
Chapter 17: Katanya, Bumi itu luas.
Pagi sekitar pukul satu lebih lima belas menit.
Dirumah sendirian selain Jimmy disana dia sedang bermain lampu kamar yang ada diatas meja kecil abu-abu sebelah kiri kamar tidur. Tirai putih dan cat kamar dinding abu abu sedikit lebih gelap.
Dia bangun di pukul satu pagi tadi dan mencoba untuk tertidur lagi.
"Tak semudah itu, Jimmy!" kata Jimmy berbicara sendiri.
Security yang berjaga di depan rumah menghubungi bosnya yang ada di dalam rumah melalui ponsel.
"Ya. Kenapa ada tamu malam malam begini?" tanya Jimmy.
"Mereka tak mungkin mencariku. Aku tidak percaya" kata Jimmy.
"Baiklah. Bilang ke mereka saya akan segera turun!" kata Jimmy membuka selimut hitam tebalnya lalu mencari slipper coklat alas kakinya.
Celana rumah hitam pendek dan kaos ungu dan slipper coklat. Jimmy turun dari kamarnya yang berlantai tiga.
Jimmy tahu jika kedua orangtuanya tahu dia berurusan lagi dengan pihak kepolisian ini akan benar merugikan masa depannya.
Jimmy dengan pakaian seadanya ikut pergi ke kantor polisi disana sebagai saksi.
"Aku juga malas bertemu pengacara Ayah lagi" kata Jimmy duduk di kursi kantor polisi.
Dia sedang mendapat banyak pertanyaan dari salah satu polisi disana. Dia didampingi Pengacara keluarga.
Raut wajah Jimmy benar-benar sudah siap bahwa Ayahnya benar-benar akan murka lagi.
Disisi lain saat ia diberitahu tentang kematian seseorang dan orang itu adalah temannya sendiri yaitu Bek. Dia tak menyangka akan mendapat berita ini.
"Pantas saja dihubungi tak pernah menjawab" kata Jimmy dalam pikiran.
Jimmy lega setelah ia selesai diberi banyak pertanyaan akhirnya dia masih sebagai saksi.
Jenazah Bek yang tadi ditemukan sedang menjalani otopsi di rumah sakit. Jimmy masih harus menunggu hasil otopsi temannya tersebut.
"Besok hari minggu. Apa Ge perlu ku jenguk?" tanya Jimmy yang tiba-tiba teringat kawannya itu.
"Lihat wajah ku ini. Tak bisa kencan dengan siapapun" kata Jimmy mengeluh.
Di dalam mobil ia bersebelahan dengan sekretaris keluarganya yang tak berbicara apapun kecuali dalam tugasnya.
Dirumah sakit.
Jimmy hanya ada dia dan Sew teman Ge yang menjaga dia selama beberapa hari mengalami koma.
"Sudah ku duga. Untuk apa aku repot-repot menghubungi orang tuanya kalau sudah tahu akan begini" kata Jimmy.
Jimmy melihatnya, melihat temannya sedang mengalami kelumpuhan separuh tubuhnya.
"Apa kau akan mati?" tanya Jimmy.
"Oh ya, aku lupa kau sedang sakit. Jadi, sulit berbicara denganku. Sorry" kata Jimmy.
Jimmy menaruh buah buahan segar diatas meja ruang rawat Ge yang ada di depan tempat tidur Ge berjarak satu meter.
"Kau terus disini setelah aku pergi?" tanya Jimmy pada Sew.
"Aku menunggu orang tuanya tapi mereka belum datang" kata Sew.
"Mereka akan datang. Tapi kau kemari sepulang bekerja kan itu terlihat sangat tulus sekali" kata Jimmy.
"Aku hanya bertindak sepantasnya terhadap teman sendiri" kata Sew.
"Aku sebal sekali dengan wanita jelek ini" kata Jimmy berbicara dalam isi pikirannya.
"Kau bisa bicara kan, Ge. Aku ingin bicara berdua dengan mu" kata Jimmy pada Ge.
"Aku akan pergi. Kalian bisa bicara berdua" kata Sew pergi dengan tas coklat selempang pendek.
Jimmy yang iseng terus mengajak bicara Ge yang sedang kesakitan diatas tempat tidur.
