
Chapter 141: Dia cantik.
Kepulan asap mulai padam air hujan sedang bekerja ikut jatuh diatas aspal jalan di sekitar Sniper itu ada diatas sana.
Suara langkah kaki sepatu.
Belum terlalu malam.
Lampu lampu mobil datang mendekat menyatu berbaur dengan lampu lampu disekitar jalan itu.
"Brugggg!"
Kedua kakinya menimpa atap mobil bertumpu.
Kembali sadar.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Orang orang berteriak melihat hal ini terjadi di depan mereka.
Sniper itu jatuh kebawah tepat diatas mobil bercat putih yang sedang berjalan di bawah jalan tempat ia berdiri di udara berjarak lima puluh meter dari darat.
Kesadarannya berkurang sesaat barusan sama dengan keadaan yang sama di waktu tempo hari dulu tiba tiba saja tak sadarkan diri.
Melihat orang orang nampak kebingungan dengan kondisi Sniper itu tanpa luka sama sekali ada diatas mobil setelah jatuh dari atas.
Mobil mobil ikut berhenti untuk melihat peristawa hujan malam ini orang orang disana juga dibuat penasaran oleh kemunculan dari Sniper itu.
Wajahnya yang mendapat luka lebam dan juga berdarah terkena air hujan yang masih berlangsung.
"Hey. Turun dari atap mobilku!" kata Pemilik mobil.
Sniper itu langsung pergi dari sana berpindah tempat.
"Tak ada waktu" kata Sniper itu.
Mencari mencari lagi kemana makhluk misterius tadi bersembunyi dari orang ini.
Pukul delapan malam masih didalam rumah sakit untuk menjenguk Ben. Dia tentu orang yang Ben kenal ada hadir disana di waktu tepat tidak juga tapi cukup waktu yang dibutuhkan oleh orang itu datang.
"Apa waktuku salah?" tanya Wren.
"Tidak sama sekali" kata Ben.
Wren masih ada didepan pintu.
"Masuklah!" kata Ben.
Wren masuk kedalam.
Bukan apa apa dia dengan alat bantu tongkat sampai dibela belain untuk datang menjenguk teman sekaligus sahabatnya itu.
Disana juga ada aktor lain yang juga satu agensi dengan Ben dalam agensi perusahaan Bob datang menjenguk Ben bertiga bersamaan.
Ruangan sedikit dingin.
Wren masuk bersama satu bodyguard perempuan berambut panjang terikat dan satu bodyguard laki laki membawa barang barang kebutuhan untuk Ben.
Bee datang kemudian bersama dengan Good setelah mengantar kedua orang tuanya didepan parkiran juga bersama Ibunya Ben yang masih disana menunggu Ayahnya Ben yang akan datang sebentar lagi.
Bee sangat senang saat melihat Wren datang menjenguk Ben.
"Wren!" kata Bee menyapa.
Dia melepas tangannya dari Good membantu Wren untuk berjalan mengambil tempat duduk di ruangan itu.
Wren merasa kehadirannya akan menyakiti hati seseorang. Dia melirik ke arah Good.
Tanpa di ketahui oleh Bee bahwa disana juga ada banyak tamu lain selain dari Wren sudah mengisi kursi yang ada didalam ruangan itu.
"Sorry!" kata Bee.
Dia melepas tangannya dari Wren lalu kembali pada Good.
Good langsung menarik tangan Bee agar tetap disebelahnya dan menggenggam tangan pacarnya itu agar tidak jauh jauh dari dirinya lagi.
Bodyguard Wren kemudian menaruh barang barang dari bos mudanya diatas meja panjang dekat ranjang Ben mendapatkan perawatan.
Wren mengambil tempat duduk yang tersisa disana.
Good mempersilahkan Bee untuk duduk disebelah kanan Wren sedangkan ia berdiri didekat Bee bersandar di dinding dengan kedua tangan menyilang diatas perut.
Ketiga rekan kerja Ben tidak terlalu ingin bergabung atau akrab kepada teman teman Ben.
Mereka sedang menunggu Bos mereka yang akan datang menjenguk Ben setelah perjalanan bisnis. Bob.
"Aku juga membawakan untuk mu" kata Wren.
