
Chapter 127: Matahari Terbenam.
Suara detak jarum jam.
"Teg!"
"Teg!"
"Teg!"
Flow masih di bibir pantai.
Bob masih berenang menepi air pantai bertambah panas. Mendidih.
Suara detak jarum jam bergerak lagi.
"Teg!"
"Teg!"
"Teg!"
Makhluk misterius itu masih menguasai Flow gerakkan tangan masih mengikuti arah kabut tebal makhluk misterius itu berada memutar anggun di sekeliling raga. Bob melihat ini dari dalam air laut berenang menjauh dari pantai, dia menginjak pasir pantai berhasil pergi dari jerat kematian super ekstrem terlihat oleh Bob air mengejar dengan suhu makin panas mendidih mengikuti kemana arah pria ini pergi.
Bisa selamat saja dia sudah merasa beruntung permasalahan sekarang adalah bagaimana menghadapi kedua makhluk yang ada di hadapannya yang sedang menunggu dirinya itu anggapan yang ia tangkap namun ternyata tidak.
Mata menatap penuh tajam dengan otot wajah yang terlihat renggang memerah dan hitam di seluruh wajah.
Bob terjatuh melihat mereka berdua.
Di matanya sendiri kabut misterius itu mencoba masuk kedalam mulut Flow.
Masuk menekan Flow dengan kekuatan energi jahat telah masuk kedalam raga wanita ini.
Hening.
Flow menatap Bob.
Detik pertama.
Masih hening.
Detik kedua, masih hening juga.
Detik ketiga.
Situasi mulai berubah Flow menengadah wajahnya ke langit.
Menatap langit.
Terdiam.
Bob terbangun, mendekat ke arah Flow dengan berjalan mengendap endap tapi tetap dengan tujuannya adalah wanita itu.
"Aaagggggggghhhhhhhhh!"
Kabut misterius itu dimuntahkan lagi oleh Flow dengan sangat keras dia menolak kekuatan energi jahat itu masuk seenaknya sendiri ingin menguasai raganya.
Makhluk itu ada di langit diatas wanita ini.
Saling melihat wajah lawan.
Darah keluar dari mulut Flow, dia tidak peduli dengan itu sasaran utamanya kali ini adalah makhluk misterius itu.
Antara kabur atau tetap kembali kepada Flow Bob mulai ragu tapi disini bukan masalah keraguan lagi tapi mental dan keberanian yang dibutuhkan Bob untuk membawa wanita ini pulang dalam keadaan selamat.
Melihat situasi membuatnya membuat mengaplikasikan sebuah idenya sekarang juga berjalan lurus menuju Flow menarik tangannya dan kali ini dia merasakan jemari tangan kiri Flow sangat dingin ketika ia menariknya menjauh dari makhluk misterius yang ada di atas Flow.
Tangan Flow yang teramat dingin kaku Bob menariknya untuk pergi dari tempat ini.
Angin kencang datang.
Makhluk misterius itu datang dalam kabut hitam ke abu abuan meruncing ke bawah dengan kecepatan terbang ke Flow.
Flow sedang menunggu momen ini.
Bob hampir saja terjatuh terus dengan dua energi yang saling berlawanan.
Tangan kiri Flow ia tarik mengajaknya pergi tapi ia menolak ajakan dari Bob.
Makhluk misterius itu semakin dekat.
Bob menarik tangan kiri Flow dan membawanya pergi di situasi berbahaya ini.
Flow menatap Bob.
"Bugggggggg!"
Bob terlempar oleh Flow sejauh tiga puluh meter jatuh diatas pasir.
Mulut Bob mengeluarkan darah dan tetap fokus dari wanita ini adalah makhluk misterius itu.
Keduanya saling datang menyerang dihadapan Bob.
Situasi sangat menakutkan cahaya merah putih dan hitam hadir disana bergantian datang dalam pertarungan ini.
Bob menutup wajahnya dengan lengan kemudian menutup mata.
Membuka mata lagi.
Langit telah berubah dalam waktu singkat.
