
Chapter 120: Zig zag.
Bob sedang makan malam sendirian di meja makan.
Dia melihat di depannya ada sosok Flow yang sedang memandang dirinya dengan manis.
"Halusinasi" kata Bob.
Benar hanya halusinasi bayangan itu hilang.
Bob melanjutkan makan.
Flow muncul lagi.
"Aku bisa gila karena itu" kata Bob.
Bayangan Flow hilang lagi.
Bob menghabiskan satu suap lagi nasi goreng seafood yang ada di piring.
Meminum air mineral dari dalam gelas berukuran besar di sebelah kanan piring.
Duduk sebentar lalu mengambil piring dan gelas membawa ke tempat mencuci piring di dapur rumah.
Bob membuka keran dan membasahi piring dan gelas yang tadi ia pakai kemudian mengambil sponge sekaligus sabun cuci piring. Mencuci piring.
"Dia pergi kemana. Kenapa belum juga kembali?" tanya Bob.
"Apa dia sudah makan atau belum. Aku bahkan tidak tahu sama sekali" kata Bob.
"Aku memang tidak berguna untuknya" kata Bob.
Di rumah sakit Radan menerima panggilan telepon dari adiknya.
Dia mendengar segala keluh kesah adiknya yang terdengar sedang merasa sangat sedih dengan hal yang baru saja ia dengar dan informasi yang ia dapat bahwa Red sudah jadian dengan Jimmy.
"Kakak tidak bisa berbuat apapun. Sorry" kata Radan.
"Ok" kata Ran.
Obrolan dengan Ran berakhir.
Radan kembali menghubungi nomor yaitu nomor ponsel Presdir Ma.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif"
Itu yang terdengar dari ponsel orang yang ia hubungi saat ini.
Presdir Ma sedang ada didepan layar bersama dengan sekretaris pribadinya sedang mengamati sebuah pergerakan yang berubah ubah menghilang tiap waktu dan berbeda tempat.
Ponsel sengaja tidak ia angkat disaat Radan menghubungi nomornya.
Dia tahu ini akan terjadi jika Red bersama dengan Jimmy.
Sekretaris Presdir Ma segera pergi dengan teleportasi datang di kamar Jimmy.
"Ya ampun!" kata Jimmy.
Dia terkaget dengan kedatangan Presdir Ma.
"Putus dengan gadis itu" kata Sekretaris Presdir Ma.
"Tapi, ... " kata Jimmy.
Dia langsung menghilang dan pergi dari hadapan Jimmy.
Jika Sekretaris Presdir Ma bilang itu berarti Jimmy harus melakukan perintahnya. Sekretaris Presdir Ma sendiri sesuai perintah dari Presdir Ma yang menghubungi nomor ponsel Ran memberi informasi langsung tentang dua partner kerja mereka tentang perginya Hera dan kabar Red sekarang jadian dengan Jimmy.
"Apa kita terlalu dini memutuskan hal ini?" tanya Sekretaris Presdir Ma.
"Asmara mereka juga hanya pura pura" kata Presdir Ma.
Ini adalah salah satu cara agar Sima bisa merelakan kepergian Jimmy dengan cepat dan hal ini juga di setuju oleh Red dan Jimmy.
"Kita tahu Jimmy sedang membutuhkan banyak pengobatan. Bantuan gadis itu sudah lebih dari cukup" kata Presdir Ma.
Red mendapatkan misi baru lagi dan misinya adalah "Dia harus putus dari Jimmy"'.
Jimmy juga mendapatkan pesan yang sama secara berbarengan mendapat pesan misi ini.
Dia harus membalas iya dan itu harus dilakukan olehnya.
Jimmy membalas iya kepada Sekretaris Presdir Ma.
Pesan dikirim.
Pesan diterima.
Red membalas iya.
Pesan Red diterima oleh Sekretaris Presdir
Jamie datang dengan teleportasi.
Red sedang di ruang bermain game dan bermain musik.
Jamie berdiri didepan Red.
Dia sedang memperhatikan wajah temannya sedang menunjukkan kondisi yang tidak baik baik saja.
"Teman. Kenapa kau sedih?" tanya Jamie.
"Duduklah disampingku" kata Red.
