Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 136: Siapa pemilik bayangan itu?.


__ADS_3

Chapter 136: Siapa pemilik bayangan itu?.


 Sering bertanya tentang suatu hal yang ia selalu katakan akan segala argumen argumen mengatakan bahwa adalah sebuah kesungguhan hati dan pikiran serta tindakan yang digembar gemborkan selama ini serasa tidak ada apa apanya dalam usahanya menemukan Flow.


 Flow didalam dimensi berbeda masih di dalam sana belum kembali sama seperti Jun dan Ran.


 Mata terbuka.


 Terasa dingin di seluruh raga terbangun kemudian duduk membaca lagi dengan kebingungan di tempat yang berbeda di dimensi yang sama.


 Ia semakin akan masuk perlahan kedalam kubangan lumpur beranjak berdiri dari tempat itu segera dan kakinya semakin masuk kedalam lumpur satu dua langkah berjalan makin membuatnya merasakan masuk ke dalam kubangan lumpur yang juga masih dalam area hutan masih hutan dalam dimensi jauh jarak ketika ia di kejar kejar makhluk misterius waktu lalu.


 Beranjak lagi keluar dari lumpur yang menariknya kedalam yang tak membutuhkan dirinya tapi terus menginginkan dia masuk terperangkap dalam menjadi sekedar salah satu korban yang tak berarti apapun bukan hanya sekedar kata kata ini saja tapi dia menginginkan sesuatu yang dianggapnya hanya sebuah kesenangan seperti kesenangan sebelumnya tanpa merasa bersalah  dengan jerat jerat yang tidak berguna dan bermakna apapun hanya kesenangan semata.


"Tolong siapapun tolong aku" kata itu yang muncul dari lisan Flow.


 Dia masuk lebih dalam lagi meninggalkan jejak bahwa dia memang Flow tangan kanannya terlihat menunjuk ke atas di antara lumpur yang ada di sekitar tangan pucat kuku panjang rapuh memutih mulai berkurang tanda tanda bahwa dia masih ada disana ada di raganya sendiri.


 Sudah tak terdengar lagi suaranya meski itu samar samar dunia ini masih menunggu suara itu datang lagi tidak ingin terlalu cepat menyerah dan pergi bertahanlah kamu berhak atas semua itu.


 Cahaya matahari di dimensi ini sedang bekerja sebagaimana matahari di dunia manusia dia tetap satu matahari yang sama dalam berbeda dimensi sepertinya cahaya datang meyakinkan bahwa dia tidak percaya untuk semudah itu makhluk cantik yang sedang terjebak di dalam sana akan menyerah setelah melihat bagaimana dia berusaha keras untuk bertahan menghadapi segalanya yang membuat hati sesak bahkan diri lelah dengan segala tekanan.


 Flow melihat dirinya sendiri sedang melihatnya dengan tatapan penuh banyak harapan. Dia tidak berkaca kaca atau bahkan menangis ketika berbalik melihat dirinya yang berada dalam kegelapan dia terus melihat ke arahnya yang ingin pergi dari dunia yang terus menyiksa dan menyiksa.


 Lumpur itu makin mengikat Flow mulai mengikat dan apa yang terjadi selanjutnya sebuah pergerakan terlihat lagi dari jari jari tangan wanita ini.


 Kuku kukunya kembali menghitam tajam rapuh terlihat disana darah mengalir lagi memecah pori pori kulit darah mengalir sangat deras bahkan juga keluar memaksa diri untuk naik pergi keluar dari lumpur yang sedang menjerumuskan dirinya jauh tenggelam lebih dalam. 


 Pori pori kulit yang sudah hampir semua memisahkan diri darah bercampur dengan lumpur Flow mulai berhasil naik ke atas tempat itu. Bagaimana dengan kondisinya tentu sudah terlepas dari rasa sesak menyesakkan kedua paru paru merangkak keluar dan keluar dengan tangan jelas tak memiliki pertolongan di antara lumpur lumpur itu air mata terlihat tangis tanpa suara dia ada disana sedang berjuang sendiri berharap untuk ada seseorang yang mau menolongnya tapi dia sudah terlalu cepat percaya bahwa hanya dirinya yang bisa menolong dan Tuhannya tak ada yang lain.


