
Chapter 108: Masihkah kita berteman?.
Suara itu terdengar oleh Hera dari jarak tiga kilometer, dia sedang mencari pelaku yang menyerang Sima dan Wayne juga Jimmy.
Dia berbalik mengarah ke arah sumber suara itu.
Telinganya berdengung keras mendengar suara itu lagi.
Dia segera menggunakan kekuatan teleportasi bergerak pergi mengejar asal suara itu.
Hutan lebat di hari yang cerah ia ada diatas sana diantara pepohonan tinggi dengan embun pagi di pukul delapan pagi yang masih ada menyelimuti.
Dia menyingkirkan dedaunan kering dari sebuah tumpukan banyaknya dedaunan pohon hutan yang jatuh dari pohonnya.
Suara samar samar itu kian lama terdengar dari dalam hutan lebat yang Hera datangi dalam langit terang di pagi hari ini.
Suasana berubah menjadi lebih gelap disaat Hantu penunggu danau ini semakin masuk kedalam hutan yang lebat itu makin gelap seperti malam awan mendung terlihat dari sela sela dedaunan pohon yang ada diatas Hera yang sedang menengadah ke atas menatap langit.
Belum hujan.
Dia terus mencari dan mencari dimana asal suara itu.
"Dimana dia?" tanya Hera.
Berbagai warna hantu yang dominan kabur hitam hantu hantu itu terlihat oleh Hera.
Dia melihat beberapa hantu penunggu hutan yang berlarian pergi menjauh melihat kedatangan Hera disana.
Belum satu kali pun ia bisa mengajak bicara salah satu dari mereka dan mereka memilih untuk tidak berbuat ramah kepada Hera.
"Yang kudengar bukan sebuah imajinasi ataupun halusinasi tapi suara itu sangat nyata" kata Hera.
Dia mencari melanjutkan menyingkirkan tumpukan dedaunan yang ada di bagian lain area hutan berpindah dan berpindah lagi.
Dia mulai marah dengan hasil usahanya yang belum berhasil.
"Bagaimana jika dia tidak selamat karena aku?" tanya Hera.
"Atau itu hanya imajinasi ku saja dan dia sudah pergi" kata Hera.
Hera semakin menggila dengan usahanya mencari sumber suara itu.
Dia dengan cepat meningkatkan level kekuatan yang ia miliki untuk terus mencari.
"Aku bisa gila jika tidak menemukannya" kata Hera.
Dia dengan dua tangan terus menyingkirkan dedaunan diatas tanah.
Sebuah tameng pelindung tapi bukan pelindung terlihat oleh Hera dan orang orang biasa akan terlihat seperti tanah biasa seperti tanah yang ada di sebuah hutan.
Tangannya ia aktifkan kekuatan miliknya dengan energi berwarna hitam dan jemari jemari kuku yang menjadi tajam menghancurkan dinding manipulasi yang menyelimuti pemilik suara yang sedang Hera cari.
Hera dengan hati hati menyentuh tameng pelindung yang ia lihat di depannya.
"Krrekkkkkk!"
Seperti suara retakan kaca yang retak.
Dia lebih berhati hati lagi ketika perlahan tameng pelindung itu kian retak retak menjalar dan mulai pecah di setiap bagian jemari jemari tangannya bergerak menghancurkan mantra ini.
Hera melihat kedua mata seorang wanita berkaca kaca melihat kedatangan Hantu ini.
Dia bisa melihat hantu itu dalam pandangan kabur tapi dia yakin bahwa dia melihat seseorang telah datang.
Mantra manipulasi itu hancur dihancurkan oleh Hera.
Segera Hera mengirim sinyal energi berwarna hitam berkabut ke atas langit untuk Radan.
Radan sedang berada di roof top rumah sakit melihat sinyal yang diberikan oleh partner dalam misi ini. Hera.
Dia dengan tubuh aslinya meninggalkan tubuh penggantinya yang sedang bertugas menjaga remaja remaja masih di rumah sakit.
Dia segera pergi menuju tempat dimana Hera memberikan sebuah sinyal pertolongan.
Mata itu milik seseorang miliknya dan juga milik orang lain dalam sebuah bayangan antara seorang wanita dan hantu wanita yang Hera sangat ingat dengan tatapan mata dari orang yang ia temukan.
