Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 21: Jika Kamu Bertemu dengan Hantu?


__ADS_3

Chapter 21: Jika Kamu Bertemu dengan Hantu?.


"Apakah aku harus pergi menemui Jimmy setelah apa yang telah ia lakukan padaku sebelumnya?" Sammy sedikit iba kepada mantan kekasihnya.


"Aku ingin berempati kepada Jimmy. Namun, aku yakin dia bisa menjaga kehidupannya sendiri" Sammy membatalkan untuk mengejar Jimmy yang masih terlihat dari Sammy berdiri sekarang melihatnya berjalan di depan Sammy meninggalkan arah dimana gadis ini ada disana.


 Sammy berbalik arah kemudian dari arah Jimmy semakin menjauh dari Sammy.


"Remaja itu ternyata memiliki kelemahan. Aku kira dia adalah seorang remaja yang penuh percaya diri dan ternyata dia hidup seperti manusia lainnya" Bodyguard Jimmy memberikan simpati pada bos mudanya.


 Tak sempat ia mengejar Jimmy pandangannya teralihkan saat ia berbalik disisi jalan lain tepatnya di tempat perhentian bus. Dia berlari dengan cepat dengan detail melihat segala arah jalan yang akan ia lewati. Akhirnya, dia bisa menolong seorang pemuda yang akan melakukan bunuh diri di tengah jalan yang sedang padat-padatnya.


"Dimana kau bersembunyi?" Seseorang sedang bertanya kepada seseorang.


 Seseorang itu belum menjawab pertanyaan darinya.


"Jangan sembunyi. Bicaralah padaku?" Dia bertanya lagi.


 Dia yang ia cari masih bersembunyi.


"Aku akan selalu datang. Jika kau tetap seperti ini" suaranya tak pernah ia lupa dan seseorang yang ia cari tak percaya jika ia mencarinya.


 Dari balik pintu kamar dia bersembunyi gemetar menahan rasa takut jika ia benar-benar menemukannya. Walaupun ia tahu dia sudah tahu dimana tempat persembunyiannya saat ini, dia tetap ingin bersembunyi tak ingin menjawab sapaan dari seseorang yang masih ada di dalam rumahnya.


 Pukul dua sore rumah dalam keadaan sepi hanya ada dia dirumah di hari libur minggu ini.


"Aku ingin kau menolongku. Tolong aku" Dia masih didalam rumah itu.


"Aku tahu kau mendengar ku. Jadi, ... " Dia tak melanjutkan perkataannya.


 Pintu jendela terbuka cepat hujan penuh angin masih terjadi diluar rumah. Air hujan terbawa cepat masuk kedalam kamar pemilik rumah dan ia bertambah tertekan lagi.


"Kemana aku harus lari. Tak ada jalan lagi untuk ku kabur dari tempat ini" Dia sudah di batas keberanian.


 Darah bercampur nanah memerah berjatuhan ke lantai terbawa oleh pemilik langkah kaki seseorang yang sedang melintas di hadapannya. Wanita ini sambil gemetar menutup mulutnya penuh keringat dingin dan tentu air mata yang mengalir sudah tak dihiraukan oleh pemilik raga itu bertahan untuk tetap kuat.


 Hantu itu dengan wajah menatap belum berhenti dengan wajah memerah mengelupas bagai daging membusuk sorot mata yang tajam dan bibir hitam rambut panjang acak-acakan juga gaun hitam langkahnya meninggalkan jejak darah dan nanah bau amis darah jelas mengisi ruang kamarnya.


 Menghitung detak jarum jam di dinding yang terus berputar hantu ini belum juga pergi dia masih disana didepan wanita yang sedang gemetar ketakutan terhadapnya.


 Jantungnya berdetak seperti tak terkendali.


"Aku pulang. Kakak buka pintunya!"


 Ketukan pintu dan panggilan dari suara itu membuat hantu di depannya segera menghilang dari hadapan Flow saat itu juga. Dia bisa menarik nafas kembali bersyukur bisa selamat dari gangguan hantu tadi.


 Dia bangkit dari balik pintu kamarnya berdiri membuka pintu kamar dan segera ke depan pintu untuk membuka pintu rumah yang terkunci dari dalam rumah.


