Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 64: Pangeran dan Panglima Perang


__ADS_3

Chapter 64: Pangeran dan Panglima Perang.


Hera dan Doe masih diatas rumah berlantai tiga itu.


"Lihat. Pemilik mobil itu sudah keluar dari rumahnya" kata Hera.


"Saingan berat" kata Doe.


"Dia pria idaman ku" kata Doe.


"Padahal aku jauh lebih tampan darinya" kata Doe.


Hera tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang di sebelahnya.


"Lihat aku sekali saja!" kata Doe.


"Setiap hari aku melihat mu" kata Hera.


"Itu benar juga" kata Doe.


"Biasanya kau alergi dengan pria tampan. Kenapa sekarang beralih haluan?" tanya Doe.


"Bukan urusan mu" kata Hera.


Sekali lagi Doe tak dihiraukan, Hera sedang lebih fokus dengan pria yang sedang memeriksa mobilnya yang tidak bisa dibuka.


"Dia tidak bisa membuka pintu mobilnya. Hilangkan kekuatan mu dari mobilnya itu" kata Doe.


"Oh ya. Aku sampai lupa" kata Hera.


"Astaga" kata Doe.


Hera melepaskan kekuatannya dari mobil milik pria itu.


Dari atas sana Hera dan Doe melihat pria yang ada dibawah itu sudah bisa membuka pintu mobilnya. Dia sepertinya akan pergi ke suatu tempat karena dia sudah memakai pakaian casual dan juga rapi.


"Kau mau kemana?" tanya Doe.


"Aku mau mengikuti Pria tampan itu" kata Hera.


Doe juga mengikuti kemana Hera pergi.


Mesin mobil sudah dinyalakan dan pria tampan itu sudah siap pergi.


"Apa kita harus juga sampai masuk ke mobilnya?" tanya Doe.


"Kenapa tidak?" tanya Hera balik kepada Doe.


Hera ada disebelah pria tampan itu yang sedang mengemudikan mobil sedangkan untuk Doe ada di kursi belakang Hera dan pria tampan.


Di dalam perjalanan, Hera terus memandangi pria tampan itu lalu yang terjadi dengan Doe adalah dia terlihat jelas marah melihat ini.


"Dia tidak akan dimakan oleh binatang buas" kata Doe.


"Aku tahu" kata Hera.


"Kapan kau berhenti menatap wajahnya?" tanya Doe.


"Itu suka suka aku. Kau pergi saja" kata Hera.


"Kenapa kita harus naik mobil ini?" tanya Doe.


"Aku bosan terbang. Aku ingin sedikit bersantai" kata Hera.


"Bilang saja malas" kata Doe.


"Terserah aku. Aku kan hantu bukan manusia yang punya banyak aturan" kata Hera.


"Panjang sekali penjelasannya" kata Doe.


"Pergi saja. Kau sangat berisik" kata Hera.


"Dia yang baru mengalahkan yang lama" kata Doe.


"Kau masih sahabat ku" kata Hera.


"Sahabat?" tanya Doe.


Sampai ditempat tujuan si pria tampan rencanakan.


Si pria tampan turun dari dalam mobil dari luar kafe seorang wanita terlihat melambaikan tangan kepada pria tampan itu.


Hera dan Doe ikut bersama pria tampan menuju kafe itu.


"Ayo kita aktifkan mode manusia tidak bisa melihat kita" kata Hera.


"Ok" kata Doe.


Doe geleng geleng kepala lagi melihat ini.


"Dia sangat antusias sekali. Aku jadi tak tega" kata Hera.


Sampailah si pria tampan dengan dua bodyguard.


Hera tak bisa banyak berkomentar dengan apa yang ia lihat saat masuk kedalam kafe.


"Kau tidak duduk?" tanya Doe.


"Kenapa aku tidak teliti?" tanya Hera.


"Ada apa. Salah satu mereka adalah musuh mu?" tanya Doe.


Hera diam didepan mereka yang sudah membuka obrolan.


"Ada apa. Apa aku perlu mengerjai mereka?" tanya Doe.


Selama beberapa menit akhirnya Hera mau menjawab pertanyaan dari Doe sahabatnya itu.


