
Chapter 26: Kenapa dan kenapa?.
Hari senin di kantor.
Flow dia dengan celana chinos motif garis vertikal warna coklat dan putih serta blouse putih dengan kerah crew dan blazer biru gelap juga sepatu sport hitam bertali hitam kerlap-kerlip dan tas hitamnya seperti hari biasanya bekerja.
Flow dapat teguran dari atasannya karena terlambat datang ke kantor. Flow menyadari kesalahannya.
Dia kembali bekerja. Flow bergabung dengan tim pemasaran di perusahaan tersebut sebagai karyawan baru.
Flow berusaha menyapa dan ramah kepada teman kantor. Hasilnya, mereka tetap cuek dengan Flow sebagai karyawan baru.
"Mungkin aku masih karyawan baru jadi belum ada yang mau menerima ku"
Flow masih berpikir positif.
Flow mengerjakan pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya dan seperti itulah tak ada keakraban yang ia terima dari teman-teman kantornya.
Jam istirahat kantor pukul dua belas siang.
Flow dengan tote bag hitam berisi bekal makan siang dan air minum yang ia bawa dari rumah turun kebawah dengan menggunakan lift pergi ke suatu tempat untuk makan siang.
Flow lebih memilih makan siang dengan bekal yang ia bawa dan memakannya di taman kantor yang terbuka untuk umum.
Flow sedang makan.
"Kamu dimana?" tanya Bob pada Flow.
"Aku di taman dekat kantorku" kata Flow.
"Ok. Aku on the way" Bob langsung menutup pembicaraan dengan Flow lewat ponsel.
Tanpa rencana.
Dan baru saja keluar dari sebuah toko membawa buku buku. Dan lewat disana dengan buku yang baru saja ia beli di toko buku di sebelah kantor Flow.
"Kayaknya kenal, aku beli minum dulu baru temui dia" Dan pergi membeli minuman dan kudapan.
Lima menit kemudian.
"Tadi, aku lihat kamu disini dari toko buku di sana. Jadi, sekalian aku beli minuman ini untuk kamu" kata Dan.
Flow menerimanya, dan berkata "Makasih. Kamu boleh ikut gabung disini".
Belum sempat Dan mengatakan iya, Bob datang.
"Suasananya kok jadi horor begini. Terserah, aku mau habiskan makananku" kata Flow dalam hati.
Flow ada di kursi panjang taman duduk di sebelah kiri Dan kemudian Bob yang berada di sebelah kanan Dan.
Bob sedang menikmati kudapan yang ia bawa tadi.
Ketenangan makan siang.
Dan sedang menikmati baca buku yang baru saja ia beli dan lemon tea di tangannya.
"Apa sebaiknya aku pergi saja. Kayaknya, aku ganggu. Tapi, mereka juga berteman" Dan berpikir.
"Tidak. Tidak. Tidak perlu" kata Dan yang sedang membaca buku sambil makan kudapan yang ia beli bersama dengan dua cup lemon tea tadi.
Flow berinisiatif untuk mengajak bicara dengan kedua temannya.
"Ada yang ingin kalian katakan. Sebentar lagi aku harus pergi untuk bekerja lagi" kata Flow.
Mereka berdua sudah menghabiskan kudapan mereka dan langsung mau pergi dari sana.
"Aku sengaja membelikannya untuk mu" kata Dan memberikan kudapan dan cemilan yang ada di dalam tote bag yang lumayan banyak.
Sama halnya dengan Bob.
"Itu juga semua untukmu. Asistenku memanggilku sekarang juga, kita ketemu lagi nanti" kata Bob berjalan cepat ke mobilnya.
Alasan ini memang benar asistennya baru saja menelpon.
Dan sudah pergi dengan motornya dan Bob pergi ke lokasi syuting.
Di depan kantor Flow.
Flow melihat dua tote bag berisi kudapan dan camilan di dua tangannya dengan ukuran tas sama lumayan besar penuh makanan dari kedua temannya itu.
"Satu bekal ku sudah habis aku makan. Aku dapat dua bonus makanan lagi" kata Flow.
Flow masuk kedalam kantor melewati pengecekan kartu tanda pengenal karyawan kantor berjalan kemudian menunggu lift terbuka.