Bodyguard laki laki Wren memberikan satu dus masker wajah keluaran terbaru untuk Bee.
Bee akan menerima itu lalu segera Good membantu Bee membawa dan menaruhnya diatas meja.
"Dia pacarmu. Dia terlihat seperti idol terkenal" kata Wren.
Dia sedang memulai obrolan.
"Katakan saja apa maksud kedatangan Tuan Muda kemari?" tanya Good.
"Tuan Muda terlihat ingin melindungimu" kata Wren kepada Bee.
Api api cemburu mulai terasa panas untuk Bee jadi lebih anteng dengan kode cinta ini. Ben sedang menerima tamu dan kali ini dengan memutuskan menjadi pendengar yang baik.
Ketiga rekan kerja Ben sudah mengobrol dengan Ben sebelum ketiga teman sekolah Ben datang.
"Aku sudah membawa produk itu untuk direview oleh kalian" kata Wren.
"Lalu?" tanya Ben.
Penuh percaya diri.
"Katakan bagaimana pendapat mu tentang produk itu. Selebihnya kau bisa komunikasikan dengan manajer mu" kata Wren.
Ben cuma bisa geleng geleng dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya ini.
"Oh ya. Kenalkan rekan kerjaku … " kata Ben.
Dia memperkenalkan satu persatu ketiga rekan kerjanya kepada ketiga teman sekolahnya.
__ADS_1
Sesi memperkenalkan teman sudah selesai setelah itu obrolan obrolan ringan hadir disana cukup menghibur untuk Ben yang baru saja sadar dari koma selama beberapa hari.
"Aku izin pulang lebih awal" kata Wren.
"Terima kasih sudah menjengukku" kata Ben.
"Aku bantu kamu" kata Bee.
Wren menatap Bee.
"Oh sorry. Aku terlalu terbiasa karena kita bersahabat" kata Bee.
Wren merasa bahwa ia harus pulang mengingat dia juga sedang dalam perawatan setelah keluar dari rumah sakit.
"Sayang. Ayo kita pulang!" kata Good.
"Tapi, … " kata Bee.
"Baiklah" kata Bee.
Ketiga teman satu sekolahnya izin untuk pulang lebih awal kepada Ben.
Bee ikut pulang diantar oleh Good yang juga keluar dari ruangan itu bersamaan dengan sahabat mereka yaitu Wren.
Sekarang, di ruang itu hanya tinggal Ben dan ketiga rekan kerjanya juga para bodyguard Ayahnya Ben yang berjaga di luar ruang rawat Ben.
Waktu memang akan mempertemukan seseorang dengan seseorang itu. Apakah itu benar, benarkah ini waktu yang tepat untuk mereka bertemu.
Rasa terharu kini hadir diantara kedua insan ini raut wajah keduanya dengan senyum hangat setelah belasan tahun tidak pernah bertemu malam ini bisa bertemu lagi suatu keajaiban bagi Flow.
Dia sungguh tidak bisa berkata kata dengan keberuntungan ini. Itulah kesimpulan yang ia lihat pada saat ini.
"Apa kau nyata?" tanya Flow.
"Aku nyata" kata Seseorang.
Seseorang yang pernah dilihat oleh Uri di waktu mereka berada diantara dua dimensi yang berbeda ketika mereka akan kembali ke dimensi manusia akan meninggalkan dimensi misterius itu.
Mungkin dia bisa dikatakan crush love wanita yang masih tak percaya bahwa ini bukanlah mimpi.
"Ini aku. Kau masih ingat kan?" tanya seseorang itu.
"Kenapa aku ingin menangis?" tanya Flow.
Menghapus air mata yang berkaca kaca di pelupuk mata.
"Jangan menangis" kata Seseorang itu.
Flow memang mudah untuk terharu apalagi saat saat seperti ini.
"Aku Makaio masih ingat namaku kan?" tanya Makaio.
"Kaio. Kau tidak masuk kami sedang membuat barbeque bersama?" tanya Flow.
"Aku senang bisa ikut bergabung" kata Makaio.
Flow melihat tas yang dibawa oleh Makaio seperti berisi beberapa barang yang lumayan banyak.
"Bagaiamana dengan pekerjaan mu?" tanya Flow.
