Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 106: Sebelum itu terjadi.


__ADS_3

Chapter 106: Sebelum itu terjadi.


"Mau sup ayam, daging sapi atau kambing?" tanya Sima.


"Kamu sedang promosi restoran baru mu?" tanya Wayne.


"Iya. Kamu mau yang mana?" tanya Sima.


"Semuanya pasti lezat" kata Wayne.


"Tahu darimana?" tanya Sima.


"Kemarin aku pergi kesana" kata Wayne.


 Ponsel masih ia pegang, gadis disebelah kanan Wayne menatap tajam pada Wayne.


"Hey. Aku bukan musuh mu" kata Wayne.


 Sima kemudian memesan beberapa sup di restoran miliknya yang akan di kirim melalui jasa antar didalam aplikasi didalam ponsel yang ada di tangan.


 Wayne melihat tas Sima.


 Notes yang berada didalam tas Sima terus menyala membiru disaat ia melihat.


"Kau mau tas ku, ini?" tanya Sima.


"Aku juga punya banyak sama persis dengan milikmu itu" kata Wayne.


"Ahh. Aku lupa, kamu punya pabriknya" kata Sima.


"Bisa tidak kita bicara selayaknya manusia biasa" kata Wayne.


"Tidak bisa" kata Sima.


 Paket makanan yang dipesan oleh Sima telah datang setelah menunggu selama tiga puluh menit.


"Cepat sekali" kata Wayne.


"Restauran ku berjarak tiga puluh meter dari tempat ini" kata Sima.


"Aku sedang pura pura tidak tahu" kata Wayne.


"Ayo kita makan" kata Sima.


 Ponsel milik Sima juga terus bergetar dari saku kanan jaket jeans hitam yang ia pakai.


 Wayne melihat dan gadis di sebelahnya sedang terlihat biasa biasa saja.


 Dia makan sup lagi.


"Tunggu aku" kata Wayne.


"Kau akan ke luar negeri?" tanya Sima.


"Tebakan mu benar" kata Wayne.


"Holiday?" tanya Sima.


"Pindah sekolah?" tanya Sima.


"Pindah sekolah" jawab Wayne.


"Nikmati sup mu" kata Sima.


"Ayo ikut aku bersekolah disana" kata Wayne.


"Kau sedang merayuku?" tanya Wayne.


"Untuk apa" kata Sima.


 


 Wayne melihat Sima meneteskan air mata lagi.


"Sup ini padahal tidak pedas. Kenapa kau menangis?" tanya Wayne.


 Sima tak menjawab pertanyaan dari Wayne yang menatapnya ketika sedang makan.


"Kau tidak diusir oleh orang tua mu kan?" tanya Wayne.


"Aku ingin" kata Sima.


"Gadis gila" kata Wayne.


"Karena berteman denganmu" kata Sima.


"Itu jauh lebih baik daripada kau bersama dengan Jimmy" kata Wayne.


"Tidak jauh berbeda" kata Sima.


"Beda. Aku Wayne bukan Jimmy" kata Wayne.


"Habiskan makanan mu" kata Sima.


 Mereka berdua tidak langsung masuk kedalam tempat Jimmy sedang dirawat karena dia sudah mendapatkan pertolongan dari dokter dan para perawat didalam ruang Unit Gawat Darurat didepan mereka yang terlihat jelas dari jendela yang ada diatas di dinding pembatas ruangan tersebut dengan jalan menuju beberapa bangsal yang ada didepan Sima dan Wayne.


 Jimmy melihat energi Sima yang datang sendiri dari luar ruangan tersebut dengan perlahan namun sangat tepat sasaran mengenai raga Jimmy yang sedang berbaring di ranjang perawatan berwarna memerah terang sedikit membiru bersinar terang.


"Kenapa mereka tidak masuk kemari?" tanya Jimmy.


"Kau pikir sendiri!" kata Wayne.


 Suara Wayne membentak Jimmy berbicara disana bersebelahan dengan Sima.


"Kau bicara apa tadi?" tanya Sima.

__ADS_1


"Tidak. Aku sedang makan sup" kata Wayne.


 Remaja laki laki itu masih berbaring diatas ranjang itu memperhatikan dua orang yang semakin akrab dan dia mulai merasa tidak rela bukan berarti mengartikan sebuah cinta.


