Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 84: Pemilik Rumah


__ADS_3

Chapter 84: Pemilik Rumah.


 Pada akhirnya mereka akan berpikir bahwa apa yang mereka inginkan dari mereka. Kenapa harus mereka yang mendapatkan ramuan obat itu.


"Aku tidak tahu kalau obat ini akan mengambil nyawaku dan nyawanya" kata Jun.


 Jun sedang bercermin pada cermin kamarnya sekarang.


"Rasanya aku ingin menghajar mu!" kata Doe berteriak kepada Jun.


"Kau tidak perlu berteriak sekeras itu!" kata Jun.


"Siapapun yang terkena obat ini harus mencari seseorang yang mau meminum obat ini agar orang itu tetap bertahan hidup. Jangan pura pura naif" kata Doe. 


"Kenapa kau tahu segalanya?" tanya Jun.


"Jangan meremehkan ku!" kata Doe.


 Doe merupakan salah satu hantu yang bertugas bekerja sebagai mata mata Presdir Ma.


"Orang seperti mu harus mencari kawan agar efek obat itu tidak terlalu memakan raga mu" kata Doe.


"Katakan kau siapa?" tanya Doe.


"Kau di kirim siapa?" tanya Doe.


"Tujuan mu apa?" tanya Doe.


 Jun merespon.


"Lagi!" kata Jun.


"Lagi dan lagi. Kau selalu berteriak kepada ku" kata Jun.


"Jawab bocah!" kata Doe.


 Hantu ini terus saja emosi kepada remaja ini.


 Jun menyapa kedua bola matanya sendiri di depan cermin panjang dengan tinggi hampir dua meter.


"Aku tahu aku sangat cerdas. Tapi, apa aku akan melenyapkan temanku sendiri?" tanya Jun.


"Tak usah berlagak seperti ini untuk mengatakan kau orang baik" kata Doe.


"Aku tidak tahu kenapa obat itu memilih ku dan selalu mengikuti ku" kata Jun.


"Hingga akhirnya aku membutuhkan bantuan dari Red tanpa sepengetahuan darinya karena aku tidak tahu bahwa obat itu akan memilih Red" kata Jun.


"Siapa orang yang kau pilih kalau bukan Red?" tanya Doe.


"Dia juga hanya memilih ku kemudian memilih Red sendiri sebagai partner ku" kata Jun.


"Apa gadis itu tahu tentang ini?" tanya Doe.


"Ya" kata Jun.


"Lalu kenapa kalian bertengkar?!" kata Doe.


 Doe tak habis pikir dengan jalan pikiran kedua remaja yang menjadi partner kerjanya sekarang.


 Jun mengambil kacang tanah panggang mengupas kulitnya lalu duduk memakannya di kursi dekat tempat tidur.


"Apa kau tahu lagu jazz kesukaan Red?" tanya Jun.


"Dia sahabat ku bukan sahabat mu!" kata Doe.


"Benar kata Hera. Kau memang pemarah" kata Jun.


"Jangan bawa bawa orang lain ketika kita sedang berbicara!" kata Doe.


"Lihat. Benar, kau memang pemarah" kata Jun.


 Partner hantu kerja Jun menganggap tak ada gunanya untuk berbicara dengan seorang anak kecil.  Itu hanya akan menguras energi dan emosi diri.


 Jun sedang memulai belajar bahasa asing lagi.


 Untuk Red juga masih belum puas dengan kasus yang sudah ditutup ini.


 Dia masih ada didepan sebuah rumah memantau rumah yang digunakan oleh anak anak buah "Orang itu" sebagai markas mereka dengan menggunakan tubuh pengganti.


 Mereka semua dikabarkan telah sadar dan pergi dari tempat itu.


 Tempat itu telah kosong kembali dan tak berpenghuni.


"Bukankah ini kurang bagus untuk sebuah bangunan" kata Jamie.


 Gadis ini juga ikut datang ke tempat ini dengan menggunakan tubuh pengganti sama seperti yang Red lakukan.


 Suasana horor atau sepi tidak terasa atau bisa dibilang mengurangi kesan seperti itu lagi ketika mereka ada didepan rumah itu. 


"Ayo kita makan malam!" kata Jamie.


"Kita pesan saja" kata Red.