"Maaf" kata Hera.
Dia berusaha membuat wanita yang ia tolong bisa bertahan.
Dia membantu wanita itu untuk bisa duduk dengan tegap dan benar.
"Kau pasti mengingat ku" kata Hera.
Flow sedang berusaha mengajak Hera untuk berbicara dengannya dengan suara sisa energi yang ia miliki.
Hera mendekatkan telinganya ke lisan Flow.
"Kau bicara apa. Aku benar benar tidak mendengar apapun?" tanya Hera.
Flow memang tidak terdengar apapun disaat ia sedang bicara kepada Hera.
Dan dia hanya bisa meneteskan airmata disaat itu menatap mata Hera.
"Pergi" kata Flow.
Itulah kata yang sedang berulangkali ia ucapkan tanpa suara kepada Hera.
Tanpa rasa sakit dan disadari oleh Hera hal itu terjadi padanya.
"Lepaskan dia!" kata Radan.
Radan datang dan mencoba menarik lengan Hera agar menjauh dari Flow yang sedang bertahan dalam kematian.
Hera berbalik menatap panggilan dari Radan.
Radan berhasil menarik lengan hantu penghuni danau itu dan disaat itulah dia mulai terbakar menghilang perlahan semakin cepat di hadapan Radan.
Dia melihatnya.
Hera baru sadar bahwa dia semakin menghilang secara perlahan sejak detik detik sebelumnya.
Satu tetes air mata jatuh dari mata bagian kiri Hera.
Dia pergi.
Pergi menghilang di hadapan mereka.
Bibirnya berucap lagi setelah kekuatan dari milik Hera diserap habis oleh Flow dan membawanya pergi dari hadapan Radan sebelum ia mencoba menyelamatkan wanita yang diinformasikan telah menghilang tersebut.
"Apakah kalian masih ada didunia ini?" tanya Radan.
Membuka energi biru dari kedua bola mata melihat keseluruh bagian hutan yang ia datangi sekarang.
Dia melakukan lagi.
Mencoba lagi dan dia sudah tahu setelah ini bahwa dia tidak menemukan siapa saja yang ia cari tapi dia belum menerima bahwa dia tidak menemukannya.
__ADS_1
Dia memutuskan melakukan teleportasi untuk kembali di rumah sakit melanjutkan misinya kali yang lain.
Radan sudah kembali di roof top rumah sakit seperti sebelumnya.
"Uri" kata Radan.
Itulah nama hantu yang masuk kedalam raga Flow hantu yang sama bertugas seperti Bling dan Doe untuk membantu menyelamatkan dari mantra dari "Orang itu" yang berbentuk seperti air biru terang menyala dalam sebuah botol kaca yang bertutup kayu.
Dan kini dia kembali hadir di tubuh penggantinya sebagai dirinya sendiri.
Jun menghampiri duduk disebelah kiri Radan.
Membuka satu permen lolipop dari dalam saku celananya.
"Kakak sangat sibuk sekali sampai sampai menggunakan tubuh pengganti terus" kata Jun.
"Tak ada yang tidak kamu tahu" kata Radan.
"Tadi habis pergi kemana?" tanya Jun.
"Tadi?" tanya Radan balik.
Pembicaraan tidak dilanjutkan karena suatu hal yang benar benar ia harus datang di suatu tempat.
Dia menjawab panggilan telepon dari seseorang.
"Iya. Aku akan segera datang" kata Jun.
Menutup ponsel dan memasukkan kedalam jaket jeans hitam yang ia pakai.
"Aku harus pergi" kata Jun.
Jun pergi untuk sebuah pekerjaan yang mewajibkan dia harus datang tidak boleh tidak.
Dia semakin jauh dari tempat Radan sekarang duduk didepan ruangan rawat pasien.
"Jika aku cerita, dia akan lebih heboh dari sebelumnya, sebelum melihat hantu pacarnya" kata Radan.
Dia mengaktifkan kembali kekuatan penyembuh untuk remaja remaja yang memang membutuhkan dan harus di tolong oleh Radan.
