
Chapter 61: Aku datang Temanku.
Di sebuah pesta yang di hadiri banyak orang orang penting dari berbagai kalangan.
"Apa seharusnya aku pulang saja?" tanya Sima.
Dia merasa asing di tempat itu dia juga menghubungi seseorang namun orang itu tak mengangkat panggilan ataupun membalas pesan darinya.
Dia melihat ke sekeliling semua dengan baju formal mereka. Sima melihat kedua orang yang ia sayang sudah datang, gadis ini berusaha menyapa namun orang orang itu telah memberi kode untuk Sima menjauh dan tidak datang di pesta tersebut. Perasaan Sima sekali lagi terluka.
Dia menaruh gelas yang berisi jus buah jeruk diatas meja prasmanan kemudian memutuskan untuk pergi dari acara itu.
Di kafe tempat Jun sedang bekerja.
Jun memeriksa ponselnya setelah ia selesai tampil tadi membawakan sebuah lagu.
"Dia tak mendengarkan ku untuk tidak datang di acara seperti itu lagi" kata Jun.
Dia menerima pesan dari Sima dan sepuluh bahkan dua belas panggilan telefon dari Sima.
"Apa aku harus menjemputnya, ku rasa itu tidak perlu. Dia harus belajar dewasa" kata Jun.
Sima menghadiri sebuah acara perkumpulan para pebisnis dengan tidak jarang diantara mereka memang hadir dengan beberapa anggota keluarga yang diajak begitu juga Sima juga mendapat undangan dari penyelenggara acara tersebut.
Jun menyimpan ponselnya lagi didalam jaket hitamnya lalu melanjutkan menyanyi lagi setelah sebelumnya teman satu profesi dengannya sudah selesai menyanyi.
"Kau menangis?" tanya Sew.
"Ini mungkin efek dari ramuan obat yang di minum Sima. Apa dia sedang menangis?" tanya Red.
"Dia bisa merasakan sedih" kata Bling.
"Aku rasa kita akan lebih berbelas kasih padanya" kata Red.
"Bukankah terlalu dini untuk menyimpulkan sifat seseorang" kata Bling.
"Baiklah. Aku akan turuti nasihat mu" kata Red.
"Terlepas dari itu, kita disini sedang bekerja. Kita tak boleh terlalu emosional" kata Sew.
Red mengangguk mendengar saran dari kakak seniornya kemudian melanjutkan mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu rumah Flow sore di pukul empat lebih lima menit.
Di waktu yang sama ditempat yang berbeda.
"Hai Sammy" kata Good menyapa.
"Kau disini juga?" tanya Sammy.
"Begitulah. Kau belanja banyak sekali" kata Good.
"Kau juga lihat bahkan lebih banyak dariku" kata Sammy.
"Kau sendirian disini?" tanya Good.
"Ya" kata Sammy memilih beberapa buah stroberi.
"Kau akan membuat cookies?" tanya Good.
"Kau memang ahlinya dibidang ini" kata Sammy.
"Aku hanya asal menebak saja" kata Good.
"Tebakan mu tepat sekali" kata Sammy.
Sammy memang sedang akan membuat beberapa jenis cookies dan kue untuk ia jual secara online.
Untuk Good memang menggeluti bisnis yang tidak jauh berbeda dengan Sammy.
"Dia masih merendah dengan bisnisnya itu" kata Good berbicara dalam hati.
Begitu juga dengan Sammy sambil mengambil tepung gula, dia berkata "Bisnis kulinernya berjalan lancar".
"Aku pergi ke kasir lebih dulu. Dah" kata Sammy.
"Dah" kata Good.
Sima sedang menunggu seseorang yang akan menjemputnya didepan gedung acara yang belum berakhir tadi.
Orang yang ia tunggu dalam sepuluh menit sudah datang didepan gedung tersebut.
"Dimana bodyguard mu?" tanya Sima.
"Dia sedang cuti beberapa hari. Ayo, aku akan mengantar mu" kata Jimmy.
Sima dengan Jimmy menggunakan motor untuk pergi ke bioskop yang juga tidak jauh dari Sima ada di acara tadi.
