
Chapter 102: Bukan Bad Boy.
Angin menerpa dengan semangat rambut kepala seseorang terlihat bayangan itu dari atas roof top rumah toko bertingkat empat.
Dari atas melihat Jimmy dan yang lainnya mulai pergi.
Satu peluru mengarah ke arah lengan orang yang ada dalam bayangan itu.
Seperti menembak di sebuah bara api itu yang terjadi bara api itu membara di udara.
Bayangan itu melihat ke arah dimana ia mendapatkan luka itu.
Sniper itu datang lagi.
Dia bergerak dengan cepat berpindah tempat dari gedung satu ke gedung lain pergi kepada orang yang ada dalam bayangan.
Bara api muncul dari energi yang ia miliki pemilik raga dalam bayangan.
Dia tersenyum kepada Sniper berjubah hitam.
Sniper pria itu sedang menebak siapa orang yang ada di depannya.
"Seorang wanita aku hargai kau cukup berani" kata Sniper itu.
Dia masih dengan energi bara api di lengan kanan akibat tembakan dari sniper berjubah hitam itu.
"Apa kau sedang bermain main disini?" tanya Sniper.
"Apa kita seakrab itu?" tanya sniper wanita.
Sniper wanita itu langsung menghilang dengan memegang luka yang ia dapat.
Sniper wanita itu membuka lengannya di suatu tempat yang terlihat sebagai tempat tinggal.
"Jika ingin berteman kenapa harus menyakiti orang lain lebih dulu" kata Sniper wanita itu.
Di tempat lain dalam sebuah pesta keluarga pesta pernikahan sepupu dari Wayne.
Dia sudah memakai toksedo biru langit dan sepatu hitam mengambil satu gelas minuman yang tersedia di prasmanan.
Dia menunggu.
Melihat ke arah pintu masuk acara ini.
"Dia tidak akan datang kemari" kata Wayne.
"Ini memang dugaan ku dan ternyata ini benar" kata Wayne.
Red menggunakan setelan berwarna biru langit ada tidak jauh dari pesta itu.
Dia melihat ke arah pesta itu tapi dia tetap enggan untuk datang.
Dia masih memakai helm hitamnya menutup kaca helm pergi dari sana disebuah pesta pernikahan yang digelar secara outdoor.
Wayne mengejar gadis itu tapi ia tidak berhasil. Dia ada didepan pintu masuk acara tersebut.
"Bisakah dia tidak pergi" kata Wayne.
Red pergi mengendarai motornya dengan kecepatan tidak terlalu tinggi tapi tetap saja itu bisa dibilang cepat.
Wayne disapa oleh salah satu tamu yang baru saja datang yang juga mengenalnya.
"Wayne. Kamu sedang menunggu siapa?" tanya seseorang itu.
"Kak Kise. Tidak, ayo kita masuk kedalam pesta" kata Wayne.
Bob atau Kise menjadi salah satu tamu undangan di pesta ini dan tidak terlalu tahu bahwa Red menjadi salah satu keluarga Wayne.
Red ada didepan taman kota yang terdapat air mancur yang berwarna warni menyala disetiap malam seperti malam ini.
"Dan akhirnya aku lebih memilih untuk sendiri" kata Red.
Jimmy datang dengan motornya.
"Sorry. Membuat mu menunggu" kata Jimmy.
"Aku baru tiba disini" kata Red.
Jimmy duduk di sebelah kanan gadis itu.
Dia menyandarkan kepala Red agar bisa bersandar kepada bahu sebelah kirinya.
"Kau boleh pergi" kata Red.
"Pergi. Aku baru saja sampai" kata Jimmy.
"Bagaimana dengan Sima?" tanya Red.
"Dia. Dia seperti yang kau tahu menjadi pacarku karena kami menandatangani kontrak sebagai pasangan influenser" kata Jimmy.
"Aku sedih tapi ... " kata Red.
"Tapi aku tak pernah lelah menyukai mu" kata Jimmy.
