
Chapter 63: Selamat Kau Menjadi Temanku.
Di lapangan sepak bola sekolah.
"Dia jatuh" kata Red.
Doe jatuh setelah Sima menembus raganya.
"Bagaimana dia bisa terjatuh?" tanya Red.
Red mengamati Sima.
"Raganya menyala dengan asap merah ketika melewati Doe" kata Red.
"Dia pasti sedang kesakitan" kata Red.
Berada di posisi Doe sekarang.
Doe masih belum bisa bangun setelah kejadian tadi. Dia terlihat kesakitan tubuhnya seakan memanas dari cahaya putih menjadi sedikit ke abu abuan.
"Ya ampun. Apa dia yang bernama Sima itu?" tanya Doe.
"Dia menakutkan sekali sama seperti Red" kata Doe.
"Tapi, dia juga sama kasihannya dengan gadis itu" kata Doe yang ia maksud adalah Red.
"Sedang apa disini, kau sedang free?" tanya Red.
Bukan hanya Doe yang mengalami kesakitan akibat raga Sima tadi melainkan juga Red mendapatkan dampak dengan adanya kejadian ini.
Red menahan rasa terbakar di seluruh tubuhnya. Api biru mulai terlihat di seluruh tubuh Red semakin menyala terang.
"Kau baik baik saja?" tanya Jun.
Dia datang menepuk pundak belakang Red yang sedang melihat kearah Sima dan Doe.
Red berbalik kearah Jun.
"Aku baik baik saja" kata Red.
Red akan terjatuh sesat setelah menjawab pertanyaan dari Jun.
"Ada apa dengan mu. Kau jelas tidak baik baik saja?" tanya Jun.
"Sungguh aku tidak apa apa" kata Red.
"Ayo kita pergi ke Unit Kesehatan Sekolah" kata Jun.
"Tidak. Aku di kelas saja" kata Red.
Jun memeriksa kening Red untuk memeriksa suhu tubuh teman satu kelasnya itu.
"Tapi, kamu demam" kata Jun.
"Aku akan mengambil obat di ruang unit kesehatan sekolah" kata Jun.
"Aku akan menunggu" kata Red.
Waktu kembali di saat Sima baru saja menabrak Doe dilapangan sekolah. Dia menghampiri Ben dan Marid bersama siswa yang lain yang sedang bermain sepak bola.
"Kalian lihat Jun?" tanya Sima pada Ben.
Ben berhenti sejenak saat bermain sepak bola untuk menjawab pertanyaan dari teman kelasnya itu.
Marid mengambil bola dari Ben.
"Pangeran tidak ada disini" kata Marid.
Dia melanjutkan bermain bola bersama yang lain.
Semua teman temannya tertawa mendengar jawaban dari Marid.
"Jangan didengarkan. Dia memang orangnya ngeselin" kata Ben.
"Tadi dia pergi ke kelas setelah itu aku tidak tahu lagi" kata Ben.
Dia melanjutkan bermain bola bersama yang lain.
Sima menuju ke kelas dengan berjalan lebih cepat.
Sima sudah mulai menaiki tangga menuju ke arah kelasnya sedangkan untuk Jun pergi ke ruang unit kesehatan sekolah lewat tangga disisi lain yang lebih cepat menuju ruang yang akan ia tuju.
Sima masih berjalan cepat untuk pergi ke kelas untuk mencari Jun. Sesampainya disana, dia tidak menemukan seseorang yang ia cari.
"Aku akan mencarinya di tempat lain" kata Sima pergi dari depan kelas menggunakan jalan yang sama sebelum ia datang ke kelas.
Sima akan turun dari tangga yang sebelumnya ia naiki sedangkan untuk Jun naik tangga lagi di jalan yang sama saat dia pergi ke ruang unit kesehatan sekolah tadi menuju ke kelas kembali.
Jun sampai di kelas dengan membawa air minum hangat, kudapan dan juga tentunya obat demam untuk Red.
"Red. Bangun, Ini aku" kata Jun.
Dia membangunkan temannya dengan menepuk lengannya.
"Oh. Kau sudah datang" kata Red.