 Di studio milik Bob, dia sedang memeriksa kenapa mobil milik Jimmy tidak bisa digunakan dalam waktu yang sama disaat dia mengalami luka tadi.


"Mengapa ban ini robek dan tidak hanya satu tapi lebih banyak lagi?" tanya Bob.


 Ban yang masih dalam keadaan baru sedang diperbaiki oleh montir bengkel langganan Bob yang ia hubungi  yang biasa memperbaiki kendaraan pribadinya.


 Di rumah sakit.


 Sima tidak ingin pulang dia masih didepan ruang Unit Gawat Darurat tidak untuk menunggu Jimmy tapi dia sedang memiliki masalahnya sendiri.


"Pulang lah. Orang tua mu pasti mengkhawatirkan mu" kata Wayne.


"Paman ku pasti sudah cerita bahwa aku disini" kata Sima.


"Astaga. Aku tidak akan tahan seharian denganmu" kata Wayne.


"Aku menunggu seseorang pergi dari sini" kata Sima.


 Dari lorong depan ruang unit gawat darurat sedang bersembunyi namun ketahuan. Dialah Driver Sima sekaligus sebagai bodyguard perempuan yang bertugas menjaganya.


 Ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai bodyguard untuk gadis yang sedang bersama dengan Wayne menikmati sup ayam dan ikan.


"Itu bodyguard mu?" tanya Wayne.


"Kenapa?" tanya Sima.


"Hanya tanya saja" kata Wayne.


 Untuk membuat suasana menjadi lebih tidak canggung Wayne mencari ide agar dia tak seperti yang Sima pikirkan.


"Emmm. Ku dengar kau punya seorang sahabat?" tanya Wayne.


"Dari mana kau tahu?" tanya Sima.


"Dari postingan akun sosial media waktu kamu masih Sekolah Menengah Pertama dulu" kata Wayne.


"Kau melihatnya, itu sudah lama sekali" kata Sima.


"Dimana dia?" tanya Wayne.


"Dia pacar Jun dan dia sudah meninggal" kata Sima.


 Niatnya untuk membuat Sima terhibur apa yang baru saja ia lakukan malah membuat gadis ini bertambah sedih.


"Aku bisa menjadi sahabat mu" kata Wayne.


"Aku sedang tidak bermimpi?" tanya Sima.


"Ok. Aku akan diam saja" kata Wayne.


 Dia menjadi patuh pada tempatnya bersandar menutup mata di bangku yang berjarak satu bangku kosong dengan Sima disebelah kanannya duduk disana diantara orang orang yang juga memiliki kepentingan dirumah sakit di barisan deretan kursi rumah sakit di ruang Unit Gawat Darurat.


 Disaat bodyguard perempuan yang menyamar sebagai orang biasa. Wayne tidak semata mata hanya memandang atau curiga dengan perempuan yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tapi dia sedang berusaha mencuri tatapan mata dari bodyguard itu.


"Kenapa dia sulit aku baca, apa ada yang salah dengan kekuatan ku?" tanya Wayne.


 Sedangkan tadi ia berhasil lagi membaca pikiran gadis yang ada disebelah kanannya dengan mudah. 


 Mengetahui bahwa Sima sedang sedih dan tak berniat ingin bertemu dengan Jimmy dan itu sudah wajar dilakukan oleh gadis ini. 


 Wayne sedari tadi sudah berjam-jam disana bukan hanya menghibur gadis di sebelahnya yang sedang patah hati tapi orang orang tidak melihat jika sedari awal kedatangan dari Sima dirumah sakit semua darah darah dari roh roh jahat yang mengejarnya sampai kedalam rumah sakit terus berjatuhan perlahan namun sangat menyakitkan jika terkena raga Sima bahkan bisa membuat tubuhnya terbakar.


 Perisai pelindung milik Wayne energi berwarna putih sedari tadi ia aktifkan untuk Sima.


 Dari dalam ruangan Unit Gawat Darurat disana Jimmy juga melihat apa yang dilakukan oleh Wayne untuk Sima dan dirinya.


 Dan suara notifikasi pemberitahuan dari rekening bank milik Wayne berbunyi.


