Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 150: Soaring Higher.


__ADS_3

Chapter 150: Soaring Higher.


 Sore ini cukup cerah di pukul lima petang.


 Untuk kedua orang yang tidak mengadakan janji bertemu ada disana ditempat yang sama.


 Bermain ponsel.


 Belum saling menyapa.


 Detik waktu berlalu hingga sepuluh menit mereka disana menunggu.


"Kalian saling kenal?" tanya Samima.


"Kenal bukan berarti akrab" kata Jimmy.


 Gadis ini datang dengan outfit casual putih baju dan celana panjang dan sepatu berkerlap kerlip ungu serta tas ransel kecil hitam berbentuk hati.


 Si Mantan pacar tidak memberi banyak kata untuk kedua orang yang sedang ia lihat sedang menjalani proses pendekatan.


 Senyum anggun tetap milik Samima kepada Marid.


"Marid. Aku pergi dulu. Ayo Jimmy!" kata Samima.


 Gadis itu meraih lengan remaja itu yang berpakaian mencolok membuat semua mata para kaum hawa tergila gila.


 Dengan ponsel yang sedang mengetik berhenti melihat kedua orang berlalu pergi dengan ceria mereka saling berbicara.


"Apa harus bersama dengan pria seperti Jimmy?" tanya Marid.


"Kau terlihat sekali masih mengharapkan gadis itu" kata Marid lagi.


 Seseorang dengan gaun putih rambut di kepang menjadi dua bagian pipinya memerah dan bibir kecilnya yang memerah karena permen lolipop yang ada di tangan kanan.


 Dia berlari menuju Marid dengan senyum tulus sesuai usianya manis dan lucu dengan sepatu kerlap kerlip ungu dan tas ransel berbentuk singa dibawa di tangan seorang wanita.


"Kakak!" teriak adik perempuan Marid.


 Memeluk kaki kakaknya itu. 


 Dia datang bersama ibunya yang terlihat elegan dengan gaun merah muda dan sepatu putih kristal.


 Menatap adiknya dan berbicara.


"Bibi ini siapa?" tanya Marid.


"Ibu cantik sekali. Dia akan berkencan dengan Ayah" kata adiknya.


 Ibunya Marid memukul pelan pundak anaknya sambil berkata, "Ibu tidak semuda dulu!".


"Aku kira ibu terlalu cantik memakai gaun itu" kata Marid.


"Lihat lirikkan mata itu. Ini suamiku sendiri yang memberikannya" kata Ibunya Marid.


"Aaahh. Rupanya satu frekuensi" kata Marid.


"Sudahlah. Jaga adikmu, disana Ayah sudah datang" kata Ibunya.


 Kemudian, terlihat Ayahnya Marid juga sudah dengan tuksedo rapi berwarna hitam dan Marid serta adiknya melihat kedua orang tua mereka dengan rencana kencan mereka sore ini.


"Mereka membuatku iri saja" kata Marid.


 Tangan kecil itu menarik celana pendek cream yang dipakai Marid dengan banyak saku di setiap sisi kanan dan kirinya kaos putih serta sandal hitam ia gunakan untuk pergi ke taman wisata yang bertema bunga itu.


 Marid melihat adiknya.


 Marid akan menggendong adiknya.


"Aku ingin jalan jalan disana" kata adiknya.


"Siap!" kata Marid.


 Dia mengambil tas milik adiknya dan memakainya di depan dadanya sendiri.


 Marid menuruti kemana adiknya ingin pergi dengan menggandeng adiknya ceria mereka berdua saling menyayangi.


 Berada di area bunga tulip adiknya berlari sangat cepat senyum gembira kesana kemari di depan Marid yang sedang duduk dengan tas milik adiknya itu.


 Berteriak.


"Kakak!" kata Adiknya. 


 Dia tidak melihat bahwa ada tanda bahaya yang dialami oleh adiknya itu.


 Marid melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum hangat pada adiknya itu.


 Banyak kupu kupu berwarna warni hadir disana diantara bunga bunga tulip yang bermekaran dari arah lain seseorang dengan pakaian seperti cowboy masih dengan senapan dan burung peliharaan di pundaknya terus memperhatikan gadis kecil itu.