"Ini kamu makan kudapan ini setelah itu kamu bisa meminum obat ini" kata Jun.
Jun mengambil satu kursi miliknya berpindah di sebelah Kanan Red.
"Aku malu kau memperhatikan ku saat makan" kata Red.
"Ok. Aku akan bermain ponsel, kau lanjutkan makan" kata Jun.
Red memakan kudapan yang Jun berikan dari Jun dengan sedikit demi sedikit.
Lalu meminum obat yang Jun berikan kepadanya.
"Kau tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Red.
"Aku ingin di kelas saja" kata Jun.
"Aku akan membaringkan kepalaku di meja" kata Red.
Red membaringkan kepalanya diatas meja menghadap ke arah jendela kelas. Jun masih bermain ponsel di sebelah kanan Red sedang duduk di kursinya.
__ADS_1
Jun melihat ke arah Red dalam beberapa detik kemudian melanjutkan melihat layar ponsel.
"Susah sekali menghubunginya" kata Jun.
Jun sedang menghubungi nomor ponsel kakaknya yang sudah lama tak ada kabar.
Siapa lagi yang datang dengan kehebohan yang ia miliki.
"Red. Aku bawa ini untuk mu!" kata Bee.
Suaranya mengisi seisi kelas lalu kemudian perlahan mengecilkan suaranya saat melihat orang yang ada di depannya tidak menunjukkan semangat seperti biasanya.
"Hadeuhh. Dia nangis" kata Jun.
"Jun. Dia kenapa?" tanya Bee.
Bee menyentuh pipi Red sebelah kiri.
"Badannya panas sekali" kata Bee.
"Dia sudah minum obat?" tanya Bee pada Jun.
"Aku sudah minum obat" kata Red speak up.
"Kau istirahat ya. Oh ya, Ini parfum yang ku pesan sudah datang untuk mu" kata Bee.
Bee memberikan satu parfum untuk Red dan membawa parfumnya yang satunya lagi memasukkan kedalam tas.
"Jun. Aku mau bermain disini" kata Bee.
"Silahkan" kata Jun.
Jun masih sibuk dengan ponselnya sedangkan Bee masih di kursi tempat duduknya seperti biasa.
Bee memberikan satu parfum yang ia kemas dalam satu tote bag kecil berwarna merah muda dengan pegangan tali berwarna putih.
Diruang kelas hanya ada mereka bertiga.
Di lapangan sepak bola sekolah Doe sudah tidak merasakan lagi rasa sakit akibat ditabrak oleh Sima secara tak sengaja beberapa menit yang lalu.
"Kemana gadis itu?" tanya Doe mengenai Sima.
Sima muncul kembali di sekitar koridor sekolah saat Doe mencarinya.
"Selamat kau akan menjadi temanku" kata Doe.
Dia mulai mengejar gadis itu.
Sima sedang menuju ke toilet wanita sekolah.
"Dimanapun aku mencari anak itu. Aku belum bisa menemukannya" kata Sima yang ia maksud ialah Jun.
Doe berpindah dengan cepat dibelakang gadis ini terus mengikuti dimana gadis ini pergi.
Sima sudah sampai di toilet wanita.
Doe lupa dia tidak bisa sembarangan masuk ke suatu tempat. Jadi, dia tetap berada didepan toilet wanita sekolah disaat Sima sudah masuk didalam sana.
"Aku lupa sebagian kekuatan ku sudah tersegel oleh Red" kata Doe.
Dia cepat mendapatkan sebuah ide yang ia segera kerjakan untuk Sima.
"Dia pasti bersenang senang didalam sana" kata Doe.
"Sima akan terkunci didalam toilet selama tiga puluh menit" kata Doe.
Itu yang di katakan oleh Doe kemudian dia mengeluarkan kekuatannya berupa asap hitam yang dikerahkan ke dalam toilet wanita di depannya itu.
"Bereskan" kata Doe.
Red sudah berangsur membaik namun ia masih membaringkan kepalanya diatas meja belum berubah letak ia lakukan hal itu.
Sima benar benar terkurung didalam toilet wanita dan tidak bisa keluar dari sana.