 Separuh tubuhnya bisa keluar dari sana dia juga dengan sangat usaha keras dan harapan untuk pergi dari zona ini. Belum juga berhasil ia pergi benar benar dari zona berbahaya itu langit mulai mendung awan hitam datang dengan sangat cepat menutupi langit yang ada di atas Flow membuatnya bertambah frustasi dan depresi ingin menyerah tidak mungkin itu sama saja ia memilih mati sebelum berperang.


 Dia tidak ingin banyak membuang waktu gerimis mulai datang dalam tingkat rentang waktu sedang dia makin berusaha bergerak merangkak pergi dari sana. Dia mencengkram rerumputan liar yang tumbuh di sekitar lumpur itu mencekram lebih erat lagi merangkak mulai naik semakin lagi meraih lagi rerumputan liar yang ada.


"Heh heh heh"


 Wajahnya yang penuh lumpur dan darah keluar dari pori pori kulit seluruh raga berhasil keluar dari tanah lumpur di depannya sekarang mundur lebih jauh lagi menjauh dari tanah berlumpur itu.


"Sungguh aku merindukanmu" kata Flow.


"Sangat merindukanmu" kata Flow.


 Gerimis makin deras berubah menjadi hujan deras menghapus darah bercampur lumpur di raganya juga sekaligus menyembuhkan luka luka yang ia dapat.


 Seperti keajaiban baginya luka luka itu bisa sembuh setelah terkena air hujan yang menimpanya saat ini.


 Flow memeriksa kedua pergelangan tangan yang pucat kini sembuh luka luka itu dengan sendirinya perlahan tanpa bekas begitu juga dengan luka luka yang ia dapat sebelum luka luka baru ini.


 Menyentuh wajah sebelah kirinya yang juga sebelumnya telah terbakar tak terasa rasa sakit apapun di setiap bagian wajah.


 Senyum itu datang kembali sudah sangat lama tak terlihat. Ia duduk disana diatas tanah berjarak empat meter dari tanah berlumpur tadi. Hujan masih sangat deras memberi nyawa berbagi hal positif lebih lagi disekitar makhluk cantik ini.


 Ran duduk di tepi hutan bakau menyembuhkan diri sedangkan untuk Jun, dia sedang bermain main dengan energi miliknya melempar energinya sendiri ke udara.


 Sulit untuk berbicara.


"Kau sedang bermain dengan energi pengganti mu" kata Ran.


"Kau sudah menyelidiki ku jauh jauh hari pasti kau sudah tahu apa yang sedang kulakukan" kata Jun.


"Tidak. Aku tidak secerdas itu" kata Ran.


"Kepribadianku juga tidak terlalu baik" kata Jun.


"Makanya aku bertanya. Apa yang sedang kau lakukan sekarang" kata Ran.


"Kau sudah tahu" kata Jun.


 Jun tidak mau menjawab pertanyaan itu karena Jun yakin bahwa Ran sudah tahu kalau energi pengganti sekaligus raga penggantinya sedang pergi mencari dan mencari dimana orang yang sedang mencari menjadi dalam bentuk angin bahkan hujan sesekali ia tetap lakukan hal itu dan menyembuhkan siapapun yang ada di dalam dimensi  sana yang membutuhkan pertolongan darinya tentu dengan memeriksa apakah makhluk itu bukan Makhluk misterius itu yang entah dimana saat ini.


"Kau sedang mencoba menghilangkan nyawamu sendiri" kata Ran.


 Suara Ran terdengar lagi kini mulai sedikit lebih jelas dari detik sebelumnya.

__ADS_1


"Aku akan membantumu?" tanya Jun.


"Kau bisa meninggalkan ku disini" kata Ran.


"Jangan bercanda lagi" kata Jun.


 Waktu malam di dimensi manusia.