"Jangan berpura-pura. Bicaralah, meski terbata-bata. Ayo bicara" kata Jimmy.
Dengan tenaga seadanya dia meladeni sifat Jimmy yang menjengkelkan ini.
"Kenapa kau hubungi wanita aneh itu kemari?" tanya Ge bersusah payah bicara.
"Aku sudah tahu kau tak mungkin berteman dengan wanita sejelek itu. Apa dia kaya?" tanya Jimmy.
"Tidak. Tapi bodoh" kata Ge.
"Kau sudah hilang akal. Padahal selama koma, dia merawatmu" kata Jimmy.
"Aku tidak mungkin mau berteman dengan wanita sejelek itu" kata Ge.
Obrolan mereka langsung menyadarkan Sew yang masih ada berdiri dibalik dinding ruang rawat Ge. Dia mendengar dengan jelas isi obrolan mereka.
Dia langsung kembali ke ruang rawat Ge untuk mengambil barang barang miliknya yang masih didalam sana. Lalu, pergi tanpa harus berpamitan dengan Ge apalagi Jimmy orang yang baru ia kenal.
Kecewa dan sangat malu itulah yang Sew rasakan saat ini.
"Aku takkan pernah mau mengenal orang semacam Ge lagi" kata Sew beranjak pergi dengan cepat meninggalkan rumah sakit.
Bodyguard Jimmy menjadi saksi betapa menyebalkan bos mudanya itu. Dia melihat wanita yang baru keluar dari ruang rawat Ge seperti sedang menangis berlalu pergi dari bangsal rumah sakit. Bodyguard Jimmy kembali membaca buku pengantar kriminologi yang ia bawa dan simpan di tas selempang kecilnya.
Langit yang cerah siswa yang saling berinteraksi dengan teman teman mereka bermain di lapangan sekolah suasana kali ini terbilang cukup ramai. Seseorang sedang duduk didalam kelas di dekat kaca jendela sedang terus memperhatikan targetnya sebuah jalan pikir kenaifan seseorang menyukai seseorang tanpa alasan yang jelas. Apakah akhir dari keputusan ini?.
Hera tak tahu kenapa ia begitu tertarik dengan gadis di depannya itu gadis yang terus menerus menatap Jimmy dari arah jendela kelasnya. Hera duduk lebih dekat dengan kaca jendela tepat didepan Bee.
"Ajak bicara Jun" kata Bling merayu Red agar mau berbaikan dengan Jun.
"Kami tak pernah bertengkar. Apa yang harus didamaikan" kata Red.
__ADS_1
"Hey. Kalian ini" kata Bling.
Dari banyaknya siswa dan siswi disana Jimmy sedang bertugas mengumpulkan sampah sampah di lapangan sekolah yang tidak terlalu banyak. Semua tahu siapa Jimmy bahkan dia tak pernah melakukan hal ini seumur hidupnya. Dia dengan sifat pemarahnya membersihkan hampir seluruh lapangan sepakbola sekolah.
Bling merasakan bahwa Jun sedang tidak baik baik saja meski jaraknya hampir dua puluh meter dari tempat ia berdiri disisi Red. Red tak menyadari hal ini karena kondisi begitu ramai dengan anak anak yang berlalu lalang disana.
"Ini cukup berbahaya" kata Bling.
Bling terpaksa masuk kembali ke raga Red dengan cepat dan berlari ke arah Jun.
Dia yang ada di depan remaja itu bukan Jun dalam kuasanya sepenuhnya. Saat tangan Red menyentuh pergelangan tangan Jun mencegahnya melakukan hal buruk itu. Dia yang ada di dalam tubuh Jun terdengar berteriak kesakitan ingin segera pergi.
"Berhenti ikut campur dalam urusanku" kata Hantu yang menggunakan tubuh Jun.
"Sudah ku duga. Itu kau pergilah dari tubuh itu!" kata Bling.
"Kau siapa berani menyuruhku?!" teriak hantu itu.
Hantu itu tetap di dalam raga Jun meski jelas ia sedang menderita.
Jimmy berbalik arah melihat kejadian ini di depan matanya sendiri.
Semua peralatan yang ia bawa untuk membersihkan lapangan terjatuh.
Jun membawa pisau lipat ditangan siap menusuk siapa yang ia kehendaki dan Red sedang menahan pisau itu dengan tangannya.
