Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 57: Terjebak dalam Ilusi?


__ADS_3

Chapter 57: Terjebak dalam Ilusi?.


"Lihatlah mereka berdua seperti seseorang yang tidak saling kenal saja" kata Bee.


Bee sedang membicarakan Red dan Jun.


Didalam kelas saat selesai mengerjakan soal soal yang diberikan oleh guru sastra kepada kelas yang di ketuai oleh Good.


"Kau dengar tidak?" tanya Bee lagi kepada Good.


Good masih fokus mengerjakan soal soal itu dibelakang Bee.


"Dengar tidak?" tanya Bee lagi.


Dia mengganggu Good sedang serius belajar.


"Berhenti menganggu ku" kata Good.


"Siapa yang mengganggu mu. Kau saja yang tidak mau menjawab" kata Bee.


Satu kelas melihat kearah Bee dan Good.


"Kau lihat mereka. Mereka seperti akan memakan kita" kata Good.


Kelas sedang di tinggal oleh guru sastra mereka untuk mengambil sesuatu di ruang guru untuk keperluan mengajar.


"Bisa tidak jangan berisik!" kata Ben.


Si Atlet bela diri itu mulai marah.


"Maaf" kata Bee dan Good berkata hampir bersamaan.


Bee menarik buku Good dan berbicara dengan suara lebih pelan.


"Aku akan membantu mu. Mana yang sulit?" tanya Bee.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" kata Good.


"Ya sudah" kata Bee.


Dia agak kesal.


Kemudian, Bee melihat kearah sisi lain masih dari dalam kelas. Dia melihat kearah Jun yang sedang mengerjakan soal soal dari guru mereka seperti yang lainnya.


"Dia sedang berpura pura masih mengerjakan soal soal itu padahal dia sudah selesai dari tadi" kata Bee berbicara dalam hati.


Dia kembali melihat Good yang masih fokus mengerjakan soal soal.


"Dia tidak marah atau malu saat aku mengganggunya" kata Bee.


Memandang langit pagi di bawah sinar matahari hangat kelas bertambah terang dengan datangnya sinar sinar masuk menembus kedalam kelas setelah melewati jendela jendela disisi Red di duduk mengikuti mata pelajaran.


"Matahari dan pekerjaan ku" kata Hera duduk di dekat jendela.


Belum sampai disini Bee ingin mengganggu temannya yang ada belakang kursi tempat duduknya lagi.


"Pulang sekolah antar aku beli sesuatu. Ya, yah" kata Bee.


Good menjawab, dan dia berkata "Ketua kelas lagi sibuk ngobrolnya dipending dulu ya".


Satu kelas tertawa mendengar apa yang dikatakan Good pada Bee begitu juga guru wanita yang ada di meja mengajar didepan kelas.


Ben berbisik.


"Kau menggantikan tahta ku disana" kata Ben.


Bee menjadi lebih patuh dan tenang di singgasana nya.


Jimmy tentunya diam diam memperhatikan Bee sejak awal ia masuk menjadi murid baru di kelas itu.


"Aku baru tahu ada temanku yang menggemaskan" kata Jimmy.


Sedangkan, sang ratu sekolah juga memiliki pemikirannya sendiri ketika melihat ini.


"Tukang cari perhatian. Cantik kan juga aku" kata Sima.


Memang lebih cantik gadis ini tanpa ia harus menjelaskan agar semua orang juga tahu bahwa dia yang paling cantik.


Didalam kelas dengan sikap tenang sedang mengamati satu persatu semua teman satu kelasnya. Dia sedang memahami tentang mereka yang menjalani hidup normal normal saja.


"Apa hanya aku yang merasa hidupku tidak normal?" tanya Jun.


"Terkadang aku di tempat lain fokus disana dan disini. Mengapa bisa seperti itu?" tanya Jun.


Dia mulai curiga ada yang sedang tidak beres dengan dirinya hal ini ia rasakan saat dia tiba tiba saja bisa tahu dan menghadiri acara pemakaman Ge tanpa seseorang memberitahunya. Dia ada disana seakan sudah kewajiban untuk datang.


"Jika diingat aku juga datang di pemakaman pemakaman teman Jimmy yang lain dan aku tak mengenalnya" kata Jun.


