
Chapter 97: Aku akan kembali, Kamu?.
"Red" kata Jimmy.
"Kau terlihat tidak baik baik saja" kata Jimmy.
Semua aktivitas yang ada di kelas tiba tiba berhenti.
Energi biru dari dalam raga Red kembali muncul dan keluar dari raga gadis remaja ini.
Red lenyap begitu saja.
Jimmy menyaksikan kejadian ini didepan indera penglihatannya sendiri.
Jarum jam kembali berdetak.
Aktivitas di kelas berjalan seperti biasa tanpa adanya Red disana.
Jarum jam terdengar oleh Jimmy terus berputar orang orang disekitarnya juga melanjutkan aktivitas mereka.
Jemari tangan kanan Jimmy bahkan tak sempat mencegah gadis itu pergi dalam sekejap tanpa ia sadari.
"Dia tidak pergi" kata Jimmy.
"Dia tidak pergi" kata Jimmy.
"Itu tidak mungkin" kata Jimmy.
Tiga detik kemudian waktu disekitar Jimmy kembali terhenti.
Red muncul kembali.
Waktu kembali berjalan.
"Kau melihatnya?" tanya Red.
"Oh" kata Jimmy.
Red menatap Jimmy.
"Menjauhlah!" kata Red.
Bentakan dari gadis remaja ini terdengar di seisi kelas.
Jun dan Ben serta Good datang masuk ke kelas.
Semua terdiam setelah mendengar Red membentak remaja laki laki yang ada didepan gadis ini.
Jimmy pergi dari hadapan gadis yang ia anggap sahabatnya.
"Baru kali ini aku melihat dia semarah itu" kata Good.
Ketiga temannya ini yang baru datang ke kelas pergi ke tempat duduknya sendiri dan bersikap seperti tidak terjadi apa apa.
Disaat sebelum Red membentak Jimmy dia mengalami rasa sakit yang luar biasa dari energi yang ia miliki menjadi terbakar seperti api biru dari tubuhnya sendiri dihadapan Jimmy terbakar dengan cepat hingga sekarang Jimmy ada di kursi tempat duduk seperti biasa saat di kelas.
Jun melewati Jimmy dan juga Ben yang berjalan di belakang menyusul.
"Apa telah terjadi sesuatu dan hanya aku saja yang tidak tahu?" tanya Jimmy.
Jimmy mengambil ponsel dari saku jaketnya lalu mengirim pesan kepada seseorang.
"Kau sibuk hari ini?" tanya Jimmy.
"Aku selalu sibuk" kata Radan dalam balasan pesannya kepada Jimmy.
Dia menaruh ponsel di saku celana seragam sekolah di sisi kanan.
Melihat ke arah luar jendela kelas melihat ke lapangan basket sekolah.
"Bicara dengan orang ini sama saja seperti bicara dengan Ran" kata Jimmy.
Hari kematian "Orang itu" hantu yang sudah dilenyapkan oleh seseorang.
Di langit malam di atas hutan.
Jun dengan energi cahaya putih matanya tajam putih kembali ia gunakan bersama dengan munculnya pedang merah muda yang ia miliki menyerang kembali kekuatan yang dimiliki oleh "Orang itu" sebagai perisai sekaligus sebagai kekuatan untuk menyerang Jun.
"Gwarrrrr!"
Suara kedua senjata yang terbuat dari besi panjang terlihat cahaya putih juga hantu "Orang itu" keluarkan seperti yang Jun terlihat saat ini.
Dia tak segan untuk menusuk bagian raga Jun kapanpun dan kapanpun juga Jun harus siap untuk menolak serangan yang ia dapat dari hantu "Orang itu".
Disetiap serangan yang Jun dapat disaat itu pula energi positif yang ia miliki akan terserap oleh hantu "Orang itu" dari setiap serangan pedang yang Jun lakukan kepada hantu tersebut.
"Kau masih belum menyerah?" tanya "Orang itu".
"Kau akan kalah dengan anak kecil ini!" kata Jun.
Dia menusuk berulang kali hantu itu dengan pedang dan energi yang ia miliki.
