Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 94: I can't forget you


__ADS_3

Chapter 94: I can't forget you.


"Akhirnya kau datang juga" kata Bob.


Jun datang lebih awal dari aktris dan aktor yang akan syuting iklan bersama dalam produk minuman soda.


Jun sedang makan siang.


"Itu aku yang masak" kata Bob.


"Kau bisa masak?" tanya Jun.


"Daging gulung itu. Aku yang masak" kata Bob.


"Mempertegas sekali" kata Jun.


Orang orang sedang berlalu lalang disana dengan pekerjaan yang telah terbagi sesuai keahlian yang dimiliki.


Asisten Sutradara yang sedang pura pura tidur di kursi taman tempat syuting.


Dia menahan tawa saat Bosnya sedang bicara formal dengan keponakannya.


"Habiskan. Itu sengaja tadi ku buat" kata Bob.


"Ya. Ini kenapa lezat?" tanya Jun.


Bob sedang sibuk dengan lembaran skrip yang ia baca.


Masih membutuhkan banyak waktu dan sekarang kedua pemeran lainnya sudah datang lebih awal dari waktu syuting akan dimulai.


"Kau?" tanya Ben.


"Hey. Ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku" kata Red.


"Apakah aku harus menjelaskan" kata Ben.


Keduanya pergi menemui Produser yang sudah memilihnya menjadi pemeran di iklan minuman yang akan berlangsung setengah jam lagi.


Jun sudah melihat keduanya dari jauh sehingga ia bersembunyi membalikkan badan dari mereka berdua.


Red dan Ben datang.


"Selamat siang" kata Kedua remaja ini.


Mereka kompak seperti hari sebelumnya.


Saling menatap.


Kembali fokus kepada produser mereka yang ada didepan mereka.


"Siang. Kalian sudah datang?" tanya Bob.


Red dan Ben menjadi patuh.


Kenapa tidak keduanya termasuk fans dari aktor yang mengajaknya bicara saat ini.


"Kalian bisa makan siang bersama Jun. Dia juga sudah datang" kata Bob.


"Jun?" tanya Red.


Saling menatap antara Ia dengan Ben.


"Dia?" tanya Ben.


Jun masih sibuk dengan makan siangnya dibelakang pamannya.


"Dengar tidak?" tanya Bob.


Jun menjawab, dan berkata "Dengar".


Jun berbalik ke arah mereka sambil memakan daging bakar gulung buatan Bob.


"Ayo bergabung bersama ku" kata Jun.


"Tadi aku sudah makan sebelum kemari" kata Ben.


"Sama. Aku juga" kata Red.


Bob memberikan skrip skenario kepada Jun, Red dan Ben.


"Kalian bisa mempelajari ini sebelum syuting di mulai" kata Bob.


Bob pergi menemui sutradara yang sedang menghubunginya saat ini.


Dia pergi sebentar.


Red dan Ben menatap tajam temannya yang sedang makan siang itu.


Red dan Ben masih berdiri disana dengan skrip skenario iklan ditangan mereka.


"Aku dipaksa" kata Jun.


Asisten Sutradara terbangun dari tidur pura pura dari kursi disebelah kursi sutradara di tempat syuting ini.


"Kalian bisa duduk bersama Jun sambil berlatih dialog" kata Asisten Sutradara.


"Ya" kata Red.


Mereka menghampiri Jun yang sedang makan.


Duduk di sisi kanan Jun, Red.


Duduk di sisi kiri Jun, Ben.


"Aku tidak menyangka kita bertiga merahasiakan ini" kata Ben.


"Kau terlihat lebih tampan dariku" kata Jun.


"Aku tahu kau sedang memuji ku tapi aku tidak yakin" kata Ben.


"Aku merasa tidak percaya diri" kata Red.


"Jangan begitu akting mu dulu lumayan" kata Jun.


Jun memang pernah mengikuti casting sebuah iklan yang secara tak di duga di pencarian talent baru itu juga Red mengikutinya.


"Ini pertama aku mengikuti syuting iklan" kata Ben.


"Ayo kita latihan bersama!" kata Red.


