
Chapter 31: Apa alasanmu melakukan semua itu?.
Jimmy kembali untuk menemui Sammy dan Ge yang ada didalam ruangan pasien.
Sammy masih bingung dengan apa yang ia alami.
"Kenapa aku disini?"
"Untuk apa aku disini?"
"Dia siapa?"
Pertanyaan pertanyaan muncul lebih dari itu ia utarakan pada Jimmy.
Jimmy berada dalam alam sadar, ikut bingung. Kenapa sikap Sammy berubah kembali, seperti sebelumnya membenci mantan kekasihnya itu.
Ge hampir saja kehilangan nyawanya. Dia masih dalam diam belum menceritakan kejadian tadi bisa jadi dia lebih memilih tidak menceritakan apa yang baru saja Sammy lakukan padanya.
Ge melihat wajah itu lagi, dia ketakutan sendiri dalam sakitnya.
Sammy duduk di kursi ruang rawat Ge memegang kepalanya dengan kedua tangan menunduk searah tiga puluh derajat ia duduk disana. Pucat seperti ketakutan.
Jimmy mendekat ke arah Sammy.
Gadis ini memberi jarak kepada mantan kekasihnya saat ia mempersilahkan Sammy untuk bersandar di bahunya.
Sammy masih dalam kondisi kacau.
Sammy berdiri akan meninggalkan ruangan tersebut.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Jimmy.
"Aku ingin keluar dari sini" jawab Sammy.
"Ada apa dengan mu sekarang?" tanya Jimmy.
"Aku sedang tidak baik baik saja. Kau bisa lihat kan?" tanya Sammy.
"Tapi tadi kau baik baik saja sebelumnya" kata Jimmy.
"Aku juga tidak tahu alasan apa hingga aku bisa disini bersama dengan mu" kata Sammy merapikan rambutnya yang sedikit acak acakan.
"Jelaskan. Apa maksudmu?" tanya Jimmy masih juga tidak paham denga apa yang Sammy katakan.
"Apa yang harus ku jelaskan. Sedangkan, aku juga masih dalam kebingungan sendiri" kata Sammy.
Dia mengambil tas ransel kotak kuningnya yang ada di sofa ruangan tersebut.
Kemudian, tak butuh waktu lama Sammy memutuskan untuk pergi dari ruang rawat Ge meninggalkan Jimmy yang mencoba mendapatkan kepercayaan lagi dari mantan kekasihnya itu.
Sammy menutup pintu ruang rawat Ge.
Diluar ruangan tersebut ternyata ada bodyguard Jimmy.
"Ada sesuatu yang harus aku perhitungkan dengan Jimmy" Dan tak bisa tinggal diam dengan kejadian ini.
Tentu saja dia memang dipekerjakan oleh Ayahnya Jimmy untuk menjaganya tapi jika bos mudanya itu telah bertindak diluar batas dia tidak bisa diam saja.
Dan membiarkan Sammy berjalan keluar dari ruangan itu dan bergerak pergi melewati Dan yang sedang membaca buku di kursi tunggu yang berjejer dekat ruangan tersebut.
Dan membuka pintu ruang rawat Ge.
"Keluar sebentar!" kata Dan terlihat lebih serius saat ini.
Jimmy masih dengan keangkuhannya seperti biasa.
"Dengar tidak. Keluar!" kata Dan suaranya lebih tegas lagi.
Jimmy masih belum menghiraukan bodyguard pribadinya itu.
Dan mendapat perlakuan ini, dan kali ini dia terlihat marah. Jimmy diseret keluar dari ruangan itu oleh Dan keluar dengan cukup menakutkan. Bodyguard itu menarik paksa dengan kerah baju yang ia tarik dengan cepat dan tak segan ia mencekik bos mudanya itu keluar dari tempat itu.
"Kau tidak bertindak aneh aneh pada gadis tadi kan?" tanya Dan berbicara di telinga Jimmy.
Dan terlihat ingin sekali menghabisi Jimmy.
"Kau tidak bisa berbuat apa apa. Kau hanya bawahanku" Jimmy tertawa mengatakan ini pada Dan.
Dan lebih emosi lagi kepada Jimmy.
"Jawab saja. Kau tidak bertindak jahat pada gadis tadi kan?" tanya Dan kali ini ia tak main main dengan ucapannya.