 Pintu rumah ia buka  wajah tak bersemangat terlihat dari gadis yang baru saja pulang itu.


 Di ruang tamu ada Flow dan Sammy.


"Kakak terlihat pucat. Kakak sakit?" Sammy memeriksa suhu di tubuh Flow dengan menyentuh dahi orang yang ia anggap Kakak itu.


"Lepaskan adik kecil. Aku sehat" Flow melepas telapak tangan Sammy dari dahinya.


"Kakak tidak ingin pergi jalan-jalan. Inikan hari libur" kata Sammy sebuah pertanyaan yang umum ditanyakan oleh orang-orang ketika hari libur.


"Malas saja. Lihat, aku baru selesai dengan pekerjaan rumahku" Flow berkata apa adanya.


 Rumah bertambah rapi setelah tadi pagi Sammy dan Red bersih-bersih.


"Dia tidak tahu apa yang baru saja aku alami" Flow berbicara sembunyikan kalimat ini dari Sammy.


"Ini kue untuk kakak" Sammy memberikan kue klasik kepada Flow.


"Ini?" tanya Flow.


"Iya. Kakak kan suka membuat kue. Aku membeli ini untuk bahan referensi kakak" Sammy lalu bergegas ke kamarnya untuk menaruh tasnya.


"Apa ini tidak terlalu mahal dan besar?" Flow berbicara sedikit suara keras karena Sammy ada di dalam kamarnya saat ini.


"Tak apa. Aku dapat bonus kemarin karena lembur" Sammy sedang melepas kaos kakinya.


 Flow membuka box putih yang berisi satu kue klasik dari Sammy.


"Dimana Red. Seingatku tadi pagi kalian berangkat bersama?" Flow menanyakan Red. Dia khawatir.


"Dia pergi menemui seseorang. Dia bilang saudaranya" kata Sammy.


"Aku akan menghubungi gadis itu" Flow mengambil ponsel dari atas meja ruang tamu.


 Ponsel dari saku Red berdering.


 Red sedang dalam misinya bersama Kak Sew dan Ran.

__ADS_1


"Aku sedang sibuk. Nanti ku hubungi lagi!" Red berbicara sangat cepat dan langsung menutup panggilan dari Flow.


 Ekspresi wajah kaget dan heran ia tunjukkan saat ini.


"Adik kecilku sedang bekerja lagi. Hobinya sungguh luar biasa" Flow lalu menaruh ponselnya di atas meja lagi.


 Dia dengan cerutu panjangnya masih terhisap dari mulutnya dan asap-asap jelas mengepul. Membawa burung hitam berparuh kuning patuh di atas pundaknya.


"Dia semakin mendekat" Red tampak ketakutan.


 Ran menggenggam tangan Red agar gadis ini tak gemetar lagi.


"Lepaskan!" kata Kak Sew melepas tangannya dari gadis itu.


"Kau harus berani jika tidak kau aku tinggal disini" Kak Sew sedang tak bercanda.


 Hantu itu berkeliling di area tebing tempat mereka bertiga sedang bersembunyi di balik pepohonan. Jelas sangat gelap dan dipenuhi tumbuhan liar tumbuh tinggi subur di sekeliling mereka dan hantu itu belum bicara ataupun bertindak aneh-aneh yang mereka dengar untuk sampai saat ini burung yang ada bersamanya terus berteriak menggema membuat nuansa hening saat ini menjadi horor.


 Ingin sekali cepat memakan waktu saat ini agar cepat berakhir dan misi cepat terselesaikan.


Daerah tebing yang minim penerangan dan suara-suara binatang-binatang malam belum juga berhenti dan terdengar mengasyikkan untuk mereka. Sebagai manusia mereka berusaha damai-damai saja beradaptasi tak ingin hal-hal buruk bisa terjadi diluar kendali mereka. Hantu itu masih betah disana berjalan kesana kemari melihat ke kanan ke kiri dengan tatapan tajam dan gerakan halus.


 Berpakaian seperti pemburu lengkap dengan senapan panjang yang ia bawa dan di selipkan di lengannya.


"Aku tidak tahu kenapa bos mengirim kami kemari. Hantu itu terlihat tak jahat" Ran bersembunyi dari balik rumput dan pohon besar.