"Oke" kata Jamie.


 Red dan Jamie kembali kedalam tubuh aslinya yang sedang bermeditasi didalam kamar asrama sekolah.


 


 Membuka mata.


 Hantu yang ditawan oleh Red tetap dengan wajah datar ia tunjukkan kepada Red begitu juga dengan Red.


"Sampai kapan kau akan menawan ku?" tanya Si Hantu.


 Red tidak menjawab dia lebih memilih untuk pergi tidur.


 Flow melepas sepatu hitam yang ia pakai tadi setelah menghadiri acara pesta pernikahan.


"Aku sampai lupa dengan jas miliknya terbawa oleh ku" kata Flow.


 Jas milik Bob ia gantung di dekat lemari kamar.


 Tidak terlalu malam untuk Flow membereskan barang barang miliknya yang ia baru dapatkan dari toko di dekat kantornya yang ia beli kemarin sepulang kerja.


 Gerak wanita ini terhenti sejenak melihat ke arah luar pintu kamarnya yang masih terbuka. 


 Seseorang lewat dengan cepat didepan kamar.


"Aku melihat penghuni baru?" tanya Flow.


 Flow lalu melanjutkan membuka kotak kecil yang terbuat dari kayu yang ia beli kemarin sepulang kerja.


 Kotak masih kosong belum terisi lalu ia tutup kembali dan menaruhnya di dalam lemari baris kedua di dekat peralatan make up yang belum terpakai. Hadiah penghargaan dari dirinya sendiri selama bekerja.


"Orang orang akan bilang hidupmu hanya untuk berdandan saja" kata Flow.


"Apa aku harus menceritakan semua pencapaian ku. Tidak kan?" tanya Flow.


"Orang ini semakin malam semakin berisik. Cepat tidur!" kata Flow.


 Flow tertidur dengan selimut hijau laut yang baru ia keluarkan dari lemari.


 Dua menit berlalu ketika ia tertidur.


 Sebuah tangan putih dengan urat otot otot tangan menghitam mendatangi Flow dari arah bawah tempat tidur.

__ADS_1


 Lengan bajunya juga terlihat bersamaan datang tangan merayap ke arah tangan Flow.


 Selimutnya di tarik.


 Flow menariknya lagi.


 Ia mulai menampakkan wujudnya.


 Wajahnya yang putih pucat dengan kedua kelopak mata hitam dan mata putih serta bibir pucat menatap Flow yang sedang tidur.


 Dia mengendus sambil sedikit menyeringai melihat Flow yang tertidur pulas dengan piyama satin berwarna putih mutiara.


"Bugggggggg!" 


 Hantu itu terjatuh.


 Satu tamparan ia dapat dari Flow.


"Oops!" kata Flow.


"Sorry!" kata Flow.


 Si Hantu tersungkur di depan pintu kamar dan ia kejatuhan gantungan pakaian. 


"Gulp!"


 Dia menghilang dengan suara itu.


 Flow lalu memilih langsung untuk tidur lagi.


 Tiga menit kemudian.


Dia datang lagi.


"Bam ... bam ... bammmmmm ... zz ... zz ... zztttttt!" 


 Hantu itu bersuara sesuka hati tidak mengikuti aturan persatuan hantu seluruh negeri ini.


"Memang tidak lucu" kata Si Hantu.


 Dia terus datang dan pergi sesuka hati tanpa izin atau pamit.


 Sekarang datang jalan kesana kemari ingin di perhatikan. Giliran Flow bangun, dia pergi.


"Apa dia tidak punya kerjaan?" tanya Flow.


 Dia tertidur lagi.


 Dia datang lagi.


 Mengganggu lagi.


"Kamu maunya apa sih?!" tanya Flow.


"Iseng" kata Si Hantu.


"Kamu menganggu tahu!" kata Flow.


"Sengaja" kata Si Hantu.


 Kaki kanan Flow sudah ancang ancang menendang si hantu dan segera datangi hantu itu.


"Akhirnya dia pergi juga" kata Flow.


 


 Dia jadi susah untuk tidur.


 Dia terbangun melihat ponsel yang baru saja ia aktifkan lagi.


"Banyak sekali pesan yang masuk" kata Flow.


