
Chapter 33: Apa yang terjadi selanjutnya?
Sebelum berangkat kerja, Red.
Tengok kanan dan kiri, masih menunggu antrian. Duduk didepan cermin panjang, banyak peralatan memotong rambut dibawah cermin panjang didepan Red.
"Ingin model apa?" tanya seorang wanita membawa gunting dan sisir hitam bergerigi.
"Aku ingin style bob dengan poni depan" kata Red.
Dia memotong rambut panjangnya itu.
Helai demi helai rambut terpotong, Red membaca majalah saat rambutnya dipotong.
Lima belas menit kemudian, Red sudah berganti style rambut.
Setelah pergi ke salon potong rambut tadi Red pergi ke toko aksesoris yang juga dekat dengan tempat kerjanya.
Dia berniat mencari beberapa pasang anting.
Bisakah dia membuat gadis yang ia sukai kembali terus mau bersama bermain dengannya.
"Aku rela jika ia memukul ku"
"Menyalahkan ku?"
"Bekerjasama dengan ku lagi?"
"Dia marah padaku?"
"Dia ingin menyuruhku semaunya?"
"Aku mau mau saja"
"Kenapa?"
"Kenapa dia tak ada disisi ku lagi?"
Jun sedang menjerit menderita saat ini.
"Aku kira kau sedang sangat kesulitan?" tanya seseorang mengirim pesan ini.
"Kau boleh meledek ku terus" kata Jun membalas.
"Selamat datang di dunia mimpi" kata Good mengirim pesan lagi.
"Aku ingin bermain ke rumahmu" kata Jun.
"Kau ingin bertemu Red sepulang sekolah?" tanya Good.
"Dia sedang bekerja?" tanya Jun.
"Dia sedang ada di toko ibuku" jawab Good.
"Kau yang terbaik" kata Jun.
"Ajari aku lagi tentang materi sekolah lagi?" tanya Good.
"Ok" kata Jun.
"Cepat!" kata Good memberi semangat.
Jun masih didalam bus dalam perjalanan pulang bersama Sima.
Jun memberhentikan bus.
"Kita bertemu lagi di tempat kerjaku" kata Jun.
Berjalan cepat keluar dari dalam bus.
Jun sudah mencari toko ibunya Good sesuai alamat yang Good berikan tadi.
Sebuah toko aksesoris yang tidak jauh dari tempat Red bekerja.
Red memang ada didalam sana.
"Informasi dari anak itu memang selalu akurat" kata Jun.
Jun melihat Red yang sedang memilih aksesoris didalam sana.
Jun menatap manis di jendela disamping Red berdiri didalam sana.
"Ya Tuhan!" kata Red terkejut.
Jun belum berhenti menatap Red dari luar jendela.
Red tak peduli.
Jun belum mau pergi. Dia menggoda gadis itu lagi.
Red membalikkan arah.
"Jun tak mengetuk jendela seperti waktu itu?" tanya Red.
Red mencuri curi apakah Jun sudah pergi.
"Kau mencari ku?" tanya Jun sudah masuk kedalam toko disebelah kanan Red saat ini.
Red bergerak satu langkah ke samping kiri menjauh dari Jun.
Jun mendekat satu langkah ke arah samping kiri seperti yang dilakukan oleh Red.
Red melakukan itu lagi.
Jun tak mau jauh jauh dari Red.
Rupanya ada ibunya Good disana memperhatikan Jun dan Red.
"Cobalah kau lihat di depan kita!" kata Red.
Red sibuk memilih aksesoris.
Jun menuruti apa yang dikatakan oleh Red.
"Bibi" kata Jun.
Senyum anak baik ekspresif ada di wajah Jun.
"Ayah mu tak mencari mu?" tanya Ibunya Good.
Senyum lebar Jun tunjukkan pada Ibunya Good.
"Aku. Apa yang harus aku katakan pada Bibi, aku takut salah bicara" kata Jun dalam diam memandang wajah bibinya dengan kedua tangan kebelakang.
Ibunya Good lalu pergi keluar dari toko.
Red masih disana tapi tidak lagi ada disamping Jun.
Jun mencari Red.
"Aku disini, kau boleh mengikuti ku" kata Red.
Jun berjalan menuju Red.