"Untuk apa aku bisa selalu datang. Untuk apa?" tanya Jun.


Jun maju kedepan setelah Bee mengumpulkan hasil pekerjaannya mengerjakan soal soal tentang sastra tadi kepada guru mereka yang duduk didepan kelas. Lalu, setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.


Dia terdiam sejenak melihat apa yang baru saja ia lihat.


Jun menarik tangannya kembali setelah ia baru saja menepuk pundak seorang temannya dari arah belakang.


"Aku tidak berada didunia hantu kan?" tanya Jun.


"Tidak. Tidak, aku masih hidup kan?" tanya Jun lagi.


"Lalu, tadi itu apa?" tanya Jun.


Jun menampar wajahnya sendiri disebelah kanan pipinya.


"Aku juga sedang tidak bermimpi" kata Jun.


"Aku yakin dunia tidak sedang mempermainkan ku" kata Jun.


Jun mencoba menepuk pundak belakang sebelah kanan Red lalu apa yang ia saksikan adalah sesuatu yang hanya terjadi di film horor kini ia alami sendiri.


Tubuh Red bisa ditembus oleh tangan Jun yang baru saja menepuk pundak belakang gadis di depannya itu.


"Kapan ilusi ini berakhir. Aku masih baik baik saja kan?" tanya Jun.


Karena dia masih penasaran akhirnya, Jun mencoba memanggil Red dengan suara pelan.


"Red" kata Jun.


Red berbalik melihat kearah Jun.

__ADS_1


"Ya. Kau perlu apa?" tanya Red.


"Tidak. Aku hanya ingin memanggil mu" kata Jun.


"Awas sekali lagi!" kata Red.


Wajah sedikit emosi.


Raga Red sekarang sedang tidak dikendalikan oleh Bling hantu pacarnya yang sudah meninggal itu.


"Syukurlah. Dia masih manusia, aku bahkan tidak tahu kapan dia meninggal tidak mungkin dia sudah menjadi hantu kan" kata Jun.


Pikirannya mulai rumit dengan hal hal yang berkaitan dengan hantu.


"Tunggu. Tunggu, hentikan kegilaan ini Tuhan" kata Jun.


Hari sebelum ia melihat keanehan yang ada di raga Red.


"Dok. Apakah saya memiliki masalah mental berat?" tanya Jun.


"Kata siapa, tidak sama sekali. Kondisi anda sangat bagus" kata Si Dokter Psikiater.


"Tapi, saya merasa ada hal hal aneh terjadi pada diri saya" kata Jun.


"Kurangi saja rasa cemas dan khawatir. Semua akan kembali seperti keadaan normal" kata Dokter Psikiater.


Jun sampai pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatan mentalnya.


Kembali di waktu Jun masih mengikuti mata pelajaran sastra di kelasnya.


"Aku yakin dokter yang memeriksa ku kemarin sangat cerdas dan terpercaya" kata Jun.


"Aku juga sudah meminum resep obat dari dokter itu" kata Jun.


"Bumi ini juga masih utuh" kata Jun.


Jun melihat kearah Sima.


"Lalu, sekarang apa yang kulihat lagi?" tanya Jun.


"Apa dia sedang terbakar?" tanya Jun.


"Tubuhnya mengeluarkan banyak asap berwarna merah" kata Jun.


"Aku tidak yakin aku adalah aku" kata Jun.


Hera memperhatikan Jun dari arah Jendela dekat dengan Jimmy ia disana menyilangkan kedua tangannya di perut.


Menatap tajam dengan mata elang berwarna orange kekuningan serta baju jumpsuit merah dengan rambut kepala tidak terikat lurus sepanjang diatas bahu berwarna orange pula.


Jun sedang melenturkan sendi pergelangan tangannya sembari memeriksa apakah ada yang aneh dengan tangannya sendiri.


Dia terlihat seperti balita yang sedang meneliti kenapa tangannya bisa bergerak kenapa dia memandang ekspresi yang cukup lucu untuk remaja seusianya.


"Ada apa dengan raut wajahnya. Berapa usia Jun sekarang" kata Hera tentang Jun.


Red berbalik menghadap kearah Jun.


"Aku pinjam penggaris mu" kata Red.