 Hantu itu melihat ke arah Ran.


 Siapa yang tidak takut tentu saja dia sangat ketakutan saat ini.


 Mendekat diam disana. Ran.


 Langkah kaki hantu itu menginjak dedaunan kering di bawah pohon tempat Ran bersembunyi. Semakin terdengar makin jelas langkah kaki hantu itu asap dari cerutu hantu itu datang dari sisi kanan Ran duduk dibawah pohon besar itu. Asap itu kian bertambah dan dia melihat ke arah Ran.


 Ran sudah pergi dari sana lebih cepat dari hantu itu akan menangkapnya.


 Hantu itu datang lebih dekat kepada anggota tim Ran yang lain. Senapan yang ada di tangannya ia ambil bersiap menembak ke arah Red yang menjadi target hantu ini selanjutnya setelah Ran barusan.


 Red tidak sadar bahwa diatasnya berdiri dibalik pohon untuk bersembunyi ada seekor ular bercorak hitam dan kuning asik merambat ke pohon itu.


"Darrrrrrrr!"


 Satu peluru terlepas dari senapan hantu itu kearah Red.


"Nanti saat hantu itu melepaskan tembakan. Jangan sampai ada yang bersuara sama sekali" Pesan dari atasan mereka bertiga.


"Bersikap seperti tak menganggap hantu itu seorang hantu tapi manusia seperti kalian" Pesan lain dari atasan mereka.


 Red mengeluarkan satu kantong uang koin yang sudah dipersiapkan oleh Ran sebelumnya dari intruksi yang ia dapat dari atasan mereka.


"Minta uang!" Hantu itu menodongkan senapan ke arah Red.


 Red dengan gemetar memberi uang kepada hantu itu. Satu dua koin ia berikan.


"Minta makan!" Hantu itu meminta kepada Red.


 Kak Sew muncul dari balik-balik pohon yang lain dan memberikan camilan camilan kepada hantu itu.


 Si Hantu tak mau benda yang diberikan oleh Sew dia terus menunjuk ke arah Red.


"Hantu itu pasti tak mau menerima apapun yang kuberikan padanya" Ran berbicara berpendapat sendiri.


 Satu peluru keluar mengarah ke arah Ran.


"Darrrrrr!"


 Jantung Ran akan lepas peluru itu melesat cepat di sebelah kiri kepalanya.


"Dia bukan lawanku" kata Ran.


"Minta minum!" Hantu itu membentak Red.


 Suara Red meluluhkan hati si hantu.


"Aku tidak punya air minum" kata Red.


"Itu berarti kau harus ikut denganku" kata hantu itu tanpa basa-basi berkata seperti ini.


"Aku sangat boros dan makannya banyak. Tak apa?" tanya Red seperti berbicara kepada Jun.


"Aku tidak suka wanita gendut apalagi boros" kata Si Hantu menanggapi jawaban Red barusan.


 Hantu itu tidak mengejar Ran dia tetap di depan Red.


"Ternyata ini maksud dari Bos. Kenapa dia menyuruhku membawa semua itu" Ran baru tahu tentang ini begitu juga Red dan Sew.

__ADS_1


 Saatnya berdiskusi dengan hantu ini.


"Kami boleh bertanya sesuatu?" tanya Red.


 Dari arah lain Sew sedang berusaha menyalurkan energi positif yang ia miliki kepada Red agar dia tak jatuh di pelukan hantu itu.


"Ingat hantu itu terkenal suka merayu" pesan lain dari Bos mereka sebelum misi dilaksanakan.


 Hantu itu menaruh senapannya di tanah dan dia memberikan kode mau diajak berdiskusi dengan mereka.


"Satu pertanyaan sepuluh koin. Bagaimana sepakat?" Hantu itu membuat perjanjian.


"Ok. Deal!" Red menjawab tegas.


"Jika uangmu kurang. Kamu akan aku bawa!" kata Si Hantu suaranya menggetarkan seluruh tebing disana.


"Baik. Sepakat!" Red begitu saja menyetujuinya.