Mengambil sepasang anting.
"Kau sudah tak marah lagi padaku?" tanya Jun.
"Memang kita kenapa?" tanya Red.
"Kita?" tanya Jun.
"Maksudku, apa aku dan kamu sedang bertengkar?" tanya Red.
"Aku dan kamu?" tanya Jun.
"Kamu maunya gimana?" tanya Red.
"Kita masih berteman kan?" tanya Jun.
"Sejak dulu juga kita masih berteman" kata Red.
Jun memasangkan satu anting yang ia pilih pada telinga Red.
"Kau suka. Jika, tidak kita bisa memilih yang lain?" tanya Jun.
Red bercermin di kaca persegi yang tersedia disana.
__ADS_1
"Dimana yang satunya lagi?" tanya Red.
Jun memberikan satu pasang lagi anting yang Red pakai di telinga sebelah kirinya.
Red memasang anting dari Red di telinga sebelah kanan.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Red.
"Biasa saja" kata Jun.
"Aku ambil ini" kata Red.
"Jangan karena aku yang pilih. Kau yakin?" tanya Jun.
"Sudah cepat aku harus bekerja" kata Red.
Jun membayar anting yang Red pakai.
Didepan toko aksesoris.
Jun ada disebelah kanan Red, dia melihat Red.
Jun memberanikan diri meraih jemari tangan gadis di sebelahnya.
"Katakan saja jika kau tak menginginkan hal ini" kata Jun.
Red tersenyum kepada Jun.
"Kita akan pergi kemana setelah ini?" tanya Jun.
"Aku harus bekerja" kata Red.
"Iya. Boleh aku menemani mu bekerja?" tanya Jun.
"Kau boleh mengikuti ku" kata Red.
"Ayo. Kita tak boleh didepan pintu terus" kata Red.
"Oh ya" kata Jun.
Pukul setengah tujuh malam.
"Aku pergi dulu. Kita ketemu besok" kata Jun.
"Bye" kata Red.
"Bye bye" kata Jun.
Didalam bus perjalanan menuju tempat kerja baru dimulai.
"Aku seperti kehilangan nyawa saja" kata seseorang yang duduk di kursi dibelakang Jun.
"Kau kenapa lagi?" tanya Jun.
"Aku hanya ingin pulang lebih cepat" kata teman Jun.
"Dimana motor kesayangan mu?" tanya Jun.
"Dipinjam teman" kata teman Jun.
"Pasti dikembalikan?" tanya Jun.
"Motor ku kena tilang" kata teman Jun.
"Lagi?" tanya Jun.
"Ya. Yang pakai siapa, yang dimarahi aku" kata teman Jun.
"Kamu dimarahi Ayah mu lagi?" tanya Jun.
"Selalu" kata teman Jun.
"Sekolah gimana?" tanya Jun.
"Masih lancar" kata teman Jun.
Teman Jun membuat obrolan lagi.
"Kau mau rokok?" tanya teman Jun.
"Aku sudah berhenti" jawab Jun.
"Belum pernah. Kau bagaimana?" tanya Jun.
"Aku sama seperti mu" kata teman Jun.
"Lalu apa tujuan mu bertanya semua itu?" tanya Jun mulai marah.
"Iseng saja" kata temannya itu.
Teman Jun sudah turun lebih dulu dari Jun.
"Ternyata bukan hanya aku yang punya masalah" kata Jun.
Bangunan bangunan berbagai toko dan gedung tinggi tempat tinggal dan lainnya beserta fasilitas yang tersedia. Berlalu dengan cepat terlewati oleh bus yang Jun naiki.
Jun membuka bungkus permen melon.
"Dia tak mengabari ku lagi. Mungkin itu hanya perasaanku saja" kata Jun.
Ponselnya ia periksa kembali, dan orang yang ia maksud memang belum memberi kabar selama sebulan lebih.
Jun melihat wajahnya yang terlihat di jendela bus.
"Terkadang aku tidak percaya dengan diriku sendiri"
"Diam ditempat"
"Kadang juga lancar banget"
"Sering juga slow tapi tetep jalan"
"Kadang, hidup ku kaya ombak"
"Kadang juga tertatih tatih pengen loncat aja langsung ke mimpi"
Jun sedang melamun.
