
Chapter 89: Hantu Penjaga Danau Itu.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengerjakan tugas ini" kata Ben.
"Kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Jun.
"Kalian!" kata Ben.
"Sebaiknya kau pergi saja" kata Marid.
"Aku akan pergi menemui Red" kata Ben.
Jun menarik tangan Ben.
"Jangan pergi!" kata Jun.
"Ok. Bantu kerjakan tugasku" kata Ben.
"Berikan buku mu" kata Red.
Dia datang sendirian untuk meminjam sebuah buku di perpustakaan.
"Aku akan mengerjakan tugasku sendiri" kata Ben.
"Ayo kita kerjakan tugas kita" kata Red.
Ben pergi keluar dari perpustakaan ikut bersama dengan Red yang sudah mendapatkan buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah.
"Ku rasa dia bebas memilih" kata Jimmy.
Ben sedang tidak hanya sedang mengerjakan tugas sekolah dengan Red melainkan dia juga sedang berbisnis.
"Kau yakin denganku?" tanya Red.
Ben merasakan bahwa dia sedang di sadarkan oleh sesuatu.
Ben berhenti berjalan beriringan dengan Red.
Red ada berjalan di depannya.
Gadis ini juga ikut berhenti sejenak lalu kemudian berbalik kepada Ben.
Seperti udara yang perlahan datang mengubah wajah dan seluruh apa yang ada di raga Red disetiap ia melihat temannya yang ada di depannya.
Udara itu datang tanpa izin Red semakin mengubah wajahnya tanpa reaksi yang membuat Red merasakan kesakitan.
Ben masih dengan rasa terkejut yang belum berhenti. Perubahan ini masih terus terjadi didepan matanya sendiri. Lagi.
"Kenapa wajahnya semakin berubah?" tanya Ben.
Seperti angin biru mengubah wajah Red menjadi semakin berubah.
"Kau baik baik saja?" tanya Red.
"Oh. Aku baik baik saja" kata Ben.
"Kita akan mengerjakan tugas kita di kelas" kata Red.
"Ok" kata Ben.
Ben mencoba bersikap seperti dia biasa bersosialisasi dengan Red setiap hari.
Takut. Itu pasti.
Tapi, tidak ia tunjukkan disaat ini.
"Aku bukan cenayang juga bukan dari keturunan mereka" kata Ben.
"Aku juga bukan siapa siapa" kata Ben.
"Ini semua salahku. Ya, ini salah ku. Salah ku yang terlalu ingin tahu" kata Ben.
"Biarkan aku menganggap ini hanya sebuah mimpi dan aku akan lupa di detik selanjutnya" kata Ben.
Ben ikut bergabung dengan Bee dan juga Wren yang ada di kelas sedang mengerjakan tugas mereka.
"Setidaknya aku bisa mengerjakan tugasku" kata Ben.
Hati dan pikirannya sudah mulai rileks dari pertanyaan pertanyaan yang muncul secara tiba tiba barusan ketika perjalanan menuju ruang kelasnya sendiri bersama dengan Red.
"Dewa langit sedang apa kau disini?" tanya Ben.
"Aku menunggu temanku" kata Wren.
"Apa aku temanmu?" tanya Ben.
Bee langsung mengambil buku Ben kemudian menyerahkannya kepada Wren.
Wren menerima buku milik Ben dari Bee.
Buku itu ia pandang.
"Aku mau membantumu. Apakah kamu butuh bantuan ku?" tanya Wren.
Dewa langit membantu Ben mengerjakan tugas sekolah milik Ben.
"Kau tidak mau diajari oleh Wren?" tanya Bee.
"Ok" kata Ben.
Dia mengambil kursi lain dari meja Jimmy yang tidak digunakan saat ini.
Red sedang bersama dengan Bee menjadi bahan latihannya belajar menghias kuku dengan cat kuku berwarna silver dan kerlap kerlip dengan warna dasar hitam.
"Aku boleh menghias semua kuku mu?" tanya Bee.
Red menyerahkan kuku kuku jemari tangannya untuk dihias dengan cat kuku oleh Bee.