"Aku menyukai orang lain" kata Red.
"Ran. Tidak mungkin, akulah yang kau sukai" kata Jimmy.
Red tidak lagi bersandar di bahu Jimmy.
Jimmy melihat ke arah Red.
Menyentuh rambut di telinga gadis itu.
"Kamu tetap untukku jadi jangan pergi lagi" kata Jimmy.
Dia terlihat berkaca kaca berkata seperti ini terlihat tidak seperti berbicara dengan wanita lain yang pernah menjadi pacarnya dulu.
Jimmy berhenti menyentuh rambut di telinga gadis itu jemarinya terbakar seketika seperti yang pernah dialami oleh Jun disaat remaja laki laki itu dekat dengannya dan juga Ran ketika dulu belum lama ini.
"Tapi kenapa aku tak merasakan perasaan itu sekarang?" tanya Red.
"Kenapa kita masih terus saling membenci?" tanya Jimmy.
"Aku tidak tahu perasaan itu selalu ada disini" kata Red.
Jimmy memberi jarak satu jengkal tangan dari Red duduk disana berdampingan.
Sniper itu datang bersembunyi disisi kanan sebuah bangunan toko menyelinap dibalik gelap sisi samping bangunan mengintai dari jarak seratus langkah kaki orang dewasa mengintai kedua remaja yang duduk diantara orang orang yang juga sedang menikmati malam bersama pengunjung yang lain.
"Aku akan membuktikan itu" kata Sniper itu.
Dia mengarahkan senjata ke arah Red.
__ADS_1
Tanpa suara dan tanda satu peluru menyasar tepat di kaki gadis itu.
Red merasakan bahwa kaki sebelah kanannya sedang terluka.
Dia memeriksa kakinya itu.
Celana biru laut panjang muncul terlihat makin jelas darah muncul dari kakinya.
Red melihat dengan mata birunya memeriksa arah dimana peluru itu datang.
Sniper itu pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat ketika gerak geriknya hampir saja diketahui oleh Red.
Red menghilang dari hadapan Jimmy dengan waktu yang ia hentikan sementara.
Red telah pergi.
Waktu kembali seperti semula dan Jimmy masih disana tanpa mengetahui luka yang Red dapat di kaki kanan.
Dia terlihat dalam bayangan sedang melepas topeng yang ia pakai sebelumnya memeriksa kembali senjata laras panjang miliknya itu.
"Dia tidak akan terlalu lama bersama dengan remaja laki laki itu" kata Sniper tersebut.
Red kembali ke dalam rumahnya sendiri tanpa motor yang ia pakai sebelumnya ia bawa di taman kota tadi.
Dia melihat lagi luka yang baru saja ia dapat tadi.
Memeriksa lagi dan tidak ditemukan luka dengan darah segar yang keluar dari kaki kanannya.
"Ku rasa tadi ada disini" kata Red.
Dia sedang berusaha melakukan teleportasi untuk bisa kembali menemui Jimmy.
Tidak berhasil.
Dia memeriksa ponselnya kemudian menelepon nomor ponsel Jimmy.
"Iya. Please" kata Red.
Motor Red ia serahkan atau dititipkan ke sahabatnya itu.
Red sedang berpikir dan menebak siapa yang bisa melakukan hal ini selain dari Ran.
"Apa ada agen baru yang bekerja dengan Presdir Ma?" tanya Red.
Dia meletakkan ponselnya dibawah dagu sambil memikirkan ini.
Di tempat lain dalam pukul delapan malam.
Wren mengirim pesan kepada Red.
"Bisa datang kemari?" tanya Wren.
Dia menunggu dan tidak mendapat respon dari orang yang sedang dimintai pertolongan olehnya.
Remaja ini sedang ada dirumah sakit dengan selang infus yang masih menempel.
Sambil menunggu balasan dari remaja putri itu dia sedang makan buah anggur yang sudah asistennya siapkan sejak satu jam tadi.
Wren sedang melihat layar ponselnya.