"Aku tiba tiba merindukan teman ku ini dan ternyata benar kamu sedang membutuhkan ku" kata Jamie.
Jamie duduk disebelah kanan Red.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jamie.
"Aku akan tanya sesuatu padamu" kata Red.
"Tanya saja. Aku akan jawab" kata Jamie.
Jamie menunggu pertanyaan dari Red dengan antusias.
"Tidak jadi cerita" kata Red.
Jamie menunggu waktu lagi.
"Ok" kata Jamie.
Satu hari kemudian di pagi yang tidak begitu cerah.
Hujan cukup deras.
Jimmy turun dari mobilnya diantar oleh Driver rumahnya dan bukan bodyguard.
Red turun bersama Jamie dalam mobil yang sama.
Jamie bersama dengan Red dalam satu payung yang sama.
Jamie melihat di sisi lain depan gerbang sekolah ada Jimmy yang sedang melihat ke arah mereka.
Jimmy mendekat ke arah Red.
Gadis ini langsung kabur membawa payung yang ia pegang meninggalkan Red.
"Ada Jimmy disana!" kata Jamie.
Red melihat kemana Jamie menunjukan arah dimana Jimmy.
Red satu payung dengan Jimmy.
Keduanya saling memandang.
"Ayo kita masuk ke kelas" kata Jimmy.
"Ya" kata Red.
Berjalan berhati hati agar tidak terjatuh di pagi hari yang sedang hujan ini.
Keduanya belum bicara sampai separuh perjalanan menuju kelas.
Berhenti di tangga kelas.
Beriringan naik tangga menuju ke kelas semua belum dikatakan oleh Jimmy yang seharusnya ia cepat katakan.
Payung sudah ia tutup dari mulai akan menaiki anak tangga.
Saling menatap wajah keduanya.
Melanjutkan berjalan ke kelas.
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar" kata Jimmy.
"Ehmmm" kata Red.
Mereka berdua berdiri didepan balkon jelas memandang pepohonan didepan kelas sambil memikirkan apa yang harus dikatakan agar tidak menyakiti perasaan satu sama lain.
"Kita pasti tidak akan berteman seperti biasa" kata Jimmy.
"Kau mendapat pesan itu?" tanya Red.
"Ya. Kau pasti mendapatkan pesan itu juga" kata Jimmy.
"Ya" kata Red.
Jeda waktu sembilan detik.
"Bagaimana luka di bahu mu?" tanya Red.
"Semakin sembuh" kata Jimmy.
"Syukurlah" kata Red.
"Misi kita sudah selesai. Jadi, mungkin kita takkan seakrab ini lagi" kata Jimmy.
"Misi kita memang sudah selesai" kata Red.
"Baiklah. Ayo kita masuk ke kelas" kata Jimmy.
"Terimakasih" kata Red.
"Tidak apa apa" kata Jimmy.
Misi dari Presdir Ma sudah selesai mereka laksanakan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.
Perasaan sedih mencoba Jimmy sembunyikan dengan wajah keren seperti biasa dan untuk Red memastikan bahwa ia baik baik saja setelah kejadian ini.
Jimmy duduk di mejanya sendiri dan Red juga.
Red membuka tas dan mengambil satu kotak makanan berwarna abu abu dia pergi mendekat ke arah meja Jimmy.
"Aku buat ini untuk mu" kata Red.
Jimmy membuka tutup makanan dari Red.
"Puding stroberi?" tanya Jimmy.
"Ya" kata Red.
"Kau masih ingat makanan kesukaan ku?" tanya Jimmy.
"Aku membaca di buku diary ku" kata Red.
Jimmy agak tertunduk dan kemudian tersenyum kepada Red.
"Terimakasih sudah berusaha mengingat ku" kata Jimmy.
"Aku akan disini melihat mu makan" kata Red.
"Baiklah. Aku segera mencobanya" kata Jimmy.
Jimmy terlihat sangat senang dengan puding buatan dari Red. Dia sedang mencoba menyuapi Red juga dan ia menerimanya bukan seperti sepasang kekasih yang sedang mesra mesranya tapi terlihat mereka sebagai seorang sahabat sedang bersikap baik baik saja.
Keceriaan keduanya tidak bisa hilang nampak menyenangkan dilihat oleh beberapa teman kelas yang melihat ini.