Jimmy belum membuka mulutnya.
"Aku tidak perlu menghajar mu kan, agar kau mau berkata jujur. Hah?" tanya Dan kembali.
"Hajar saja aku" Jimmy membuat Dan marah.
"Kau pasti tidak tahu. Jika kau menyakiti gadis itu, hidupmu akan berakhir fatal" kata Dan memberi Jimmy petunjuk.
"Apa yang kau rencanakan bersama Ayahku?" tanya Jimmy.
"Jawab saja pertanyaan dari ku!" kata Dan mendorong tubuh Jimmy ke lantai hingga wajah menyentuh lantai.
"Lepaskan aku!" Teriak Jimmy.
"Aku mohon lepaskan aku!" kata Jimmy.
"Jika itu yang kau ingin. Katakan, apa yang kau perbuat dengan gadis tadi?" tanya Dan.
Jimmy sudah merasa bodyguard nya bukanlah lawannya.
"Baik. Lepaskan aku. Aku akan ceritakan padamu" kata Jimmy.
Jimmy berhasil selamat dari tindakan disiplin yang diberikan dari bodyguard pribadinya itu.
Dia mengambil napas kembali duduk dibawah lantai bersandar di dinding ruang rawat Ge.
"Aku tak melakukan apapun pada Sammy" jawab Jimmy.
"Bagaimana dengan temanmu itu?" tanya Dan masih belum percaya.
"Apalagi dia. Bicara saja sudah sulit" kata Jimmy menerangkan.
"Jika dia mau denganku?" tanya Jimmy.
"Kau harus menikahinya atau kau bisa di bui dengan mudah" kata Dan kesal.
Jimmy tertawa mendengar jawaban dari bodyguard nya itu.
"Bagaimana dengan gadis lain?" tanya Jimmy.
"Itu berlaku untuk semua gadis yang kau dekati" kata Dan.
Jimmy lebih tertawa lepas mendengar kata kata itu.
Dibalik dinding dia keluar menembus tembok itu. Sosok bergaun hitam lusuh. Dia yang berambut panjang wajah bernanah merah mata yang hampir terlepas akibat nanah yang menggerogoti belum menyerah hantu itu.
Gaun lusuh itu terbawa angin lembut memberi kesan menakutkan tak menapak di tanah disana ditempat ia masih berdiri mendengar percakapan dua pemuda didepan ruangan itu.
Hantu itu keluar dari tubuh Sammy saat raga Sammy menolak untuk melenyapkan Ge. Dia kembali bisa mengendalikan raganya yang sejak tadi dikuasai oleh hantu itu.
"Aku akan datang lagi" kata Hantu itu tak memberikan senyum atau bahkan tawa.
__ADS_1
Menghilang dari sana, hantu itu.
Sammy ada di ruang awal masuk rumah sakit bersama banyak orang disana duduk di kursi yang berjajar dengan segala kepentingan mereka ada datang dirumah sakit.
Sammy memandang ke atas.
"Apakah aku akan membunuh orang?" berbicara Sammy dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak percaya aku akan melakukan itu" kata Sammy lagi.
Detik waktu jarum jam di dinding ruang tempat Sammy duduk saat ini terus berputar terdengar saat itu meski banyak orang, seorang gadis sedang terus memperhatikan jam di dinding di depannya.
"Aku tidak bisa sendiri. Aku juga tak ingin melukai orang lain" kata Sammy.
"Aku takut. Takut sekali" kata Sammy.
Ia tertunduk kebawah.
Berpikir harus apa bagaimana ia mengatasi masalah yang baru ia alami itu.
"Jika aku bercerita kepada orang lain. Aku takkan lakukan itu, aku takut salah memilih tempat untuk menceritakan kisah ku"
Sammy menjadi overthinking.
Dari arah pintu masuk menuju bangsal rumah sakit keluar dari pintu tersebut.
Memastikan bahwa yang dia lihat adalah benar itu adalah Sammy. Dia disana berjarak tiga meter dari pintu masuk menuju bangsal tadi.
"Dia benar Sammy"
Dia mendekat kepada Sammy, duduk di sebelahnya.
"Apa kau sudah ingin bicara dengan ku?" tanya Ben.