Jun menghabiskan makan siangnya setelah tak beberapa lama ia juga berlatih dengan kedua sahabatnya itu.


Bob melihat ketiga talen yang ia temukan.


"Perjalanan mereka masih sangat panjang" kata Bob.


Ketiga pemeran di syuting iklan ini sedang berlatih bersama.


Datang seseorang yang membuat seseorang siapapun akan kagum akan wajah lembut elegan yang wanita itu miliki.


Bob tersenyum dengan kedatangan wanita ini.


Dia sedang diajak berdiskusi oleh sutradara dan kru kru yang lain membicarakan syuting kali ini.


"Saya pergi sebentar" kata Bob.


Dia segera menghampiri Flow yang sedang mencari seseorang di lokasi syuting yang berada di area pantai itu.


Flow sudah menduga bahwa disana mungkin ada Bob yang sedang bekerja.


"Wanita ku datang kemari" kata Bob.


"Kise" kata Flow.


"Ya aku sudah disini" kata Bob.


"Kita berbicara informal" kata Flow.


"Kenapa. Bicara saja, ada apa kemari?" tanya Bob.

__ADS_1


Flow dan Kise pergi ke meja yang tersedia disana untuk para tamu jika ada yang datang untuk menemui investor.


Mereka terlihat serius dengan apa yang mereka bicarakan.


Flow datang atas perwakilan perusahaan tentang investasi mereka di syuting iklan ini.


"Sudah ini saja?" tanya Bob.


"Ya" kata Flow.


"Kau tidak merindukan ku?" tanya Bob.


"Tidak" kata Flow.


"Tapi aku merindukan mu" kata Bob.


"Kise" kata Flow.


"Ok" kata Bob.


Flow pergi kembali ke perusahaan setelah memberikan beberapa berkas kepada Kise.


Kise pergi menemui kru kru syuting iklan ini lagi.


Dia melihat ketiga pemeran baru iklan ini sudah siap untuk memulai syuting sore ini.


"Dia sangat cantik. Kita membutuhkan pemeran baru lagi di drama terbaru kita" kata Sutradara syuting iklan ini.


"Dia tak pernah mau ku ajak" kata Bob.


"Dia mahasiswa perfilman di angkatan ku" kata Bob.


"Oh ternyata dia wanita yang kamu suka sejak dulu" kata Sutradara syuting iklan ini.


"Aku tidak peduli dengan apapun. Aku hanya ingin dia" kata Bob.


Syuting iklan sore ini di mulai.


Jimmy dan Sima sedang ada di sebuah kedai untuk makan setelah mengantar Sima pergi ke salon.


"Kenapa kita harus kemari?" tanya Sima.


"Jika kau tidak mau pergi saja" kata Jimmy.


"Aku tidak akan pergi" kata Sima.


"Ya sudah makan saja" kata Jimmy.


Jimmy membuat Sima mengalah lagi.


Radan ada disana berbicara dengan pemilik kedai.


"Astaga. Kau masih saja sangat tampan" kata Bibi pemilik kedai.


Radan terlihat malu saat dia dipuji.


Jimmy melihat bodyguard nya bertingkah diluar dugaan di luar kebiasaan yang ia lihat.


"Aku jauh lebih takut padanya" kata Jimmy.


Disaat melewati Jimmy dan Sima Samsung's berubah seperti biasa datar dan tanpa emosi. Menakutkan.


Pemilik kedai menyalakan televisi di tempat usahanya.


Bibi itu mengganti channel televisi yang ia inginkan.


Pukul empat lebih sepuluh menit.


Sima menolak namun pada akhirnya mau makan Ayam goreng di kedai itu malah nambah.


Jimmy sedang fokus dengan menonton sinetron sambil makan salad sayur saus kacang.


Radan juga terlihat sama dengan apa yang dilakukan oleh pacarnya itu.


Sima penasaran berbalik kemudian melihat sinetron yang sedang tayang saat itu.


"Oh my god!" kata Sima.


"Ayo kita putus!" kata Sima.


"Ayo!" kata Jimmy.


"Tapi apa dia mau denganmu?" tanya Jimmy.


Sima dan orang orang disana sedang menonton sinetron yang sedang dibintangi oleh Jun.


