
Chapter 91: The Island.
Jun baru saja selesai bekerja dan siapa yang datang di tempat ia bekerja.
"Rasanya aku ingin kabur dari tempat ini" kata Jun.
Bob datang dengan tanpa asisten pribadinya.
"Mau apa lagi?" tanya Jun.
"Aku mau bertemu keponakanku" kata Bob.
"Apa yang kamu pakai terlihat mencolok sekali?" tanya Jun.
"Anggap saja kau tidak melihatnya" kata Bob.
Jun sedang merapikan peralatan menyanyinya.
Bob melanjutkan jumpa fans dengan para pengunjung di kafe Kak Rose.
Sekarang Jun yang giliran menunggu Pamannya di depan kafe.
"Sepertinya akan lama" kata Jun'
Dia menjadi penurut.
"Benarkan ini sudah lima menit" kata Jun.
Jun berteriak.
Namun, tidak jadi.
Bob datang.
"Kamu memang orangnya sabar" kata Bob.
"Kiseeeeeeeeeee!" kata Jun hatinya meredam emosi.
"Disini banyak penggemar ku. Kau boleh marah" kata Bob.
Jun melihat mata pamannya dengan tatapan tajam karismatik.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Jun.
"Ikut aku!" kata Kise memerintah.
Jun memakai motornya sendiri sedang untuk Bob menggunakan mobilnya pergi ke suatu tempat.
"Aku beli es krim dulu" kata Jun.
Jun pergi ke toko es krim yang berdekatan dengan toko perlengkapan bayi.
"Saya mau cari pakaian bayi untuk usia dua bulan" kata Bob.
"Perempuan atau laki laki?" tanya karyawan toko.
"Perempuan" jawab Bob.
"Kami punya beberapa pilihan. Tuan bisa memilih model yang anda suka" kata karyawan toko.
Bob sedang memilih pakaian bayi untuk perempuan sendiri tapi tidak juga disana ada pasangan suami dan istri yang sedang memilih pakaian bayi dan perlengkapan lainnya sambil membawa anak mereka.
Ibu dengan anaknya yang berlari kesana kemari juga terlihat.
Jun datang dengan dua es krim satu rasa daging panggang dan satunya lagi rasa peppermint.
"Itu untukku?" tanya Bob.
"Untukku" kata Jun.
"Pelit sekali" kata Bob.
"Kau mau. Beli sendiri" kata Jun.
Bob membeli beberapa setelan pakaian bayi perempuan dan peralatan keperluan yang bayi butuhkan untuk usia dua bulan dari dalam toko.
Masih ada banyak orang disana yang juga ikut minta foto bersama dengan Bob.
Jun lagi makan es krim duduk di kursi pengunjung toko.
"Dia tidak perlu bantuan ku. Dia harus belajar persiapan untuk menjadi seorang ayah" kata Jun.
Bob sudah bergerak menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran dari barang barang yang akan ia beli di keranjang di tangan.
"Kenapa kau tidak bersama asisten mu?" tanya Jun.
"Dia sedang dirumah" kata Bob.
"Kau sudah punya anak" kata Jun.
Semua mendengar pertanyaan yang Jun ajukan kepada Bob.
Paman Jun sedikit emosi dengan pertanyaan dari keponakannya.
"Hati hati kalau bicara ini untuk anak asisten pribadi ku" kata Bob.
"Aku pikir untuk anakmu" kata Jun.
"Aku belum menikah" kata Bob.
"Aku tahu juga kamu tidak memiliki pacar lagi" kata Jun.
Jun sedang menghabiskan es krim rasa peppermint. Untuk Bob dia sedang membayar barang belanjaan yang lumayan cukup banyak.
"Sudah pantas dia menjadi seorang ayah" kata Jun.
"Aku baru ingat. Aku juga punya seorang kakak" kata Jun.
Di kantor tempat sekarang kakaknya kerja.
Dia sedang sangat sibuk dengan tugas kantornya bahkan untuk makan malam dia tidak sempat. Dia memakan makanan cepat saji yang ia pesan secara online dan datang sendiri diantar oleh pengantar paket makanan. Seperti itu hampir setiap hari.