"Aku akan mencoba mendobrak pintu ini" kata Sima.
Tidak berhasil.
"Aku akan mencoba menghubungi salah satu teman kelasku" kata Sima.
Sinyal jaringan ponsel tiba tiba tak terdeteksi.
Sima mencoba untuk terus berteriak berharap agar seseorang dapat menolongnya dan itu tidak berhasil.
Tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam toilet tersebut padahal disana bolak balik siswi lain yang menggunakan fasilitas sekolah tersebut. Semua baik baik saja tak ada suara teriakan Sima atau gedor gedor pintu.
Itu semua adalah ulah dari Doe yang sengaja agar Sima ada didalam sana selama tiga puluh menit sesuai apa yang ia rencanakan.
Didalam kelas Red sedang menunggu sahabat hantunya itu.
"Kenapa dia belum datang. Dia pasti memiliki teman baru?" tanya Red.
"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Jun.
Ketika Red berbicara tentang Doe yang terdengar oleh Jun yang masih ada di samping kanannya itu duduk melihat layar ponsel.
"Tadi, aku bicara apa?" tanya Red.
"Sudahlah. Mungkin kau sedang tidak fokus" kata Jun.
Bel sekolah sebagai tanda masuk ke kelas setelah istirahat pertama sekolah barusan berbunyi. Siswa dan siswi lain mulai masuk kedalam kelas satu persatu diawali oleh Jimmy.
Jimmy merasa satu langkah tertinggal dari Jun. Ekspresinya teramat jelas tanpa kata yang terlihat oleh Jun dalam sekilas.
Jun langsung memindahkan kursi tempat duduknya di belakang kursi Red seperti semula dan dia juga duduk disana.
"Apa yang terjadi dengan mereka. Tapi, di dalam kelas ini juga ada Bee yang ada di tempat duduknya biasa" kata Jimmy.
Good datang kemudian Ben.
Good duduk ditempat duduknya dibelakang meja Bee.
"Kau dicari Sima sejak tadi, darimana saja kau?" tanya Ben.
"Aku di kelas dari tadi" jawab Jun.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ben.
"Aku di kelas saja bersama Red dan Bee" kata Jun.
"Ok" kata Ben.
Ben duduk di kursinya melihat ke arah Bee.
"Berarti Bee tidak bohong. Ketika aku bertanya, apakah dia melihat Jun dan dia menjawab bahwa Jun ada di kelas bersama mereka" kata Ben di dalam hati.
Proses belajar mengajar di kelas kembali berlangsung di mata pelajaran yang ketiga ini.
Red sambil memegang pulpen mencatat apa yang tertulis di papan tulis. Dia memikirkan kenapa sahabatnya itu belum datang juga ke dalam kelas apalagi ia melihat kearah meja Sima yang masih kosong belum terdapat pemiliknya ada duduk di kursi tersebut.
"Aku akan membuatnya cepat kembali" kata Red.
Dia membuka matanya mengaktifkan mata birunya lalu ia berkedip mengeluarkan kekuatannya sampai keseluruh sekolah lalu kembali menonaktifkan mata birunya itu.
Tiga puluh menit waktu yang sama saat Red mengeluarkan kekuatannya disaat itu pula berakhir sudah mantra yang Doe keluarkan untuk Sima yang ada didalam toilet.
Pintu toilet terbuka sendiri dengan mudah tanpa Sima dorong lagi.
Sima seketika itu berlari meninggalkan toilet wanita sekolah itu.
Untuk Doe, dia sudah berpindah tempat yang semula ada didepan toilet wanita sekolah langsung berada di kelas Red dan teman temannya mengikuti mata pelajaran tanpa kekuatan yang ia keluarkan.
"Aku tadi mengunci temanmu di toilet" kata Doe.
Red mengalihkan tatapan matanya kepada Doe dengan mata birunya itu yang menyala menahan kekuatannya mengarah ke Doe.
"Kau jangan marah marah terus. Aku tidak melakukan kejahatan lebih dari itu" kata Doe.