"Sore Bibi!" kata Sammy datang.


Waktu yang tidak mendukung.


Dia melihat Jimmy yang sedang makan bersama dengan Sima. Dia tidak bisa lari dan bersembunyi dari mereka.


Dia melanjutkan perang lama ini.


Karyawan Bibi itu datang dan menyapa Sammy dengan sangat ramah.


"Kakak Sammy. Kakak bersama siapa, dimana Kak Jimmy?" tanya karyawan itu.


"Oh. Jimmy, dia disana dengan pacar barunya" kata Sammy.


Radan menaruh ayam goreng yang sedang ia makan diatas piring setelah mendengar pertanyaan ini.


Pelayan itu juga melihat Jimmy yang sedang bersama pacar barunya.


Canggung.


Canggung.


Ya benar.


"Sorry" kata pramusaji kedai tersebut.


"Untuk apa?" tanya Sammy balik.


Sammy sudah terbiasa jika ditanya hal semacam ini jika bertemu orang lain.


Untuk Jimmy adakalanya manusia memang punya rasa bersalah meski itu setetes air di lautan.


Dia melihat kearah Sammy dengan wajah agak sedikit rasa bersalah.


"Terimakasih Bibi" kata Sammy.


Sammy pergi dengan makanan yang sudah ia pesan lewat pesan yang diterima oleh Bibi itu dari Sammy satu jam yang lalu.


Sammy keluar setelah membayar pesanan makanan.


Jimmy belum berhenti melihat Sammy meski dia berjalan pergi dari sana melihatnya dari dalam kedai.


"Kau jangan ganggu dia" kata Jimmy.


"Kenapa langsung aku?" tanya Sima.


"Aku percaya kamu tidak seperti itu" kata Jimmy.


Itu tidak mungkin seorang Jimmy. Itulah yang ada di pikiran Sima.


Di lokasi syuting disaat Jun harus beradegan merangkul pundak Red dan apa yang terjadi Ben melirik kearah Jun dan juga merangkul pundak Red dari belakang juga.


"Aku tidak salah lihat lagi" kata Ben.


Deburan ombak datang.


Ben mengejar mereka dari belakang.


Dia menutupi lagi dan berada Di dekat mereka.


Semua terlihat seperti biasa Jun bisa terlihat lagi. Lengan Jun bisa terlihat yang sebelumnya menghilang sebelum ia berada dekat dengan mereka.


Disaat ia sedang mengambil bagian dari adegan syuting berlari menuju mereka berdua dan ia melihat Jun merangkul Red langsung seketika tangannya menjadi bayangan tak dapat terlihat dari matanya disaat deburan ombak menerpa keduanya.

__ADS_1


"Terimakasih Tuhan ternyata aku berguna juga" kata Ben.


Ben berbicara dalam hati.


Mereka sedang syuting dan menerapkan dialog yang ada di skrip skenario yang tadi sebelum mereka syuting pelajari.


Jun tidak menyadari apa yang terjadi kepada dirinya barusan disaat itu pula Jun sedang tidak dikendalikan oleh Doe. Red juga sedang tidak dikendalikan oleh Bling.


Syuting berlangsung hingga pukul tujuh malam mereka baru bisa pulang.


"Kalian naik apa?" tanya Bob.


"Kita naik sepeda motor" kata Jun.


"Hati hati di jalan" kata Bob.


Jun melihat Pamannya lebih perhatian ketika ia bekerja dengannya.


"Aku lebih suka kau marah atau menghina ku" kata Jun.


"Aku sedang bosan saja" kata Bob.


Ketiga remaja ini pulang bersama setelah syuting iklan.


"Berpikir" kata Bob.


"Ayo berpikir!" kata Bob lagi.


"Disana sangat ramai" kata Bob.


Bob ada di luar kafe dekat kantor tempat Flow bekerja.


Flow sedang makan malam dengan bersama Macy dan Jax di kafe tersebut.


"Aku akan melihatnya dari sini saja" kata Bob.


"Perutku tiba tiba lapar" kata Bob.


Dia memesan makanan secara online dan harus diantar di tempat itu dia ada didalam mobil.