  Bob masih dalam perjalanan bisnis di luar negeri saat ini dia sedang menaiki alat transportasi umum dari kota yang ia datangi hujan dijalanan terlihat basah dengan hujan yang belum reda dia di dalam bus di lantai atas beratap dari bus berwarna merah melewati gedung gedung melewati danau indah di malam hari dengan lampu lampu di sekitarnya juga lampu lampu gedung makin indah danau yang sedang ia lewati. Melewati hujan yang belum juga reda Bob dengan jaket tebal coklat dan topi penghangat kepala yang terbuat dari wol hitam dan celana Jeans mencari udara segar setelah seharian bekerja dia mengambil waktu untuk dirinya melihat lihat isi kota ini dengan asisten pribadi baru.


 Bertambah lagi angka waktu jumlah hari berapa lama wanita yang ia sayangi pergi dan belum kembali.


 Berbicara dalam hati melihat ke sisi kanannya duduk didalam bus.


"Aku melihat wajahmu di sebelahku" kata Bob.


"Kau tersenyum padaku" kata Bob.


"Dan sekarang pergi" kata Bob.


"Dimana mana ada wajahmu" kata Bob.


 Bob kembali menghadap ke arah luar melihat pemandangan malam danau dengan dikelilingi bangunan tinggi kota dengan lampu lampu  gedung gedung menyala seperti kerlip benda langit yang berwarna warni.


"Kenapa aku tidak bisa menolongmu?" tanya Bob.


 Bersandar di kursi bus menutup mata dibalik tempatnya bersandar ada asisten pribadi Bob yang masih dengan pekerjaannya yang sudah jelas sangat sibuk.


 Memejamkan mata sejenak mendengar suara yang jatuh diatas atap bus. Hujan.


 Wajahnya lebam.


 Lebam lagi, lebam bagian tulang pipi. Dia belum menyadarinya.


 Masih memejamkan mata bersandar di kursi penumpang bus.


 Flow disana di dimensi misterius berjalan pergi entah kemana arah yang ia ambil apakah benar atau salah dia harus mengambil sebuah pilihan dan juga dia tidak lupa untuk membuat tanda silang lagi di beberapa pohon yang ia lewati sebagai petunjuk untuk dirinya lagi.


 Awan awan itu masih gelap mengisi langit diatas Flow berlari untuk menyelamatkan diri.


 "Buggggg!"


 Satu pukulan ia dapat dari seseorang, Flow berhenti dalam langkah cepatnya menatap sekitar dengan hati hati dan seksama.


 


"Tak ada satupun selain diriku disini" kata Flow.


 Dia berjalan lebih cepat lagi mencari jalan untuk pulang.


"Buggggg!"


 Mulutnya seperti ada yang baru saja memukulnya dengan sangat keras. Namun,  tetap saja dia tidak melihat siapa yang memukulnya.


 Jika dia bisa melihat apakah ada luka lebam atau darah setelah menerima pukulan tadi jawabannya adalah tidak ada.


 Sementara itu, Bob merasakan ada yang aneh dengan dirinya darah keluar dari ujung bibirnya tanpa rasa sakit.


 Bob menyentuh sudut bibir sebelah kanan  dengan telapak tangan melihat kemudian sesuatu yang baru saja keluar dari mulut.


"Darah?" tanya Bob.


 Tisu wajah ia ambil dari tas pribadi miliknya yang  ada di dadanya terpasang menyelempang  berwarna coklat kulit.


 Menghapus lagi darah.


 Menghapus lagi darah yang keluar dari dalam mulutnya.


 "Benar ini darahku. Tapi, aku tidak merasakan sakit apapun?" tanya Bob.


 Bob mengambil ponsel miliknya dan memeriksa wajahnya dengan menggunakan kamera ponsel dengan mode depan bercermin kemudian.


"Kemana perginya luka luka tadi?" tanya Bob.

__ADS_1


 Luka luka itu menghilang dengan cepat. Bob merasa bahwa ini aneh tapi terjadi padanya.


 Darah yang tadi ia usap menggunakan tisu wajah juga hilang tak berjejak.