"Akhirnya, kau mau menjadi model ku" kata Bee.
Dia histeris mendengar persetujuan dari teman satu kelasnya itu.
"Sorry" kata Bee kepada Ben dan Wren.
Hari ini adalah hari pertama disaat Radan berhasil menghancurkan markas utama dari "Orang itu" yang kini sudah berhasil di lenyapkan oleh seseorang.
Dia dengan pedang berwarna silver yang ia miliki masih membara api hitam kekuatan dari pedang yang tertancap di atas tanah. Dia dengan luka darah mengalir di kepala dan tangannya berhasil memukul mundur dan menghancurkan markas itu.
"Hah ... hahhhh ... hah"
Radan dengan sisa energi dari pertarungan yang baru saja terjadi dengan "Orang itu" dan dirinya.
Dia berbaring diatas tanah setelah pertarungan berakhir.
"Bangunlah. Jangan sampai orang lain melihat kita" kata Sew.
__ADS_1
Sew datang membantu Radan terbangun dari atas tanah.
"Dimana yang lain?" tanya Radan.
"Kita harus segera menemui Red dirumah sakit" kata Sew.
"Dia ... " kata Sew belum selesai.
Setelah mendapat alamat dari Sew dimana Red dirawat di rumah sakit, Radan langsung menghilang dari sisi Sew pergi untuk menemui Red.
Sehari setelah ia menjalankan misi dari Presdir Ma.
"Kau penjaga danau ini?" tanya "Orang itu".
"Orang itu" sedang menyandera Hera hantu penjaga danau tempat sekarang kekasih Radan sedang menunggu pacarnya diatas kapal kecil bermesin diatas danau.
Hera disandera oleh "Orang itu" dan mantera mantera ia dapat menjadikan Hera lebih condong patuh kepada perintah "Orang itu".
"Ya" kata Hera.
Dia sudah dikuasai oleh mantra yang ia dapat dari "Orang itu" dan juga para anak buah "Orang itu" yang berasal dari golongan manusia.
Hera mulai bekerja disaat itu juga untuk "Orang itu".
"Lakukan apa aku perintahkan" kata "Orang itu".
Dia hanya mengangguk mengiyakan perintah yang ia terima.
Hera dilepas kembali dari jerat anak buah "Orang itu".
" ... "
Dia di lempar di dalam air danau tanpa suara.
Hari pertama Radan memberanikan diri untuk mengenal lebih dekat dengan seseorang yang telah lama ia sukai dalam diam di tempat kuliah.
Gadis dengan style rambut bertipe hairdo braide dengan rambut gelap sedang Radan coba ajak bicara.
"Bunga?" tanya Uri.
"Ya. Boleh aku tahu namamu?" tanya Radan.
"Boleh" kata Uri.
"Terimalah bunga ini" kata Radan.
"Kau tidak ingin tahu namaku?" tanya Uri.
"Boleh aku tahu namamu?" tanya Radan sekali lagi.
"Namaku Uri. Itu nama asli ku" kata Uri.
"Radan. Orang orang biasa memanggilku Dan" kata Radan.
Uri menerima bunga dari Radan.
"Bunga ini sangat cantik" kata Uri.
"Oh ya. Anak anak biasa memanggil ku nama lain yang biasa mereka gunakan. Kau bisa memanggil nama itu juga bisa memanggil nama asli ku" kata Uri.
"Ternyata kau jauh lebih ramah setelah aku berbicara langsung denganmu" kata Radan.
"Bunga ini cantik" kata Uri.
Keduanya saling berbalas senyum dan bertukar nomor ponsel.
Dia juga tak segan membantu pekerjaan Uri di saat ia membantu usaha orang tuanya yang berjualan makanan di sebuah kedai.
"Istirahatlah sebentar. Kau sudah membantu ku sejak sore tadi" kata Uri.
Dia menarik tangan Radan mengajaknya untuk duduk sebentar dari apa yang ia lakukan untuk melayani para pembeli di kedai milik orang tua Uri sejak dua jam ia mulai membantu tanpa henti.
"Ini seperti saat aku latihan bertarung" kata Radan.