Udara telah berubah jauh lebih segar dengan harum seperti musim panas di pantai. Bob sedang menebak dimana dia sekarang. Dia masih berbaring sendirian tubuh terasa tak bertenaga seperti selayaknya orang sakit pada umumnya ingin berbuat lebih menggunakan tenaga yang ia miliki tapi geraknya sedikit terbatas.
Telapak tangan sudah mendapat perban dengan jarum infus dan selang infus terpasang di tangan sebelah kanan. Selimut biru gelap ada diatas Bob menyelimuti dirinya yang sedang berbaring diatas sofa panjang ruang kerjanya sendiri yang berwarna hitam agak kecoklatan.
Dia sudah memakai sweater putih dan celana kasual.
Melihat ke sisi lain ruang kerja masih dengan pengaruh obat penenang dari dokter tadi agak pusing tapi dia tahu bahwa orang yang ada di sofa putih disisi lain ruangan ini adalah Jun yang sedang tidur sambil memeluk tasnya sendiri.
Bob mencari ponselnya sendiri yang berwarna hijau muda.
Dia menemukan ponselnya yang ada diatas meja didepan sofa yang ia gunakan untuk berbaring.
Mengaktifkan layar ponsel.
Ponsel menyala.
Waktu sudah pukul jam lima sore.
Bob juga membuka pesan pesan lain juga pesan surel yang belum ia baca.
Tiga menit kemudian ia menaruh ponselnya kembali di atas meja lalu mengambil yogurt rasa stroberi yang tersedia beberapa cup di atas meja.
Mata masih tertutup.
"Kau sudah sadar?" tanya Jun.
"Kau hanya pura pura tidur" kata Bob.
"Ya" kata Jun.
__ADS_1
"Kenapa aku dengan alat medis ini?" tanya Bob.
"Kau pingsan karena terlalu lelah bekerja" kata Jun.
"Lalu luka ini?" tanya Bob.
"Terkena teh panas" kata Jun.
"Sejak kapan aku pingsan?" tanya Bob.
"Sejak pagi. Sudahkan tidak ada pertanyaan lagi?" tanya Jun bergegas ingin pergi dari ruangan ini.
"Hey. Kau mau kemana?" tanya Bob.
"Apa aku harus cerita semua tentangku?" tanya Jun balik.
Jun membuka mata berjalan dalam keadaan sadar keluar melewati ruang kerja Bob.
"Kenapa aku punya keponakan seperti itu?" tanya Bob pada diri sendiri.
Pria ini sedang mengingat apa saja yang baru saja ia alami sebelum mendapatkan selang infus di tangan kanannya itu.
Dia mengingat kejadian tadi dan yakin bukanlah sebagian dari bunga mimpi tapi nyata dan ia telah mengalaminya sendiri.
"Terlalu nyata untuk sebuah mimpi" kata Bob.
"Tapi, jika aku bercerita tentang mimpiku ini. Orang orang akan menertawakanku" kata Bob.
"Jika ini mimpi, aku senang bisa bertemu dengan Flow" kata Bob.
Kedua pipinya memerah senyum senyum sendiri setelah bertemu dengan orang yang ia sayang meski hanya dalam mimpi.
Di dalam lift kantor.
Jun sedang menyembunyikan wajah sedih dan kecemasannya tentang mereka yang belum kembali datang ke dimensi manusia.
Tiang besi dengan selang infus masih menggantung Bob membawanya ikut bersama menuju gambar di balik cermin setinggi dua meter yang menempel di dinding ruang kerja.
Cermin ia tarik kemudian ia buka ke arah kiri terlihat gambar Flow yang belum berubah tetap di balik cermin.
Memeriksa lagi gambar tersebut.
Jemari tangan menyentuh gambar tak ada apapun yang ada hanya sebuah gambar yang terpasang di sana tak ada yang lain.
Bob menarik tanganya lagi dari gambar Flow.
Menatap lagi.
Mengamati.
"Sudahlah mungkin tadi aku memang sedang tidur" kata Bob.
Gambar itu ditutup lagi oleh tangan kiri Bob dengan cermin di bagian depan gambar.
Di pinggir kota dekat sungai yang mengalir cukup deras juga jernih Jun ada disana di pagar sungai berbentuk tembok.