"Tapi aku masih punya Red"
"Itu terdengar seperti aku pecinta wanita"
Jun merenung.
"Dia sangat mirip dengan Bay dulu" kata Jun.
"Aku tak ingin berjanji apapun"
"Aku hanya tahu bahwa aku sedang tertarik dengan seseorang, sebatas itu"
Jun turun dari bus.
Didepan jalan pantai seseorang sudah ada disana menunggu.
"Ya. Itu dia, Sima. Temanku" kata Jun.
Sima sudah menyapa Jun dari jarak sepuluh meter.
Jun membuka pesan dari seseorang.
"Kau tidak dirumah?" tanya Kakak Jun.
"Aku sedang bersama Sima. Kau boleh marah padaku?" tanya Jun.
Mode mengetik.
Dan kakaknya belum membalas pesan dari Jun.
"Kau pasti sudah lama menunggu. Sorry" kata Jun pada Sima.
"Ayo kita pergi!" kata Sima.
Jun dan Sima berjalan beriringan menuju kafe tempat Jun bekerja.
Sima sesekali melihat kearah Jun, namun remaja laki laki ini bersikap biasa saja sedikit respon ramah kepada Sima dan itu sebagai cara Jun menghormati gadis di sebelahnya itu.
"Masa aku harus mengusir gadis ini dengan terus terang. Itu terlalu kasar"
__ADS_1
"Atau aku harus bilang aku tidak suka berteman dengannya. Apa aku sangat sempurna, tentu tidak"
Jun masih berbicara seperti selayaknya ia sedang berteman dengan teman temannya yang lain.
"Aku tidak tahu kenapa dia menyukai ku sejak dulu. Apa yang sempurna dariku, aku juga makan nasi dan minum air seperti manusia lain"
Jun sedang bertanya pada dirinya sendiri tanpa harus bertanya tentang ini pada Sima secara langsung.
"Dia sangat cantik, tapi aku lebih suka Red. Mau gimana?" Kata Jun dalam hatinya berbicara.
Dalam persepsi Sima.
"Bagaimanapun aku harus mendapatkan Jun"
"Aku harus bersama Jun"
"Aku tidak peduli jika dia menyukai Red"
"Aku akui dia seperti Bay sangat mirip dalam berapa persen dan aku tak ingin mengalah atau kalah"
"Aku sudah terlanjur"
"Terlanjur menyukai Jun sejak dua tahun yang lalu"
Jun masih memikirkan cara untuk gadis di sebelahnya.
"Bagaimana cara agar dia tidak lagi menyukai ku?"
Sebuah keinginan yang sangat berlawanan diantara keduanya.
Disebuah kisah orang lain yang hanya diketahui oleh orang orang terdekat Jun bahwa ia memang memiliki seorang kakak yang sangat peduli padanya sejak ia kecil sampai sekarang.
Kini dia tak lagi bersama dengannya sejak dua tahun yang lalu hanya mengirim sedikit kabar dan dia belum sama sekali pulang sejak saat itu.
Kisah ini sudah Bay dan Sammy ketahui sejak sekolah menengah pertama lalu.
Sima datang lagi, datang lagi kepada Jun.
Jun ingin sekali lari dari Sima karena gadis ini seperti sebuah bom yang terpasang dan kapanpun ia ingin meledak maka ia akan meledak.
Orang yang tidak mengenalnya pasti akan berkata apa yang kurang dari gadis ini dia baik dia cantik dia pintar dia juga berada dalam keluarga baik baik.
Seperti itulah dia dengan kesempurnaan yang ia miliki ia akan mudah mengikat siapapun, siapapun yang ia inginkan dan akan melepaskan siapapun yang ia anggap tidak sesuai dengan kemauan dirinya.
"Aku ingat saat kakakku menangis karena gadis ini" Jun dengan senyum menahan rasa sakit itu.
Memandang Sima dan berbicara dengannya tanpa ada luka ia tunjukkan pada gadis ini.
Gadis ini tak tahu sejak salam sapa pertamanya kembali di hari kemarin, dia membuka luka yang sudah sembuh sulit sembuh itu.
Menjadi seperti seorang bayi setiap berbicara dan bersikap kepadanya, itu menyakitkan.
