Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 19: Dimensi untuk Pemeran Utama


__ADS_3

Chapter 19: Dimensi untuk Pemeran Utama.


 Hari minggu mendung tidak hujan.


 Pesan untuk grup terkirim.


"Pagi, Bro!" Jun mengirim pesan pada Good dan Ben.


 Dibaca oleh Good, kemudian Ben.


 Ben membalas pesan Jun, "Pagi Bro, ada apa. Masih pagi?".


"Pagi, udah bangun. Ada apa?" Good membalas.


 Jun mengetik.


"Sudah ada acara hari ini?" Jun mengirim pesan lagi kepada keduanya.


 Good membalas pesan Jun, "Aku sih free. Aku siap diajak nongkrong".


"Kamu gimana Ben?" tanya Jun.


 Ben mengetik.


 Lalu mengirim pesan, "Aku yes. Emang mau kemana?" tanya Ben.


"Kita nonton film dokumenter. Ikut kalian?" Jun mengirim pesan lagi kepada Good dan Ben.


"Asik juga. Jam berapa kita kumpul?" tanya Ben.


"Ajak yang lain. Misal Red atau Sammy?" Good mengirim pesan.


"Kalau Bee?" tanya Jun mengirim pesan lagi.


"Ajak deh. Asal jangan Jimmy" Ben mengirim pesan ini.


"Aku baik baik saja" Good merespon mereka.


"Emang kamu kenapa Good?" Pertanyaan ini dari pesan Jun.


 Good mengetik.


 Mengirim pesan lagi dalam grup.


"Jadi nggak?" tanya Good. Pagi yang cerah sedikit kesal jika berbicara berkaitan dengan Bee.


"Ini beneran harus ajak Red sama Sammy?" tanya Jun pada anggota grup.


 Akhirnya, Ben langsung tanya ke Red dan Sammy.


"Kalian sibuk nggak hari ini. Kita mau nonton film dokumenter?".


"Nggak salah?" Sammy membalas.


"Mau ikut nggak?" Ben mulai agak berapi-api.


 Red masih buat sarapan belum baca pesan dari mereka sedangkan Sammy lagi bersih-bersih ruang tamu.


"Kita pergi jam sepuluh pagi ini. Gimana?" tanya Jun.


"Nggak jam delapan?" tanya Ben.


"Dia kerja dulu!" Sammy mulai marah dengan mantannya.


"Seharusnya aku yang marah. Kenapa jadi SAMMY?" Ben menyebut nama Sammy dengan huruf besar semua.


"Setuju atau nggak?" Jun mengirim pesan lagi.


"Aku, yes" Good mengiyakan.


 Sammy membalas, "Ok, bro!".


"Gimana Red ikut nggak?" tanya Ben.


 Dia belum mengecek ponselnya, masih masak.


"Aku ikut. Jam sepuluh, deal" Ben mengirim pesan lagi.


 Sepuluh menit selanjutnya. Red baru selesai masak.


"Ya" Red baru membalas pesan mereka.


"Good. Jadi, kita ajak Bee?" tanya Jun mengirim pesan lagi.


"Kenapa tanya aku. Terserah!" Good membalas.


 Jun menambahkan Bee kedalam anggota grup mereka dan berdua bertanya, "Bee, kita mau nonton film dokumenter jam sepuluh pagi ini. Di bioskop dekat taman kota. Ikutan nggak?".


 Bee sedang pakai skin care di meja rias.


"Iya. Nanti aku langsung kesana, aku mau shopping dulu dekat mall disana".


"Belanja terus" Good mengirim pesan.


"Ada apa dengan Anda?" Bee mengirim pesan lagi.


 Pukul setengah delapan pagi di salah satu pusat perbelanjaan dia pergi sendiri tanpa ada yang menemani. Dia berpikir semua akan berjalan sebagaimana biasa ia lakukan seperti akhir pekan. Dia berkeliling di setiap toko yang ada disana melihat apakah ada barang yang ia sukai untuk bisa ia beli.


 Keadaan di dalam sana ramai tenang dengan pengunjung dari lantai satu sampai lantai dua tiga hingga lantai paling atas.


 Pandangannya teralihkan dengan seseorang yang tidak ia duga juga ada disana.


"Aku mengenal orang itu" Bee mengejar salah satu teman satu kelasnya.