Itu yang terlihat oleh Jimmy.
Darah bercucuran dari tangan Red akibat menahan pisau yang akan digunakan untuk melukai Jimmy.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jimmy mencoba mengakhiri ini.
Bee melihat ketiga temannya hanya sedang bertengkar dari dalam kelas tanpa ia tahu tragedi apa yang sedang terjadi.
Pisau itu terlepas sendiri dari tangan Jun.
Hantu itu keluar dari tubuh Jun dan Bling masih didalam raga Red. Kali ini wajah Red tak berubah ketika dirasuki oleh Bling tidak seperti sebelumnya.
"Apa yang kulakukan. Tangan mu berdarah?" tanya Jun dalam kebingungan.
Jimmy mencoba membawa Red pergi menjauh dari Jun. Jimmy berhasil membawa Red menjauh darinya kemudian membawa Red ke ruang perawatan kesehatan di sekolah.
Pisau itu Jun bawa pergi dan menutupi dengan jaket birunya yang ia lepas dan pergi meninggalkan lapangan sebelum semua orang orang tahu.
Di ruang rawat kesehatan sekolah.
"Ini hanya kecelakaan. Dia tak bersalah" kata Red masih dirasuki oleh Bling.
Jimmy ditinggalkan oleh Red. Jimmy masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Red barusan dan Jimmy terlihat tidak curiga bahwa sebenarnya ia akan ditikam oleh hantu itu.
Bling keluar dari tubuh Red.
"Dimana Jun?" tanya Red.
Dia pergi mencari Jun yang pergi entah kemana.
Jam istirahat sudah berakhir semua kembali ke kelas mereka termasuk Red.
Kursi tempat duduk Jun kosong dengan tasnya yang masih disana.
Red menghubungi Jun. Dia tak mengangkat panggilan dari Red.
Jam sekolah berakhir dan Jun belum kembali.
Jimmy datang menemui Red
"Tanganmu pasti masih sakit" kata Jimmy.
"Wajah mu jauh lebih sakit dari kondisi ku" kata Red.
"Kalau seperti ini. Aku sudah terbiasa, kau sudah tahu itu" kata Jimmy.
"Aku akan membawa tas milik Jun. Kau tidak pulang?" tanya Red mengambil tas milik Jun.
"Kau ku antar?" tanya Jimmy.
"Kau tidak lihat. Banyak dari mereka melihat ini?" tanya Red.
Sammy dengan jelas menatap kepada Jimmy menunggu apalagi tindakan Jimmy pada Red untuk merayunya.
"Untuk apa aku peduli dengan Sammy. Kita berdua sudah putus" kata Jimmy.
"Red. Ayo kita pulang bareng" ajak Ben.
Jimmy menerima panggilan dari pihak kepolisian.
Red terlepas dari cengkeraman Jimmy.
"Kau ku antar sampai ketempat kerja mu" kata Ben.
"Bisakah kita menemukan Jun?" tanya Red pada Ben.
"Dia akan baik-baik saja. Percaya saja" kata Ben.
"Biar aku saja yang membawa tas milik Jun" kata Good.
Sammy berjalan beriringan dengan Red sedangkan Ben dan Good di belakang mereka berdua keluar dari kelas.
"Lihat. Luka ini. Pasti sakit" kata Sammy.
"Kau jauh lebih hebat dariku" kata Red kepada Sammy.
Sammy memiliki luka di wajah sisa berkelahi kemarin dengan alasan dia baru saja terjatuh dari motor jika ada yang menanyakan hal ini.
Bling dan Hera ada di depan pintu kelas dan belum pergi dari sana terus memperhatikan mereka pergi keluar kelas.
__ADS_1
"Dimana Jun pergi?" tanya Hera.
"Aku tahu dan aku takkan memberitahukan mu" kata Bling.
"Ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Hera.
"Tak ada" Jawab Bling.
"Jangan sampai kau menyukai salah satu dari teman gadis itu" kata Hera menasehati.
"Aku masih ingat nasehat itu. Kau selalu mengulanginya lagi" kata Bling.
"Karena mencintai itu melelahkan" kata Hera.
"Sekarang tak apa kau bicara hal pribadi padaku?" tanya Bling.