Mereka berdua sama sama terluka dan Jun di tendang oleh hantu tersebut terlempar jatuh diatas tanah melewati ranting ranting pohon hutan.
Hantu itu kembali dengan mudah memulihkan diri menyembuhkan diri dengan cepat.
Berteriak hantu itu dengan turun kembali dari langit menyerang Jun lagi.
"Kau lupa kau hanya seorang manusia!" kata hantu "Orang itu"'
Dia akan menghabisi nyawa Jun sekali lagi dan kali ini sekali lagi remaja laki laki ini tak ingin menyerah.
Dia dengan senjata miliknya menyerang Jun segera cepat ditangkis olehnya.
Hantu ini lupa bahwa Jun telah mendapatkan ramuan obat yang dibuat oleh dirinya sendiri obat yang sama yang Red dan Flow terima.
Cahaya membiru keluar dari setiap luka yang Jun dapatkan dari serangan hantu "Orang itu" dan hantu itu melihat sendiri.
Dia langsung terpental jauh ke langit akibat dari kekuatan yang tiba tiba muncul dari luka luka Jun.
"Boommmmm!"
Suara itu mengisi seisi gelapnya hutan bersama cahaya yang Jun keluarkan dari dalam dirinya memutih terang.
Sebuah pedang terbuat dari besi dengan kepala seperti api hitam ia memegang tertusuk bertahan dengan lama sengaja ia lakukan kepada jantung hantu "Orang itu".
Asap hitam mulai keluar dari tubuh hantu "Orang itu" datang menghisap kekuatan Radan dari tangannya.
Rasa sakit itu ia rasakan sama halnya dengan hantu "Orang itu" rasakan melalui energi jahat yang ia salurkan kepada Radan.
"Orang itu" terlihat tertawa sinis kepadanya tanpa rasa bersalah. Dia melakukan itu juga kepada Radan menghisap energi yang pria ini miliki.
__ADS_1
"Kau tidak mungkin bisa bertahan. Kau harus ikut lenyap bersamaku" kata "Orang itu".
Dia tertawa lagi menggelegar suara itu di hutan yang gelap.
Apa yang dikatakan oleh hantu ini bukanlah bualan belaka semakin dia mulai menguap menghilang dari hadapan Radan semakin energi positif yang dimiliki oleh Radan semakin terserap olehnya terbawa pergi ikut menghilang.
Radan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Dia mulai bergetar tangannya yang menusuk tepat di jantung hantu "Orang itu" dengan pedangnya sendiri.
Darah darah mengalir dari jemari jemarinya darah jatuh seperti air mengalir menetes dari sana jatuh kebawah terkena dedaunan kering yang terlihat karena sinar bulan terang malam itu.
Bertahan menahan mantra yang masih hantu "Orang itu" keluarkan untuk Radan.
"Kau akan mati sama seperti kekasih mu dulu" kata "Orang itu".
Sendiri.
Apa dia sendiri, tidak. Dia tidak sendiri.
Dia bersama dengan Jun yang datang lebih awal dari Radan.
"Kau sudah menyerah anak kecil" kata hantu " Orang itu" kepada Jun.
Jun dengan luka yang ia miliki yang ia dapat sebelum Radan datang.
Darah masih mengalir di kepalanya yang terbentur salah satu pepohonan akibat serangan dari hantu "Orang itu" yang telah melemparnya ke sebuah pohon.
"Jangan mati!" kata Radan kepada Jun.
Jun berusaha untuk bangun dari rasa sakitnya.
"Aku tidak akan mati karena itu bukan takdirku saat ini" kata Jun.
Jun yang masih dengan cahaya biru yang muncul dari raganya menyadari dengan energi yang ia miliki menyembuhkan luka luka yang ia miliki.
Dia datang mendekat dengan cepat ke langit menuju hantu tersebut.
Kilatan cahaya putih datang mengisi gelapnya hutan menuju langit membantu Radan yang sedang berusaha mengakhiri pertempuran ini.
"Dugggggggg!"
Satu pedang tertusuk lagi di bagian dada hantu "Orang itu".
Pedang milik Jun berubah warna menjadi memerah akibat serangan mantra dari hantu "Orang itu".
"Seharusnya kekuatanmu menjadi milik ku" kata Hantu "Orang itu".