 Gadis kecil itu dengan sayap yang terpasang indah di belakang punggung ikut bersama kupu kupu disana berterbangan bebas tanpa sebuah beban setelah melewati banyak tahapan untuk menjadikan mereka indah menyejukkan mata.


 Berteriak.


"Kakak. Aku seperti peri!" kata adiknya Marid.


 Berteriak.


"Ya. Jalannya hati hati!" kata Marid.


 Sore ini ramai dengan para pengunjung yang datang di taman bunga itu banyak anak anak bersama kedua orang tua mereka semua terlihat ada disana dari berbagai lintas generasi menikmati momen bahagia ini.


 Tak sengaja kedua pasang mata kedua remaja itu saling menatap dengan jarak dua puluh meter mereka lalu kemudian saling mengalihkan pandangan mereka.


 Jimmy yang sudah tahu bahwa Samima pernah menjadi pacar teman satu sekolahnya itu mencoba memahami situasi ini dengan berpura pura tidak tahu dengan kejadian barusan antara Samima dan Marid.


 Jimmy menarik tangan kanan Samima kemudian.


"Kamu ingin menjadi pacarku kapan. Katakan saja, aku sudah siap?" tanya Jimmy.


 Jimmy menatap mata gadis itu dengan manis senyum legend ia tunjukkan kepada Samima.


  Terkejut.

__ADS_1


"Hah?" tanya Samima.


 Samima berkedip.


"Tadi kamu bicara apa?" tanya gadis ini.


 Jimmy tersenyum lebih tampan lalu menyentuh rambut kepala gadis itu yang terkena angin.


 Samima dan Jimmy menikmati bunga bunga lain lagi yang ada disana lebih menjauh berjalan lagi dari posisi Marid dan adiknya saat ini.


 Marid kembali melihat lagi Samima yang ada bersama dengan Jimmy dengan tangan kanan digandeng erat oleh tangan kiri Jimmy.


 Mereka bersama para pengunjung lain yang ada disekitar mereka.


 Burung hitam milik hantu berbaju cowboy itu terbang diatas langit tepatnya di atas gadis itu sedang bermain kejar kejaran dengan kupu kupu.


 Baik itu Jimmy tidak bisa melihat hantu yang sedang berusaha mengincar adik dari Marid itu dia dengan roh halus yang ia miliki terus mengelilingi raga gadis kecil itu dengan sesuka hati. Dia tidak semudah itu mengambil nyawa gadis kecil itu karena hantu dan burung yang ada diatas langit itu tak henti hentinya terus berjaga sesuai tugas yang diperintahkan oleh Presdir Ma.


 Marid melihat adiknya sedang berbicara dengan kupu kupu yang ada disana.


 Cahaya putih hantu itu bercahaya terang terlihat oleh gadis kecil itu sedang ikut bermain bersama dengannya.


"Kakak. Lihat sayap di belakang ku. Aku sudah seperti peri bukan?" tanya adiknya Marid.


 Roh itu hanya mengangguk tak menjawab dengan kata kata tapi dengan gerak tangan kepada adik kecil itu.


 Dia mencoba menyentuh jemari tangan gadis kecil itu. 


 Bagian ujung tangannya kembali terbang terpecah menghilang mengudara terbang terbawa angin lembut di sekitarnya.


 Cahaya cahaya itu seperti berjatuhan di tanah.


"Kakak. Apa kakak menangis?" tanya adiknya Marid.


 Orang yang dipanggil oleh gadis kecil ini sebagai kakak menangis dengan baru saja yang ia lihat terjadi pada dirinya.


 Dari tempat lain di rumah Radan tanpa siapapun Jun dengan mulai tidak bisa menggerakkan semua anggota badannya melepaskan segala energi kekuatan yang ia miliki secara paksa oleh dirinya sendiri begitu juga kekuatan inti miliknya seiring dengan semakin menghilang bagian dari raganya itu.


 Ia sedang berusaha meremukkan pulpen kristal indah  yang berisi darah dari dirinya sendiri yang ia tahu dan selidiki serta amati sejak awal gerak gerik Makhluk Misterius itu adalah bahwa dia hanya menginginkan raga mereka yang terkontaminasi oleh mantra jahatnya itu yang masih ada di dalam raga tiga anak manusia itu dan sangat menginginkan senjata inti berupa pulpen kristal itu.  Selesai dengan meremukkan pulpen kristal miliknya itu kemudian dia dengan lirikkan mata menyuruh energi inti miliknya untuk bisa menemukan dimana Red yang telah hilang tanpa jejak dari pencarian para agen Presdir Ma.