 Dia mengikutinya dari belakang dan dia semakin menjauh entah dimana akhir tujuan Bee tetap mengikuti temannya itu.


 Dia yang sedang diikuti dengan karakter yang ia miliki tak mungkin ia tak mengetahui hal ini. Hingga suatu pada detik yang telah ia hitung.


"Kau mengikutiku?" Jimmy menangkap Bee dengan menarik tangan kanannya menaikan ke atas.


"Aku mengikutimu. Tapi, akhirnya kau mau mengakui keberadaan ku" Bee nampak tak berpikir dua kali saat memiliki perasaan ini.

__ADS_1


 Sebenarnya Jimmy sedang menghindari bodyguard pribadinya agar tidak terus mengikutinya sampai saat ini ia juga masih sedang bersembunyi.


 Jimmy mengajak Bee pergi ke suatu tempat dan gadis ini menurut saja tanpa memiliki pikiran  negatif tentang Jimmy.


 Dia dibawa naik ke tangga darurat menuju lantai atas gedung yang jaraknya telah Jimmy hitung tidak terlalu jauh jika naik ke atas sana. Dia sudah hampir di lantai atas gedung pusat perbelanjaan.


 Ponsel milik Bee terus menyala dan bergetar.


"Kau dimana. Aku juga ditempat pusat perbelanjaan ditempat yang sama seperti mu?" Ben telah mengirim pesan kepada Bee. Dia belum membacanya.


 Ben juga berulang kali menghubungi ponsel Bee. Dia tak mengangkat ponselnya.


 Ben sudah mulai khawatir, dia semakin masuk ke area pusat perbelanjaan dan mendatangi toko toko yang biasa Bee datangi.


 Ben terus mencari Bee.


 Bee sudah ada di rooftop pusat perbelanjaan bersama Jimmy.


"Kau suka?" Jimmy membuka percakapan dengan Bee.


"Biasa saja. Tidak, aku suka" Bee berkata seperti ini lalu tersenyum kepada Jimmy.


 Bee ataupun Jimmy tak menyadari kehadiran hantu bergaun hitam yang siap dengan segala rencana yang ia miliki.


"Kau mau menjadi pacarku?" Bee dengan mudahnya mengatakan ini pada Jimmy.


 Jimmy terdiam sesaat dan apa yang terjadi hantu itu masuk kedalam tubuh Jimmy. Kedua bola matanya telah berubah lebih dingin tajam menatap Bee. Dia Jimmy dengan hantu yang masuk kedalam tubuhnya tanpa segan ingin membawa gadis itu menyingkir dari hadapan Jimmy dengan segera.


 Bee terdorong jauh oleh Jimmy. Bee terjatuh.


"Bruggg!"


 Bee melihat bahwa sesuatu hal buruk akan terjadi pada Jimmy. Dia langsung menarik tangan Jimmy dan mencegah ia melompat dari atas gedung.


 Hantu itu berniat mencegah agar gadis di depannya tak ikut campur dan akhirnya niat baik Bee telah membawanya ke sebuah dimensi yang sebelumnya ia belum datangi. Hantu itu tetap memaksa tubuh Jimmy untuk menjatuhkan dirinya ke bawah gedung.


 Keberuntungan menimpa Bee dan Jimmy, mereka tertolong dan tak sampai kejadian jatuh dari atas gedung terjadi.


 Bee sangat bersyukur dengan hal ini.


"Tadi malam aku bermimpi apa?" Bee masih berbaring di lantai akibat menarik Jimmy agar tak melompat dari atas gedung.


 Gadis ini melirik ke arah Jimmy. Dia masih tak sadarkan diri.


 Seorang gadis dengan celana semi kulit dan sepatu boot hitam memakai kaos abu abu panjang lengannya berkalung gold dan berambut berwarna brown dan memakai ring earring. Bling berhasil mengeluarkan hantu itu dari tubuh Jimmy dan menarik remaja itu agar tak jatuh dari atas gedung.


"Ini menebus kesalahan ku yang waktu itu saat kau menampar Sammy" Bling mengingat kejadian saat Jimmy menampar Sammy diatas rooftop sekolah dan menendang Jimmy sampai akan terjatuh dari atas gedung.


 Hantu yang baru saja keluar dari tubuh Jimmy pergi entah kemana.