"Pegangan yang erat. Agar kau tidak jatuh" kata Jimmy.
Sima memeluk Jimmy dari belakang selama perjalanan menuju bioskop.
Sammy sedang menunggu antrian panjang di kasir.
"Luar biasa" kata Sammy.
Dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi dan dia mau apa lagi meski dia sedang terburu-buru waktu memaksanya menjadi lebih patuh.
Beberapa menit masa pembayaran sudah berlalu dan kini dia dengan banyak barang belanjaan di kedua tangannya akan keluar pergi meninggalkan pusat perbelanjaan itu.
"Apa maksud Tuhan aku melihat ini?" tanya Sammy.
Sammy berpapasan dengan Jimmy yang menggandeng Sima menuju gedung bioskop masih di area pusat perbelanjaan tersebut yang berada dekat dengan tempat Sammy membeli banyak barang di kedua tangannya.
Ketiganya berhenti sejenak saling menatap beberapa detik.
__ADS_1
Good sedang mengantri di kasir dengan barang belanjaan yang begitu banyak. Dia melihat dari kejauhan Sammy dan Jimmy yang juga bersama Sima sedang dalam situasi tidak menguntungkan terutama untuk Sammy.
"Kenapa dia tidak pergi. Barang belanjaan yang ia bawa sangat berat?" tanya Good pada Sammy.
Sammy memberikan sedikit senyum kepada kedua orang di depannya itu lalu pergi tanpa kata apapun ia tinggalkan pergi melewati mereka keluar dari pusat perbelanjaan.
"Tuan ini semua belanjaan anda?" tanya seorang wanita penjaga kasir kepada Good.
"Iya" kata Good.
Fokusnya sedikit teralihkan kepada Sammy tadi.
Good dengan barang belanjaan yang harus ia bawa bersama dengan dirinya sendiri membawa barang barang itu didalam bagasi.
Dia sudah mendapatkan surat izin mengemudi kendaraan roda empat beberapa hari lalu jadi hari ini dia diizinkan untuk membawa mobil ibunya untuk membawa barang barang belanjaan.
Satu persatu barang belanjaannya ia masukkan kedalam bagasi mobil dan juga ia masukan kedalam kursi belakang kemudi barang barang itu akhirnya menemukan tempat sebagai tumpangan untuk sampai di restoran.
Ia masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin mobil bergerak meninggalkan pusat perbelanjaan itu.
Good melihat Sammy sedang di tempat perhentian bus bersama orang orang yang juga menunggu alat transportasi umum itu sebagai alat mobilitas mereka.
Didepan Sammy berhenti juga terdapat mobil lain disana setelah mobil di depannya bergerak meninggalkan tempat itu lalu Good datang memberhentikan mobilnya didepan Sammy langsung turun menghampiri Sammy dengan barang belanjaan yang segitu banyak ia bawa.
Good mengambil barang belanjaan milik Sammy memasukkannya kedalam kursi belakang mobil disebelah barang belanjaan miliknya tadi.
Pintu sebelah kiri disebelah kursi kemudi mobil ia buka Good menarik tangan Sammy yang masih heran dengan tindakan Good kali ini.
"Cepat masuk ke mobil!" kata Good.
"Oh" kata Sammy.
Sammy masuk ke mobil duduk di kursi depan sebelah kiri kursi Good mengemudi. Pintu mobil Good tutup lalu dia menuju ke arah pintu mobil mengemudi. Dia membukanya masuk kedalam dan menutup pintu mobil kembali.
Sammy memasang sabuk pengaman begitu juga Good.
"Aku akan mengantar mu sampai dirumah" kata Good.
Didalam perjalanan menuju rumah Sammy.
Gadis ini banyak berpikir.
"Apa aku harus bertanya itu. Oh tidak tidak, itu tidak perlu" kata Sammy.
"Jangan langsung terpikat dengan makhluk tampan ini. Dia memang seperti ini" kata Sammy.
"Di masa depan kau bisa menjadi orang yang perlu di pertimbangkan" kata Sammy.