"Ambil ini" kata Ben lagi.
Sammy menerima sapu tangan dari Ben. Mengusap wajahnya.
"Aku tahu kau sedang tidak menangis. Kamu ingin aku membelikan permen kesukaan mu?" tanya Ben.
Ben pergi ke mini market dekat rumah sakit untuk membeli permen kesukaan Sammy.
Lima menit kemudian.
"Aku kira kau akan takut denganku" kata Sammy.
"Kau bicara apa?" tanya Ben senyum tulus ia berikan kepada Sammy.
"Permen itu untuk ku?" tanya Sammy.
"Tentu. Aku juga membeli camilan lain untuk mu" kata Ben.
"Makasih. Mantan ku" kata Sammy tersenyum kembali.
"Setidaknya, kau mau menganggapku sebagai mantan" kata Ben.
"Maaf. Aku pernah berbohong dengan orang baik seperti Ben" kata Sammy.
"Jangan meminta maaf. Kau bisa meminta ku untuk menjadi temanmu. Aku menunggu itu" kata Ben.
"Aku tidak salah memilih mu menjadi teman" kata Sammy.
"Semoga saja" kata Ben.
Ben dan Sammy tertawa bersama.
Sammy membuka bungkus permen.
"Ini untuk ku sendiri" kata Sammy satu permen dari Ben.
Selalu berpura-pura selalu dan selalu baik baik saja dengan kedekatan Ben dan Sammy.
"Kau cantik Bee"
"Kau juga pintar"
"Kau seharusnya lebih memahami gadis itu"
"Kau seharusnya bisa mengalah. Itulah rasa syukur mu"
"Ini lucu sekali, aku iri hanya dengan sekotak permen"
"Aku tidak apa apa"
"Aku masih sangat muda"
"Aku baik baik saja"
"Sungguh aku baik baik saja tanpanya"
"Tapi, aku sudah terbiasa dengan orang itu"
"Orang itu sudah ku anggap lebih dari kakak"
"Dan sekarang kakak ku akan perlahan pergi"
"Aku yakin akan terbiasa dengan itu"
Bee memilih tak keluar dari pintu itu dan dia dalam kenangan dan dia masih dalam kenangan.
Sammy juga ada disana bersikap apa yang ia tunjukkan tak sepenuhnya ia tunjukkan.
Apakah semudah itu ia melupakan kejadian menakutkan tadi. Tentu tidak semudah itu.
Dia berbalut senyum cantik ia perlihatkan kepada Ben setidaknya ia masih berusaha menghargai Ben yang ada disana hanya ada Sammy.
Sammy yang harus tetap berjuang dengan segala tekanan hidup yang tak bisa ia ceritakan segalanya. Itu tidak terlalu penting dan yang ia butuhkan bukanlah sebuah pengakuan emosi sesaat.
"Matamu bahkan tak bisa menutupi segala rasa lelah mu menjalani hidup sampai sekarang"
"Berapa lama kau sudah tahu bahwa percaya sulit mendapat sebuah kenyataan yang nyata"
"Ada kalanya bohong mu juga bisa melindungi mu"
"Mereka yang tak bisa memahami mu"
"Jangan pedulikan itu. Kamu adalah prioritas utama mu"
Hera sejak Sammy pulang sekolah dia mengikuti gadis ini karena ia sadar raganya sedang dipinjam oleh hantu.
Hera dengan satu cup kopi espresso yang ia bawa menemaninya disaat waktu begadang tiba.
Ya malam ini dia harus begadang menemani gadis yang bernama Sammy.
"Aku harap gadis tadi tidak mencoba menjadi jahat saat melihat kedua remaja ini"
Yang Hera maksud adalah Bee.
"Ben memang baik dan dia terlalu lama terbiasa dengan segala kebaikan remaja laki laki ini"
"Jika aku masih hidup dan menjadi gadis itu. Aku juga pasti sedih"
Banyak pertanyaan akan muncul oleh Bee tentang kenapa bukan aku saja, kenapa harus dia, seharusnya aku.
__ADS_1
"Kita benar tak bisa bersama?"
"Itu pasti yang ada di isi kepala gadis itu.
Hera masih memikirkan Bee.
