Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 124: Tidak Pergi?.


__ADS_3

Chapter 124: Tidak Pergi?.


"Apakah aku akan dilupakan?" 


 Red berbicara ketika dirinya akan benar benar meledak.


 Waktu berhenti untuk gadis ini semua terlihat lebih gelap bahkan tak ada apapun disini tak ada suara yang terdengar. Semua benar benar hening dalam gelap di ruang tidak tahu tempat yang ia datangi ini. Dia juga tak bisa berbicara yang ia lihat hanyalah ruang gelap benar benar gelap.


"Ffeooooooffffffffff"


 Suara angin kencang berhembus di sekeliling Ran menggerakkan rambut kepala remaja ini dengan mata yang berkaca kaca menahan agar ia tidak menangis. Tapi, dia tetap meneteskan air mata di pipinya karena dia sadar dia hanyalah seorang manusia biasa. 


 Dia belum pergi dari lokasi dimana tepatnya Red pergi.


"Aku yakin tidak semudah itu dia menyerah" kata Ran.


"Aku yakin" kata Ran. 


 Di sekolah.


 Jam istirahat pertama sudah dimulai di sekolah ada Jun bersama dengan Wren di ruang seni.


 Jun sedang bermain drum.


 Wren duduk bersandar di dinding kelas sambil memetik senar gitar berwarna cokelat woody.


"Dug tak dug tak dug tak dug!"


 Suara pukulan stik drum yang dimainkan oleh Jun dipukul dengan ritme cepat dan makin cepat.


 Wren berhenti memetik senar gitar dan lebih mendengar permainan drum temannya itu.


 Didepan pintu dalam ruangan bertirai putih dengan jendela lebar terbuka terkena angin dingin setelah hujan tadi pagi di luar sekolah.


 Bee dan Jamie datang.


"Dimana Red?" tanya Bee.


 Suara pukulan drum membuat suara Bee tak begitu di dengar oleh dua orang disana.


 Jamie membawa mie cup sebanyak yang ia mau dan membawanya ke dalam kelas ini.


 Bee ikut dengan Jamie duduk di dalam kelas di salah satu kursi di ruang kelas seni tersebut. 


 Bee menaruh dua cup mie instan yang sudah di seduh dengan air panas di atas meja menunggu Good.


"Ini pesanan kalian" kata Jamie.


 Jamie juga menaruh tiga cup mie instan yang ia beli dari kantin tadi bersama dengan Bee. 


 Mendengar Jun bermain drum yang tidak terkontrol lagi bermain penuh semangat.


"Stop!" kata Wren.


 Jun belum berhenti memukul drum di depannya saat ini.


 Mic hitam di ambil oleh Wren.


 Dan dia malah nyanyi ngerap mengikuti melodi drum yang Jun sedang mainkan. 


 Good datang.


 Mau bilang apa situasi seperti sedang mulai mengasyikan untuk ikut bernyanyi. Good sedikit tertawa kecil.


"Mereka kenapa?" tanya Good.


 Good duduk di sebelah kiri Bee.


"Mereka sudah seperti ini sejak kami datang" kata Bee.


 Good membetulkan rambut di sekitar telinga kiri Bee yang terkena angin dari jendela ruangan ini yang terlihat akan bergerak menutupi wajahnya.


"Terima kasih" kata Bee.


"You're welcome" kata Good menatap Bee dari arah samping kiri.


 Bee berbalik memberi senyum manis kepada Good.


"Aku bawa ini dan ini untukmu" kata Bee.


 Dia menunjukkan mie cup hangat dan juga  air mineral dalam botol dengan isi tiga ratus mililiter. 


"Terima kasih" kata Good.


 Jamie juga sedang banyak pikiran sama dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Jun yang sedang melampiaskan segala cemasnya dengan bermain drum.


 Jamie makan mie cup dengan level pedas tidak biasa.


 Jun melihat Jamie yang sedang makan mie cup dari tempat ia bermain drum melihat gadis itu sedang makan pedas di luar level tingkat pedas yang biasa ia makan.