 Dia membuka satu persatu termasuk juga pesan surel yang ia dapat.


 Flow tidak sadar bahwa ada hantu yang sama yang berada dibelakangnya sedang ikut membaca pesan yang Flow dapat.


"Kau tidak tidur?" tanya Si Hantu.


"Aaaaaaaaaaa!"


 Flow berteriak.


 Ponsel milik Flow terbuang oleh Flow ke lantai akibat terkejut dengan suara hantu yang berbisik di telinga kanannya.


 Hantu itu mendekat ke arah Flow mendekat dan terus mendekat seperti anak kucing kepada majikannya.


"Boleh aku tinggal disini?" tanya Si Hantu.


"Kenapa harus disini?" tanya Flow.


"Aku suka tempat ini" kata Si Hantu.


"Rumah tetangga ku lebih luas lebih nyaman kau tidak tertarik?" tanya Flow.


"Tidak. Rumah ini lebih nyaman dan sejuk" kata Si Hantu.


"Kata siapa disini cukup panas" kata Flow.


"Kenapa kau ingin sekali mengusir ku?" tanya Si Hantu.


 Flow mengingat sekali lagi suatu kisah yang sudah berlalu yang terjadi kepada seorang gadis remaja.


"Aku masih ingat kejadian itu" kata Flow.


 Bus berhenti sebentar di tempat perhentian bus beberapa para penumpang naik ke dalam bus.


 Bus kembali berjalan.


 Orang orang yang baru saja datang masuk kedalam bus mencari tempat duduk didalam bus.


 Flow mendapatkan satu kursi bagian belakang bus.


 Dia dengan sweater hitam bertopi hitam bermasker warna hijau muda dan celana jeans biru kaus lengan panjang hitam berkerah tertutup menyeluruh bagian leher.


 Ia melihat sepatu boot hitam miliknya. 


 Kemudian, melihat ke arah depan kembali menyeluruh bagian bus.


"Oh!" kata Flow.


 Dia akan menyapa seseorang yang dikatakan termasuk teman Jun tapi dia tidak sempat karena merasa segan.


"Apa mungkin karena kami baru saling kenal?" tanya Flow.


 Gadis yang tidak jadi Flow sapa tadi duduk di salah satu kursi bus dibagian depan kursi kursi bus.


 Flow arah pandangannya melihat  ke sisi lain dari gadis tadi.


 Dia lebih fokus lagi melihat ke arah itu.


 Gadis yang mirip sekali dengan adiknya yang sudah meninggal ada di satu bus yang sama dengan Flow.


"Tidak mungkin" kata Flow.


"Pasti hanya mirip" kata Flow.


"Ya. Anggap saja seperti itu" kata Flow.

__ADS_1


 Tempat ia berhenti dari rencana semula telah terlewat. Ia memutuskan untuk mengikuti gadis yang ia lihat itu.


 Gadis yang mirip dengan Bay sedang melihat ke arah gadis yang juga Flow kenal sebagai salah satu teman Jun.


 Dia adalah Red.


 Gadis yang sangat mirip dengan Bay terus melihat ke arah Red.


"Bukankah dia seorang hantu" kata Flow.


"Ya. Dia memang seorang hantu" kata seorang hantu disebelah kiri Flow.


 Seorang hantu yang sama ada di kamar Flow yang ada di sebelahnya ketika ia sedang memikirkan kejadian ini lagi.


 Flow mengamati situasi ini.


 Udara semakin terasa dingin bukan karena cuaca yang memang sedang dalam musim hujan tapi situasi ini sangat horor dan mencekam.


"Atau hanya aku yang sedang berlebihan dengan situasi ini" kata Flow.


 Lima detik kemudian.


"Benda apa itu?" tanya Flow.


 Benda biru menyala muncul secara tiba tiba dengan wadah botol terisi cairan biru.


 Menyala terang biru kristal kemudian menghilang.


"Kemana benda itu pergi?" tanya Flow.


 Mencari dan menunggu dalam sepuluh detik.


 Benda itu muncul kembali.


 Kalo ini lebih terang dari sebelumnya.


 Hantu yang mirip dengan Bay sedang penasaran dengan benda  botol kaca itu.


 Bus berhenti sejenak untuk menurunkan satu orang penumpang.