"Jangan lakukan itu. Dia adalah Kakak kandung Bling" kata Hera.


"Kenapa kau khawatir dia juga bersama temannya lagi. Ku rasa mereka tidak berpacaran" kata Doe.


"Yang satu kakaknya Bling dan pria tampan itu juga adalah Kakaknya Ran. Kita bisa binasa melawannya" kata Hera.


Doe terkejut setelah mendengar penjelasan dari Hera.


"Ayo kita kabur dari tempat ini" kata Doe.


"Tak usah kabur. Wanita ini tidak jahat" kata Hera.


"Lalu?" tanya Doe.


"Kita disini sebentar" kata Hera.


"Kemana semangat mu yang tadi?" tanya Doe.


"Ini masih sama. Ayo kita kerja lagi" kata Hera.


Tak ada yang aneh sejauh ini kedua hantu itu sedang mengawasi mereka bertiga. Kedua hantu itu mulai mengantuk karena sudah dua hari ini tak tidur setelah dua hari bekerja.

__ADS_1


"Bangun bangun!" kata Hera.


Doe terguncang dengan siksaan sahabatnya itu.


Pangeran Flow datang membawa kejutan yang sangat luar biasa di hadapan ketiga orang dewasa yang sedang diawasi oleh Hera dan Doe.


Jax berekspresi sangat manis kali ini melihat situasi ini sedangkan untuk Dan yang ikut bergabung berusaha dengan cepat membaca situasi yang sedang terjadi.


Pernah tidak berusaha dengan sekuat tenaga seseorang mengejar seseorang yang katanya sangat di cintai tapi pada kenyataannya orang itu tak sepenuhnya dengan perasaan yang ia gembor gemborkan dan itulah yang terjadi kepada Bob dan Flow.


"Matamu berair" kata Dan.


Dan menyeka air mata yang tiba tiba jatuh dari mata sebelah kanan Flow mengalir di pipinya.


Flow langsung bad mood disitu.


Diam karena malu.


"Kita pulang saja?" tanya Dan.


"Kau mau pulang sama aku atau dia tinggal pilih?" tanya Jax.


Pertanyaan pertanyaan itu didengar oleh Bob yang masih bingung mau bilang apa di saat seperti ini. Sedangkan, dia juga tidak mungkin meninggalkan wanita yang ia gandeng dengan mesra.


"Aku pulang sendiri" kata Flow.


"Wanita hebat" kata Doe.


Flow pergi keluar dari kafe itu.


Bob berpikir bahwa dia akan lama lagi untuk bisa berbicara dengan wanita yang selama ini ia sukai.


Dan dan Jax yang sudah mengejar Flow saat ia keluar dari dalam kafe dengan cepat tak bisa menemukan keberadaan wanita ini.


"Dia berlari sangat cepat sekali" kata Jax.


"Dia juga akan sulit kita hubungi, tunggu saja" kata Dan.


"Kau bahkan bisa dengan cepat membaca karakternya" kata Jax.


Didalam kafe Bob melanjutkan makan malam bersama wanita yang memang adalah pacarnya itu.


Dia sudah reservasi tempat di kafe itu lebih awal sehingga ketika mereka datang makanan langsung bisa di sajikan di meja mereka.


"Dia sangat cantik" kata wanita di depannya itu.


"Benarkah" kata Bob.


"Aku tahu kau sangat menyukainya. Tapi, sekarang kau sudah bersama ku" kata wanita itu.


Keduanya sedang memotong steak dan mulai memakannya.


"Tunggu kita putus saja" kata Bob.


"Bagaimana kalau sekarang saja?" tanya Wanita itu.


Wanita itu meminum minuman didalam gelas di sebelah piring berisi steak yang baru saja dia makan.


"Sekarang. Kau yakin?" tanya Bob.


"Yakin" kata wanita itu.


Wanita itu mengambil tisu lalu mengusap mulutnya kemudian menaruh tisu itu di sebelah piring steak.


Tas hitam cantik bertali rantai dia ambil lalu dia pergi meninggalkan Bob sendirian yang masih memakan steak.


Wanita itu keluar dari dalam kafe melewati Dan dan Jax dengan wajah yang sedikit kesal.