Tangan Red tak sengaja menyentuh pergelangan tangan Jun.


Suaranya memberitahukan seisi kelas bahwa dia merasa terancam oleh Red.


"Aku hanya meminjam penggaris mu" kata Red.


Dia mengambil penggaris Jun tanpa merasakan ada hal aneh yang telah Jun rasakan.


"Sejak tadi pagi dia tak bereaksi sama sekali" kata Red tentang Bling.


Bling belum mengendalikan tubuh Red lagi sejak ia masuk kedalam sekolah.


Red melihat bukunya lalu melihat kearah luar jendela kelas.


"Hari ini sepertinya akan turun hujan" kata Red.


"Oh ya. Apakah Sima sudah menggunakan ramuan itu?" tanya Red.


Dia melihat kearah Sima dalam beberapa detik. Lalu, kemudian dia mengembalikan penggaris milik Jun.


"Terimakasih. Ini penggaris mu" kata Red'


"Astaga!" kata Jun.


Jun seperti sedang melihat hantu itulah ekspresi yang jelas ia tunjukkan kepada Red.


"Dan sekarang Jun dan Red yang membuat kerusuhan didalam kelas" kata Jimmy.


Red menyadarkan orang yang ada di depannya itu yang masih terpaku melihat Red.


"Sadarlah" kata Red.


Semua teman temannya dan juga guru mereka melihat kearah kedua remaja ini.


Seperti berada di nuansa sebuah drama percintaan sekolah.


Red menyentuh dahi Jun dengan telunjuk tangan kanannya.


Jun meraih tangan Red dia sedang memastikan bahwa di depannya bukan hantu akan tetapi seorang manusia.


"Ternyata kau memang Red" kata Jun.


Semua belum selesai dengan atmosfer ini.


Guru didalam kelas mereka mengambil alih kondisi saat ini.


"Setelah istirahat kau bisa merayunya lagi" kata guru sastra mereka.


Hatinya merasa bahwa dia tak sepenuhnya salah.


"Merayu. Aku?" tanya Jun dengan kondisi yang memaksanya mengakui itu.


"Itu memang benar. Aku suka padanya, tapi hanya karena aku menggenggam tangan Red, tapi aku tak berniat jahat padanya" kata Jun hatinya membela diri.


Red melepas tangan Jun dari tangannya.


Jun melakukan hal tadi karena saat Red berbalik ke arahnya tadi, ia tak melihat raga Red dalam beberapa detik kemudian Red terlihat lagi lebih sempurna perwujudan dari raganya seperti sedia kala. Dia juga masih penasaran sehingga dia menggenggam tangan Red yang sedang menyentuh dahinya bahwa Red benar benar ada dan dia melihatnya dengan jelas seperti kali ini.


Hera dengan sifat iseng muncul sebuah ide untuk mengerjai Jun.

__ADS_1


"Aku disini. Apa kau mencari ku?" tanya Hera berbisik dengan suara hantu kepada Jun.


Jun mendengar ucapan Hera namun dia berusaha lebih tenang dari sebelumnya untuk mencegah orang orang menganggapnya aneh.


Beberapa menit teman teman kelas Jun mengumpulkan hasil kerja mereka mengerjakan soal soal yang tadi mereka terima dari guru mereka didepan kelas.


"Pagi ini cukup sampai disini. Ibu akan mengajar ke kelas lainnya" kata guru mereka setelah pergantian mata pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.


Good akan pergi membawa buku buku hasil kerja mengerjakan soal soal tadi menuju ruang guru.


"Aku akan membantu mu" kata Sima.


Dia mengambil sebagian buku buku tebal yang akan Good taruh di meja tugas guru sastra mereka di ruang guru.


"Kenapa bengong, cepat Ikut aku" kata Sima.


"Ok" kata Good.


Semua tak bisa percaya dengan perubahan ini.


"Apa dia akan menjadi korban baru Sima selanjutnya?" tanya Sammy di ruang kelas berbicara agak keras.


"Tak perlu sejujur itu" kata Jimmy menanggapi pernyataan Sammy barusan.


"Jangan karena dia cantik kau akan terus membelanya" kata Sammy.


