian luar dan fluffy didalam" kata Hera.


"Kau suka roti itu juga. Besok, aku bawakan lagi untuk mu" kata Doe.


Diantara mereka berempat ada didalam hati mereka yang berkata.


"Mereka meramaikan suasana disini" kata seseorang itu.


Hera dan Doe mendengar suara itu disaat mereka sedang makan malam di depan mereka berempat.


Makan malam berhenti sementara.


"Kau dengar suara itu?" tanya Hera.


"Ternyata kau mendengarnya juga" kata Doe.


Kembali menyelesaikan makan malam mereka.


Mereka berempat masih di perpustakaan hingga pukul setengah sebelas malam setengah jam lagi tempat itu akan di tutup.


Tanpa bisa ditebak, Jun tiba tiba saja memberikan pertanyaan kepada Radan, kakak dari Ran.


"Kalau boleh tahu. Red dan Ran sudah berteman sejak kapan?" tanya Jun.


"Sejak balita" kata Radan.


Jimmy jauh lebih puas dengan jawaban ini dengan ekspresi wajah yang menggambarkan bahwa sangat sulit untuk dipisahkan hubungan persahabatan mereka.


"Aku takkan menyerah" kata Jun.


"Mungkin dia akan memilih ku" kata Ben.


"Mungkin aku" kata Jimmy.


"Jodoh mu mungkin Sammy" kata Ben.


"Sudah kalau sudah masalah Sammy berat" kata Jun.


Radan cuma bisa menghela napas dengan apa yang ia lihat sekarang.


Leo datang menghampiri mereka semua karena partner kerjanya sudah pulang setengah jam lebih awal dan kini tinggal dia yang bekerja di shift kedua ini.


Dia dengan sifat tegasnya.


"Kau tidak pulang?" tanya Leo menunjuk ke arah Jimmy.


"Aku malas pulang kerumah" jawab Jimmy.


"Kamu?" tanya Leo kepada Ben.


"Tadi aku memecahkan guci kesayangan ayahku. Aku takut pulang" kata Ben.


"Kamu?" tanya Leo kepada Jun.


"Aku akan menginap dirumah Ben" kata Jun.


"Aku tidak akan tanya kamu. Sudah tahu kerja terus" kata Leo tentang Radan.


"Kalian saling kenal?" tanya Jun kepada Leo dan Radan.


"Siapa yang tidak kenal dia. Kakak mu juga kenal" kata Leo.


"Aku lupa kalian satu kampus" kata Jun.


Obrolan mereka berlanjut menit bertambah menit Hera dan Doe sudah dipersiapkan jika hal ini akan terjadi lebih tepatnya ada waktunya untuk begadang.


Kedua hantu ini terlihat santai penuh canda tawa yang terlihat seperti itu sejak tadi.


"Menurutmu diantara mereka, siapa yang bisa melihat kita?" tanya Hera.


"Dia yang bernama Ben. Dia bahkan tak menujukkan rasa takut pada kita" kata Doe.


"Bagaimana dengan Radan?" tanya Doe.

__ADS_1


"Dia" kata Hera menunjuk ke arah Radan.


Hera belum ingin menjawab pertanyaan dari Doe tentang Radan.


__ADS_2