"Terserah apa kata mu tapi kau harus istirahat" kata Uri.
Waktu terakhir untuk Uri.
Dia membuat janji bertemu dengan kekasihnya disebuah danau yang juga ada disekitar kota disebuah pasar malam sebagai penarik wisatawan untuk datang.
Di malam itu pula dia kehilangan seorang wanita yang ia cintai.
Dia adalah Uri kekasih Radan yang terbunuh oleh seorang hantu penjaga danau tempat ia menunggu kekasihnya datang.
Hera berhasil menjalankan perintah dari "Orang itu" membawa arwah Uri secara paksa kepada "Orang itu".
Dia sudah ada didepan "Orang itu".
Dia mendapatkan mantra yang sama dengan apa yang diterima oleh Hera tetapi bukan mantra beracun.
"Kau harus masuk kedalam raga wanita diatas kapal itu" kata "Orang itu".
Wanita yang ia tunjuk adalah Flow yang sedang bersama dengan adiknya Bay.
Kedua orang yang berteriak mencari pertolongan dan menyaksikan bahwa Uri ditarik oleh hantu penjaga danau.
Satu jam sebelum kematian Uri.
"Aku membutuhkan seseorang untuk menjadikan bahan percobaan dari ramuan ini" kata "Orang itu".
"Ini daftar gadis dan orang orang yang sesuai dengan kriteria yang anda cari" kata anak buah "Orang itu".
"Orang itu" membaca hasil data yang diberikan dari anak buah kepercayaannya saat itu.
"Untuk saat ini. Dia yang paling memenuhi syarat orang yang aku cari" kata "Orang itu".
"Orang itu" segera pergi ke lokasi dimana gadis yang ia cari ada disana. Dia mengintai lokasi saat ia mulai datang kesana.
"Saya sudah mengikuti gadis itu sejak beberapa hari ini. Dia ada disana" kata anak buah "Orang itu".
Anak buah kepercayaan dari "Orang itu" adalah seorang hantu yang bertarung hebat disaat penghancuran di markas utama pembuatan racun yang sehari sebelumnya dihancurkan oleh Radan dan anggota tim yang di pemimpin oleh Radan.
Ia juga yang mencari beberapa daftar orang orang yang menjadi target dari obat yang akan di berikan kepada Flow sebagai bahan percobaan terus mengawasi target lain selanjutnya termasuk tugas ini.
Obat berwarna biru menyala dari dalam botol ia buka tutupnya yang terbuat dari kayu terus menyala terang.
Benda itu terbang sendiri dari tangan "Orang itu" kearah Flow yang sedang bersama dengan Red.
Benda itu jatuh di pundak kanan Flow cairan biru menyala keluar dari botol itu kemudian menghilang benda itu lalu kembali ditangan "Orang itu".
"Orang itu" menghilang dengan cepat dari sana dari atas sebuah kapal yang tidak menyala mesin kekuatan energi penggerak kapal air itu.
Dia sudah berpindah tempat ke tempat yang lebih gelap masih di area danau.
Dia sedang berbicara tapi lebih tepatnya sedang berusaha mengendalikan paksa seorang hantu yang menjaga hantu danau tersebut.
__ADS_1
Terlihat menolak.
Melawan dari tekanan dari "Orang itu" dan hantu itu bukan tandingan dari "Orang itu".
Kekuatan baik yang dimiliki oleh Hera terserap habis oleh kekuatan jahat "Orang itu".
Misi segera di laksanakan oleh Hera di tempat itu juga di detik menit waktu yang sangat Hera perhitungan kan sesuai dari intruksi rencana "Orang itu".
Berada di rumah sakit.
"Uri" kata Radan.
"Maafkan aku datang terlambat" kata Radan lagi.
"Tidak. Ini seharusnya tidak terjadi padamu" kata Radan lagi.
Uri sudah tidak bernafas lagi setelah ditarik oleh Hantu penjaga danau masuk kedalam air menariknya dengan cepat akan membawanya ke dasar danau. Itu rencana Hera.