Tak berapa lama setelah Jun pergi, Sammy keluar dari ruang rawat Jimmy setelah menjenguk selama lima belas menit. Dia bergerak pergi keluar dari dalam sana melewati Radan dan kembali sebentar menemui Radan untuk memberikan kue buatan sendiri. Lalu, pergi untuk menjenguk Wayne yang sedang bersama kedua orang tuanya.
"Tok tok tok!"
Suara ketukan pintu ia lakukan, dia melihat kedua orang tua Wayne yang ada disana.
"Selamat pagi, saya teman Wayne" kata Sammy.
Sammy menyapa dan memberikan bingkisan kue kepada Ibunya Wayne.
"Tante, ini kue untuk Wayne" kata Sammy.
"Ohhhh. Sammy, terimakasih. Ini kan teman Wayne yang dulu satu kelas kan" kata Ibunya Wayne.
"Iya" kata Sammy.
Ibunya Wayne sedang berusaha mencoba idenya disaat ini juga kepada Sammy menunggu anaknya terbangun disaat Sammy mulai datang mengetuk pintu ruang rawat Wayne.
Dia menunggu dan menunggu hingga hampir sepuluh menit dan anak kesayangannya belum terbangun dari atas tempat tidur.
Dari arah lain, Ben yang baru datang dengan satu toples permen berbentuk bola kristal ia bawa sesuai pesanan Jamie.
Dari arah kamar Sima, Jamie keluar dan melihat bahwa ada Ben yang sudah datang dengan membawa permen yang ia sukai.
Dia pergi dengan wajah ceria mendekat ke arah Ben yang merasa dia akan tidak baik baik saja dengan sikap Jamie yang ia dapat.
Dia langsung mencoba mengambil kaleng berbentuk tabung dengan tinggi lima belas sentimeter dari tangan Ben.
"Brakkkkkkk!"
Tutup kaleng itu tidak terbuka kaleng itu jatuh menggelinding pergi menjauh dari Jamie dan Ben.
"Kenapa bisa jatuh?" tanya Jamie.
Ben dan Jamie bersama berdua mengejar kaleng berisi permen itu yang jatuh menggelinding pergi masuk kedalam kamar rawat Wayne.
Disaat ini lah Wayne mulai membuka mata dan melihat Sammy ada di depannya bersama Ibunya yang ada di sebelah kanannya sedang berdiri melihat Wayne.
"Aku dapat" kata Jamie.
Dia menatap wajah Ben penuh ceria. Jamie.
Wayne melihat Ayahnya yang ada di kursi sofa.
Wayne berusaha untuk duduk dan melihat Jamie dan Ben juga.
"Ada kalian juga disini" kata Wayne.
Ibunya Wayne langsung menarik tangan Jamie.
Dia juga penuh pertanyaan dengan situasi ini.
"Maukah kamu menjadi menantu ibu?" tanya Ibunya Wayne.
Agak terkejut tapi ya pasti terkejut langsung saja berbagai ide Jamie berusaha untuk di munculkan pada momen ini.
Isi kepalanya menjadi acak dengan berbagai ide yang berlarian pergi dari kepalanya.
"Cepat berpikir cepat!" kata Jamie dalam hati.
Wayne masih agak bingung karena pengaruh obat mencoba membantu situasi ini agar tidak merambah lebih jauh lagi.
Ben berjalan kian mundur.
Wayne melihat pergerakan dari teman Jamie itu.
"Ben bawa pergi pacar mu!" kata Wayne.
"Pacar?" tanya Ibunya Wayne.
Dia melirik ke arah suaminya yang sedang memakan buah jeruk setelah melihat anaknya sadar.
"Cepat kau bawa pergi dia!" kata Wayne.
Ben berjalan maju menuju Jamie.
"Ayo kita pergi menemui Wren" kata Ben.
"Wren?" tanya Jamie.
"Ayo cepat" kata Ben.
"Maaf Tante kami berdua telah mengganggu kalian" kata Ben.
Dia membawa pergi gadis ini yang belum juga paham dengan maksud dengan situasi ini.
__ADS_1
Sammy menahan senyum melihat kejadian ini.
"Maaf Tante, saya mau menjenguk teman saya di sebelah ruang rawat ini" kata Sammy.
Sammy juga ikutan berusaha menghindar dari konflik ini.
"Eh. Tas kamu ketinggalan" kata Wayne.
