Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 110: A little piece of love.


__ADS_3

Chapter 110: A little piece of Love.


 Berbaring diatas ilalang memandang langit tak ada angin datang menyusup diantara rerumputan di sekeliling mereka berdua. Suara khas malam selayaknya terdengar dari terlihat kedua remaja ini. Tangan kanan Red menyentuh luka yang masih mengeluarkan darah.


 Dia melihat darah dari perutnya menempel di telapak tangan kanan.


 Dia juga melihat Jun yang sedang melihat langit rupanya dia juga sedang bertahan dalam kondisi ini.


 Dia menyentuh bagian tengah dadanya yang terkena tembakan dari seorang sniper yang tidak ia kenal di sore tadi.


 Tak ada luka sama sekali.


 Bahkan tak ada bekas tembakan yang tertinggal yang ia rasakan adalah rasa sejuk dari jejak tembak di dadanya menyebar menghisap rasa sakit melawan racun dari senjata Jun yang melukai perutnya.


 Teleportasi yang ia miliki tak bisa ia gunakan dalam keadaan ini.


 Dari kejauhan suara suara itu terdengar makin dekat dan makin dekat menyusup dari sela sela rerumputan tinggi di sekeliling mereka.


 Muncul satu hantu dengan tubuh kurus kering berambut panjang beruban berbaju putih berlengan robek tak karuan dan gaun yang panjang juga sudah tak berbentuk gaun robek tak karuan membelah ilalang menatap wajah gadis itu.


 Dia tersenyum kepadanya dan bergerak lebih cepat datang di hadapan Red.


"Jangan!" kata Red.


 Suaranya serak tak berdaya dengan perlakuan yang sedang ia terima.


"Pergi!" kata Red.


 Dia sedang berusaha mendorong pundak hantu wanita yang sedang menggigit lehernya.


 Darah terasa sedikit demi sedikit menghilang diambil oleh hantu tersebut.


 Hantu hantu yang sama kemudian satu persatu datang juga menggigit dan mengambil bagian tubuh Red.


 Dia semakin tak berdaya.


 Jun melihat ini dan sedang berusaha untuk bangkit dalam energi yang ia miliki.


 Pedang miliknya muncul dan menghilang lagi di tangannya disaat seperti ini dia tak boleh mempunyai rasa putus asa.


 Senjata beracun miliknya belum lagi bisa muncul kembali.


 Tanda gambar api di lengan kiri semakin menekan tubuh Jun disana untuk tidak bisa menolong gadis yang sedang sangat membutuhkan pertolongan darinya rasa terbakar dalam diam membuatnya seperti mati perlahan. Jejak peluru yang ada di dadanya sedang melawan kekuatan segala rasa terbakar di tubuhnya.


 Suara bising entah darimana asal suara itu datang lagi membuat apa yang ia lihat menjadi tidak jelas berbayang seperti berputar kedua tangan Jun memegang kepalanya menahan rasa sakit kedua telinga mengeluarkan darah segar.


 Dia melihat mata itu dalam bayang bayang yang makin tidak jelas mata berkaca kaca dalam kesedihan.


 Melihatnya lagi peristiwa yang sangat menyedihkan yang pernah ia alami dalam terang lampu tangannya mencoba meraih tangan Bay dan gadis itu tak melakukan hal yang sama yang ia lakukan. 


"Bay!" kata Jun.


 Dia tak bergerak disaat Jun memanggil, dia tetap diam.


 Cahaya itu menghilang dan ia melihat kejadian dimasa itu lagi yang hampir selalu terbayang disetiap waktu sebuah rasa bersalah yang selalu menyiksa karena kehilangan seseorang yang berharga untuk dirinya telah pergi lebih awal dari dirinya untuk selamanya.


 Kristal putih bercahaya tajam dengan cepat dan tepat sasaran mengarah ke tubuh hantu hantu yang sedang menyiksa Red.