"Aku harap ada seseorang yang bisa menerima ku dengan jalan hidupku yang seperti ini" kata Jun.
"Kau tidak akan menangis kan?" tanya Doe.
"Astaga. Aku tidak percaya dengan kata kata mu" kata Doe.
"Ya. Seperti terdengar seperti penipu" kata Jun.
"Lagian. Berapa umur mu sudah bicara hal komitmen" kata Doe.
"Karena aku seorang pria" kata Jun.
Bob sudah dengan barang barang belanjaan ditangan.
"Ikut aku lagi" kata Bob.
"Kemana?" tanya Jun.
"Mengawasi lokasi syuting" kata Bob.
"Aku malas. Aku mau pulang saja" kata Jun.
"Setelah lulus kau mau pergi kemana?" tanya Bob.
"Ya. Aku ingin pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan dan menghasilkan banyak uang" kata Jun.
"Kau menyindir ku?" tanya Bob.
"Ya" kata Jun.
Jun terpaksa ikut dengan pamannya menuju lokasi syuting drama sinetron.
__ADS_1
Didepan lokasi syuting.
"Kau mau kemana?" tanya Bob.
Jun menghentikan langkah kakinya.
"Ya. Aku akan mendengar kata kata mu" kata Jun.
"Kau bisa lihat lihat disini tapi besok kau harus pikirkan tawaran ku" kata Bob.
"Sudah. Aku akan jalan jalan disekitar sini" kata Jun.
"Pergi saja. Jangan terlalu jauh" kata Bob.
Mereka berdua terpisah.
Bob melanjutkan pekerjaannya mengawasi jalannya syuting malam ini di drama sinetron yang sudah tayang hampir satu musim ini.
Jun melihat lokasi syuting di tempat yang berbeda.
Di sekitar tempat api unggun yang sedang menyala.
"Dia masih menganggapku seperti anak kecil" kata Jun.
"Apa dia punya adik atau kakak?" tanya Doe.
"Tidak. Bahkan dia tidak punya orang tua lagi" kata Jun.
"Pamanmu sangat kaya rupanya" kata Doe.
"Terdengar materialistis" kata Jun.
"Kau tidak cinta uang?" tanya Doe.
"Jangan membuat pertanyaan untuk menjebak ku" kata Jun.
Salah satu kru syuting sinetron di sana memperhatikan Jun yang sedang berbicara sendiri.
Dia langsung kabur ketika melihat tatapan mata Jun.
Jun melihat seorang pria yang seusia kira kira seperti Pamannya kabur berlari dengan cepat.
"Trouble Maker" kata Jun.
Kembali Jun melihat para aktris dan aktor yang sedang berakting di depan kamera.
"Dan mereka akan pulang sampai pagi" kata Jun.
"Itu alasanmu tidak mau menjadi aktor" kata Doe.
"Begitulah" kata Jun.
"Yang kamu benci adalah pekerjaan mu. Bagaimana?" tanya Doe.
"Aku tidak ingin berkelahi denganmu" kata Jun.
Jun dengan duduk disana di tempat yang tertulis jelas untuk Bob istirahat di lokasi syuting melihat lagi para aktor yang sedang berakting.
"Kau siapa?" tanya salah satu kru lain yang lewat didepan Jun.
"Aku. Aku bukan siapa siapa" kata Jun.
"Lalu kenapa duduk disini?" tanya dia lagi.
"Tempat ini kosong. Jadi, aku duduk disini" kata Jun.
"Pergi" kata pria berkumis itu.
Jun pergi dari sana mencari tempat lain untuk di eksplorasi.
Remaja laki laki ini pergi ke tempat kostum sesuai yang diarahkan oleh Bob kepadanya sebelum datang di lokasi syuting ini.
Tiba di tempat kostum.
"Pakai ini!" kata Bob.
"Tidak mau" kata Bob.
"Aku kenal sikap siapa ini" kata Jun.
"Itu sikap ku. Menurut saja" kata Bob.
Bob pergi dari ruang kostum menuju tempat lokasi syuting lagi.
Jun pergi mengganti pakaian seragam sekolahnya dengan setelan jas.