Radan meningkatkan kekuatan mata birunya dan energi biru yang ia miliki berubah menghitam di detik itu juga bersamaan dengan Jun yang juga mengaktifkan energi positifnya kembali akibat serangan yang ia dapat tadi bersama kekuatan biru yang ia dapat dari ramuan obat dari hantu "Orang itu".
Menarik secara bersama pedang mereka dari jantung hantu tersebut.
"Dwarrrrrrrrr!"
Hantu itu meledak seperti kilatan cahaya putih di langit.
Jun dan Radan terlempar dari atas sana disaat hantu itu meledak didepan mereka.
Radan terpental jauh tidak diketahui keberadaannya oleh Jun yang juga mengalami hal yang sama dengan Radan.
Dari bawah hutan Red bersama dengan Jamie ada disana melihat dari bawah telah terjadi sebuah ledakan sangat besar.
"Aku hanya melihat hantu itu meledak" kata Jamie.
Mereka harus segera pergi setelah melihat hantu "Orang itu" telah hancur di langit.
"Kita harus pergi jika tidak kita akan terkena mantra jahatnya" kata Red.
"Ya" kata Jamie.
Jun di tempat yang jauh dari Red dan Jamie tadi berada masih dengan luka yang ia sembuhkan sendiri.
Cahaya cahaya biru yang muncul dari tubuh Jun menyerap menghilangkan luka luka dan rasa sakit akibat dari serangan yang ia dapatkan.
"Kali ini kau bisa mengendalikan raga mu lagi" kata Doe.
"Dimana kita akan temukan Radan?" tanya Jun.
"Kau terlihat tidak akan mati" kata Doe.
"Sekarang bukan takdir ku untuk mati" kata Jun.
Dia tertawa berbaring diatas tanah dibawah pepohonan dan semak semak di hutan.
"Bintang disini terlihat jauh lebih terang" kata Jun.
"Tapi kau harus pulang" kata Doe.
"Benar" kata Jun.
"Bagaimana kita pulang?" tanya Jun.
Doe sedang mengaktifkan kembali kekuatan teleposrtasi yang ia miliki.
"Belum berhasil" kata Doe.
Jun sedang mencoba.
"Ada apa dengan diriku?" tanya Jun.
Mereka berdua tidak bisa menggunakan kekuatan teleportasi mereka di waktu yang bersamaan.
Jimmy mendatangi Red.
Di ada di dekat jendela ruang kelas disisi kiri Red saat ini sedang duduk ditempat duduknya.
Jun terus memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Jimmy padanya.
"Kau tidak akan melihatku?" tanya Jimmy.
Red melihat ke arah Jimmy.
"Ada lagi?" tanya Red.
Tanpa diduga Jimmy akan menyentuh pipi Red dan terjadi lagi.
Waktu berhenti.
Red menghilang saat akan didekati oleh Jimmy.
"Apa yang kau lakukan?!" kata Jun.
__ADS_1
Dia mencengkeram kerah baju teman satu kelasnya itu.
"Kau melihat itu?" tanya Jimmy.
"Bisakah kau mengembalikan Red lagi!" kata Jun.
Gadis itu belum kembali.
Dalam waktu singkat waktu kembali berjalan maju tanpa adanya Red yang tadi ada di kelas bersama teman teman mereka.
Sima merasa tak terima dengan perlakuan Jun terhadap pacarnya lalu dia mencoba melepaskan kedua tangan Jun dari cengkeraman di kerah baju Jimmy.
"Lepaskan dia!" kata Sima.
Jun tidak mau melepas Jimmy dari tangannya.
"Lepaskan!" kata Sima.
Waktu kembali berhenti dan disaat itu pula Red kembali muncul.
"Huh huh huh"
Red menghela napas panjang.
Red melihat kedua temannya sedang akan berkelahi.
"Red!" kata Jimmy.
Waktu kembali berjalan seperti semula lagi.
Jun melepaskan tangannya dari leher Jimmy.
"Apa itu sakit?" tanya Sima.
"Aku baik baik saja" kata Jimmy.
Apa yang dilakukan oleh Jun adalah memastikan bahwa Red sudah baik baik saja.