"Sudah. Aku menunggu makanan sampai datang" kata Bob.


Sepulang syuting ketiganya pergi ke mini market di perjalanan pulang untuk dimakan.


Mini market didepan tempat gym Ayahnya Ben yang biasa Ben jaga hampir setiap hari.


Ketiganya masuk satu persatu kedalam mini market diawali dengan Red terlebih dahulu.


"Kau yang ada di sinetron Bahagia itu Mudah kan?" tanya gadis karyawan mini market.


Jun dalam sikap datar.


"Siapa?" tanya Jun.


"Kakak?" tanya karyawan itu lagi


"Pasti kembaran ku. Itu bukan aku" kata Jun.


Dia berjalan santai masuk ke mini market untuk mencari makanan yang ia butuhkan untuk makan malam.


Ben sedang bersama dengan Red memilih beberapa roti panggang.


"Jangan dekat dekat dengan Jun" kata Ben.


"Kenapa dengan Jun?" tanya Jun.


Jun sedang memilih donat dan makanan lainnya.


"Dia mendengar itu" kata Ben.


"Bagaimana kalau rasa ini?" tanya Red.


"Ambil saja. Asalkan jangan dekat dekat dengan anak itu" kata Ben.


"Syarat mu terlalu berat ada alternatif lain?" tanya Jun.


"Tidak ada" kata Ben.


Datang ke kasir mini market berbaris mengantri untuk membayar makanan makanan mereka.


"Jangan dekat dekat Jun. Kau paham kan" kata Ben.


Jun ada didepan Ben sedangkan Red datang mengantri setelah Ben karena dia tadi sedang memilih sesuatu lagi yang ingin ia beli didalam mini market.


Karyawan mini market melihat dengan fokus sekali dua kali dan tiga kali ketika sedang memasukkan barang barang yang Jun beli.


"Benar. Kau yang ada di sinetron tadi sore" kata karyawan wanita itu.


"Tidak. Dia kembaran ku" kata Jun.


Jun setelah mendapatkan barang yang sudah ia beli, dia akan keluar dari mini market.


Ben menaruh makanan makanan di kasir untuk di hitung berapa yang harus ia bayar.


"Kenapa kalian berdua sangat tampan?" tanya wanita karyawan mini market itu yang lain.


"Kembalian uang, biasa saya akan donasi kan" kata Ben.


Giliran Red yang dalam keadaan tanpa suara.


Ben tidak keluar setelah mendapatkan barang barang yang ada ditangan.


Dia menunggu Red yang belum selesai dengan urusannya di kasir mini market.


Ayahnya Ben masuk kedalam mini market.


"Kau belum pulang. Ibu mencari mu" kata Ayahnya Ben.


"Tiba tiba aku terharu" kata Ben.


"Ayah tidak memarahi ku?" tanya Ben.


Ayahnya Ben tetap cuek disaat ditanya oleh putranya. Dia sedang memilih buah buahan.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu" kata Ben.


Dia merasa aneh jika Ayahnya mau beli buah biasanya ibunya yang membeli itu.


"Apa yang harus aku tanyakan lagi?" tanya Ben dalam dirinya sendiri.


Red sudah selesai dengan barang belanjaan dan menyapa Ayahnya Ben.


"Selamat malam Paman" kata Red.


"Selamat malam teman Ben" kata Ayahnya Ben.


Dia kemudian berlanjut belanja di dalam mini market.


Ben mempersilahkan Red keluar lebih dulu dan setelah itu ia baru keluar dari mini market.


Tempat duduk didepan mini market.


Ben dan Jun dengan susu kotak rasa stroberi.


Red dengan yogurt rasa stroberi.


Duduk dalam satu meja melihat jalan didepan mini market yang masih ramai.


"Jangan lama lama disini. Jaga tempat gym" kata Ayahnya Ben.


"Iya" kata Ben.


Ayahnya Ben akan menyeberang.


Menunggu dua menit.


Akhirnya, dia bisa menyeberang di jalanan yang cukup ramai.


"Apa kalian berdua sedang sakit?" tanya Ben.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Red.


__ADS_2