 Hantu berpakaian serba seperti cowboy itu baru saja menemukan keberadaan Red pada saat ini dengan ditemukannya olehnya jiwa yang cocok dengan energi positif yang dibutuhkan untuk kesembuhan ketiga anak manusia dengan rasa sakit yang sama.  Jiwa itu datang dengan sendirinya, jiwa yang jauh lebih parah dengan penderitaan yang Jun dan Flow B alami kepada jiwa dengan energi penyembuh yang dimiliki oleh gadis kecil itu. 


 Red ada disana ada di depan gadis kecil yang sedang bermain dengan kupu kupu.


 Dia melihat ke arah senyum teman satu sekolahnya itu yang menghadap ke arahnya saat ini namun tidak bisa melihat raganya ada disana sedang menatap wajah itu.


"Rupanya karena aku. Kau selalu mudah pergi meninggalkan pacar pacarmu" kata Red.


 Dia menangis lagi disana tanpa seorang pun tahu sambil menatap wajah remaja laki laki yang belum berhenti dengan senyum hangatnya.


"Sorry" kata Red.


 Red menghapus air matanya sendiri.


 Marid datang mendekat ke arah adiknya yang juga disana terdapat gadis itu yang juga sedang melihat gadis kecil yang mencium bunga bunga bermekaran di depannya saat ini jongkok dengan bunga bunga tulip putih.


"Kamu suka bunga itu?" tanya Marid.


"Ya" kata adiknya Marid.


 Dia sambil menunjuk ke arah Red.


 Marid mulai bertanya siapa yang adiknya maksud dalam benaknya.


 Jongkok di sebelah kiri adiknya yang sedang mencium lagi bau harum bunga bunga tulip di depannya.


"Tadi bicara dengan siapa?" tanya Marid.


"Peri putih" jawab adiknya.


 Sedangkan, dia tidak melihat sama sekali disana selain dia dan adiknya juga pengunjung yang lain yang berbaju putih selain adiknya.


 Mencubit pipi sebelah kiri adiknya.


"Adik kakak memang seorang peri cantik" kata 


Marid.


 Menunjuk ke arah sebelah kiri Marid.


"Kakak. Ada satu peri lagi, itu!" kata adiknya.


"Kakak tidak lihat selain kamu" kata Marid.


 Angin kencang datang waktu tiba tiba berhenti cahaya kristal milik Jun dari kekuatan inti miliknya berputar datang kepada gadis kecil itu berputar putar kemudian masuk kedalam raga gadis kecil itu.


 Marid masih belum percaya bahwa semua orang berhenti dari aktivitas mereka untuk sementara.


 Dia dengan tidak menyerah menunjuk tangannya ke arah Red.


"Kakak peri itu ada disebelah kakak!" kata adiknya lagi.


 Marid segera pergi lebih dekat kepada adiknya lalu melindungi adiknya dengan memeluknya erat.


 Red masih disana dengan dirinya yang belum bisa terlihat oleh siapapun bahkan adiknya Marid pun hanya bisa melihat cahaya putih pada raga gadis ini.


 Energi inti milik Jun sedang berusaha mengikat energi positif milik gadis kecil itu dari bola mata yang sudah semakin terlihat dengan kristal kristal terang.


 Menunjuk ke arah Red lagi.


"Lihatlah peri itu!" kata adiknya Marid.


 Cahaya putih kristal kristal indah  keluar dari ujung jari gadis kecil itu terbang terlihat dari kedua mata kakak laki lakinya itu mengarah terbang lembut ke arah Red.


 Dia perlahan dengan cahaya putih kristal yang memutar mengelilingi raganya dari jari telunjuk gadis kecil itu.


"Red" kata Marid.


"Kakak sekarang percayakan ada peri disini" kata adiknya.


 Marid masih dengan perasaan terkejut berpikir dan berpikir dengan logika.

__ADS_1


 Red sudah benar benar kembali dengan raga manusia miliknya lagi sungguh momen ini membuatnya sangat gembira. Dia tidak bisa menahan rasa bahagianya itu sampai dia menangis tersedu sedu di depan mereka.