"Aku tak peduli. Aku sudah menjadi hantu dunia mereka sudah berbeda dengan dunia kita" kata Hera.
"Apa aku salah dengar" kata Bling.
Keduanya berjalan santai meninggalkan kelas kelas.
"Malam ini kita makan malam dimana?" tanya Bling.
"Di cafe baru dekat pantai kota ini. Bagaimana?" tanya Hera.
"Ayo kita pergi!" kata Bling.
Jimmy sedang di pemakaman temannya. Bek.
Ada banyak keluarganya yang memberikan bunga diatas nisan temannya itu. Jimmy mendapat kabar ini dari pengacara Ayahnya bahwa Bek meninggal sendirian didalam rumahnya sendiri karena sakit.
Jimmy masih memakai seragam sekolah menaruh satu buket bunga untuk Bek.
"Mungkin jika kemarin aku datang lebih awal. Kau pasti masih hidup saat ini" kata Jimmy.
Jun juga ada di area pemakaman itu lima belas menit lebih awal dari Jimmy datang kesana.
Jun datang di makam Bling.
"Baru kali ini aku datang lagi" kata Jun.
Pulang dari sana Jun dan Jimmy bertemu.
"Astaga!" kata Jimmy.
"Red tadi mencarimu" kata Jimmy.
Jun tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Jimmy kepadanya. Dia pergi meninggalkan Jimmy.
"Lihat anak orang kaya itu!" kata Jimmy.
Jun menjawab, dan berkata "Aku memang anak orang kaya, kau juga kan".
Jun lalu segera pergi tak mau berlama-lama dia harus pergi bekerja.
"Kau ingin aku bertanya apa?" tanya Ran pada Red.
"Apa aku tidak baik baik saja. Aku selalu baik baik saja" kata Red.
"Berapa sisa waktu untuk mu?" tanya Ran.
"Masih sangat banyak tapi orang lain selalu memaksa menguranginya" kata Red.
"Kau terlihat paham dengan kondisi itu" kata Ran.
"Aku iri padamu. Kau tumbuh dengan sangat cepat" kata Red.
"Aku harus memberi nasehat apa. Aku tak tahu bagaimana yang kamu rasakan" kata Ran.
"Kadang aku bersemangat sekali menjalani hidup ini. Tapi, kadang tidak. Terlihat tak konsisten menjalani hidup" kata Red.
"Kau menganggap hidupmu selalu gagal. Ku rasa tidak, buang pikiran dangkal seperti itu" kata Ran.
"Sepertinya arah pembicaraan kita semakin tak jelas" kata Red.
"Yang jelas. Kau sedang bekerja sendirian ditempat ini. Kau mampu?" tanya Ran.
"Kau jangan pergi. Aku sangat membutuhkanmu" kata Red.
"Kata kata yang kau keluarkan terdengar ambigu" kata Ran.
"Kau akan terbiasa membuat makanan ini. Jika sering membantuku" kata Red.
"Aku percaya kau takkan menipuku" kata Ran.
Sore hingga malam Red bekerja akan dibantu oleh Ran menjaga toko dengan segala macam aktivitas. Teman kerja Red tidak masuk hari ini dengan alasan sedang menikah.
"Kau tidak tahu dia akan menikah?" tanya Ran.
"Aku akan memberi hadiah saat kita bertemu nanti. Dia bukan berasal dari kota ini" kata Red.
"Oh ya dan lagi aku baru bertemu dengannya karena pergantian karyawan di tiap tiap cabang toko ini" kata Red.
"Gaya obrolan kita seperti orang dewasa saja" kata Ran.
Cucu Pemilik Toko Makan Sehat tak bisa berpikir dengan orang yang baru pergi dari toko Neneknya.
"Apa kau akan baik baik saja jika aku mengatakan kau harus berhenti bekerja disini?" tanya Cucu pemilik toko.
"Mereka sudah datang?" tanya Jun.
"Kau sudah menduga ini akan terjadi?" tanya Cucunya pemilik toko.
"Maafkan aku telah merepotkan Nenek dan kakak?" kata Jun.
__ADS_1
Jun berhenti bekerja disana dengan alasan jika ia tetap disana seluruh toko milik Nenek akan dibeli semua oleh Ayahnya Jun.