"Mantan kekasih itu mulai lagi" kata Ben yang duduk di kursi belakang disamping Jun sebelah kiri.


Mereka berdua belum akan mengakhiri pertikaian mereka berdua sampai mereka puas.


Guru sejarah mereka baru saja keluar dari kelas yang berada di bawah kelas mereka akan naik tangga untuk menuju kelas mereka selanjutnya untuk mengajar.


"Sammy. Aku punya obat" kata Jimmy.


"Untuk apa obat itu?" tanya Sammy.


"Untuk mu" kata Jimmy.


"Kau pikir aku tak waras" kata Sammy.


Mereka sangat menikmati permusuhan ini dan pertengkaran mereka akhirnya berakhir saat wali kelas mereka datang dan tentu melihat muridnya akan saling mengeluarkan ilmu bela diri mereka.


"Jika tidak mau diam. Kalian boleh pergi dari kelas Bapak" kata wali kelas mereka.


Kedua mantan kekasih ini menjadi patuh saat diberi teguran dari guru mereka.


"Sejak kapan dia menjadi patuh seperti ini" kata Sammy dalam hati.


Wali kelas mereka berjalan menuju meja mengajar didepan kelas sambil berkata sesuatu.


"Jangan bertengkar terus. Kalau kalian berjodoh bagaimana?" tanya wali kelas mereka kepada Sammy dan Jimmy.


Semua mata tertuju pada Ben kecuali Sammy dan Jimmy.


"Ada apa dengan ku. Apa salah ku?" tanya Ben dengan nada suara polos.


"Sudah. Sudah, aku merasa malu" kata Ben.


Proses belajar mengajar di kelas di lanjutkan kembali.


Sima dan Good kembali ke kelas duduk di kursi mereka masing-masing.


"Aku yakin dia bisa berubah. Tapi, tetap saja aku khawatir dengan Good jika dia sampai berteman dengan Sima" kata Bee saat melihat keduanya masuk kedalam kelas.


"Dia seperti sebuah bayangan hantu" kata Bee.


Suasana kafe di waktu makan siang kantor di kafe dekat tempat kerja Flow. Ini kali ketiga mereka berdua makan bersama dalam satu meja.


Keduanya terlihat akrab dan itu tak bisa dipungkiri karena keduanya sudah cukup akrab sejak dulu.


"Apa Jun baik baik saja sekarang?" tanya Jax.


"Dia jauh lebih baik" kata Flow.


"Kamu?" tanya Jax.


"Kau memang seperti ini dengan keadaan orang lain" kata Flow.


"Aku hanya memastikan orang orang terdekat ku dalam keadaan sehat" kata Jax.


"Kau tidak mengabari adik mu lagi?" tanya Flow.


"Anak sekecil itu akan terkejut dengan masalah ku" kata Jax.


"Kau tenang saja. Dia tumbuh sangat baik, dia juga sangat cerdas" kata Flow.


"Dia selalu mengirim kembali uang yang aku kirimkan padanya" kata Jax.


"Kau jauh lebih tahu siapa adik mu itu. Mungkin, dia sedang belajar mandiri" kata Flow.


"Aku dengar kau hanya akan beberapa hari disini?" tanya Flow.


"Awalnya memang begitu. Tapi, aku akan lebih lama lagi" kata Jax.


Jax meminum espresso yang ada didepan mejanya lagi.


Flow sedang menikmati daging panggang dengan menggunakan garpu.


"Sekarang sudah punya pacar baru?" tanya Jax.


"Tidak. Mungkin ada beberapa yang dekat dengan ku, tapi kami masih sekedar teman" kata Flow.


"Aku percaya kamu pasti banyak yang suka" kata Flow.


"Kau terdengar semangat sekali" kata Jax.


"Lalu, bagaimana dengan mu?" tanya Flow.


"Entahlah. Aku kurang tampan mungkin" kata Jax.


"Itu sulit dipercaya" kata Flow.


"Kenapa?" tanya Jax.


"Maaf. Tadi, aku salah bicara" kata Flow.


"Aku juga tak percaya kamu masih sendiri" kata Jax.


"Kau agak sedikit meniru kata kataku" kata Flow.

__ADS_1


"Aku sengaja" kata Jax.


__ADS_2