 


 Jun dan Flow juga mendapatkan dampak yang sama dengan kejadian yang baru saja terjadi kepada Red. Mereka kembali dengan diri mereka sendiri sedangkan energi inti milik Jun juga pergi tanpa rasa sakit bagi raga gadis kecil itu yang bertugas menjadi jiwa penolong untuk mereka bertiga kembali dengan cepat datang kepada Jun.


  Red menangis.


  Waktu kembali bekerja seperti semula.


  Marid juga melihat kejadian ini.


"Jangan menangis kakak peri" kata adiknya Marid.  


"Untukmu" kata Marid.


 Dia memberikan tisu wajah untuk Red.


"Thank you" kata Red.


"Kenapa kau sangat cantik ketika sedang menangis?" tanya Marid.


 Red menjadi lebih terharu dengan kata katanya.


 Adiknya Marid melepas pelukan dari kakaknya lalu segera pergi kepada Red memeluknya dengan erat.


"Apa kakak sedang merayu kakak periku?" tanya adiknya Marid.


 Red dengan tersedu sedu jongkok dan memeluk adiknya Marid dan tersenyum pada gadis kecil itu.


 Terkejut.


"Merayu?!" kata Marid.


 Berteriak.


"Ya!" kata adiknya Marid.


 Tertawa. Red tanpa suara kepada tingkah lucu adiknya Marid itu.


 Dari kejauhan seseorang melihat energi biru milik Red sudah kembali dilihatnya.


 Dia mengajak Samima untuk pergi ke arah dimana ia melihat energi biru itu terlihat kembali.


"Kita mau pergi kemana?" tanya Samima.


"Ke tempat Marid" jawab Jimmy.


 Samima ikut kemana arah Jimmy pergi menuju mendekat kepada Marid dan adiknya yang terlihat dari arah mereka sekarang sekitar tiga puluh meter mereka makin mendekat. Dia juga melihat seseorang ada di depan Marid, seorang wanita.


 Red masih berpikir, kenapa dia tidak takut dengan apa yang terlihat olehnya barusan bersama juga dilihat oleh adiknya.


 Memandang Marid.


"Kau tidak takut denganku?" tanya Red.


 Memberikan senyum lembut kepada Red.


"Tidak. Adikku saja sangat senang melihat mu" kata Marid.


"Really?" tanya Red.


"Yes" kata Marid.


 Red sedang menunggu Marid akan mengatakan sesuatu kepadanya.


 


 Samima makin mendekat ke arah mereka.


"Aku … " kata Marid.


"Ya?" tanya Red.


 Menunggu.


 Bukan hanya mereka bertiga saja yang sudah pulih tetapi juga dengan Jimmy semua energi kekuatan yang ia miliki sudah kembali pulih dengan mata biru yang dengan mudah dikendalikan seperti saat ini terlihat lagi dengan mata berkaca kaca bergerak berjalan lebih cepat kepada Red yang sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Marid.


 Red melihat Jimmy datang menatap dirinya dengan rasa sangat bahagia bisa melihat lagi seseorang yang sangat ia sayang sejak dulu.


 Dia meraih kedua tangan gadis ini.


 Adiknya Marid kembali kepada kakaknya dengan menggenggam tangan kirinya terdiam melihat mereka.


"Dia bisa menangis" kata Marid.


 Jimmy terisak menangis didepan mereka.


"Itu sudah sangat lama dan aku tidak bisa berkata apa apa lagi" kata Jimmy.


 Samima datang ada dibelakang Jimmy.


"Sebagai sahabatmu. Aku tidak akan pergi lagi" kata Red.


 Hening sesaat.


"Kau sudah kembali?" tanya Jimmy.


 Gadis itu mengangguk pada Jimmy dengan senyum yang biasa ia lihat di saat gadis ini tersenyum pada Ran setelah ingatannya tentang Jimmy juga pulih.


 


 Marid mulai bergerak mundur dengan membawa adiknya pergi begitu juga dengan Samima yang ada di belakang Jimmy mulai berjalan pergi ke arah yang sama dengan Marid dan adiknya pergi.


 Tiba tiba saja.


"Kita bisa pulang bersama. Iya kan brother" kata Jimmy kepada Marid.


 Red meraih tangan Samima menariknya ikut pulang bersama.


 Samima membalas senyum teman seprofesinya itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2