Seorang wanita datang dengan seragam hitam formal.
Wren melihat ke arah asistennya yang sedang berbicara dengannya.
"Tidak perlu. Itu akan membuat khawatir Ibuku" kata Wren.
Asistennya keluar dari ruangan rumah sakit remaja laki laki itu duduk disebelah pintu masuk pintu sebelah kanan.
Didalam kamar diatas tempat tidur di ruangan gelap terlihat ponsel gadis itu menyala dan pemiliknya sedang tidur memakai selimut abu abu.
Ponselnya mendapatkan panggilan dari banyak orang orang ada di dalam kontak ponselnya termasuk Wayne.
Jun tiba tiba saja datang lebih tepatnya ia lewat di depan ruangan tempat Wayne sedang dirawat.
Dia melewati Wren.
Kemudian, dia kembali.
Berdiri didepan Wren dengan es krim yang ada ditangan.
Jun memperhatikan kaki Wren.
"Kau tidak apa apa" kata Jun.
Dia menyentuh kaki kiri Wren yang sakit akibat terjatuh dari atas motor dalam perjalanan pulang setelah dari tempat wahana permainan tadi.
"Ini es krim untukmu" kata Jun.
Dia menaruh satu es krim unicorn berukuran tiga ratus gram diatas meja ruang rawat temannya.
"Kau tidak akan mati hanya karena ini" kata Jun.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Wren.
"Ke tempat sahabat ku" kata Jun.
Jun memberikan es krim kesukaan Wren dan setelah itu dia pergi. Si penerima membuka es krim dan memakannya dengan sendok yang telah Jun sediakan di atas es krim tersebut.
Jun pergi ke ruang rawat ibunya Sammy untuk menjenguk ibunya.
Di dalam sebuah pesta yang sedang ia kunjungi dia dengan wajah sedih tidak ia tunjukan. Wajah ceria selalu ia berikan di setiap obrolan dengan para tamu disana padahal sejujurnya dia sedang sangat sedih memikirkan orang yang ia sayang sudah pergi.
"Haruskah aku percaya bahwa itu benar" kata Bob.
Hatinya berkata seperti ini.
"Apakah kisah ini akan segera berakhir?" tanya Bob.
"Kau dimana bahkan jika kau pergi. Aku ingin melihat raga mu" kata Bob.
Lagu di pesta pernikahan kembali dinyanyikan oleh bintang tamu yang telah di undang oleh pemilik acara ini.
Dia menghela nafas.
"Bahkan lagu ini adalah lagu kesukaan mu" kata Bob.
Wayne tidak ingin melihat ini tapi dia Bob tidak akan bisa menyembunyikan suasana hati dari orang yang ada di depannya.
Dia berjarak sepuluh meter dari Bob.
"Aku tidak lupa bahwa aku anak buah Presdir Ma" kata Wayne.
__ADS_1
Dia tahu kalau Flow sudah pergi lebih awal dari kedua temannya.
Wren sedang menonton drama dengan ponsel miliknya dan tidak bisa diganggu dan juga es krim yang masih belum habis.
Satu sendok es krim ia makan.
Marid datang dan dia tidak peduli yang ia pedulikan adalah jangan sampai melewatkan drama yang sedang ditonton saat ini.
Marid akan mengambil es krim milik Wren yang sedang ia makan perlahan.
"Di sana masih ada" kata Wren.
Dia menunjuk ke arah lemari es di dekat meja disamping ranjang rumah sakit tempat ia duduk dirawat.
"Aku datang diberitahu oleh Jun" kata Marid.
Dan Wren masih dengan ponselnya.
Marid mulai kesal.
Dia memikirkan sebuah ide agar dia didengar.
"Bagaimana jika aku jadian dengan Red?" tanya Marid.
Ponselnya ia taruh di sisi kanan bantal yang menjadi sandaran di tempat tidurnya.
"Oh. Tadi kau bicara apa?" tanya Wren.
"Aku. Aku bicara apa?" tanya Marid pada Wren.