Red kembali melihat ke papan tulis kelas di depannya dan mencatat kembali tulisan yang ada disana kedalam buku tulis di meja.
Dalam perjalanan menuju kelas Sima berkaca di depan ruang laboratorium yang sedang digunakan para siswa.
"Aku harus merapikan pakaian ku sebelum masuk kelas" kata Sima.
Lima menit kemudian Sima masuk kedalam kelas.
Dia mengetuk pintu masuk kelas.
"Tok, tok!"
"Maaf Pak, saya baru saja dari ruang UKS" kata Sima.
"Duduklah di kursi mu" kata Guru Seni yang mengajar di jam ketiga ini.
"Baik Pak. Terimakasih" kata Sima.
Sima berjalan ke tempat duduknya dan akhirnya dia bernapas lega bisa keluar dari toilet dan bisa mengikuti pelajaran selanjutnya.
"Syukurlah" kata Sima.
Setelah itu tubuh Sima berubah warna lagi menjadi merah mengeluarkan asap menyala merah di tubuhnya.
Seseorang berbisik di dalam hati Red.
"Lihatlah obat itu bereaksi lagi" kata Bling.
Raga Red kembali dikendalikan oleh Bling.
"Ini menguntungkan untuk mu" kata Bling.
"Tapi, Apa harus ia di kunci didalam toilet" kata Red.
"Temanmu lumayan juga" kata Bling.
"Sudahlah. Aku akan fokus belajar" kata Red.
"Iya. Iya" kata Bling.
Kali ini Jun dipaksa berusaha untuk tidak takut dengan apa yang ia lihat pada diri Red. Dia dalam detik waktu yang telah berlalu melihat tanda silang biru menyala yang ada di punggung gadis yang duduk di meja di depannya itu.
"Lagi lagi aku melihat itu lagi" kata Jun.
"Imajinasi mu memang sungguh luar biasa" kata Jun.
Dia berusaha berpikir bahwa itu hanya imajinasinya sendiri yang muncul secara tiba tiba dan memutuskan tak menghiraukan lagi kejadian apa yang ia lihat.
Proses belajar mengajar berjalan seperti hari hari biasa dan saat ini Doe sudah menjadi jinak setelah dikendalikan oleh Red selama proses belajar mengajar berlangsung agar tidak bertindak usil lagi.
"Mengapa aku tadi tak mendengar kata kata Hera. Gawat, berapa lama aku terjebak disini?" tanya Doe dalam sikap jinak.
Doe duduk di jendela kelas disana menikmati mata pelajaran yang sedang diajarkan di kelas sambil sesekali melihat keluar jendela.
Malam di pukul enam lebih lima menit.
"Kita bertemu lagi. Mungkin kita berjodoh" kata Doe.
"Ku rasa aku bukan yang kamu impikan" kata Hera.
Mereka duduk di atas roof top sebuah rumah berlantai tiga yang membuka sebuah toko sembako di lantai paling bawah.
"Aku ingin mengganggu mu" kata Doe.
"Aku ingin mengganggu orang lain" kata Hera.
"Kau boleh jadi teman ku. Tapi, jangan meniru ku" kata Doe.
Doe melihat arah kemana jemari jemari hantu yang bernama Hera ini memainkan jemarinya.
"Biarkan mereka tertangkap saja" kata Doe.
"Diam. Kau mengganggu konsentrasi ku!" kata Hera membentak.
Doe tak bisa mengganggu lagi.
"Dia menakutkan sekali" kata Doe berbicara lirih.
"Aku mendengarnya" kata Hera.
Hera sedang mengerjai beberapa pencuri yang akan mencuri sebuah mobil di daerah dekat mereka berdua duduk disana dengan kursi milik pemilik rumah mereka berada di bagian depan pakaian pakaian yang baru saja di jemur.
Hera sedang membuat agar pintu mobil yang akan dicuri semuanya tak bisa dibuka oleh para pencuri pencuri itu. Dengan segala usaha mereka untuk membuka dan akan memecahkan kaca mobil semua itu sia sia mereka lakukan.
__ADS_1
Para pencuri bertopeng akhirnya menyerah dan kabur dari tempat itu.