Satu menit kemudian, lift terbuka.
Flow masuk ke dalam lift menekan tombol lift di nomor tujuh.
Menunggu beberapa saat kemudian lift terbuka Flow langsung masuk ke ruang kantor. Semua yang sudah ada disana memperhatikan Flow meski itu tidak terlalu begitu jelas tapi itu kenyataannya.
Flow duduk di meja kerjanya tanpa mempedulikan teman teman kantornya memperhatikan Flow.
Dua tas berisi makanan tadi Flow taruh dibawah meja disebelah kanan ia duduk sekarang.
"Makanan ini terlalu banyak untukku. Tapi, apa mereka mau jika aku berbagi semua ini kepada mereka?"
"Aku takut mereka menerima dan kemudian tidak memakannya. Sayang kan, kalau tidak makan" kata Flow.
Flow tidak jadi memberikan makanan yang ia bawa sekarang kepada teman teman kantornya.
Malam senin.
"Tak ada kata menginap!"
Suara keras itu terdengar dari ponsel Ran yang sedang menghubungi Bosnya.
Pembicaraan dengan bosnya ditutup.
"Bagaimana?" tanya Kak Sew.
"Katanya, kalau menginap itu pemborosan" kata Ran.
"Dia memang benar. Biaya menginap di tempat ini sangat mahal" Red menurut saja dan langsung membuka pintu mobil belakang.
Red sudah ada di dalam mobil sibuk dengan tas bawaannya.
"Ini baru jam setengah sembilan. Baik, ayo kita pulang" kata Ran.
Ran akan masuk kedalam mobil.
"Kemana dia pergi?" tanya Ran yang kehilangan anggota timnya yang lain.
Red mencharger ponselnya yang kehabisan daya baterai di dalam mobil.
"Red?" Ran memanggil sahabatnya.
"Ada apa. Oh ya, aku pinjam buku ini?" tanya Red.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa. Ambil saja" kata Ran.
"Ini. Kalian pasti lapar, aku belikan makanan hangat untuk kalian" kata Kak Sew memberikan bubur yang terbuat dari biji-bijian hijau dan merah tanpa santan.
Ran menerimanya.
Tatapan bayi ditujukan.
"Kau darimana saja?" tanya Ran.
"Sudah makan itu dan kita langsung pulang. Ok!" Kak Sew berbicara tegas nada suaranya.
Membuka pintu mobil sebelah kiri bagian belakang, Sew kemudian masuk kedalam mobil memberikan makanan kepada Red.
"Jangan tidur dulu, kau harus makan" kata Kak Sew.
"Aku tidak jadi tidur" Red menerima makanan dari Sew.
Banyak pesan masuk kedalam ponsel Red.
"Jangan terlalu dekat dengan ku" kata Red pada Sew.
"Kenapa?" tanya Sew.
"Aku bau keringat" kata Red berterus terang.
Sew malah mendekat.
"Wahhh. Benar" Sew membuat candaan.
"Pakai saja parfumku" kata Ran menawarkan.
"Aku juga bau keringat. Tidak dengan Ran selalu wangi baunya masih tercium sampai kemari" kata Sew.
"Parfum itu, Red yang memilihkan untukku" Ran berkata ini.
"Kapan kita makan?" tanya Red.
Terdiam ketiganya beberapa detik.
"Kita harus berpura-pura tidak ada apa apa. Ada segerombolan orang sedang mengawasi kita" Ran menaruh makanan di atas jok mobil sebelah kirinya.
Mobil ia nyalakan setelah sebelumnya Ran telah memeriksa kondisi mesin dan ban mobilnya baik baik saja.
Segerombolan orang orang itu datang setelah Sew masuk kedalam mobil. Ran mulai mengawasi pergerakan mereka yang mencurigakan dan sepertinya bukan orang orang penduduk asli daerah itu.
Ran menggunakan kecepatan tinggi dengan hati-hati menjauh dari mereka yang mulai menyadari bahwa orang orang yang mereka incar sudah sadar sudah menjadi target mereka.
Berawal dari kecintaannya dengan dunia mobil dan Ran memang suka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi meski Red tahu remaja ini pernah mengalami kecelakaan tapi tidak membuat Ran kapok.