Jun melewati kedua remaja ini yang sedang bercanda hangat.
Ben datang bersama dengan Good.
"Coba kulihat lukamu" kata Red.
Jimmy dengan mudahnya memperbolehkan Red melihat lukanya.
"Stop!" kata Ben.
Ben lebih seperti seorang kakak.
Satu kelas kaget dengan teriakan dari Ben.
"Apa?" tanya Jimmy.
Jimmy mulai membetulkan kancing seragam sekolahnya.
"Oh aku lupa. Ini tempat umum" kata Jimmy.
Jun memperhatikan sesuatu yang belum ia ketahui.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Red.
"Kekuatannya sudah mulai kembali" kata Jimmy.
"Benarkah!" kata Red.
Red mencubit kedua pipi Ben.
Suasana apa ini Jun makin terkejut dengan respon yang diberikan oleh Red untuk Ben.
"Hentikan itu" kata Jimmy.
Dia makan puding lagi.
Semakin membuat Jun curiga saja melihat keakraban Ben dengan Jimmy yang baru pertama kali ia melihat ini tanpa kepalsuan mereka berbincang bertiga seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.
Good menghampiri Jun.
"Jun, kenapa dengan anak itu?" tanya Good.
"Ini aneh dan kita harus menerima ini" kata Jun.
Marid datang dia langsung masuk kedalam kelas dan dia berkedip lagi.
Dia terdiam lagi.
Dia berkedip lagi.
Dia ada didalam kelas melihat Red dan Ben.
Berkedip lagi.
Dia berpindah tempat ke tempat terakhir ia bersama dengan Ben dan Jimmy menghilang berada di dimensi lain malam tadi.
Tak ada suara apapun.
Sudah pasti dia kaget juga bingung.
Dia dengan tas selempang hitam berkedip lagi.
Dia kembali di kelas menatap teman temannya.
"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin!" kata Marid.
Marid berlari secepat mungkin dari dalam kelas pergi keluar dari kelas kembali ke arah jalan yang sama dimana dia tadi akan masuk ke dalam kelas teman temannya.
Ben mengejar dan juga Jimmy.
Red juga mengejar.
Good akan pergi tapi di cegah oleh Jun.
"Biarkan mereka" kata Jun.
"Tapi" kata Good
"Kita tidak tahu permasalahan apa yang sebenarnya telah terjadi" kata Jun.
"Jika kamu pergi, aku tidak akan mengajarimu pelajaran lagi" kata Jun.
"Baiklah" kata Good.
Jun berdiri melihat keluar jendela kelas melihat mereka sedang berlari terlihat ke arah lapangan basket sekolah.
Di luar masih hujan dan mereka ada disana.
Jun menyilangkan kedua tangan diatas perutnya. Good duduk di kursi milik Red disana ikut mengamati apa yang terjadi dengan mereka.
Di lapangan basket sekolah.
"Kau kenapa lari?" tanya Ben.
"Tidak. Kalian bukan temanku!" kata Marid.
__ADS_1
"Kita teman mu!" kata Jimmy.
"Tidak mungkin" kata Marid.
Matanya berkedip lagi.
Semua berubah lagi, dia ada disana di dimensi yang berbeda dari dimensi yang ia anggap sebagai dimensi manusia.
Dalam situasi masih panik terlihat oleh Marid.
Matanya berkedip lagi.
Dia melihat ketiga temannya lagi.
Dia berada di lapangan sekolah lagi.
"Jangan mendekat!" kata Marid.
Marid mundur dua langkah dari ketiga temannya.
Jun sedang membaca situasi ini.
Berkedip lagi.
Ketiga temannya berada dalam dimensi yang sama di dimensi yang dianggap oleh Marid bukan dimensi manusia.
"Kalian lihat!" kata Marid.
Mereka terdiam.
Marid berkedip lagi matanya.
Mereka semua kembali di dimensi manusia.
"Jangan bergerak!" kata Jimmy.
Jantung mereka mulai berdetak kencang memperhatikan sekeliling mereka.
Jun melihat ini.
Dia langsung menggunakan teleportasi.
Berpindah tempat.
Waktu ia hentikan sementara dalam beberapa detik.
Jun datang.