Keluar dari ruang ganti.
"Bos Bob menyuruhku untuk merias mu" kata penata rias pria.
Jun duduk di kursi para artis dan aktor juga ada disana sedang istirahat dan ada juga yang merapikan make up nya lagi.
"Kau aktor pendatang baru?" tanya penata rias pria.
"Aku hanya sedang bosan saja" kata Jun.
Dia mengatakan itu didepan banyak aktor yang juga ada disana.
"Sombong sekali" kata seorang aktor yang juga seumuran dengan Jun.
"Jika kau ingin aku akan menyerahkan peran ini untukmu" kata Jun.
Jun merasa bahwa peran yang ia dapat ini karena ia adalah keponakan dari Bob produser mereka di lokasi syuting ini.
Jun sedang berbicara dengan Doe dalam diam.
"Ku dengar kau juga dulu pernah ikut audisi" kata Doe.
"Bahkan kau pun juga tahu. Hebat sekali anak buah Presdir Ma itu" kata Jun.
Jun memakai baju luaran kotak kotak tebal dengan kaus hitam dengan kerah leher penuh tertutup serta celana jeans hitam beserta sepatu boot hitam beserta talinya.
"Kenapa tidak sedari dulu jadi aktor?" tanya penata rias yang sedang merias wajah dan rambut Jun.
Jun sudah selesai dengan di ruang make up dia segera pergi ke tempat Bob untuk pengambilan gambar.
Jun datang dengan perasaan ingin kabur dari tempat itu.
Sutradara melihat Jun datang.
"Dia pemain baru kita?" tanya Sutradara.
"Ya" kata Bob.
"Kamu mencarinya dimana?" tanya Sutradara.
"Di suatu tempat tersembunyi" kata Bob.
Jun akan berakting sebagai anak konglomerat yang tiba tiba pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan pendidikan.
Jun di tantang harus bisa berakting dalam sekali arahan dari sutradara dengan skrip yang baru saja ia baca lima menit yang lalu.
"Aku seperti berperan sebagai Ran saja" kata Jun.
Pengambilan gambar di mulai dan Jun terlihat alami sekali dalam memerankan peran pertamanya dalam sebuah judul drama sinetron bergenre keluarga.
Lima menit dia ikut syuting di pengambilan gambar pertama adegan.
Sekarang, dia sedang di make up kembali oleh penata rias yang sama tadi yang merias Jun di ruang make up.
"Dia siapa wajahnya tidak jauh beda dengan wajahmu?" tanya Asisten Sutradara.
"Dia aku ambil dari suatu tempat" kata Bob.
__ADS_1
"Aktingnya cukup bagus sebagai pemula. Jika rating penayangan ini naik dia bisa diperhitungkan" kata Sutradara.
"Bayarannya harus mahal" kata Bob.
"Dia bukan anakmu kan?" tanya Sutradara.
"Usianya berjarak sepuluh tahun dariku" kata Bob.
"Baiklah. Aku akan memulai syuting lagi" kata Sutradara.
Jun mengikuti syuting malam ini sampai jam dua pagi baru bisa pulang dan tidur dengan tenang.
"Pakaian itu untukmu" kata Bob.
Jun pulang menggunakan motor balapnya.
Bob belum bisa pulang karena masih ada pekerjaan dengan para kru syuting.
Orang orang melihat Bob memperlakukan Jun seperti kepada adiknya sendiri.
"Aku tebak dia adik mu?" tanya aktor senior yang juga teman Bob.
"Ayo kita bicara tentang kontrak mu" kata Bob.
"Baiklah" kata aktor senior teman Bob.
Drama sinetron yang Jun perankan akan tayang besok sore di salah satu stasiun televisi swasta kira kira pukul empat sore.
Jun langsung tidur selesai pulang dari lokasi syuting.
"Dia juga ada dirumah" kata Jun.
Radan sudah ada di sofa ruang menonton televisi yang masih menyala.
Jun mengambil remote televisi dan langsung mematikan layar televisi.
Radan tidak terbangun ketika Jun datang. Dia dengan selimut dan bantal bergambar beruang cokelat.
"Matanya melihat ke arahku" kata Jun.