Good yang sedari tadi tidak membuka obrolan lagi dia mengajak bicara Sammy yang penuh banyak pertanyaan dengan tindakan Good ini.
"Bisnis mu mendapatkan rating lima. Selamat untuk mu" kata Good.
"Oh. Makasih" kata Sammy.
"Apa ini maksud dari perkataan Jun tentang Good. Pantas saja dia banyak yang suka" kata Sammy.
Sammy sedikit tersenyum melihat kearah depan jalan dari dalam mobil.
Sedang di tempat lampu merah penyeberangan.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Good.
"Aku sedang memikirkan kebaikan orang lain" kata Sammy.
"Begitukah" kata Good.
Good melanjutkan perjalanan menuju rumah Sammy setelah lampu merah berubah menguning.
Didepan rumah Sammy sudah ada seseorang disana. Dia juga teman satu kelas mereka juga. Dia adalah Red.
Red melihat Sammy dengan Good dengan barang belanjaan yang mereka keluarkan dari dalam mobil.
"Aku akan membantu kalian" kata Red.
Dia membantu membawakan barang barang milik Sammy.
Semua barang barang belanjaan Sammy tadi sudah di bawa masuk di ruang tamu rumah.
"Kau tidak minum dulu sebentar" kata Sammy.
"Tadi didalam mobil aku sudah minum. Kau juga melihatnya kan" kata Good.
Red sambil menahan senyum sekaligus merasakan bahwa mereka sangat manis dengan tingkah mereka.
"Makasih Good atas bantuannya" kata Sammy.
"Iya. Aku harus pulang. Bye" kata Good.
"Bye" kata Sammy.
Sammy melambaikan tangan sebelah kanan kepada Good. Dia juga membalas perbuatan yang sama seperti Sammy melambaikan tangannya kepada Good.
"Dia memang sangat baik. Aku bahkan hampir setiap hari dibawakan lunch box yang rasanya tentu lezat" kata Red.
"Setidaknya, dia jauh lebih baik dari Jimmy" kata Sammy.
"Dia jauh lebih tampan dari Jimmy" kata Red.
"Kau terlalu berterus terang sekali" kata Sammy.
"Dia memang manis juga" kata Red.
Hari disaat Red mendapatkan obat untuk penyakit yang diderita oleh Sima.
__ADS_1
Dari luar sebuah kantor di lantai pertama terlihat dari luar kantor seseorang sedang berbicara dengan Red terlihat dari arah belakang seorang pria dan seorang pria muda berdiri disisi kiri atasannya itu.
"Kau sudah tahu konsekuensinya bukan jika ini tidak berhasil kemungkinan usia hidup mu tidak bertahan lama" kata atasan Red.
"Ya. Saya akan bertanggung jawab atas apapun hasilnya" kata Red.
Atasan Red kemudian pergi masuk kedalam kantornya lagi setelah memberikan ramuan obat untuk kesembuhan seseorang.
Sew sudah menunggu Red diluar gedung didalam mobil di kursi mengemudi menunggu harap harap cemas dengan Red.
"Apakah dia benar benar akan mendapatkan obat itu?" tanya Sew.
Cuaca masih sangat mendung awan hitam menutup langit membuat udara yang dingin seperti dalam film misteri begitulah gambarannya.
Red masuk kedalam mobil disebelah kiri kursi Sew duduk saat ini.
"Bagaimana kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan?" tanya Sew.
"Aku mendapatkan" kata Red.
Obat itu kemudian akan di lihat dari tangan Red berpindah ke tangan Sew lalu yang terjadi adalah obat didalam botol itu langsung menghilang kembali ke tangan Red dalam beberapa detik.
"Obat ini memang ditakdirkan untuk gadis itu" kata Sew.
Jika obat itu tetap di tangan Red meski orang lain hanya ingin menyentuhnya langsung menghilang dan akan kembali kepada pemiliknya.
"Aku berharap rencana ini akan berjalan lancar" kata Red.
Obat di tangan Red ia masukkan kedalam saku di balik jaketnya yang berwarna biru dengan aman.