"Apa kalian pernah mengalami ini sebelumnya?" tanya Red.
"Belum. Ini yang pertama kali" jawab Sew.
"Kita harus memegang tali pengaman ini dan pegang pegangan di langit mobil dengan erat" kata Red.
"Jangan takut. Ran biasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi" kata Sew.
Red diam saja menjaga dirinya, dia tidak panik tapi dia berdoa agar kecelakaan tempo dulu tidak terulang lagi. Saat Ran mengalami kecelakaan, Red bersama Ran.
Jalanan yang sepi sepanjang dua kilometer memudahkan Ran untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menghindar dari penjahat yang sudah tertinggal jauh dari Ran dan teman-temannya.
Masuk ke jalan menuju perkotaan.
Ketiganya bisa bernapas lega disini mulai banyak kendaraan yang melintas dan fasilitas fasilitas yang digunakan untuk masyarakat umum terlihat. Baik itu penginapan kecil, tempat ibadah, pedagang kaki lima dan minimarket serta yang lainnya.
Tiga ratus meter kemudian mulai terlihat juga rumah-rumah penduduk yang ada disekitar pinggir jalan.
Makan malam berlanjut sedangkan Ran masih menyetir.
"Apa tidak canggung kau menyuapi ku?" tanya Ran.
"Apa aku perlu menyuapi mu?" tanya Red balik pada Ran.
Sew melihat ini.
"Jika ingin makan. Red akan berpindah ke jok depan, kau juga harus makan" kata Sew tiba tiba galak.
"Tidak. Tidak, aku makan nanti saja" kata Ran yang masih fokus mengemudi.
Pukul sebelas malam.
Pintu rumah diketuk.
Angin malam datang dan nyamuk ada di luar rumah.
Sammy melihat ponsel yang menyala. Dia masih belajar.
"Kau sudah didepan rumah" kata Sammy.
Sammy membalas pesan Red.
"Kami berdua sedang di rumah sakit. Syukurlah, aku bisa menerima kabar mu" kata Sammy.
Red membuka pintu rumah dengan kunci duplikat yang diberikan oleh Flow tempo hari.
Ran dan Sew pergi setelah Red masuk kerumah.
Red akan berganti pakaian dengan piyama bermotif warna warni berbentuk hati.
Mengambil sikat gigi dan menaruh pasta gigi di atas bulu sikat giginya. Menatap cermin wastafel. Sekarang, dia sedang menyikat giginya.
"Aku belum selesai mengerjakan tugas sekolah" kata Red.
Red langsung cepat menyelesaikan menyikat giginya dan pergi untuk mengerjakan tugas sekolah.
"Untung saja tadi saat perjalanan pulang sudah mengerjakan sebagian dari tugasku" Red mengambil ponselnya dan buku untuk menyalin hasil jawabannya dari ponsel.
Serbuan para siswa yang masuk kedalam gerbang sekolah berlari agar tidak terlambat.
Tiga menit lagi bel masuk berbunyi.
Red datang menahan kantuk.
Bling muncul disebelah Red.
"Aku mencarimu sejak kemarin" kata Bling.
"Terimakasih sudah memperhatikanku" jawab Red.
Bling menghentikan langkahnya.
Dia mendengar seseorang yang ia kenal.
Red berbalik ke arah Bling sedang terdiam di belakangnya.
"Kita tidak perlu terlalu baik kepada orang lain"
__ADS_1
Respon Bling saat melihat gadis yang ia lihat bersama dengan Jun.
Jun berhenti saat melihat Red.
Red membalas sapaan Jun. Agak terasa kaget.
"Katanya kau akan antarkan aku ke ruang guru?" tanya Gadis disebelah Jun menarik pergi remaja laki laki teman Red itu.
Wajah Bling penuh kebencian. Sedangkan, untuk Red datar datar saja.
Red berjalan kembali lebih cepat menuju ke kelas.
Bling mengikuti Red.
Bling dengan gaun merah dengan panjang diatas lutut dengan lengan balon dan kerah leher high neck. Tak lupa sepatu coklat boot serta kaos kaki hitam. Warna rambutnya hitam kecoklatan.
"Kau mengenal gadis itu?" tanya Red.