 Sebenarnya pekerjaan ini tidak ada yang mau ambil karena resiko yang akan ia dapat bisa di luar dugaan bagi Wayne dan itu sudah di konfirmasi oleh Presdir Ma.


"Dia memang sahabatku" kata Jimmy.


 Wayne agaknya pura pura tak dengar dengan kata kata Jimmy barusan. Dia lebih sibuk dengan misinya kali ini. 


 Padahal dia sedang menahan rasa sakit kepala kian bertambah membuat kepalanya pusing dan ia menahan itu.


 Berbicara dengan tanpa suara dan mereka saling berkomunikasi saat ini.


"Bukan hanya sahabat yang kau dapat tapi dia juga" kata Jimmy.


"Bisa tidak jangan memperjelas" kata Wayne.


 Wayne membuka mata dan memperhatikan kedua wanita di sebelahnya.


 Sima sedang tidur bersandar di bahu bodyguard perempuan yang juga tidur di sebelahnya saat ini tepatnya di sebelah kanan Wayne.


 Dia masih bersandar di dinding tempat ia duduk sekarang sambil melihat mereka.


 Wayne menutup mata kembali tidak tidur sejak dari tadi juga menutup mata.


 Bukan hanya Jimmy yang membutuhkan energi yang dimiliki oleh Sima tapi juga roh roh jahat lainnya yang tidak berhubungan dengan kasus ini langsung tertarik dan ingin mendapatkan energi yang dimiliki oleh gadis ini.


 Itulah yang dialami oleh Sima jika kekuatan dari cairan merah menyala dari dalam botol yang diberikan oleh Red yang digunakan untuk menyembuhkan Sima dari mantra beracun milik "Orang itu".


 Sepulang pemotretan Jun memiliki satu arah yang sama dalam perjalanan pulang bersama kedua sahabatnya. Red dan Ben.


 Dia sudah memakai helm putih mengamati sekilas waktu yang ia dapat di dua detik sebelum Red memakai helm.


 Dia belum berhenti menatap gadis ini yang berada disebelah motor Ben.


"Dia sedang pergi ke toilet" kata Red.

__ADS_1


"Ya. Kita tunggu dia" kata Jun.


 Menunggu Ben di area parkir studio pemotretan.


 Jun menarik lengan kanan Red dengan telapak tangan yang sudah memakai sarung tangan hitam.


"Kenapa?" tanya Red.


"Lengan mu tidak apa apa?" tanya Jun.


"Apa ada yang aneh di lengan ku?" tanya Red.


"Tidak. Mungkin, ini hanya firasat ku saja" kata Jun.


 Jun baru saja melihat sebuah tanda bergambar api menghitam kemudian menghilang terbawa angin dari lengan kanan Red.


 Jun berpikir lagi dan Ben datang disana.


 Ben memakai helm dan peralatan mengemudi seperti sarung tangan serta jaket kulit hitam yang sudah ia pakai dari dalam toilet tadi.


"Huuuuuu. Tampan tersembunyi" kata Red.


"Benarkah" kata Ben.


"Kau bahkan tak pernah memuji seperti itu padaku" kata Jun.


"Tiba tiba aku takut kepada senior" kata Ben.


 Ben melirik ke mata Jun.


 Tawa kecil ada disana.


"Sudahlah. Ayo kita pulang" kata Jun. 


 Didalam rumah sakit masih didepan Ruang Rawat Unit Gawat Darurat Sima sedang sangat sekarat begitu juga dengan Wayne.


 Disaat Wayne mulai menutup mata kembali.


 Bodyguard Perempuan Sima langsung menusuk bagian dada Sima dekat bagian jantung.


 "Dug!" 


 Belati itu ditarik kembali.


"Dug!"


  Benda tajam itu kembali ditarik dari dada Wayne.


"Dug!"


 Sekali lagi benda itu melukai dada Wayne.


 Wayne langsung berusaha menghancurkan bodyguard tersebut dengan kekuatan mata energi yang ia miliki.


 Dia menghilang dan berkata sebelum pergi, "Itu sudah terlambat".


 Wanita itu pergi dengan meninggalkan senyuman kepada Wayne.