Mereka semua menghilang dari hadapan Jun.
Hujan datang membasahi Jun yang ada disana tangannya tak bisa mencegah hal itu terjadi kepada teman temannya.
Semakin deras hujan.
Tatapan mata kosong Jun.
"Apa yang sedang aku lakukan?" tanya Jun.
Tubuhnya merasakan seseorang kembali ada disaat seperti ini. Separuh raga merasakan energi seperti cahaya putih ia rasakan matanya berubah memutuh.
"Semua bukan salah mu" kata Doe.
"Kau dengar bocah!" kata Doe.
Jun berjalan berbalik pergi meninggalkan lapangan basket sekolah pergi dengan jalan seperti tak bersemangat sekali.
Waktu kembali berjalan lagi.
Jun berjalan menuju kelas.
"Selamat datang kembali" kata Jun.
"Kau seperti akan mati saja!" kata Doe.
Doe hantu yang ada didalam Jun berteriak.
"Tidak perlu berteriak. Aku dengar" kata Jun.
Red menarik baju Ben dan dia mulai mendekat kepada Ben.
"Dimana ini?" tanya Red.
"Kita kembali lagi di tempat ini" kata Jimmy.
"Maksudmu?" tanya Marid.
"Kau benar benar lupa" kata Jimmy.
Red menghilang dihadapan mereka.
"Reddddddddddd!" kata Jimmy.
Benar benar menghilang tanpa jejak dalam dimensi ini itulah yang mereka tangkap.
"Srksrkrksksrkrkrkrkrk"
Suara itu datang dalam atmosfer yang tenang.
Semua sedang dalam mode waspada melihat ke semua arah.
Jimmy menghitung energi dirinya sekaligus kedua temannya.
"Cukup untuk kita bertahan hidup" kata Jimmy.
"Kau sudah menghitung energi kita?" tanya Ben.
"Kita bisa selamat jika beruntung" kata Jimmy.
Dia datang lebih brutal lagi dia dengan cepat menyelinap ke arah Marid dan melewatinya dan berhenti.
Darah jatuh diatas aspal.
Darah keluar dari kedua lengan Marid.
Dia baru merasakan disaat darah itu mulai berjatuhan dari sayatan sayatan yang ia dapat menembus seragam menyebar.
Sakit.
Sudah pasti, dia menghela napas.
Jimmy dan Ben bahkan tak merasakan kehadiran dari makhluk yang sudah menyerang Marid.
Marid berusaha tetap tenang dalam situasi ini.
Jimmy dan Ben akan mendekat perlahan kepada Marid.
Langsung kabut hitam tebal itu datang menyelinap diantara kaki mereka.
Benteng pelindung dengan cepat mencegah makhluk itu melukai kaki mereka.
Ben segera membagi energi penyembuh kepada Marid. Jimmy membangun energi pelindung untuk mereka dengan sangat cepat dan meningkatkan level kekuatan mereka.
Debu putih jatuh dari langit dalam atmosfer yang tenang lembut seperti salju. Namun, tidak itu bukan salju. Itu adalah sebuah senjata tajam yang terlihat lembutnya namun sangat berbahaya mereka sedang diam diam menempel energi pelindung yang telah dibangun oleh Jimmy.
Lembut jatuh diatasnya dan ketika menempel seperti kekuatan yang amat hebat menekan dan menekan berusaha menembus dengan buas.
"Drddrdrdrdrdrdrdrdrdrdrdddd"
Suara getaran terdengar.
Energi pelindung milik Jimmy terus di tekan oleh benda benda itu mengubah energi yang dimiliki oleh Jimmy menjadi memerah.
"Aku sudah selesai" kata Ben.
Marid sudah disembuhkan oleh Ben.
Energi yang dimiliki oleh Ben berkurang dua persen.
"Energi mu berkurang dua persen" kata Jimmy.
Ben langsung meningkatkan energinya lagi menjadi penuh kembali.
Jimmy tertawa kecil melihat Ben.
"Terimakasih" kata Marid.
"Kau harus bersiap" kata Ben.
Dari sana dia melihat lagi kabut tebal itu datang kembali.
Terbang zig zag.
__ADS_1
Tanpa suara menyebar mengurung ketiga remaja ini.
Semua tampak gelap.