 Ran sudah tak yakin dengan si hantu, dia berpikir ini hanya alasan saja agar bisa membawa Red. Ran mengawasi hantu itu didepan Red dan Sew.


"Jangan ganggu kami ngobrol!" Si Hantu mulai jengkel dengan Ran.


"Aku tidak rela dia dekat-dekat dengan Red" Ran berpikir seperti ini saat hantu itu membentaknya didepan Red.


 Red menunjukkan sebuah gambar dari dalam tasnya. Lalu, memberikan sepuluh koin uang dari kantong putih yang ada di tangannya itu kepada si hantu.


"Kau kenal gadis ini?" tanya Red.


"Gambar mu jelek sekali" kata Si Hantu.


"Kenal tidak?" tanya Ran.


"Aku melihatnya sekali. Memang ada apa?" tanya Si Hantu.


"Akhir-akhir ini dia sering mengganggu di wilayah kami" kata Red.


"Biarkan saja dia. Nanti juga pasti pergi" kata Si Hantu.


 Red memberi sepuluh koin lagi kepada si hantu.


"Apakah Paman mengenalnya?" tanya Red.


"Tidak. Kalaupun aku mengenal gadis itu, aku tidak akan membantu kalian" Jawab Si Hantu.


 Uang dari kantong yang dibawa oleh Ran ditangan Red sekarang sudah habis dan hantu itu tak menjawab pertanyaan dari Red dan kawan kawannya.


 Ran dan Sew juga memberikan makanan dan minuman pada Si Hantu agar mau menjawab. Tapi, dia tetap bungkam.


 Tanpa mereka duga yang diberikan oleh Red tadi ia kembalikan kepada Red. Iya, semua uang itu ia kembalikan kepada Red.


"Aku tidak berhak mengganggu privasi orang lain hanya karena uang. Aku kembalikan uang ini pada kalian" Hantu itu lalu berdiri dari duduknya.


"Tapi, Paman" kata Red.


 Si Hantu menghentikan langkah kakinya dan berbalik lagi menatap ke arah Red dan anggota timnya yang lain.


"Jika kalian ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Tunggu saja, hantu itu akan menjawabnya sendiri" kata Hantu itu.


 Burung dengan paruh kuning itu bersiul di atas pundak si Hantu.


"Paman mau pergi sekarang?" tanya Red berharap hantu itu mau membantu mereka.


"Aku masih ingin berburu. Katakan pada bos kalian, aku takkan kembali lagi ke tempat kalian tinggal saat ini" kata Si Hantu.


"Tanpa gadis itu bertindak diluar kendali. Alam ini tetap belum menerima apa yang ia alami" kata Si Hantu.


 Dia berjalan cepat meninggalkan mereka bertiga.


 Hari sudah mulai akan gelap pukul enam sore kurang lima belas menit. Mereka memutuskan untuk pulang.


"Apakah kita lupa bahwa sudah tak ada kendaraan lagi disini?" tanya Sew.


"Tidak. Kita ingat ini" kata Red.


"Jangan sampai kita berpencar. Disini sangat menakutkan" kata Ran.


 Berjalan di jalan setapak di antara pepohonan di sekitar tebing dalam lingkungan pegunungan.


 Gerimis-gerimis kecil terasa tapi mereka tak boleh beristirahat meski mereka sudah satu kilometer perjalanan dilalui akan menguras waktu jika mereka tidak meneruskan. Banyak jiwa-jiwa yang mengawasi ketiganya dari jauh atau di antara semak-semak ataupun pepohonan yang mereka lewati. Bau dedaunan pohon segar menusuk hidung dan menambah keangkeran daerah itu.


"Apakah kita akan dimarahi oleh bos. Misi kita tak berhasil?" tanya Red.


"Tidak. Misi kita berhasil. Apa yang paman tadi katakan kita bisa sampaikan pada bos" Sew menenangkan suasana.


"Aku merinding dengan apa yang dikatakan oleh hantu tadi" Ran berkata ini.

__ADS_1


"Apa kau bisa membaca arti dari kata-katanya tadi?" tanya Sew.


"Jika gadis hantu itu tak melakukan balas dendam. Orang orang yang ia incar tetap akan ... " Red tak berani melanjutkan mengatakan pendapatnya.


__ADS_2