Red dan Sew belum menyadari kalau mereka saat ini sedang diawasi oleh orang lain yang menggunakan jaket hoodie hitam bermakser hitam pokoknya semua pelapis tubuhnya berwarna hitam menyelinap di antara derasnya hujan sore dengan bersembunyi diantara orang orang yang berteduh dari turunnya hujan dia sebuah toko pakaian.
"Aku senang memiliki teman yang mau membantu ku" kata Sammy.
"Kau tidak tahu seluruh niatku sesungguhnya" kata Red.
"Yang jelas kamu janji akan datang ternyata memang datang" kata Sammy.
"Hayo. Kau mudah sekali tersentuh" kata Red.
"Kau memang baik. Pantas Jun menyukai mu" kata Sammy.
"Oh ya. Aku ingin tahu menurut kamu cowok cinta sama cewek cirinya seperti apa sih?" tanya Red.
"Menurut ku, dia yang sering kasih hadiah ke ceweknya. Tapi, tidak harus mobil mewah ada didepan rumah. Itu hanya di sebuah film saja" kata Sammy.
"Sepertinya aku harus banyak belajar kepada Sammy" kata Red.
"Kau jangan berlebihan semua orang juga tahu itu" kata Sammy.
"Guru. Aku baru tahu itu" kata Red.
Sammy dan Red sedang membuat banyak cookies dan biskuit yang sudah dipesan oleh para pelanggan Sammy secara online dan akan dikirimkan dengan menggunakan jasa driver online.
"Bagaimana dengan kondisi ibu mu?" tanya Red.
"Dia berangsur membaik" kata Sammy.
"Syukurlah. Kapan-kapan aku menjenguk lagi" kata Red.
"Kau sudah sering sekali datang tanpa memberi tahu. Tiba tiba datang saja" kata Sammy.
Ponsel Red berdering ketika Sammy mengambil beberapa barang untuk membuat kue sedangkan ponsel itu tepat ada disebelah Red sedang membuka bungkus choco chips diatas meja. Dia menghiraukan lagi panggilan telefon dari Jun.
"Sammy kamu taruh mangkuk untuk choco chips dimana?" tanya Red.
"Ambil saja di rak atas lemari alat alat untuk membuat kue di sisi kanan mu" kata Sammy.
Red mengambil beberapa mangkuk. Sammy kembali ke meja tempat temannya membuka beberapa cokelat.
Sammy menaruh beberapa loyang untuk memanggang cookies. Dia melihat notifikasi di ponsel Red secara tak sengaja melihat nama Jun yang beberapa kali menelepon Red dan temannya tak mengangkat panggilan dari Jun.
Sammy membuka bungkus gula pasir.
"Mereka bertengkar lagi. Tapi, setahu ku mereka baik-baik saja" kata Sammy berbicara dalam hati.
Kembali di hari Red mendapatkan obat untuk kesembuhan seseorang.
Seseorang dengan jaket hoodie pergi setelah melihat kedua wanita didalam mobil dalam guyuran hujan ia melihatnya sendiri salah satu wanita didalam mobil hitam itu sedang memegang sebuah benda menyala berwarna merah.
Dia melihat lagi dengan saksama melihat benda yang ia lihat itu.
"Dia memiliki ramuan itu" kata Pria berjaket hoodie.
"Aku akan mencari cara lain" kata orang itu.
Dia dengan mobil hitam nya mengemudikan mobil itu pergi melewati Red dan Sew yang masih didalam mobil.
Didalam mobil Sew kembali meyakinkan bahwa Red harus bersiap dengan segala apa yang akan ia hadapi di masa depan.
"Aku hanya bisa membantu mu sedikit. Aku bahkan takut akan kehilangan partner kerjaku" kata Sew.
"Senior ku memang terkenal karena kepeduliannya" kata Red.
"Tapi, Ini. Kau mengambil resiko ini" kata Sew.
"Lihatlah. Aku masih sehat-sehat saja" kata Red.
"Itu karena ada arwah Bling di tubuh mu. Aku tidak tahu jika dia tak langsung bertindak" kata Sew.
Raga Red kembali dikendalikan oleh Bling.
"Aku takut Red tidak akan kembali" kata Bling.
__ADS_1