 Gadis hantu itu mengambil botol kaca itu dari atas kursi penumpang bus.


 Lalu, ya. Benda cair yang ada di dalam botol kaca tumpah mengenai pundak sebelah kanan Red tanpa sebuah rasa kesakitan atau apapun ia rasakan ketika benda cair berwarna biru menyala itu jatuh mengenai salah satu bagian tubuhnya.


 Red turun dari bus setelah bus tiba di tempat perhentian bus selanjutnya.


 Flow juga melihat hantu itu terus mengikuti Red.


"Apa alasan hantu itu terus mengikuti Red?" tanya Flow.


 Ponsel Flow berdering dengan suara sedang dari dalam saku sweater hitam yang ia pakai.


"Ya. Aku akan segera sampai" kata Flow.


 Dia harus memutar balik jalan setelah melewati tempat tujuan pertamanya.


 Dia baru saja pergi ke kantor pusat cabang kantor tempat ia bekerja saat itu.


 Saat itu tidak terlalu malam dengan kartu nama pegawai yang menggantung di lehernya sebagai tanda pengenal juga dokumen dokumen yang harus ia berikan kepada direktur perusahaan tempat ia bekerja.


 Dia melihat hantu tadi terus berjalan di belakang Red dengan langkah kaki ceria.


 Flow melihat dari dalam bus dan akhirnya tidak terlihat lagi olehnya karena bus yang ia naiki terus bergerak maju meninggalkan tempat perhentian bus Red turun tadi.


 Flow melihat ke arah depan menunggu tempat perhentian bus selanjutnya.


 Hantu yang tadi ada disebelah Flow juga ikut turun bersama dengan Flow.


 Sekarang, ia ikut menyeberang bersama beriringan dengan Flow dan orang orang yang juga melakukan aktifitas yang sama sedang menyeberang jalan di tempat penyeberangan jalan umum kota.


 Flow sudah mendapatkan bus kembali menuju arah kantor.


 Di dalam bus.


 Dia tidak melamun tapi sedikit memikirkan kembali hal yang membuatnya ingin banyak bertanya dengan kejadian tadi.


"Kau pernah melihat benda biru menyala itu?" tanya Flow.


"Kau ingin aku mencari tahu untuk mu?" tanya Si Hantu Balik.


"Ya" kata Flow.


"Apa kau salah satu anak buah Presdir Ma?" tanya Si Hantu.


"Siapa Presdir Ma?" tanya Flow.


"Kau tidak kenal orang itu?" tanya Si Hantu.


"Aku baru mendengar namanya dari mu" kata Flow.


"Dia sangat terkenal di perkumpulan para hantu" kata Si Hantu.


 Flow kembali dari memori yang ia simpan tentang kisah itu. Dia keluar dari selimut turun dari atas tempat tidur kemudian memakai slippers abu abu di sisi kanan bawah tempat tidur.


 Pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu.


"Kau mau membuat susu hangat?" tanya Si Hantu.


"Ya. Kau tidak boleh minta" kata Flow.


 Flow pergi kearah dapur rumah.


"Wanita itu masih saja pelit padaku" kata Si Hantu.


 Hantu yang sedang ada di kamar Flow masih disana sedang bermain ponsel milik wanita yang ia anggap sebagai teman.


 


 Dia terus melihat layar ponsel Flow.


 Layar ponselnya terus menyala.


 Kalo ini adalah nama Jax yang muncul di layar.


"Flow sedang di dapur mana mungkin aku menjawab panggilan orang ini" kata Si Hantu.


 Satu panggilan tak terjawab oleh Flow.


 Jax menelepon lagi.


"Dia masih belum selesai disana" kata Si Hantu.


 Jax berhenti menghubungi pemilik ponsel yang ada di meja studi.


 Hantu itu masih duduk meja itu.


"Siapa ini?" tanya Si Hantu.


"Ku rasa aku mengenalnya" kata Si Hantu.


"Dan?" tanya Si Hantu.


 Satu panggilan dari Radan tak terjawab oleh Flow.


 Dari semua panggilan yang tidak terjawab oleh Flow yang paling banyak tidak diangkat adalah Bob.


 Si Hantu lama menunggu pemilik rumah yang belum kunjung kembali.

__ADS_1


__ADS_2