"Aku sepulang bekerja langsung kemari" kata Makaio.
"Lihat" kata Makaio.
Dia memperlihatkan postingan barunya tadi disaat baru sampai di bandara beberapa menit yang lalu kepada Flow.
Flow terlihat sangat bahagia disaat bertemu dengan Makaio sebuah ekspresi bahagia lebih dari disaat bertemu dengan Bob bahkan mengobrol dengan Bob.
Hal ini disaksikan langsung oleh Bob yang tiba tiba saja ingin pergi melihat rumah orang tua Flow.
Asisten pribadinya ada di belakang Presdirnya itu mulai berpikir bahwa dia hanya merasa kalau bosnya sedang sedih.
"Kita tidak masuk kerumah itu?" tanya Asisten Pribadi Bob.
"Apa boleh kita mengganggu mereka?" tanya Bob.
Berpikir.
"Aku akan jadi diriku yang sebenarnya" kata Bob.
Bob bergerak maju dan tak ingin kalah dengan orang yang baru pertama kali ia melihatnya sejak pertama kali berteman dengan Flow.
Dengan penuh percaya diri Bob bersama dengan Asisten pribadinya yang membawa bingkisan yang sengaja ia bawa akan diberikan kepada kedua orang tua Flow.
Suasana mungkin bisa dibilang canggung di sini.
Awalnya suasana terbilang masih dalam ketenangan dan beberapa menit kemudian kegembiraan datang seketika.
"Bibi!" semua berteriak memanggil Flow.
Mereka semua datang lalu memeluk Flow.
Terlihat gemas anak anak itu.
"Bibi pergi kemana aku merindukanmu?" tanya gadis kecil berusia lima tahun salah satu dari keponakan Flow.
Tiga balita menyusul kemudian datang masuk ke ruang tamu.
Senyum lucu dan pipi tembam balita laki laki dan dua balita perempuan manis dengan sikap mereka sebagai balita kembar yang digandeng oleh masing masing kedua orang tua mereka.
"Leo sayang!" kata Flow.
Balita itu ikut bergabung memeluk Flow.
Bob dan Makaio semakin bergeser memberikan ruang untuk mereka menyapa bibinya.
"Bibi siapa paman paman ini?" tanya anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun.
Memperhatikan Makaio kemudian Bob.
"Sapa paman paman ini" kata Flow.
Semua menyapa manis kepada kedua paman paman ini.
Hanya satu anak perempuan yang tidak mau menyapa keduanya.
Dia dengan wajah jelas tidak suka ditunjukan kepada paman paman ini.
"Kenapa tidak mau menyapa?" tanya Flow.
__ADS_1
"Aku tidak boleh terlalu ramah dengan orang yang baru Baby kenal. Sorry" kata Baby keponakan Flow.
Dia lebih memilih memeluk Flow sangat erat lebih dari menit sebelumnya.
Bob dan Makaio memahami perkataan dari gadis kecil ini.
Dari kursi berbeda Asisten pribadinya tahu hal semacam ini pasti bisa saja terjadi kepada mereka berdua.
"Dugaan ku ternyata benar" kata Asisten Pribadi Bob.
Balita sampai anak anak berusia hingga enam tahun hadir menjadi tamu dirumah bersama dengan para kedua orang tua mereka yang merupakan sepupu Flow.
Kedua orang tua balita dan anak anak yang memeluk Flow masuk ke taman ikut membantu menyiapkan makanan yang berjumlah empat pasang yang merupakan sepupu dari Flow setelah menyapa kedua orang tua Flow dan orang tua mereka yang sudah sedari tadi ada disana diruang tamu sebelum Makaio dan Bob datang.
"Kalian makan disini. Kami sedang buat banyak makanan, jangan sungkan" kata Ibu Flow.
Gadis itu terlihat seperti bukan seorang gadis kecil melainkan seperti seorang kakak laki laki dari Flow terus tak mau melepas pelukannya dari bibinya itu.
Asisten pribadinya ketawa tawa dalam hati ngakak tidak bisa menahan situasi ini.
"Apalagi bos. Dia memang harus merasakan hal seperti ini" katanya.