Jun menunduk tersenyum mendengar cerita Sima saat ini.
"Dia bahkan tak pernah menyadari kesalahannya. Dia memang itu apa adanya" Jun berbicara dalam diam.
Masih sangat pagi jika untuk para siswa datang ke sekolah. Entah alasan apa mereka bisa datang sepagi itu. Kompak juga bisa dibilang enggak, nggak ada rencana berangkat bareng sama sekali.
Bee berjalan disebelah Jimmy dan Good berangkat pagi dibelakang mereka lalu ada Sammy yang juga berangkat sekolah di waktu hampir bersamaan.
Sepanjang jalan melewati pintu gerbang masuk sekolah.
Bee memakai kaca riasnya untuk memeriksa make up yang ia kenakan pagi ini.
Jimmy tentu terlihat senang saat melihat seorang gadis sedang berdandan apalagi berdandan di sebelahnya persis.
Good diam, tapi tidak juga.
"Apa yang selanjutnya akan terjadi?" tanya Good melihat Bee dan Jimmy.
Bawaannya curiga terus kalau Bee mau dekat dengan Jimmy.
Sammy pasang wajah datar kalau kalau mantan kekasihnya itu melirik lagi ke arahnya seperti saat pertama masuk ke pintu gerbang. Horor banget mantan pasangan ini.
Di sekolah masih terdapat sisa sisa embun pagi yang tertinggal disana.
"Apa riasan ku cantik?" tanya Bee pada Jimmy.
"Kamu selalu cantik" kata Jimmy.
Good merasa aneh dengan jawaban Jimmy.
"Apa dia memang suka berbohong, dia hanya menyukai Red" kata Good.
Good berbicara terdengar samar tapi jelas tiba tiba bad mood.
Sammy tersenyum sinis mendengar pujian Jimmy kepada Bee.
"Dia bicara apa sih" kata Sammy.
Belum sampai di kelas.
"Aku sih kalau suka langsung ngomong saja" kata Sammy mengirim pesan kepada Good.
Good membaca pesan dari Sammy.
"Bodo amat" kata Good.
"Beneran. Jangan mau kalah sama Jimmy. Padahal kamu lebih ok?" tanya Sammy.
"Aku memang paling tampan disini" kata Good.
"Cepat. Aku mendukungmu" kata Sammy.
Good membalas.
"Kita bahas apa sih?" tanya Good.
"Aku nggak tahu. Aku lupa ingatan" kata Sammy membalas pesan dari Good.
Sammy sudah kesal pagi pagi di sekolah.
Sammy berinisiatif berjalan lebih cepat mendahului ketiga temannya.
Melewati Bee dan Jimmy.
"Bee pacar mu sedang cemburu. Dia ada dibelakang kamu" kata Sammy lalu pergi menuju ke kelas.
Melihat ke arah belakang mereka.
"Apa. Ada apa?" tanya Good pura pura tak mendengar segala kata kata Sammy barusan.
Dia melihat kearah belakang dan tak ada siapapun selain dia seorang.
"Sammy. Awas kau nanti" kata Good isi kepalanya rumit.
Ketiga remaja ini menghentikan langkah mereka.
"Paman menyukai ku?" tanya Bee pada Good.
"Paman?" tanya Good.
"Ya. Kau menyukai ku?" tanya Bee.
"Aku. Aku menyukai gadis hyperactive seperti mu?" tanya Good.
"Lihat kau tidak mengelak menyukai ku" kata Bee.
Jimmy ada disana sedang menonton pertengkaran kedua temannya.
Good melihat Jimmy.
"Mana mungkin aku menolak mu didepan ... " kata Good tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu aku cantik, manis, pintar dan baik hati. Pantas kau menyukai ku" kata Bee.
"Ya ampun gadis ini. Apa kau salah minum obat" kata Good.
Seseorang yang ia panggil paman pergi tak mau bertengkar dengan gadis itu.
Bee mengejar Good.
"Paman. Kenapa kau pergi?" tanya Bee.
"Jangan panggil aku paman. Aku masih muda" kata Good.
Mereka berdua berjalan beriringan dan masih dalam keseruan mereka.
__ADS_1
Jimmy dibelakang mereka.