"Kau cemburu?" tanya Bling.
Red masuk kedalam kelas.
Semua siswa hampir semua masuk kedalam kelas.
Sammy datang kemudian Jimmy.
Jun datang tak beberapa lama.
Red mendapatkan panggilan telepon masuk dari Ran sibuk sendiri dengan laporan pekerjaan mereka berdua.
Jun melirik kearah Red.
Red sedang sibuk sendiri.
Jun duduk di kursi di belakang Red seperti biasa.
Wali kelas mereka datang bersama seorang siswi baru.
Red menutup obrolan dengan Ran.
Siswi di depan kelas itu sedang memperkenalkan diri.
"Kau kemana saja kemarin?" tanya Jun pada Red.
Red membalas pesan dari Jun.
"Kerja. Kenapa?" tanya Red.
"Tidak. Aku hanya bertanya tentang itu" kata Jun mengirim pesan lagi kepada Red.
Mengetik.
Ponsel ia taruh dalam saku sweater.
Gadis itu sudah ada duduk di kursi di meja disebelah kanan Red saat ia tidak membalas pesan dari Jun lagi.
Sammy akan mengirim pesan kepada Red, namun dibatalkan.
Hatinya sedikit terusik.
"Apa dia akan menjadi siswi tercantik di sekolah ini?" tanya Bee melihat gadis baru itu.
Jam pelajaran pertama dimulai mempelajari seni lukis dengan media cat air untuk melukis.
"Aku pinjam milik mu" kata gadis itu pada Jun.
"Ambil saja Sima" kata Jun.
Jimmy membiarkan alat melukisnya tak bergerak dia duduk di kursinya dan hanya melihat Red sedang melukis.
"Kau tak melukis?" tanya Red.
"Tidak. Aku sedang bosan" kata Jimmy.
Jun sedang melukis.
"Jun tak masalah, jika Jimmy mengajak bicara Red. Jika memang dia tidak membuat masalah" Bling mengomentari Red dan Jimmy.
Red masih melanjutkan melukis.
"Ambil alat lukis mu dan kerjakan tugasmu di mejaku" Red mengajak Jimmy untuk tetap mengerjakan tugasnya.
"Ok" jawab Jimmy.
Jimmy memindahkan alat lukisnya diatas meja Red.
Proses belajar mengajar masih berjalan lancar.
"Jun, ajari aku tehnik ini?" Sima meminta tolong Jun setelah hasil lukis Jun sangat bagus.
"Baik. Aku akan mengajarimu" kata Jun pada Sima.
Jun berpindah ke meja Sima sekarang.
Red sedang mulai membuka cat air berwarna merah di tangannya menaruhnya ke dalam pallet.
Red sedang mengaduk cat air tersebut dengan kuas lukis di palet.
Angin datang sedikit kencang dari jendela yang terbuka.
Palet yang berisi cat air milik Red terbawa angin mengenai baju Jimmy.
Terjadilah hal itu.
Baju Jimmy kotor terkena cat air.
Jun belum merespon.
"Sorry Jimmy" kata yang keluar dari lisan Red.
"Biar aku bersihkan bajumu" kata Red.
Red akan mengelap baju Jimmy dengan tisu dari tasnya.
"Biarkan saja dia membersihkan sendiri!" Jun mencegah tangan Red untuk membersihkan baju Jimmy.
Teman teman sekelas mereka memperhatikan mereka.
Guru di mata pelajaran ini sudah datang tanpa diketahui oleh Jun dan Jimmy serta Red.
"Apa kalian mau berkelahi?" tanya guru seni yang datang dua menit yang lalu ke kelas.
Kejadian ini berlangsung sudah dua menit.
Jun melepas tangan Red dan kembali di kursinya sendiri.
Sammy memberi kode kepada Red.
"Pakai ini. Aku hanya bisa membantumu dengan ini" Red memberikan satu bungkus kecil tisu basah miliknya.
__ADS_1
Jimmy menerima tisu dari Red dan meminta izin kepada guru seninya untuk membersihkan bajunya di toilet.
"Remaja itu tak terlihat jahat. Tapi, bisa dibilang berbahaya" Bling duduk di kursi kosong yang ditinggalkan oleh Jimmy.