 Darah keluar seketika dari hantu hantu yang ada didepan Jun keluar mengenai tubuh dan wajahnya.


 Hantu hantu itu berbalik menatap wajah Jun.


 Dia melihat darah milik Red yang ada di mulut dengan gigi taring putih dan hitam penuh darah dan daging mengalir dari mulut mereka.


 Menyerang berbalik semua kepada Jun.


 Kristal kristal putih yang jauh lebih besar muncul.


"Brukkkkkkkkk!"


 Menusuk menembus tubuh tubuh hantu yang ada didepan Jun.


 Jari jari tangan yang menghitam kuku kuku yang mereka miliki hampir saja menusuk wajah Jun terbakar perlahan lahan seperti api membakar sebuah kertas terbawa angin menjadi abu pergi dari pandangan mata Jun yang melihat tergambar jelas di kedua indera penglihatan.


 Kristal kristal itu menghilang bersama dengan hantu hantu itu.


 Mulut Jun mengeluarkan banyak darah dia tumbang jatuh lagi diatas ilalang ditempat semula.


 Menatap langit.


"Kau masih bernapas kan?" tanya Jun.


"Ya" kata Red.


 Suara serak tersisa energi dan ia menjawab Jun.


 Jun sedang berusaha bangkit dari sana menggeser raga mendekat kepada Red dalam sisa energi yang bahkan untuk duduk pun dia tidak mampu mencoba meraih tangan gadis yang sedang ia tatap kedua matanya.


 Energi sejuk ia rasakan dari dalam jejak tembak yang ia dapat. Red, menyembuhkan sendiri luka luka yang ia dapat dari gigitan gigitan hantu hantu tadi.


 Dia menarik segala energi yang ia miliki dan berusaha meraih tangan Red lagi lagi dan dia tidak ingin menyerah dalam pandangan mata yang semakin kabur suara suara bising itu masih terus ia dengar dan semakin menyiksa bertambah menekan energi yang ia miliki. 


 Darah juga belum berhenti keluar dari mulutnya dalam detik detik ini.


"Jun. Berhenti, kau akan mati" kata Red.

__ADS_1


"Tidak. Kita masih memiliki kesempatan" kata Jun.


 Dia meraih tangan Red yang penuh darah dari gigitan salah satu hantu yang menyerang di menit sebelumnya.


 Tangan Jun merasakan darah yang keluar dari tangan Red. Dia menggenggam erat tangan Red.


 Dia sedang berusaha mengaktifkan kembali teleportasi yang seharusnya tidak bisa ia dan Red lakukan tapi ia sedang berusaha melakukannya lagi.


"Kita harus melakukan teleportasi!" kata Jun.


 Suara suara hantu hantu lain makin terdengar dari arah kejauhan suara yang sama seperti hantu hantu yang tadi telah menyerang Red dan Jun.


 Detik detik yang sedang berjalan sungguh sangat berharga bagi mereka tak ada waktu yang tersisa untuk mereka bisa bertahan lagi jika mereka tetap disana.


 Tangan keduanya sedang menggerakkan cara berteleportasi menutup mata membuka dan mereka belum pergi dari sana.


 Hantu hantu dengan jenis yang sama sudah mengelilingi keduanya. Mata mata merah tersenyum kepada Red dan Jun.


 Mereka akan menyerang membabi buta dengan cepat kedua remaja ini.


 Cahaya putih dan biru muncul dari dada mereka dengan kilatan cahaya itu menghancurkan semua hantu didepan mereka  bahkan menghancurkan hantu hantu lain sampai berjarak dua puluh meter dari mereka berbaring disana dalam keadaan sekarat dan tak berdaya.


 Kedua cahaya tersebut menghilang dengan cepat pula mengecil dari sumber mereka membawa keduanya pergi dari sana.