"Hey. Bangun!" Bee menepuk pipi Jimmy dengan kerasnya dan Jimmy belum bangun juga.


 Bee teringat dia tadi membeli sebotol air mineral yang ada di tas ransel kecilnya. Dia ambil dan membuka tutup botol air minum itu.


"Byurrrr"


 Semua isi air mineral itu habis tersiram di wajah Jimmy.


 Jimmy mengusap wajahnya yang basah kuyup hingga bajunya "Kau yang melakukan ini?".


"Kau tadi pingsan" Bee menjelaskan.


"Hahh. Sejak kapan?" tanya Jimmy bingung dengan hal aneh yang menimpa tanpa ia sadari.


 Jimmy bangun dari lantai rooftop gedung itu.


 Bee membantu Jimmy bangun dan mengajaknya untuk pergi dari tempat itu. Bee mengambil jalan menuju arah lift gedung itu.


"Kau harus mengganti baju mu yang basah itu" Bee menarik paksa Jimmy untuk pergi ke toko pakaian untuk mengganti pakaiannya.


 Setelah bersusah payah akhirnya bodyguard Jimmy bisa menemukan bos mudanya itu bersama seorang gadis.


"Siapa dia. Tugasku dimulai lagi" Bodyguard Jimmy sudah memiliki cara agar ia bisa memisahkan gadis itu dari Jimmy.


 Bee mengambil satu kaus merah sama seperti warna gaun yang ia pakai saat ini.


Jimmy ada di ruang ganti.


"Kau disini. Aku sudah mencarimu sejak tadi. Kau sedang apa disini, ini toko pakaian untuk pria?" tanya Ben.


"Banyak sekali pertanyaanmu. Aku tidak bisa menjawab semuanya" kata Bee marah marah kepada Ben.


"Kau jadi pergi nonton film bersama kami?" Ben membantu membawa tas Bee.


"Aku pasti datang. Ada Red dan Sammy juga kan?" Bee menanyakan rencana awal mereka.


"Mereka pasti datang. Jangan khawatir"  Ben menjelaskan.


"Kau sendirian mencari ku?" Bee bertanya lagi.


"Bibi menyuruhku menemani mu belanja" Jawab Ben tanpa perasaan terpaksa.


"Aku tidak tahu kenapa kau seperti Kakakku itu" Bee menghela napas.


"Aku juga sedang mencari sesuatu. Jadi, sekalian menjagamu" kata Ben lalu meminum jus melon dengan es krim vanila di tangan..


"Kau menunggu siapa sebenarnya, dia lama sekali?" tanya Ben sedang duduk di kursi pengunjung toko.


"Jimmy" Bee menjawab dengan tenang.


 Ben pasti langsung tersedak mendengar gadis ini sedang menunggu Jimmy yang sedang berganti pakaian di ruang ganti.


"Kita harus pergi dari sini. Jangan terlalu dekat dengan orang itu!" Ben berusaha membawa pergi Bee dari tempat itu.


 Jimmy keluar dari ruang ganti.


"Lepaskan tanganmu!" Perintah Jimmy dengan suara manly.


 Dan Ben mulai muak mendengar suara itu keluar dari mulut orang yang ia benci.


"Kali ini gadis ini, kau mau berulah lagi!" Ben mudah marah marah lagi jika bertemu dengan orang ini.

__ADS_1


 Jimmy dengan tenang berkata, "Apa aku terlihat sangat jahat?".


 Matanya tertuju pada Bee.


"Tidak. Tidak sama sekali" Jawab Bee dengan wajah super naif.


"Kita bertemu lebih awal. Kau bisa ikut dengan kami jalan jalan" Jimmy menawarkan.


 Karena Ben tak ingin membuat keributan di sana, dia memutuskan untuk berdamai dengan Jimmy dan bergabung dengan mereka.


"Kita akan pergi bersama" Ben berkata dengan terpaksa.


"Bagaimana kalau dia juga ikut dengan kita nonton bareng?" tanya Bee lagi pada Ben.


"Terserah kau sajalah" Ben menjawab lagi pertanyaan gadis ini.


 Ben di lubuk hatinya terjadi pertentangan batin kenapa dia harus menuruti gadis yang super menyebalkan itu tapi dia tetap ia sayang seperti adiknya sendiri.


"Kenapa hantu itu menyerang Jimmy boleh kan aku curiga?" Bling tidak merasa ini baik baik saja.