Sedang makan es krim rasa mangga tidak sendirian dua menit kemudian datang Jamie duduk disana bersebelahan bersama orang orang yang melihat pemandangan sungai di sore hari ini.
Jamie dengan ice bubblegum dalam satu cup berukuran besar.
"Aku tidak mengundangmu" kata Jun.
"Kau sering kemari?" tanya Jun.
"Disini dekat dengan rumahku" kata Jamie.
"Oh begitu" kata Jun.
"Justru aku yang seharusnya bertanya kenapa kamu kemari?" tanya Jamie.
"Aku ingin menemuimu" kata Jun.
"Oh jadi benar kau yang mengirim pesan itu" kata Jamie.
"Kenapa nomor ku selalu di hapus?" tanya Jun.
"Suka suka aku" kata Jamie.
Sudah Jun menyerah jika sudah seperti ini tak ada yang perlu didebatkan lagi dengan gadis ini.
Jamie asik dengan ice bubblegum miliknya. Jun sambil makan es krim sambil juga memikirkan banyak hal.
"Huuufffftttt!"
Jun menghela nafas.
Jamie tak merespon.
"Bagaimana dengan Hera. Apakah dia bisa kembali?" tanya Jun.
"Tidak" kata Jamie.
"Tanpa basa basi sekali" kata Jun.
"Iya" kata Jamie.
"Semua hantu anak buah Presdir Ma ada dibawah kendali mu kan?" tanya Jun.
"Ya" kata Jamie.
"Bantu aku untuk mencari beberapa orang" kata Jun.
"Aku sibuk" kata Jamie.
Es krim rasa mangga sudah habis separuh bagian. Jun melanjutkan memakan sebagian lagi es krimnya.
Jamie melihat minuman di dalam cup yang ada di tangan hampir habis. Sesekali dia memperhatikan gerak gerik Jun yang ada di sebelah kirinya.
"Lain kali belikan es krim yang sama seperti yang kamu makan" kata Jamie.
"Beli sendiri. Ini ada di toko belakang kita" kata Jun.
"Aku kan hanya ingin es krim bukan perusahaan" kata Jamie.
"Iya. Aku belikan sekarang juga" kata Jun.
Jun pergi ke toko dibelakang dia dan Jamie duduk di dekat sungai.
Jamie menunggu Jun membeli es krim.
Dia memperhatikan Jun sejak awal dia datang disana sampai saat ini masih ia lakukan.
Menunggu lima menit untuk Jun keluar dari toko yang menjual es krim.
Jamie menatap Jun.
Jun datang memberikan satu kantung berukuran sedang berisi es krim mangga.
__ADS_1
"Cuma segini?" tanya Jamie.
"Tinggal ini. Jika tidak mau, aku akan berikan kepada orang lain" kata Jun.
Jamie menerima semua es krim pemberian dari Jun.
Jamie mengambil satu es krim mangga dari dalam kantong plastik hitam dan akan membuka bungkusnya.
"Mau sekalian aku bukakan bungkusnya" kata Jun.
"Aku bisa sendiri" kata Jamie.
Jamie memakan es krim dari Jun.
Jun memperhatikan gadis ini makan es krim.
Jamie menikmati sore yang damai di pinggiran kota sambil menunggu matahari tenggelam bersama temannya ini.
Dari dalam dirinya sedang meningkatkan energi positif dengan tanpa diketahui oleh orang yang ada di sebelahnya.
Dalam isi kepalanya bertanya, dan dia berkata "Apa kita dalam satu kapal yang sama. I don't know.
Jamie sedang meningkatkan energi pengusir hantu dari dalam raga. Jari jari atas sering kali ia tahan agar tidak menyerang hantu yang ada didalam raga Jun. Dia tentu tahu itu adalah salah satu anak buahnya juga, Doe.
Tapi, itu dulu tidak tahu dengan sekarang apakah dia masih bisa dikendalikan apalagi jika melihat siapa raga yang sedang ia masuki kapanpun sifat aslinya akan condong ke arah yang tidak menguntungkan.