 Angin datang dalam menenangkan atmosfer disana memberi energi lagi kepada ilalang yang menjadi tempat mereka bertahan dari peristiwa ini tumbuh berdiri lagi seakan tidak pernah terjadi apapun disana ikut mengikuti rerumputan ilalang disekitar mereka mengikuti kemana arah angin memberikan energi.


 Malam begitu terang dengan langit penuh bintang dalam indahnya bulan penuh dan awan awan terlihat disana. Mereka melihat dan menyaksikan apa yang sudah terjadi disana menjadi segelintir saksi bagi manusia yang tidak tahu bahwa telah terjadi hal mengerikan yang hampir merenggut nyawa kedua anak manusia.


 Di lokasi syuting iklan yang berbeda dari Red dan Jun.


 Ben berulangkali mendapatkan bahwa kedua temannya belum bisa dihubungi.


 Dan dia sadar tugasnya untuk menjadi seorang mata mata untuk Jun dan Red sudah berakhir tapi dia tidak bisa menghiraukan untuk tidak peduli.


"Ben!" kata Pria sutradara.


 Ben mendekat kepada Sutradara berkacamata minus  yang sedang duduk bersama dengan dua orang artis dan aktor pendatang baru juga seperti dia.


"Kamu lihat hasil akting kamu!" kata Sutradara tersebut.


 Ben melihat hasil aktingnya didalam layar monitor.


"Ku rasa dialog ku semua benar dan aku berakting sesuai arahan naskah" kata Ben.


"Itu menurut mu!" kata Sutradara tersebut.


 Itu hanya sebagian dialog disaat Ben syuting sejak pagi sampai malam pukul sembilan ini. Mungkin untuk pendatang baru dia masih perlu banyak belajar dan ia terima terima saja. 


"Kamu tidak usah jadi aktor saja!" kata Sutradara tersebut.


 Ben terdiam tanpa melawan karena ia sadar sekali lagi bahwa dia memang seorang pendatang baru dalam bidang ini.


 Ben pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian yang ia pakai sekarang dengan pakaian yang ia pakai sebelum syuting dimulai. 


 Dari balik ruang ganti dia jelas mendengar percakapan rekan seprofesi yang juga masih sebagai pendatang baru sama seperti Ben.


 Di ruang ganti bersama aktor yang lain.


"Dia siapa juga bisa jadi aktor" kata aktor pendatang baru.


"Katanya dia bisa jadi aktor karena rasa kasihan" kata aktor yang sedang memakai sepatu boots hitam.


"Orang dalam maksudmu?" tanya aktor berjaket jeans cokelat yang sedang duduk bermain game di ponsel.


 "Apa dia tidak malu dengan itu?" tanya aktor pria yang sudah selesai memakai sepatu boots.


 Di ruang itu juga masih ada yang lain yang juga bekerja dalam proyek syuting dalam bidang otomotif termasuk kru kru lain ada disana.


"Kalian jangan asal bicara. Dia teman pemilik dari perusahaan otomotif yang akan diiklankan ini" kata Pria seorang make up artis.


"Dari mana berita itu?" tanya aktor yang sedang bermain game online di ponsel.


"Aku melihatnya sendiri dan disaat syuting iklan pertama mereka" kata make up artis tersebut.


 Setelah merapikan tempat make up didalam kotak make up miliknya, dia langsung pergi.


 Dia menghindari obrolan yang ia anggap tidak terlalu menarik ini.


 Ben keluar dengan tampilan atletis sesuai gayanya seperti biasa tanpa menoleh dan memberikan ekspresi wajah ramah atau ingin dekat dengan orang orang yang baru saja membicarakan tentang dirinya. Dia pergi keluar dari ruangan itu karena memang dari awal tujuannya datang ditempat ini hanya semata mata untuk pekerjaan diantara mereka memang tidak pernah saling mengenal selain ditempat ini.


 Di luar sudah menunggu seorang gadis yang juga tadi berakting bersama dengan dirinya dalam mengerjakan iklan ini.


