
Chapter 32: Mungkin, Aku tak menyangka.
Malam yang belum terlalu malam disebuah wisata danau.
Menghitung bintang atau menebak nama bintang dua kakak beradik ada diatas kapal kecil bermesin.
Dua tiket sudah mereka dapat.
"Berikan tiket mu!" Flow memerintah adiknya memberikan tiket.
"Ini" kata Bay atau Bling wajah ceria masih terus teringat masa ini.
Flow duduk di kapal tersebut tak ada hal aneh maupun menyeramkan mereka berdua menikmati pemandangan langit diatas kapal di danau tersebut.
Dia berbalik melihat pemandangan lampu lampu dari kapal menyala terang indah memukau mata kerlap kerlip memanjakan mata dan hati.
Sebuah waktu yang ia ingat sebuah waktu yang ia akan terus mengingatnya.
Wanita itu ditarik dengan cepat oleh hantu penghuni danau dan ia melihat itu. Flow terkejut dengan apa yang ia lihat. Berjalan mundur tanpa drama Flow langsung berteriak meminta tolong.
Flow berteriak meminta tolong kepada orang orang yang ada disana.
"Tolong!"
"Tolong ada orang yang terjatuh ke danau!"
Begitu juga dengan Bay tak bisa membiarkan hanya Kakaknya yang meminta tolong.
"Tolong!"
"Tolong!"
Jeritan Flow dan Bay yang keras membuat orang orang yang berada disana termasuk pengemudi kapal yang dinaiki oleh wanita itu segera mengambil tindakan dengan cepat beserta awak kapal mereka menolong wanita yang memakai gaun anggun berambut panjang tersebut.
Orang orang yang merasa memiliki keahlian berenang juga menolong wanita itu.
Suasana amat menegangkan bercampur ketakutan kecemasan amat terasa. Angin sejuk datang diantara situasi ini berlalu dan datang kembali begitu seterusnya.
Danau menjadi lebih ramai oleh orang orang yang mencari wanita itu.
Dia melihat seseorang datang.
Syok pastinya.
Tidak percaya.
Dia menaruh jaket dan barang miliknya bersebelahan dengan barang barang milik orang lain yang juga ada disana.
Satu orang sudah berjaga menjaga sebelum pria itu datang, dia adalah salah satu awak kapal tersebut.
Tak ada waktu semua waktu sangat berharga bagi siapapun terutama untuk wanita yang sudah tenggelam di danau tersebut.
Pria yang sudah terjun ke danau mencari keberadaan kekasihnya itu adalah Dan yang ia kenal itu.
Setiap bertemu dengan pria ini selalu mengingat kejadian itu selalu.
Keesokan hari malam juga belum terlalu malam.
Flow masih lembur bekerja di perusahan tempat ia bekerja waktu itu.
"Lihat aku!"
"Lihat aku!"
"Kisah ku"
"Ya kisah ku"
"Aku ingat itu"
"Kisah itu"
"Cerita ku sendiri"
"Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?"
"Menangis dibalik dinding"
"Menangis disaat makan"
"Menangis disaat bekerja"
"Dimana lagi, dimana lagi aku menangis lagi"
Bunyi ponsel nada dering ponsel Flow terdengar di meja kerja. Pekerjaan sedang padat padatnya dan sibuk sibuknya. Suasana kantor yang masih dengan orang orang yang bekerja lembur.
Melihat keluar gedung melihat gedung gedung lain yang juga masih menyala lampu lampu mereka. Ya benar belum terlalu malam, masih disibukkan dengan pekerjaan.
"Tak mungkin kan gadis itu bertanya tentang kabar ku. Dia sudah pergi"
"Hari itu adalah hari saat aku menyiapkan sarapan untuknya"
"Dia sangat senang dengan sarapan buatanku. Meski, itu hanya sebuah menu sederhana. Dia tetap terlihat sangat senang"
"Waktu terus berjalan tanpa kendali ku hanya sebagai manusia biasa. Dan aku tetap ada disana"
"Belum pergi"
"Dan tetap disini"
Flow mengingat malam kecelakaan yang menimpa adiknya dan Jun.