Setelah sepuluh menit disana tiba tiba saja secara bersamaan mereka berdua mendapatkan panggilan telepon dari seseorang.
"Saya harus pamit pulang. Ada sesuatu yang sangat urgent yang harus mengharuskan saya datang" kata Bob.
"Maaf. Saya juga mendapatkan kabar dari cabang kantor di tempatku bekerjalah belajarlah saat ini untuk cepat datang" kata Makaio.
Keduanya memberi salam kepada Flow yang masih di tahan oleh keponakan perempuannya yang masih memeluk Flow.
"Bye bye!" kata Bob.
"Bye bye!" kata Flow.
Flow bersama keponakannya mengantar sampai depan pintu.
"Bye" kata Makaio.
"Bye" kata Flow.
Keduanya terlihat terburu buru sekali dengan urusan pekerjaan mereka.
Asisten pribadinya juga sudah menunggunya di luar rumah menunggu Presdir Bob.
"Ternyata kau yang menelponku" kata Jun .
Dia merasa lega dengan dia tidak dimarahi oleh Bosnya karena menelepon dan menyuruhnya pergi kerumah sakit sekarang juga untuk menemui Ben dan ketiga aktor dibawah agensinya sudah lama menunggu dirumah sakit.
Makaio pergi lebih awal menggunakan taxi yang ia pesan lewat aplikasi di ponsel.
Bob dan Makaio pergi meninggalkan rumah Flow setelah berkunjung bertamu disana.
Dari kejauhan masih di dekat rumah Flow ada Red sedang mengawasi Flow dari kejauhan bersama dengan anggota baru tim ini.
"Setelah ke rumah sakit, apa jadwal saya selanjutnya?" tanya Bob.
"Setelah ini ada sebuah pesta yang harus Presdir Bob datangi" kata Asisten Pribadinya.
"Apa itu?" tanya Bob.
"Teman teman Anda" kata Asisten Pribadinya.
Asisten Pribadinya menunjukan tempat dimana pesta itu dan Bob di undang seperti biasa.
"Kau bisa mewakiliku" kata Bob.
"Saya?" tanya Asisten Pribadinya.
"Disana banyak gadis cantik. Kau tidak mau?" tanya Bob.
"Sepertinya saya harus memilih tidur saja" kata Asistennya.
"Bagaimana kamu ikut saya?" tanya Bob.
"Apa ada pilihan pulang dan tidur saja?" tanya Asistennya itu.
"Saya akan menggantikan nama Darren ke bagian lain di kantor" kata Bob.
Berbicara dalam hati.
"Bau bau ancaman mulai tercium" kata Darren.
"Ok. Saya ikut Anda" kata Darren.
Dia mendapatkan informasi bahwa jangan pernah dekati Presdir Bob jika dia sedang mabuk. Jika hal itu ada dalam kisah jalan hidupnya selamat untuk orang itu.
Darren sudah mulai was was dengan wajah stay cool yang sudah aktif sebagai mode ekspresinya kali ini.
"Tetap positif. Tetap positif kawan" kata Darren menyemangati diri sendiri.
Sepulang dari rumah sakit setelah menjenguk Ben sekaligus membicarakan proyek baru yang akan dikerjakan oleh Ben dan ketiga aktor yang tadi yang ada di ruang rawat Ben.
"Berikan kunci mobilnya!" kata Darren.
"Kunci mobil. Anda akan menyetir?" tanya Darren.
"Ya. Berikan padaku" kata Bob.
Gaya bicara mereka lebih beralih dari formal ke non formal dimulai saat ini.
Kunci mobil diberikan kepada Bob dan dia yang mengambil alih mengemudi mobilnya menuju tempat pesta sesuai dengan lokasi yang telah ditentukan sebelumnya belum berubah dari detik ini.
Dan berita lain yang ia dengar tanpa mencari tahu adalah jangan sampai ikut Presdir Bob jika dia mengemudikan mobil jenis apapun maka selamat untuk anda.
"Selamat untuk anda" kata Darren.
"Kau bicara apa?" tanya Bob.
Pintu mobil depan sudah di buka oleh Bob.
"Selamat untuk anda" kata Darren.
Ikut kedalam mobil yang sama dengan Bob sebagai pengemudinya sendiri.
__ADS_1