Meski Radan belum bisa menerima bahwa pacarnya telah tiada tapi memang kenyataannya wanita itu telah pergi meninggalkan dunia ini.
Flow sedang dalam perjalanan pulang bersama dengan Bay adiknya.
"Kakak, kasihan sekali pria itu. Pacarnya telah meninggal" kata Bay.
Mereka berjalan diantara para pedagang kaki lima di pasar malam disekitar danau tempat Uri mengalami kejadian itu.
"Dia pasti sedang menangis saat ini" kata Flow.
"Kita pulang naik apa?" tanya Bay.
"Naik bus" kata Flow.
Mereka akan pergi menuju tempat perhentian bus.
Dari arah jauh dengan cepat datang hantu terbang dengan cepat ke arah Flow.
Hantu itu masuk dengan cepat kedalam raga Flow. Hantu itu adalah Uri yang masih dalam pengaruh dari mantra yang ia dapat dari "Orang itu".
Flow terdiam sejenak.
Dia memerasakan telah terjadi sesuatu didalam dirinya.
"Kenapa tubuhku tiba tiba panas?" tanya Flow.
"Dan sekarang berubah sangat dingin" kata Flow.
Bay melihat kakaknya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Apa terjadi sesuatu wajah kakak sangat pucat?" tanya Bay.
"Mungkin kakak masuk angin. Ayo kita harus cepat pulang" kata Flow.
Mereka berdua sampai di tempat perhentian bus.
Menunggu lima menit di tempat itu.
Kemudian, sepuluh menit datang. Sedangkan, bus belum datang.
Satu mobil berwarna hitam type SUV datang. Pengemudi mobil itu membuka kaca jendela.
"Ayo naik!" kata Kise.
Flow memeriksa siapa yang memanggilnya saat itu.
"Maaf Tuan siapa?" tanya Flow.
Kise turun dari dalam mobil.
"Aku tahu kau sedang berakting. Ayo ikut aku hari sudah semakin malam" kata Kise.
"Ayo ikut aku" kata Kise.
"Apa dia tidak melihat ada orang lain disini?" tanya Bay.
Kise melihat kearah seorang gadis yang mengajaknya bicara.
"Sorry. Apa dia adik mu?" tanya Kise.
Flow memeriksa dalam diam siapa yang ada didalam mobilnya itu.
"Sudah. Ya, aku ikut dengan mu" kata Flow.
Setelah ia selesai memeriksa mobil Kise. Dia menyetujui untuk ikut bersama dengan Kise.
"Siap!" kata Kise.
"Oh ya. Tuan Putri ini juga harus ikut" kata Kise terhadap Bay.
Flow masuk kedalam mobil Kise di kursi depan sedangkan untuk Bay duduk di kursi belakang mobil yang ditumpangi oleh Flow.
Kise mengemudikan mobil dengan kecepatan lumayan cepat tapi masih dikatakan masih wajar.
Kise mengambil sebuah kotak yang ada di tote bag cokelat.
"Kau suka cokelat. Kakak punya satu" kata Kise.
Dia memberikan cokelat kepada Bay ketika mobil akan melaju membawa mereka berdua untuk pulang.
"Cokelat!" kata Bay.
"Aku suka!" kata Bay lagi.
"Itu untuk mu semua" kata Kise.
Satu kotak yang lumayan besar berisi banyak cokelat di berikan oleh Kise untuk Bay.
"Kenapa kau selalu baik kepada ku?" tanya Flow.
"Karena aku menyukai mu" kata Kise.
Flow melihat kearah belakang mobil yang di naiki mereka bertiga.
Mobil melaju meninggalkan tempat perhentian bus tadi.
Suasana gerimis menambah malam begitu tak bersuara menjadi hening.
Hatinya seakan ada yang ingin meledak berbicara didalam situasi ini.
"Apa aku harus menanyakan lagi?" tanya Kise.
"Ok. Aku akan berusaha lebih" kata Kise dalam diamnya.
Melihat ke arah Flow.
"Aku mencintaimu" kata Kise.
__ADS_1
Tatapan mata datar yang Flow berikan disaat ia mendengar kalimat itu keluar dari lisan Kise.