Flow terlihat tersenyum dan berbicara penuh ceria bersamanya. Dia yang sebenarnya masih terpaku dan tak berdaya ketika bertemu dengan pria yang ada di depannya saat ini. Terpaku ingin meluapkan kesedihan yang ia simpan dan bahwa dia tidak baik baik saja dan batas itu selalu muncul saat ia tersenyum kepada Flow.
Ketenangan yang ia tunjukkan dengan kabut asap yang ia anggap akan datang kapan saja dalam detik waktu kapanpun.
"Aku ingin melihat kisah ku"
"Kisah baru di kehidupan ku selanjutnya"
"Kau pasti selalu mendengar ku"
"Aku yakin itu"
"Kau pasti memberikannya untuk ku"
Dan menatap sekali lagi kearah Flow yang duduk di kursi didepan ruang rawat ibunya Sammy.
Flow menatap Dan dan ia kembali mengingat ingatan itu saat menatap wajah Dan.
Kuku panjang tajam menghitam rapuh menekan leher Red.
Red sulit berbicara.
Dia mulai batuk.
Sulit mendapatkan oksigen.
Rasa sesak sulit bernapas.
Dia berkeringat dingin, sendiri.
__ADS_1
Tanpa basa basi ia mendapatkan teror ini. Teror kebencian dari orang yang pernah hidup.
Seakan bernapas saja sudah sulit.
Red menarik tangan penuh luka dan nanah yang menyerangnya saat ini.
Jemari jemari tangan Red berlumuran darah nanah milik hantu itu matanya terus menatap tajam mata Red hampir keluar dari kelopak matanya.
Detik demi detik berlalu seperti waktu yang sangat lama sedang menggerogoti waktu kesempatan untuk Red hidup.
"Tidak mudah. Menahan rasa sakit ini"
Red memberi pernyataan ini pada hantu di depannya.
Red tertawa dalam detik merenggut nyawa.
"Kau juga sedang merasakan rasa sakit itu"
"Kau takkan berhenti. Aku juga belum berniat untuk menyerah"
Gigi gigi hantu itu bergetar menyatu bersama dalam batas itu terdengar suara gesekan gesekan gigi. Mulutnya mengeluarkan darah melewati bibirnya yang mengelupas disetiap sisi atas dan bawah bibir yang juga mengeluarkan darah nanah putih menghijau dan menghitam.
Red juga membalas cekikkan hantu itu dengan mencekik leher hantu tersebut.
Keduanya saling berusaha untuk memenangkan pertandingan mempertahankan nyawa mereka.
Leher hantu itu seperti seakan Red memegang daging yang sudah membusuk bau anyir darah sangat khas dari hantu yang sedang bertarung dengan Red.
"Bagaimana ini. Aku merasa sudah mulai pusing?"
Red dalam detik detik makin tidak menguntungkan untuknya.
Pintu gudang toko terbuka cahaya masuk kedalam gudang toko yang gelap lampu tiba tiba tidak berfungsi sebagai mana mestinya.
Belum ada yang datang. Teman yang bekerja dengan Red belum kembali dari mengantar beberapa pesanan makanan untuk para pelanggan secara online.
Red ada didalam sana berniat untuk mengambil beberapa bahan makanan yang ia butuhkan untuk mengolah makanan baru. Namun, ia terkunci didalam sana dengan lampu gelap dan ponsel yang tidak berfungsi saat ia masuk kedalam gudang tersebut.
Dia mencoba berusaha menyalakan senter di ponselnya.
Red dengan air mata keluar berharap kepada siapa. Dia sudah pasrah.
"Apa aku akan mati?"
"Itu terlalu cepat"
"Ada banyak hal yang belum kulakukan"
"Tuhan tolong aku"
Red sudah sulit bernapas mungkin beberapa detik lagi malaikat pencabut nyawa datang mencabut nyawanya.
Menutup mata separuh dari pandangan Red saat ini gelap dan kian mengambil sisa cahaya yang ia miliki.
Bling datang menarik tangan hantu itu yang belum berhenti untuk menghabisi temannya itu.
Bling terlempar ke tumpukan barang barang box tinggi dalam gudang.
Red dengan setengah sadar dengan pandangan kabur melihat kearah Bling terlempar.
Red tersenyum saat mengetahui bahwa yang ia lihat adalah Bling.