Dan dan Jax juga pergi dengan kendaraan roda empat mereka masing masing.


Doe dengan kekuatan yang ia miliki membuat Flow tidak bisa dilihat oleh kedua temannya itu saat Flow sedang menunggu bus di tempat perhentian bus yang berjarak lima belas langkah dari mereka tadi ada didepan kafe yang pasti mereka bisa melihat jika Doe tak melakukan hal ini. Flow juga dibuat tidak bisa melihat Dan dan Jax oleh Doe.


"Kenapa kau melakukan ini kepada Flow?" tanya Hera.


"Untuk apa mereka harus menolong Flow?" tanya Doe balik kepada sahabatnya itu.


"Aku tidak tahu kau memang sahabat ku" kata Hera.


"Jangan berlebihan. Masih banyak orang yang lebih baik dariku" kata Doe.


"Kau kan hantu bukan manusia" kata Hera.


"Wanita ini suka sekali memperjelas sesuatu" kata Doe.


Red sedang sendirian ada disebuah mini market yang berada di depan tempat gym milik Ben. Dia pergi disana karena ada sesuatu yang akan ia beli.


Tanpa ada sebuah rencana dia ingin segera pergi dari mini market tersebut setelah mendapatkan barang yang ia dapatkan.


"Kau sendirian?" tanya Jun.


Mereka semua datang dengan motor mereka. Jun membonceng motor Good seperti hari hari biasa.


Tak berapa lama datang sebuah taksi lalu kaca taksi di bagian belakang baris kedua terbuka dengan mesin mobil yang masih menyala.


"Aku sudah datang. Ayo, cepat naik" kata Flow.


Flow melihat ada Jun dan teman temannya ada didepan Red.


"Hai Jun. Aku bawa teman kalian" kata Flow.


Red pergi dijemput oleh Flow meninggalkan tempat itu.


Red masuk kedalam taksi meninggalkan mereka semua.


"Mata kakak bengkak. Kenapa?" tanya Red didalam.hati.


"Seseorang telah membuat mu sedih" kata Red.


"Jangan terlalu lama bersedih dunia ini sangat indah" kata Red dalam diamnya melihat situasi ini.


"Kita pergi kerumah sakit" kata Flow.


"Ya. Kita pergi kesana" kata Red.


Red belum ingin memakan makanan yang masih terlalu panas.


Flow masih sedih dengan apa yang terjadi di kafe tadi. Di saat seperti ini, dia malah mengingat ingat orang orang yang membuatnya sedih semua terkumpul menjadi satu membuat seisi kepalanya ingin pecah saja.


Bukan hanya membuat marah tapi membuat Flow sangat malu benar benar malu.


"Aku bukan siapa siapa. Ya kan Flow?" tanya Flow pada dirinya sendiri dalam pandangan lurusnya saat ini melihat luar jendela sebelah kanan taksi.


"Aku malas saja meladeni mereka semua" kata Flow.


Tak jauh berbeda dengan Red yang sedang menutupi tentang urusan pribadinya yang membuatnya sedih dan kurang merespon untuk lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang. Dia merasa lelah dengan hidup yang ia jalani.


Satu notifikasi muncul di ponsel Red.


Dia membacanya.

__ADS_1


Wajah datar yang membungkus kesedihan kini sudah berubah dengan wajah datar membungkus kebahagiaan. Alasannya adalah malam ini dia mendapatkan bahwa jumlah uang di rekeningnya telah bertambah karena pekerjaannya untuk memindahkan hantu itu ke alamnya sekarang telah berhasil.


Dia membacanya sekali lagi dan itu tidak bohong.


"Satu misi telah selesai" kata Red.


Red melihat ke arah Flow yang terlihat dengan wajah sedih.


"Aku belum pernah melihat wanita setangguh Kakak" kata Red.


Flow masih diam menatap keluar jendela taksi.


"Besok sepulang kerja kita bisa pergi ke wahana permainan atau kemana sesuai keinginan Kakak. Bagaimana?" tanya Red.


"Kita ajak Sammy sekalian" kata Red.


"Ayo lah Kakak baik" kata Red.


Gadis ini merangkul lengan kiri Flow.