 Jun berhenti bermain drum bangun dari tempat duduknya saat ini berjalan mengarah ke gadis yang sedang makan mie ini.


 Wren masih menyanyi dengan lagu lain bergenre soul.


"Berikan itu!" kata Jun.


  Mie cup yang ada di tangan Jamie direbut oleh Jun.


"Bukankah kau tidak makan pedas" kata Jamie.


"Tidak untuk hari ini" kata Jun.


"Berikan!" kata Jamie.


"Ini punyamu" kata Jamie. 


 Jun tidak mau mie yang diberikan oleh Jamie yang ia bilang adalah milik Jun. Dia tetap dengan mie cup yang tadi di makan oleh Jamie.

__ADS_1


 Wren berhenti bernyanyi menaruh mic di tempat semula.


 Akan pergi pelan pelan dari ruangan ini.


"Ini milik mu. Kau mau kemana?" tanya Jun.


 Kata Jun menunjuk ke mie cup milik Wren.


 Remaja laki laki ini tiba tiba saja tidak bisa membuat alasan untuk pergi dari mereka.


 Dia dengan alat bantu berjalan tongkat  besi di tangan kanan berjalan ke arah mereka dan duduk di sebelah Jun sebelah kiri duduk sedangkan Jamie ada disebelah kanan Jun.


"Tempat duduk disini untuk mu" kata Bee.


"Ok" kata Wren.


  Makan mie cup bersama.


"Kalian melihat Jimmy?" tanya Good.


"Aku juga tidak melihat Red sejak pagi" kata Bee.


"Tas mereka ada di kelas tapi kemana mereka pergi?" tanya Good.


"Marid malah entah pergi kemana" kata Wren.


"Aku hanya menemukan tasnya di lapangan basket" kata Jamie.


"Ben juga pergi entah kemana" kata Jun.


"Tak ada pesan yang mereka tinggalkan" kata Good.


 Menghabiskan dengan cepat mie cup di tangan lalu meminum air mineral yang juga dibawa oleh Jamie juga. 


 Jun pergi dari ruang ini.


"Kau ingin pergi kemana?" tanya Wren.


 Jun tidak menjawab. 


 Dia pergi menaiki anak tangga dengan langkah kaki cepat sambil berpegangan besi di atas dinding tangga menuju rooftop gedung sekolah di atas kelas berharap cemas tentang waktu yang ia yakin bukan hanya tentang kepercayaan saja ia harus berikan tapi tindakan apa yang bisa  ia lakukan dalam situasi ini.


"Kau berpikir seperti sudah dewasa saja" kata Doe.


"Kau bisa membaca pikiranku?" tanya Jun.


"Hantu sepertiku. Tidak, aku hanya menebak saja" kata Doe.


"Mereka belum memberi kabar untuk kita" kata Jun.


"Kau menyuruh mereka bekerja terlalu keras" kata Doe.


 Jun disana menutup mata mengambil nafas udara segar ia hirup terdengar canda tawa siswa dan siswi di bawah gedung ini dan Jun masih saja merasa cemas dengan keadaan teman temannya yang belum juga kembali.


 Jemari tangan di angkat ke depan membuka terlihat telapak tangan putih menunggu sesuatu yang seharusnya akan datang.


 Angin itu datang melewati jemari tangan Jun sangat lembut memutar di jemari tangan dan dia mengambil sesuatu yang menjadi milik Jun darahnya mulai keluar dari pori pori tangannya sendiri.


 Jun membuka mata dan melihat pesan dari angin bercahaya energi miliknya yang baru saja datang mengambil sebagian darah yang ada di dalam jemari tangan.


 Angin kencang datang menerpa Jun yang ada di atas sana membawa pergi sebagian sedikit  juga darah yang ada di tangan. 


 Jun mendekatkan tangannya yang terluka meniup dengan mulut udara dingin berubah menjadi kristal masuk dengan cepat menutup luka luka itu.


 Jun menggenggam dan membuka telapak tangannya lagi dan kembali tanpa luka apapun. 