"Kau masih bisa tersenyum. Kau akan segera mati"
Bling kembali bangun dari tumpukan tumpukan box besar didalam gudang sana.
Satu tendangan mengarah ke tangan si hantu.
"Krekkkkkk!"
"Aaaaaaaaaaaaaaa!"
Hantu itu meronta kesakitan.
Red duduk tersungkur di lantai.
Tangan hantu itu patah dan darah bercucuran dari batas tulang lengan si hantu yang patah.
Red bisa mengambil napas kembali.
Dia melepas tangan kanan hantu itu dengan jemari jemari tangan masih menempel erat di leher Red kebawah.
Hantu itu berusaha mengambil tangannya dan menerapkan memasangkan tulang lengannya.
Lampu lampu dari dalam gudang menyala redup seakan dipaksa untuk tetap gelap.
Bling mendekat kepada si hantu.
Dia akan menginjak dan menghancurkan tangan kanan hantu itu yang patah.
"Haaaaaaaaaaaa!"
Hantu itu mengeluarkan suara yang sangat keras dan cairan hijau bercampur dengan darah dan nanah.
Bling langsung menutup mata dan mulutnya.
"Wow!" Red terkejut.
Bau busuk dan darah dari mulut hantu itu ia terima.
Rasa jijik sudah hilang pada Bling. Dia langsung mengusap wajahnya dengan tangannya sendiri meski tidak sepenuhnya bersih tapi setidaknya itu tidak menguasai wajah.
Hantu itu juga mulai mengalihkan perhatian dari Bling berpindah ke arah Red.
Tatapan yang sangat serius dan amarah merasuki diri hantu itu.
Tangan kanan hantu itu terpasang kembali.
Hantu itu mendekat kearah Red.
"Sepertinya dia akan menyerangku kembali" Red merasa terancam.
Kedua mata Red berubah menjadi biru, hantu itu bergerak sedikit mundur dari Red.
Leher penuh luka dan darah nanah dari hantu itu masih membekas. Kedua tangannya juga berlumuran darah hantu itu.
Lantai keramik putih nampak jelas darah darah berceceran terjatuh dari tubuh gadis hantu itu masih jelas terlihat oleh Red dalam gelap lampu yang padam cahaya dari pintu masuk gudang yang terbuka memberi sedikit cahaya dari lampu lampu diluar sana.
"Red kau ada dimana. Ada pesanan lain, kita harus membuatnya" kata teman Red.
Bayangan teman Red semakin dekat ke gudang.
"Marid?" tanya Red.
Marid menyalakan tombol lampu di dinding atas dekat pintu disebelah kiri saat Marid berdiri didepan pintu gudang.
"Apa yang kau lagi disini?" tanya Marid.
Marid melihat ada Red duduk diatas lantai dengan baju putih dan rok pendek denim hitamnya.
Darah darah yang bercucuran tadi sudah menghilang saat Marid mulai menyalakan lampu.
__ADS_1
Leher dan baju Red tidak terdapat darah dari hantu tadi yang tersisa adalah luka yang hantu itu tinggalkan disetiap sisi kanan dan kiri di leher.
Red bangun dari lantai.
Tak menjawab pertanyaan dari Marid. Pergi melewati temannya itu.
"Tidak terjadi apa apa kan. Kenapa aku tiba tiba khawatir?" tanya Marid.
Marid pergi ke luar gudang dan mengecek CCTV yang terpasang didepan toko.
Red pergi keluar dari toko duduk dibangku panjang depan toko.
Memeriksa tangan dan lengannya bahwa apakah ia mengalami luka lain selain dari lehernya.
Marid ada di depan layar komputer sedang melihat siapa yang datang sebelum dan setelah ia pergi tadi.
"Aku harap tidak terjadi hal buruk pada Red"
Marid sedang mengontrol rasa kekhawatirannya.
Memeriksa selama sepuluh menit didepan layar.
Marid merasa lega bahwa tidak terjadi apa apa pada Red selama ia pergi mengirim pesanan pada pelanggan.
"Syukur"
Marid mematikan layar kembali.
Marid berjalan keluar dari tempat ia ada disana semula. Mencuci kedua tangan dan membuat pesanan untuk pelanggan yang memesan secara online.