Energi dalam raganya ingin segera menghancurkan Doe karena dia tahu bahwa Jun memiliki energi negatif dari mantra yang dikirimkan oleh "Orang itu" yang juga dihancurkan oleh Jun sendiri waktu itu bersama dengan Radan yang memiliki misi menghancurkan raga "Orang itu".
"Tidak ada yang ingin kau katakan lagi?" tanya Jun.
"Aku ingin melihat matahari tenggelam" kata Jamie.
Jun melihat kedua jemari tangannya sendiri agak menunduk lalu mengambil ponsel mengambil earphone lalu ia pakai di telinganya sendiri.
Mendengarkan musik rock.
Bahagia dalam dunianya sendiri.
Jamie berhasil menekan energi pengusir hantu yang terus ingin mengincar Doe.
Gadis ini kembali menghadap ke arah barat arah matahari tenggelam.
Mendengarkan musik, Jun.
"Kenapa kau tidak melukai gadis ini?" tanya Doe.
"Dia adalah atasanmu" kata Jun.
"Aku benci dia!" kata Doe.
"Sadarlah. Kau sedang dikendalikan mantra "Orang itu"" kata Jun.
Energi negatif dari mantra itu terus menekan energi jahat yang ada di raga Jun untuk melukai siapapun yang berinteraksi dengan Jun.
Kristal kristal putih tajam sangat halus yang ada di udara selalu siap untuk melukai Jamie kapanpun Jun ingin.
"Aku takut kita tidak bisa mengendalikan ini" kata Doe.
"Itu juga yang selama ini aku takutkan" kata Jun.
"Aku ingat dia memang pengendali ku" kata Doe.
Matahari mulai tenggelam langit perlahan menjadi gelap.
Jun melihat Jamie sedang menutup mata dengan kedua jemari tangan menyatu ia taruh di depan dada terlihat seperti sedang menyimpan harapan.
Lampu jalan mulai menyala menyinari keduanya sangat artistik bagian gambar sore di awal malam ini. Jun berkedip dan melihat wajah Jamie.
"Sedang apa cepat buka matamu!" kata Jun.
"Jangan ganggu aku!" kata Jamie.
"Kau sedang mengucapkan mantra apa?" tanya Jun.
Jamie membuka mata lalu melihat Jun sambil tersenyum ceria.
"Hari ini aku ulang tahun" kata Jamie.
Jun biasa saja tak ada ungkapan tindakan terkejut.
Diam diantara ramainya orang orang disana yang menikmati waktu ini.
Mata Jamie berkedip lucu pada Jun.
"Hah?!" kata Jun.
"Oh kamu ulang tahun" kata Jun.
"Ucapkan selamat ulang tahun padaku" kata Jamie.
"Aku tidak membawa hadiah ulang tahun?" tanya Jun.
Wajahnya menegaskan permintaan maaf.
"Ini!" kata Jamie.
Dia menunjukan es krim yang diberikan oleh Jun.
Jun berpikir sesuatu dan akhirnya dia mau berbicara lagi..
"Tak apa jika itu hanya es krim?" tanya Jun.
"Semua yang ada di dunia ini berarti dan bernilai" kata Jamie.
Jamie membuka satu bungkus es krim lagi.
"Aku tidak melihat gadis cantik disini selain kamu" kata Jun.
Jun agak malu sebenarnya mengatakan kalimat itu kepada Jamie.
"Benar. Aku memang cantik" kata Jamie.
Remaja laki laki disebelah Jamie geleng geleng kepala dengan gadis di sebelah kanannya yang makan es krim lagi.
Benda tajam menusuk raga Jun dari arah belakang.
Es krim yang sedang ia pegang jatuh ke dalam sungai.
Wajah ceria itu kini terkena darah milik Jun.
Lima senjata tajam itu berhasil menusuk bagian dada Jun.
"Tidak!!!!!!"
Jamie berteriak keras.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Semua orang disana pergi meninggalkan Jun karena takut.
Senjata tajam itu mencabut sendiri dari raga remaja ini. Dia jatuh di hadapan Jamie, gadis ini segera menangkap Jun.
__ADS_1
Kaos putih dan celana hitam panjang ikut berlumuran darah sama seperti seragam sekolah putih abu abu penuh darah yang dipakai oleh Jun.