 Membuka tangan lagi mengeluarkan kristal kristal putih seperti berlian pergi terbang menjadi angin pergi dengan lembut lalu bergerak berlari sangat cepat ke segala arah.


"Apa yang terjadi?" tanya Doe.


"Dia telah berubah menjadi pecahan kaca" kata Jun.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Doe.


"Yang datang memberi pesan barusan adalah bagian dari suara Red" kata Jun.


"Kenapa aku tidak bisa mendengarnya?" tanya Doe.


"Mungkin nyawa kita juga tidak akan lama" kata Jun.


"Siapa bilang kau kan bukan Tuhan" kata Doe.


"Ini hanya kemungkinan" kata Jun.


 Jun di sana duduk di depan ruang kosong atas rooftop dengan bangku panjang dan satu tiang yang menggantung oleh jaketnya sendiri berwarna hitam berbahan jeans. 


 Semua kembali hening disana Jun sedang menatap langit cerah.


 Ruang kantor Bob sedang merasakan hawa panas di dalam ruangan dengan pendingin udara dengan tingkat semakin dingin.


  Dia melepas jas biru gelap yang sedang ia pakai.


"Kenapa hari ini sangat panas?" tanya Bob.


 Dia mengambil remote control AC ruangan tempat kerjanya kemudian mengatur udara di ruangannya agar menjadi bertambah dingin.


  Tubuhnya semakin terbakar lagi dan terbakar lagi memerah.


  Dia mulai bertambah berkeringat.


  Dasinya ia longgarkan.


 Masih saja terasa panas lalu satu kancing kemeja putih ia buka bagian atas lalu satu lagi ia buka.


 Dia mengambil ponsel dan mulai membuka ramalan cuaca pagi ini lagi dari dalam ponsel.


"Tidak ada yang salah dengan cuaca hari ini tapi aku!" kata Bob.

__ADS_1


 "AC di ruang ini juga tidak mengalami masalah" kata Bob.


 Bob memanggil bagian teknisi yang bertugas memperbaiki AC yang juga bekerja di perusahaan pemuda ini. 


 Dia menaikan kerah lengan kemeja putih yang ia pakai.


 Menutup kembali.


 Membuka kembali seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan bagian tubuhnya.


 Bob mendapat sebuah luka di kedua lengan dalam tangannya sendiri kemudian kerah bajunya diturunkan lagi menutup luka luka itu.


 Bob mendapat panggilan telepon dari Jun. 


 Dia pergi agak menjauh dari karyawannya yang sedang memperbaiki pendingin ruangan di ruang kerjanya. 


"Ada apa keponakanku?" tanya Bob.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jun.


"Tumben sekali kau bertanya kondisiku" kata Bob.


 Pembicaraan diakhiri oleh Jun.


 Jun juga menghubungi seseorang lagi.


 Satu dua tiga empat hingga dua puluh detik berlalu orang yang ia hubungi tidak menjawab panggilan darinya. 


 Jun sedang melihat langit ketika memanggil mereka barusan.


  Duduk menatap langit lagi.


"Duniaku secerah langit itu" kata Jun.


 Satu jarinya menunjuk ke atas langit yang ia pandang.


 


 Wanita setelan gaun merah itu sedang bersembunyi di balik bebatuan besar di pinggir sebuah pantai. 


 Nafas terengah engah karena kejaran makhluk misterius yang belum berhenti terus mengejarnya.


 Dia melihat kedua tangannya masih dengan luka yang ia dapat sejak kemarin dia yang tidak pernah mengalami aksi kejar kejaran seperti ini tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami cerita ini di bagian kisah hidupnya. 


 Tak terlihat tanda kehidupan lain disini dan dia melihat air pantai yang berwarna hitam pekat datang dan pergi di pasir pantai putih dengan cangkang kerang kerang yang berserakan di pinggir pantai tak berpemilik diam dan ikut terbawa oleh datangnya ombak. 


"Harrrrrhhhhggghhh"


  Suara itu datang lagi. 


 Tangan Flow gemetar lagi setelah mendengar suara makhluk berkabut yang tak memiliki bentuk tetap itu.