 Memeriksa lagi apakah dia tidak salah lihat dan ternyata itu terjadi di detik detik sebelumnya.


"Berapa level ketidakwarasan ini?" tanya Bob.


 Berpikir menggunakan logikanya tetap berargumen mana mungkin hal semacam ini bisa terjadi dan dia mengalaminya sendiri.


"Buggggg!"


 Dia terhempas kuat ke kursi bus.


"Apa terjadi sesuatu pada Anda?" tanya Asisten Pribadi baru Bob.


"Jangan bergerak!" kata Bob.


 Asisten Pribadinya diam tetap di kursi belakang Bob.


 Kali ini mata kirinya merasakan sakit luar biasa segera dia menutup wajahnya dengan telapak tangan sebelah kanan.


"Duduk lagi!" kata Bob memerintah lagi.


 Bob juga duduk lebih menenangkan diri di bus yang tidak terlalu ramai di malam yang sedang hujan ini.


 Bob tiba tiba saja teringat dengan kata kata dari seseorang yang menasehati dirinya tentang masalah yang tidak terduga bisa saja ia akan alami.


"Jika kau benar benar mencintainya. Jika dia  terluka maka kau juga terluka" kata Presdir Ma.


 Dia sedih sekaligus senang ini mengartikan bahwa seseorang itu masih ada dan dia belum pergi.


"Dan jika kau tidak melihatnya kembali maka bersiaplah untuk segala kemungkinan terburuk" kata Presdir Ma lagi.


 Bob tiba tiba saja menangis ketika mengingat nasehat yang ia dapat dari seseorang yang ia percaya.


 Menangis dengan harapan bahwa dia akan kembali.


 Dia mengingat lagi senyumnya tawanya bagaimana ia bicara pria ini sedang mengingat kisah kisah lama yang tersimpan di hati dan pikirannya.


"Maaf selalu menganggapmu hanya bagian tempat menyimpan keluh kesahku" kata Bob.


 Tangisnya tersedu sedu terdengar juga oleh asisten pribadinya.


"Maaf. Maafkan aku" kata Bob.


"Bertahanlah disana" kata Bob.


 Bob menghapus air matanya dengan tisu wajah di tangan.


 Asisten pribadinya dengan ekspresi tegas tapi juga berpikir apa yang sudah membuat Presdirnya menjadi seperti ini yang dia tahu dia tidak memiliki pasangan sama sekali seperti yang dibicarakan oleh orang orang dari sumber sumber yang ia dengar tanpa harus mencari tahu. Dia berpikir lagi mengenai hal ini membuat ia agak berpikir ulang  bahwa dia tidak perlu terlalu ikut mengurus asmara Bosnya untuk waktu ini.


"Siapa Flow?" tanya Asisten Pribadinya dalam hati. 


"Aku baru mendengar nama itu" kata Asisten pribadinya lagi.


 Sejak Flow menghilang semua foto Flow bersama dirinya di ruang kerja dan ruang selain kamar rumahnya ia simpan didalam kamar agar dia tidak menangis jika melihat fotonya dan hanya menangis di kamarnya sendiri.


 Asisten pribadinya menyibukkan lagi dengan persiapan kegiatan kegiatan pekerjaan yang akan ia lakukan dalam sebuah daftar list yang ia susun melalui ponsel pintar di genggaman untuk besok pagi.


 Bob sedang memilih dirinya dengan kesendirian dan kesedihannya sendiri.


 Mata sebelah kiri terasa kabur sulit untuk melihat dia agak mulai goyah dengan pukulan pertama di bagian mata.


 Mata sebelah kirinya ia periksa dengan tangan kanan ia segera melihat darah terasa di mata kirinya yang sangat nyeri dari telapak tangan.


"Darah!" kata Flow.


 Hujan terdengar jatuh diatas daun daun pepohonan di sekitar Flow mencari, mencari siapa yang baru saja memukul beberapa bagian wajah dan matanya sampai lebam berdarah.


 Wajah sakit akibat pukulan yang ia terima dari seseorang yang tidak terlihat.


 

__ADS_1


__ADS_2