Sammy yang mau keluar dari ruang rawat Wayne kembali mengambil tas yang ada diatas salah satu kursi besi ruangan tersebut.
Dia pergi untuk menjenguk Sima.
Wayne melihat Ibunya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Kemudian, menatap Ayahnya yang sedang makan jeruk lagi.
"Ada apa ini. Ada yang ingin menjelaskan?" tanya Wayne.
"Ini, kamu suka jeruk kan. Makan ini" kata Ibunya Wayne.
Dia mengambilkan satu buah jeruk dan membantu membuka kulit buah jeruk tersebut.
"Aku akan lakukan sendiri" kata Wayne.
Wayne mengambil jeruk yang ada ditangan Ibunya.
"Makasih Mah untuk jeruk ini" kata Wayne.
Wayne menjadi anteng dengan jeruk yang sedang ia kupas.
Sammy ada di kamar Sima.
Dia menyentuh tangan Sima.
Ada Red melihat ini.
"Bangun. Aku mau menjadi sahabatmu" kata Sammy.
"Kenapa kamu tetap diam saja, bangun?" tanya Sammy.
"Dengar. Kamu mendengar ku kan. Jadi, bangun" kata Sammy.
Red melihat seseorang sedang menangis di depannya sendiri.
Dia sedang mengamati dan dia belum berkedip.
"Apa itu nyata?" tanya Red.
"Lalu. Kenapa kau disini?" tanya Sammy.
"Aku hanya ingin disini" kata Red.
"Setelah apa yang telah dia lakukan padamu?" tanya Sammy.
"Bagaimana jika pertanyaan itu aku berikan padamu?" tanya Red.
Jax datang disaat mereka berdua akan bertengkar.
Dia membetulkan kaca matanya.
Kedua remaja ini membatalkan perkelahian ini.
"Aku pergi" kata Sammy.
Dia pergi dari perkelahian yang tertunda ini.
Dia melewati Jax yang sedang membawa bucket bunga lily putih untuk Sima.
Dia tidak berbicara kepada Jax.
Dia terlihat baik baik saja kembali dari mode emosional ketika barusan berbicara dengan Red.
"Apa kalian harus seperti itu?" tanya Jax.
"Berikan bunga itu. Aku akan memindahkan di vas bunga ini.
Jax memberikan bunga lily putih yang ia genggam kepada Red.
"Aku serahkan ini kepada mu" kata Jax.
Red menerima bunga dari Jax.
Red dengan cepat menaruh bunga dari Jax lalu pergi meninggalkan Jax bersama dengan Sima.
Dia keluar dari ruang rawat Sima untuk mengejar Sammy.
Dia berpapasan dengan sepasang orang dewasa yang dengan pakaian formal datang mengarah ke ruangan Sima.
Dia ruangan Wayne.
"Bukankah itu Red" kata Ibunya Wayne.
Dia sedang menyuapi anaknya dengan bubur.
"Benar kan. Ibu tidak salah" kata Ibunya Wayne.
"Iya. Itu Red" kata Wayne.
"Kenapa kau tidak bilang dia ada disini?" tanya Ibunya Wayne.
"Aku takut pasti Ibu lebih sayang dia daripada aku" kata Wayne.
"Kamu bicara apa sih" kata Ibunya Wayne.
"Sudahlah. Kita bersyukur anak ini bisa sadar kembali" kata Ayahnya Wayne.
Dia akan mengejar Red tapi dia juga melihat bahwa keponakannya sedang memiliki sebuah urusan penting dengan seseorang. Jadi, dia melanjutkan menyuapi putra satu satunya itu.
Red melihat Sammy keluar dari ruang rawat Wren.
Red masih berusaha mengejar gadis itu.
Berjalan agak cepat.
Akhirnya, dia bisa menyusul teman satu kelasnya itu.
"Aku belum terlambat untuk meminta maafkan" kata Red.
Sammy sedikit kaget dengan kedatangan Red ada disampingnya.
"Lihat kau tersenyum padaku" kata Red.
"Aku tahu kamu tidak memiliki sifat itu. Jadi, aku maafkan" kata Sammy.
Red langsung memeluk Sammy dengan erat.
"Terimakasih kawan!" kata Red.
__ADS_1