"Kemana aku harus pergi lagi?" tanya Flow pada dirinya sendiri.


 Api yang ada di sebagian raganya disebelah kiri telah padam yang terlihat dari wajah sampai ujung kaki yang tampak menghitam sisa luka bakar yang masih baru kulit terkelupas di berbagai tempat kulit yang terbakar tak ada satu orangpun yang bisa diajak bicara atau berdiskusi untuk keluar dari masalah ini. Sebatang kara dia menghadapi ini semua sendiri dan dia selalu di hantui rasa cemas yang berlebihan dalam diamnya momen bersembunyi ini.


"Maaf tidak bisa membahagiakan dirimu di sisa hidup ini" kata Flow dalam hati untuk dirinya sendiri.


 Selain menangis dalam persembunyian ini apa yang bisa ia lakukan lagi dia sudah melakukan segala cara agar dia tetap bisa bertahan dari segala tekanan bertubi tubi ini selain harus tetap kuat menguatkan diri sendiri.


"Aku yakin, aku bisa melewati semua ini dengan cepat" kata Flow.


 Air mata mengalir di pipi sebelah kanannya yang memerah karena suhu tubuhnya benar benar panas air mata itu langsung menguap ke udara mengering pergi dari pipi wanita ini begitu seterusnya hingga detik ini sejak hari kemarin.


 Kabut hitam gelap itu datang lagi dan kini melihat Flow keduanya saling bertatapan segera kabut itu mengelilingi leher Flow dan menariknya menekan ke belakang bebatuan tempat ia bersembunyi dia mulai sulit bernafas benar benar sulit untuk bernafas. 


 Dia sedang berusaha melepas cengkraman dari kabut itu yang menyerang lehernya. Namun, apa yang terjadi kedua tangannya menembus kabut itu tanpa bisa meraih makhluk yang sedang ingin mengambil nyawanya secara paksa setiap detik dan waktu.


 Di dalam kantor dia sedang membaca dokumen kantor yang harus diperiksa saat itu juga. Dia mulai sulit untuk bernafas rasa seperti tercekik ia rasa menekan lehernya tanpa seorangpun yang menyentuh ataupun mencekiknya terang terangan. Bob memeriksa lehernya pergi ke arah cermin tinggi dengan tinggi dua meter menempel di salah satu bagian dinding ruang kerja.


 Terdiam dengan apa yang telah terjadi dan dia merasa ini sangat aneh bukan.


"Ada apa dengan leherku?" tanya Bob.


 Luka seperti jeratan muncul semakin menghitam terlihat makin menghitam jelas di lehernya dan itu sangat sakit.


 Dia sulit bernafas sesaat lalu dalam dua menit kembali bisa bernafas lagi.


  Bercermin lagi dan luka di lehernya belum hilang. 


  Asisten barunya datang.


 


 Dia terhenti sesaat setelah apa yang baru saja ia ia lihat.


"Apa Presdir perlu saya antar ke dokter?" tanya asisten pribadinya.


"Tidak perlu. Ini akan sembuh dengan sendirinya" kata Bob.


 Nyawanya sudah sangat akan berakhir wajahnya mulai membiru akibat sulit untuk bernafas. 


 Makhluk itu pergi menjauh dari sisi Flow.


"Boooooooooommmmmmmm!"


 Makhluk itu meledak di atas langit tepat di atas Flow dengan jarak dua ratus meter Flow berpijak di atas bumi.


  Suara ledakan dari kabut asap itu terdengar keras sampai ke arah berjarak dua kilometer tempat Ran berada.


 Dia mendengar suara itu dari arah sebelah kiri ia berdiri.


 Flow tiba tiba saja bisa mengaktifkan mode tidak terlihat.


 Ran dalam mode menjadi kilatan petir pergi dari tempat itu menerobos awan awan hitam di langit amat cepat  ia pergi menuju tempat itu berasal.


 Dia mencari juga petunjuk di setiap bagian perjalanan menuju sumber suara itu dengan tubuh pengganti. 

__ADS_1


 


 


__ADS_2