Jimmy kemudian kembali ke tempat duduknya semula.
Sima masih melihat Red dan Jun.
"Rupanya dia tidak melihat mu ketika menghilang dan kembali lagi" kata Bling.
Bling membicarakan tentang Sima.
"Aku akan kerjakan soal soal di buku ini lagi" kata Red.
Bagaimana dengan teman teman mereka tentu setidaknya melihat perkelahian yang tidak jadi dimulai yang akan terjadi diantara Jun dan Jimmy.
Red sedang memikirkan apa yang baru saja terjadi kepada dirinya barusan.
"Ketika aku dekat dengan Jimmy maka aku akan menghilang" kata Red.
"Untuk saat ini memang aku harus menjauh darinya" kata Red.
"Bagaimana ini?" tanya Red.
"Tenangkan pikiranmu" kata Bling.
"Bagaimana kalau aku benar benar menghilang?" tanya Red.
Dia sedang melihat ke arah buku tulisnya dengan mencari cara agar bisa keluar dari masalah ini.
Dari ruang seni terdengar seseorang sedang bernyanyi dengan suara petikan gitar dan merdu suara yang didengar. Itu suara yang mereka kenal suara dewa langit. Wren.
Wren dan teman teman satu kelasnya sedang ada di ruang seni sedang satu persatu bergantian menunjukkan bakat bermain musik dan bernyanyi mereka.
Jun sedang memegang kedua jemarinya yang sepertinya telah terbakar oleh energi yang dimiliki oleh Jimmy setelah kejadian tadi.
Dia sedang menyembunyikan itu dari Red dan yang lainnya.
Yang bisa melihat itu saat ini hanya Red dan mungkin Jimmy juga belum menyadari hal ini.
"Apa aku perlu pergi ke Psikiater?" tanya Ben.
Ben melihatnya dan berpura pura untuk tidak melihatnya tetap melanjutkan mengerjakan soal soal matematika yang ada dibukunya.
Dia melihat kejadian yang telah menimpa kepada Red dan dia juga sedang sesekali melihat ke arah Jun yang sedang menahan rasa sakit yang ia alami dan sembunyikan.
"Aku hanya bisa bersimpati. Aku belum sampai ke tahap empati" kata Ben.
Situasi saat ini tidak memungkinkan untuk Ben mengajukan banyak pertanyaan kepada mereka berdua.
Suara Wren yang sedang menyanyikan sebuah lagu terdengar sangat menyegarkan seperti udara di air laut yang tergambarkan dari suara Wren.
"Kenapa suaranya juga bagus?" tanya Jun.
"Kau merasa tersaingi?" tanya Doe.
"Ya. Tapi, dia tak pernah merasa tersaingi oleh ku" kata Jun.
"Pantas saja dia disebut dengan dewa langit" kata Doe.
"Aku harus banyak belajar darinya" kata Jun.
Bob sedang memindahkan kaktus kaktus yang ada didalam pot berwarna warni yang terbuat tanah liat.
"Prakkkkk!"
Satu pot bunga beserta kaktus yang ia pegang jatuh dari tangan. Kemudian, dia mengambil dan memisahkan kaktus dengan pot yang pecah itu.
Dia mengambil lem perekat pot dan duduk di atas sofa ruang kerjanya sambil merekatkan kembali beberapa bagian dari pot bunga yang pecah.
Asisten Pribadinya datang mengetuk pintu depan ruang kerjanya.
"Tuk tuk tuk!"
"Masuk" kata Bob.
"Ini file yang Anda butuhkan" kata Asisten Pribadinya membawa flashdisk berwarna hitam.
Asisten Pribadinya mencoba ingin membantu Bosnya setelah melihat apa yang ia lakukan.
"Apa Anda perlu pot bunga lagi?" tanya Asisten Pribadinya.
"Aku akan memperbaikinya meski aku tahu terus bertahan pada akhirnya dia akan hancur juga" kata Bob.
"Maksud Anda?" tanya Asisten Pribadinya.
"Pot bunga ini bukan manusia kan?" tanya Bob.
Bob kemudian sibuk lagi dengan memperbaiki pot bunganya lagi.
__ADS_1