Maksud Jun adalah gambar beruang di bantal Radan.
Sepuluh menit kemudian Jun tertidur di kamarnya.
Suatu keajaiban hari ini dia bisa tertidur dengan lelap tanpa memimpikan Bay dan Dree lagi.
"Seseorang bisa menolongku?" tanya Dree.
Angin datang begitu kencang di balkon kamar apartemen yang ia pesan sesaat setelah kejadian naas itu terjadi kepadanya.
"Orang itu" telah mengatur semuanya dengan cermat terutama kepada gadis ini untuk memanfaatkan situasi.
Dia tidak bisa melawan dari mantra mantra yang ia dapat darinya semakin mengambil jiwa baik yang ada pada diri Dree.
"Tolong aku. Siapapun tolong aku" kata Dree.
Energi positif yang Dree miliki telah terserap habis oleh "Orang itu".
Tatapan mata kosong dia disana.
Disaat itu pula ada seorang remaja laki laki yang ada di balkon apartemen lain yang terlihat oleh Dree tapi dia tidak bisa berkata apapun.
Dia tidak bisa melakukan hal itu meski ia ingin.
Dan dia akhirnya menjatuhkan dirinya sendiri dari balkon kamar apartemen yang ia masuki.
Remaja laki laki itu masih sangat syok dan itu masih teringat jelas ketika ia sedang terlelap sendiri di malam hari.
Dia terbangun melihat langit kamar di kamarnya dengan lampu yang tidak menyala.
"Kenapa aku bermimpi itu lagi?" tanya remaja laki laki ini.
Dia terduduk di tempat tidurnya menyalakan layar ponselnya.
"Ini masih pukul setengah tiga pagi" kata remaja laki laki itu.
Membuka mata dan kemudian menutup mata untuk bisa tertidur kembali.
Nafas yang seperti baru saja ia selesai berlari.
Keringat datang tidak bisa ia lupakan kejadian itu lagi dan lagi bermimpi lagi kejadian yang sama itu datang di mimpinya malam ini.
"Aku sudah lama tidak melihat hantu itu lagi. Tapi kenapa dia datang di mimpi ku malam ini?" tanya Ben.
"Dia juga tidak mengikuti temanku lagi" kata Ben.
Yang dia maksud adalah Jun teman sekolahnya.
Ben pergi ke arah jendela membuka tirai jendela kamar melihat kearah rooftop rumah Ran.
Rumah bercat putih itu dalam keadaan baik baik saja.
"Aku tidak melihat hantu itu lagi disana" kata Ben.
Tirai jendela kamar kembali ditutup oleh Ben.
Masih sangat pagi dan Ben sudah mendapatkan tamu.
Ben menutup pembicaraan di ponsel.
Dia turun dari lantai atas kamar menuju pintu masuk tempat gym.
Sebelum membuka pintu dia melihat ke layar monitor yang menghubungkan CCTV yang terpasang di depan pintu masuk tempat gym.
"Ternyata benar. Dia bukan hantu" kata Ben.
Ben membuka kunci pintu masuk.
"Tunggu" kata Ben.
Pintu dibuka.
"Good morning!" kata Marid.
Marid masuk kedalam tempat gym.
Pintu kembali di kunci oleh Ben.
"Kenapa tidak pulang kerumah mu?" tanya Ben.
"Aku baru datang kau mau mengusir ku" kata Marid.
"Aku kesini naik bus" kata Marid.
"Aku tidak tanya" kata Ben.
"Aku akan tidur di sofa" kata Marid.
Marid mengambil bantal di sofa itu lalu segera tidur disana.
"Kau tidak bawa motor?" tanya Ben.
Dia langsung terbangun lagi.
"Di ambil ayahku lagi" kata Marid.
"Bisa tidak jangan mengganggu ku" kata Marid
Dia tertidur lagi.
"Seharusnya aku yang membentak mu. Kenapa sebaliknya?!" kata Ben.
Ben mengambil selimut hitam di meja kasir dan melemparkan ke arah Marid.
__ADS_1
"Pakai itu!" kata Ben.
Ben kembali menaiki tangga rumah menuju kamarnya lagi.