Dia belum menggubris rayuan seseorang yang sudah di anggap adiknya sendiri.


"Ayolah kenapa sih dengan hari ini?" tanya Red.


Taksi sudah sampai didepan teras rumah sakit.


Red masih mencoba membujuk agar Flow tidak sedih terus.


Berjalan masuk kedalam rumah sakit.


"Aku akan bantu kakak buat banyak kue besok, bagaimana?" tanya Red.


"Kemarin kamu sudah bantu Sammy buat kue. Kapan kamu belajarnya?" tanya Flow.


"Tuh kan mengalihkan topik pembicaraan" kata Red.


"Kita nonton film komedi. Bagaimana?" tanya Red.


"Film komedi. Bagaimana yah, boleh juga" kata Flow.


"Beneran. Besok, ke bioskop?" tanya Red.


"Iya iyah" kata Flow.


Red belum mau melepaskan merangkul lengan kiri Flow.


Keduanya menuju ruang rawat inap ibunya Sammy.


Seseorang sedang mendengar suara hati diri sendiri.


"Ingatlah mantan mu, maka jangan lupa untuk sukses" kata Flow.


Seketika saat itu Flow tersenyum sendiri seolah ingin tertawa ketika mendengar ini.


"Aku terlalu emosional dan egois. Aku akui itu" kata Flow.


Red tak sampai disitu untuk mencari cara agar bisa menghibur orang yang ia anggap sebagai kakaknya.


"Besok sepulang sekolah aku akan membuat spring roll kesukaan kakak. Bagaimana?" tanya Red.


Di tempat gym Ben.


Good sedang menggantikan temannya menjaga kasir. Dimana pemiliknya itu, iya disana sedang bermain game online di layar monitor komputer yang juga tersedia disana bagi orang orang yang ingin menyewa untuk bermain game online.


Good diam saja dengan membaca buku milik Red yang tertinggal di meja kasir di kemarin malam.


Berteriak seorang gadis remaja datang.


"Ben!" kata Bee.


Ben tak menghiraukan teriakan gadis itu padahal jarak mereka tidak terlalu jauh hanya berjarak lima langkah.


"Ben!" kata Bee.


"Ya ada apa?" tanya Ben.


Ben sedang bermain game online bersama Jun.


"Disuruh makan saja susah banget. Ini ambil makanan mu!" kata Bee.


Ben malah semakin asyik bermain game bersama Jun.


"Ambil ini atau aku akan bilang Bibi kamu nggak mau makan" kata Bee.


"Bilang saja" kata Ben menjawab santai.


"Ok" kata Bee.


Jun mencegah Ben cuek kepada Bee.


"Kau mau bekerja dimana cepat ambil makanan mu" kata Jun.


Ben kemudian langsung berlari kepada Bee.


"Iya. Ini aku akan langsung makan" kata Ben.


"Aku mau langsung pergi ke salon" kata Bee.


Bee langsung meninggalkan tempat itu setelah berhasil mengantarkan makanan untuk Ben.


"Kau tidak bermain disini dulu?" tanya Ben.


"Nggak mau. Paling disuruh jaga kasir lagi" kata Bee berteriak.


Sambil bermain game online Marid mengeluarkan pendapatnya.


"Dia nggak lihat Good juga ada disini" kata Marid.


"Sepertinya begitu" kata Wren.


"Dia nggak masalah kalau dia teriak atau nggak cantik" kata Jun.


"Kok bisa gitu?" tanya Wren.


"Ya kan cinta" kata Jun.


"Bagaimana dengan para fans mu?" tanya Wren pada Good.


"Jangan macam macam dengan fans ku" kata Good.


Dia akhirnya buka suara.


Jun masih dengan permainan game yang sedang ia mainkan.


"Itu buku siapa yang kamu baca?" tanya Jun.


"Ini buku milik Red" kata Good.


"Lihat. Dia bahkan sampai tahu buku apa yang dibaca oleh gebetan" kata Good.

__ADS_1


"Iya kamu. Aku tahu kamu beneran suka Bee" kata Jun.


Ben tetap tenang memakan makanan yang di kirimkan oleh putri kerajaan sambil mendengar pertikaian antara pangeran dan panglima perang.


__ADS_2