Flow duduk tertidur di kursi di depan kamar ruang rawat ibunya Sammy.
Dia hampir terjatuh ke lantai.
Dan mencegah Flow jatuh ke lantai.
Flow terbangun dari tidurnya.
Terjadi saling tatap menatap seperti dalam drama tv.
Jimmy yang sedang mencoba memeriksa keadaan diluar kamar rawat Ge melihat bodyguard nya sedang ada bersama Flow.
"Masuklah kedalam bersama Sammy. Kau tidak boleh tidur diluar" Dan berkata pada Flow.
Dan membantu Flow membereskan dokumen pekerjaan kantor yang terjatuh ke lantai.
"Makasih" kata Flow.
Flow masuk kedalam ruang rawat ibunya Sammy. Dan duduk di tempat duduk Flow semula.
Jimmy masuk kembali ke ruang rawat Ge.
"Apa seperti itu jika menyukai seseorang?" tanya Jimmy masih belum paham.
Kafe ramai dengan para pengunjung datang.
Aroma pantai setiap musim seperti musim panas ada disana. Semua menikmati atmosfer ini.
Jun masih bekerja di kafe mengisi waktu luangnya bernyanyi disana. Sima juga ada disana, dia belum pulang.
Sekarang, sudah pukul sepuluh malam.
"Kau berteman dengan gadis itu?" tanya Rose.
"Iya. Kami berteman dengannya" jawab Jun.
"Dia mantan kekasih kakak mu kan?" tanya Rose.
"Kau sudah tahu itu. Kau sahabat terbaiknya " kata Jun.
"Dia lebih memilih gadis itu daripada aku" kata Rose.
"Maaf" kata Jun.
"Tenang saja. Kau masih boleh bekerja disini" kata Rose.
"Pasti waktu itu Kakak sangat sedih. Sekarang, Kakakku sedang menebus kesalahannya. Dia belum pulang sampai sekarang" kata Jun.
"Dia memang tipikal orang yang pekerja keras" kata Rose.
Sima kembali kedalam menemui Jun yang sedang mengobrol dengan Rose pemilik kafe tempat ia kerja sekarang.
Senyum cantik Sima ia tunjukkan kepada Jun.
"Orang tua mu pasti sedang menunggu mu pulang?" tanya Jun.
"Aku sudah menghubungi mereka bahwa aku akan pulang bersama kamu" kata Sima.
Leo datang menjemput Rose dengan motornya.
Pacar Rose masuk kedalam kafe yang sudah mau tutup.
"Oh. Jun. Kau ada disini?" tanya Leo.
"Good night, brother!" kata Jun membalas sapaan Leo.
"Dimana Red?" tanya Leo tanpa memperhatikan siapa yang ada bersama dengan Jun saat ini disebelah kanannya.
Suasana agak canggung.
"Kenalkan, ini Sima" kata Jun memperkenalkan Sima pada Leo.
"Mr. Leo, Ok" kata Leo.
"Sima" kata Sima.
Jun mengambil tasnya dan tas Sima.
"Sudah malam. Kita pulang dulu ya Kak" kata Jun berpamitan dengan Rose dan Leo.
Jun menggandeng Sima membawanya keluar dari dalam kafe.
Leo terus memperhatikan Jun dan Sima.
"Dia kan mantan pacar Kakaknya Jun itu kan?" tanya Leo.
"Iya. Lalu?" tanya Rose.
"Jangan marah. Aku sedang khawatir saja pada anak itu" kata Leo.
Leo juga termasuk teman kuliah Kakaknya Jun yang sekarang berada di luar negeri.
"Ayo kita siap siap untuk pulang" kata Leo pada Rose.
Jun baru saja gajian, jumlah uang di rekeningnya sudah bertambah. Jun juga memeriksanya saat istirahat kerja di kafe tadi.
"Apa kau punya uang?" tanya Jun pada Sima.
"Ada. Berapa yang kau butuhkan?" tanya Sima.
"Aku tidak punya uang untuk naik bus" kata Jun.
__ADS_1
"Oh. Biar aku saja yang bayar" kata Sima.
Jun dan Sima mendapatkan bus untuk pulang. Sima membayar uang ongkos untuk perjalanan pulang menggunakan bus.