 Wayne lebih parah lagi karena bukan hanya satu tusukan dia mengalami tiga kali tusukan dibagian dada dekat jantung sudah berbekas tertancap sebuah belati yang seperti terbuat dari emas.


 Wayne membawa gadis ini kedalam ruang Unit Gawat Darurat di depannya dengan cepat untuk bisa mendapat pertolongan begitu juga dengan Wayne.


  Tanda meminta bantuan Wayne ia aktifkan lewat ponsel miliknya untuk seseorang.


 Wayne mengaktifkan energi penyembuh yang ia keluarkan menyembuhkan luka yang ia miliki juga menyalurkan energi itu kepada Sima dari gadis ini yang sedang tidak sadarkan diri.


 Kemungkinan untuk Sima sadar belum bisa dipastikan dia sedang menjalani pertolongan di ruang yang sama juga ada Jimmy yang juga sedang dalam kondisi tertidur setelah meminum obat tadi sebelum kejadian ini terjadi.


 Radan datang bersama dengan Hera menggunakan teleportasi. Dia mendapatkan informasi dari pesan Wayne yang ia kirimkan kepada Radan.


 Dia tiba di area bagian rumah sakit yang tidak terlalu ramai di datangi orang orang.


 Yang dipikirkan oleh Radan adalah bahwa dia harus pergi ke Ruang Unit Gawat Darurat secepatnya.


 Dia berlari mencari Wayne dengan mencari energi milik Wayne yang masih aktif sejak kejadian yang menimpa mereka berdua. Sima dan Wayne.


 Dia merasakan energi yang dimiliki oleh Wayne dan dia langsung pergi ke suatu tempat dan tempat itu tentu Ruang Unit Gawat Darurat.


 Setidaknya mereka berdua tidak terlambat datang. Radan melihat energi milik Wayne masih membuat perisai pelindung untuk seisi ruangan yang Radan dan Hera datangi meski dia dalam keadaan tidak sadarkan diri karena obat bius yang ia dapat obat yang sama yang diterima oleh Sima.


"Orangtua ketiga anak ini harus dipanggil" kata Radan.


 Radan menghubungi nomor ponsel masing masing ketiga orang tua mereka.


 Radan menjadi wakil mereka bertiga untuk sementara waktu menunggu orang tua mereka datang di rumah sakit.


 Sejak kedatangan Radan menunggu di ruang tunggu operasi Unit Gawat Darurat dia langsung mengaktifkan energi pelindung untuk ketiganya.


 Energi milik Wayne sudah mulai meredup dan itu membuat Radan meningkatkan level energi pelindung miliknya untuk menolong mereka.


 Pihak keamanan datang menemui Radan dan mengajaknya untuk memeriksa rekaman CCTV di depan ruang Unit Gawat Darurat mengenai waktu mereka mengalami kecelakaan ini.


"Biar aku saja yang melakukan hal ini" kata Hera.


 Radan pergi menuju ruang rekaman CCTV rumah sakit.


 Bisa ditebak bahwa apa yang dipikirkan oleh Radan benar terjadi kalau waktu disaat kejadian itu semua rekaman CCTV disana tidak mati tapi tidak memiliki gambar bergerak apapun. Rusak sementara. Jadi, tak ada jejak sama sekali tentang siapa yang melakukan perbuatan itu selain kedua korban yang sedang menjalani operasi didalam ruangan itu.


 Bodyguard Perempuan Sima bahkan tak ada rekaman itu sama sekali di waktu sebelum itu dia datang menghampiri Sima. CCTV sudah tak berfungsi sementara disaat waktu itu hanya berjarak waktu dua menit saja dia sudah menonaktifkan benda tersebut dengan mudah.


 Sebelum kejadian itu terjadi.


 Dia bodyguard Sima mulai menonaktifkan CCTV hanya dengan hentakan langkah kaki yang sedang berjalan menuju Sima dengan langkah seperti bodyguard pada umumnya.


 Aksinya dimulai hanya butuh waktu dua menit dari mulai melangkah masuk kedalam lorong ruang Unit Gawat Darurat sampai duduk disamping Sima menyandarkan kepala gadis itu di atas bahunya karena tertidur.

__ADS_1


 Belati emas muncul dari telapak tangan siap melukai Sima.


__ADS_2