Marid melihat drama yang ditonton oleh temannya itu.
"Jika kau menyukai seorang gadis katakan saja" kata Marid.
"Dia menyukai orang lain" kata Wren.
"Yang aku tahu dia belum jadi pacar siapapun" kata Marid.
"Aku harus melawan siapa lagi selain Jimmy" kata Wren.
"Apa ini kau terlalu serius habiskan es krim mu" kata Marid.
"Aku sedang serius" kata Wren.
"Jika itu serius mungkin kau akan melawan ku" kata Marid.
Marid menerima panggilan dari seorang wanita.
Dia pergi sebentar dari ruang kamar Wren untuk menerima panggilan dari pacarnya.
Matanya tajam saat akan keluar dari kamar Wren.
Wren memberi sikap sinis pada temannya dan sedikit tawa kecil disaat Marid keluar dari ruangan.
"Aku lupa dia siapa. Temanku" kata Wren.
Diantara semua teman temannya dia yang paling mudah mendapatkan pacar.
"Ya ampun mengapa percintaan sungguh lebih rumit dari dugaan ku" kata Wren.
Dari luar kamar inap Wren dia dengan ramah penuh peduli dengan pacarnya yang sedang meneleponnya sekarang.
Dia siapa, dia yang paling perhatian dari semuanya jika bersama pacarnya dan ia lebih sangat peduli dari penampilannya selama ini.
Dia tahu batas antara sahabat dan percintaan itulah yang ia jalani saat bersama dengan Red. Di lain kesempatan ia selalu ingin mendapatkan Red lebih awal dari semua sahabatnya sekarang dia yang lebih awal kenal dengan Red.
Pada saat hari sebelum masuk sekolah di hari pertama Marid sedang ada di area parkir sebuah tempat pedagang kaki lima menjajakan makanan mereka.
Marid sedang dalam keadaan lapar dan akan masuk kedalam sebuah kedai salah satu dari pedagang kaki lima di tempat itu.
Remaja ini melihat seorang gadis yang sangat sesuai dengan tipenya hadir di situasi di pukul lima sore masuk kedalam kedai sendirian.
Dia mengejar gadis itu yang mendatangi pemilik kedai seorang wanita yang terlihat sangat akrab dengan Red. Dia juga sudah ada didalam kedai dan duduk di salah satu meja didalam sana.
Senyum bad boy Marid terlihat saat memandang gadis itu yang duduk di meja satu meja jarak diantara keduanya.
"Apa aku punya salah denganmu?" tanya Red.
"Tidak" kata Marid.
"Lalu kenapa kau sejak tadi melihat ku terus?" tanya Red.
"Kamu bahkan cantik ketika sedang makan" kata Marid.
"Telingaku sulit menerima pujian mu" kata Red.
"Menggemaskan" kata Marid.
Sepuluh menit kemudian Ran datang menjumpai gadis yang katanya sesuai dengan tipe idealnya.
Ran datang duduk disebelah kiri Red mengambil salad buah di meja milik Red.
"Aku sangat lapar berikan ini padaku" kata Ran.
"Ini" kata Red.
Ran duduk disana dan melihat Marid yang masih dengan fokus pada Red.
"Kau mengenalnya?" tanya Ran.
"Tidak" kata Red.
Tak berapa lama kemudian setelah memakan makanan yang ia pesan Marid pergi meninggalkan kedai itu setelah membayar semua makanan yang ia pesan kepada Bibi pemilik kedai.
Waktu kembali di saat ini.
"Dia tidak akan main main jika menginginkan sesuatu" kata Wren.
Marid datang kembali di ruang rawat Wren setelah mengobrol dengan pacarnya.
Mengambil es krim stroberinya lagi dari atas meja dekat Wren sedang menikmati es krim.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Marid.
Dia belum berubah menatap tajam mata Marid.
"Oh itu tenang saja. Aku belum ingin mengejar gadis itu" kata Marid.
"Belum?" tanya Wren.
__ADS_1