"Cinta anak muda bukankah ini belum saatnya"
"Terlalu rumit jika terjadi pada orang dewasa"
"Dia harus belajar untuk mengatakan say good bye, bukan?"
Hera tidak sendiri.
"Kenapa kau kemari?" tanya seorang hantu pria.
"Aku sedang membahas percintaan orang lain" kata Hera pada hantu lain yang juga disana.
"Percintaan orang lain. Bagaimana bisa, kau hantu yang minim pengetahuan tentang cinta?" tanya hantu itu.
"Aku harus bagaimana. Tetap diam saja?" tanya Hera mulai kesal.
"Aku baru tahu ada hantu yang cepat emosi" kata hantu pria itu
"Kau sendiri sedang apa disini?" tanya Hera.
"Aku sedang iseng saja bermain disini" jawab si hantu.
"Sepertinya kau sedang tidak ada kerjaan?" tanya Hera menghadap Si Hantu Pria.
"Aku sangat bosan sekali dengan hidupku" kata Si Hantu Pria.
"Jangan katakan itu. Jika kau ingin tetap selamat" kata Hera.
"Kau sedang menasehati ku?" tanya Si Hantu Pria.
"Tidak. Itu pengalamanku sendiri" kata Hera.
Hening saling menatap tajam tanpa kata.
Dua menit berlalu.
"Bawa pergi gadis ini!" Kata Si Hantu Pria.
"Siapa yang ku ajak bicara ini. Bukan yang kukenal?" tanya Hera.
"Bukankah sudah ku bilang. Aku sedang bosan saja" kata Si Hantu Pria.
"Ok. Doe" kata terakhir saat ini yang Hera katakan untuk Doe.
Hera masuk ke raga Sammy dan membawa masuk gadis itu menemui Ayahnya.
Itulah rencananya.
"Sayang. Maaf kakak terlambat"
Flow datang menyapa Sammy.
Sammy terdiam menghentikan langkah kaki.
Hera melepaskan raga Sammy, ia keluar dari tubuhnya.
"Sammy!" Flow memanggilnya lagi.
Lagi, Sammy sedang berusaha beradaptasi dengan semua ini dengan sangat cepat.
Dia hampir saja tak bisa berdiri tegak dihadapan Flow dan disisi Ben. Dia bertahan tanpa ada apapun yang terjadi padanya.
Hera menyilangkan kedua tangannya.
"Doe kau lihat dia. Dia melihat ku tapi selalu berpura-pura tak melihat ku sama sekali" kata Hera.
"Dia sangat cantik" kata Doe.
Doe beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Apa dia bisa ikut denganku?" tanya Doe.
"Jangan macam macam dengannya" kata Hera.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Doe.
Hantu ini merasa tertantang oleh kata kata Hera.
Pandangan Sammy mulai mengabur.
"Kau tidak tahu pria yang mulai menyukainya memiliki energi positif yang seketika bisa menghancurkan mu" kata Hera.
"Tak peduli, dia harus menjadi wanita ku"
"Terserahlah. Aku akan membawa Sammy dan Flow pergi dari sini"
Berapa waktu yang mereka rebutkan dalam pertengkaran kecil ini.
Mereka semua sudah pergi dari mereka.
"Aku lelah dengan kita" kata Hera.
Pukul berapa ini, ini pukul setengah delapan malam.
Seorang gadis ada disana sendirian dalam ketakutan.
Dia tak bisa lari.
Mulutnya terbungkam oleh hal tidak mengerti.
Apa karena dia harus terus menerima misi itu.
Apakah dia harus menyerah, terlalu dini.
Semua ini baru ia mulai.
Mengakui bahwa dia tidak melakukan kesalahan, dia lupa bahwa hantu yang datang padanya juga berhak dengan jalan hidupnya.
"Hancurkan aku. Kau bisa melakukan itu"
"Lakukan sekarang!"
"Kenapa kau diam saja?"
"Kau seharusnya tak takut denganku"
"Kau masih punya banyak waktu. Tidak"
"Aku sudah datang sendiri. Ayo hancurkan aku"
"Kau takut"
"Benarkah kau takut?"
Hantu itu terus menanyakan banyak hal pada Red.
Dia ada di lantai menatap tajam hantu bergaun hitam di depannya itu.
__ADS_1
"Apa alasanmu melakukan semua itu?" tanya Red.