"Jimmy. Si Trouble Maker" Bling sedang mengumpat.


 Bling mengikuti kemana ketiga teman Red itu pergi.


"Seharusnya aku pergi melihat Red dan Jun juga Sammy di museum. Kenapa aku disini?" Bling mengomel.


 Di museum.


"Kemana gadis itu, katanya ketemu disini?" Hera mencari temannya Bling.


"Aku sudah bersama Red dan Sammy menonton Jun sedang tampil menyanyi sekarang" Hera mencari temannya diantara orang orang yang berkunjung di acara pentas seni bertema kebangsaan ini.


 Jun sedang menyanyikan lagu kebangsaan disana di depan museum yang akan dibuka pukul delapan pagi ini, sekarang pukul tujuh lebih empat puluh menit.


 Semua sudah datang didepan bioskop kecuali Good.


"Kita semua sudah sampai di bioskop. Kamu bro?" Jun tanya ini kepada Good.


"Lima menit lagi. Kalian pesan popcorn dulu" kata Good.


"Ok" jawab Jun.


Sammy diam di dekat Red sekarang menjauh dari Jimmy.


"Dia siapa yang nempel terus sama Jun?" tanya Bling.


"Nggak kenal aku. Dia cantik banget"


Hera terpukau dengan wanita bergaun putih di dekat Jun.


"Bisa bahaya kalau Jun suka sama dia" Bling mulai cemas.


 Hera tanpa pikir panjang mendorong pria yang sedang lewat di dekat Jun agar menyenggol pundak Jun sehingga mengenai Red yang ada di sebelahnya itu.


"Maaf. Nggak sengaja" kata pria tersebut pada Jun.


"Nggak apa apa" jawab Jun.


 Jun menatap Red.


"Kamu nggak apa apa kan?" tanya Jun.


"Aku baik baik saja kok" kata Red.


 Hantu bergaun putih itu mulai cemburu dan akan marah. Namun, Bling langsung mendekati hantu tersebut dan mengajaknya berkelahi.


"Kau siapa. Ini bukan wilayahmu dan kita tidak pernah melihatmu sebelumnya?" Bling bertanya kepada hantu itu.


"Aku tak berurusan dengan mu" kata Si Hantu.


 Sepuluh menit yang lalu Red mendapat pesan dari Ran.


"Aku akan menjemputmu. Kamu di museum kan?" Ran mengirim pesan ini.


"Aku sudah di bioskop" jawab Red.


"Apa kau lupa?" Ran memberikan pertanyaan ini kepada Red.


 Dengan keputusan yang sudah ia pertimbangkan. Red akhirnya tidak ikut menonton film dokumenter di bioskop. Dia memiliki alasan tersendiri untuk tidak ikut dengan mereka.


"Maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian. Ini sangat darurat sekali" Dia pergi tanpa banyak menjelaskan.


 Red berlari cepat dari mereka dan Jun tak mengejarnya, dia berpikir bahwa Red juga perlu ruang untuk dirinya sendiri.


 Ran sudah menunggu Red diluar gedung bioskop. Dia dengan senyum khasnya menyapa Red.


"Kirain bakal tetep nonton" Ran meledek Red yang sudah ada didepan Ran.


"Makasih. Hari ini kita pergi kemana?" Red bertanya kepada Ran.


"Sesuai perjanjian" kata Ran.


 Mereka ke suatu tempat untuk mengerjakan pekerjaan freelance mereka.


 


 Dalam perjalanan membuat banyak obrolan.


"Setidaknya aku ingat siapa diri ku" Red membuka percakapan.


 Ran tersenyum dan berkata, "Dengan berdarah darah kita bisa sampai di posisi ini. Aku ingat kita dulu bukan siapa siapa".


"Semua yang kita miliki memang serba terbatas. Terima kasih sudah mengingatkan ku" Red berbicara dengan ekspresi realistis.


"Kenapa kau terlihat seperti orang paling sedih di dunia?" kata Ran.


"Karena aku percaya dengan berbagai kemungkinan sebagai sebuah gift dari Tuhan" kata Red.


"Apa termasuk aku?" tanya Ran.


"Itu masuk akal" jawab Red.

__ADS_1


"Aku bawa jaket lagi. Kau bisa memakainya" kata Ran.


__ADS_2