"Hai" sapa gadis itu.


"Kau belum pulang?" tanya Ben.


"Aku menunggu mu" kata gadis itu.


 Ben memberi senyum hangat kepada gadis ini.


"Aku mau ke tempat parkir" kata Ben.


"Driver mu sedang menunggu mu" kata Ben.


 Dia melihat ke arah mobil yang sedang menunggu gadis yang sedang mengajaknya bicara di sebelah kiri Ben menuju arah parkir tempat ini.

__ADS_1


"Ok. Aku pulang dulu" kata gadis itu.


 Dia gadis berbaju cokelat tidak berlengan memakai celana panjang katun panjang dan sepatu highheels hitam dan tas hitam selempang melambaikan tangan kepada Ben.


 Ben merasa ia baru saja mendapatkan perlakuan baik dari seseorang tapi dia merasa bahwa itu terasa tidak mungkin setelah dari pagi mendapatkan perlakuan perlakuan yang tidak ingin diterima olehnya ataupun orang lain sampai malam ini.


"Dahhhh!" kata gadis itu.


 Dia membuka pintu jendela mobil hitamnya lalu berlalu pergi dari hadapan Ben.


 Ben pergi untuk mengambil motornya.


 Ben mulai menyalakan mesin motor dan dia pergi dari sana untuk pulang kerumah.


 Setelah sudah pergi salah satu dari kru syuting ini sedang bersama dengan security yang berjaga disana untuk ngopi bareng seperti hari biasa mereka jika bertemu dalam sebuah proyek baru.


"Dia aktor baru?" tanya Pria security disana.


"Dia. Iya" kata Kru yang bekerja di bagian keperluan properti iklan ini.


"Kasihan sekali anak itu padahal aktingnya sangat bagus" kata Kru syuting tersebut.


"Dia terlihat masih apa adanya" kata Security tersebut.


"Setuju. Dia seperti adikku disaat pertama kali bertemu" kata Kru syuting itu.


"Anda kan tidak punya adik" kata Security itu.


"Anggap saja seperti itu" kata Kru syuting tersebut.


"Persaingan kerja sudah terasa untuknya" kata Si Security.


  Butuh waktu sepuluh menit ia sampai di salah satu tempat gym Ayahnya.


 Dia dengan baju yang tidak terpakai dan celana hitam pendek tanpa sepatu hanya memakai sandal putih karet.


"Itulah Ayahku" kata Ben.


 Dia sedang berkeliling bersama ke empat bodyguard yang sedang memeriksa keadaan bangunan dan keamanan disana. 


 Dia menaruh motornya didepan gym tempat parkir biasa langsung diambil oleh salah satu bodyguard pria tak berambut berpakaian seperti orang biasa lain pada umumnya.


 Ben sudah tahu hal ini akan diterima olehnya dan dia sudah tak lagi mempermasalahkan hal ini lagi. Ben bergerak jalan menghampiri Ayahnya yang sedang bekerja.


"Pakailah baju mu sudah malam" kata Ben.


 Dia pergi meninggalkan Ayahnya setelah mengatakan hal itu. 


 Ayahnya merasa bahwa telah terjadi sesuatu dengan anak laki lakinya itu.


"Biasanya dia akan marah jika motornya diambil" kata Ayahnya.


 Dia menghentikan pekerjaan memperhatikan atap tempat usahanya.


"Kau ingin pergi liburan?" tanya Ayahnya Ben.


 Ben tidak menyahut apa lagi untuk berhenti.


 Ayahnya lebih terlihat kesal.


"Kau mau pergi ke Singapura?" tanya Ayahnya Ben.


"Tidak" kata Ben.


"Hawaii?" tanya Ayahnya Ben.


"Tidak!" kata Ben.


"Spanyol?" tanya Ayahnya Ben.


"Bali?" tanya Ayahnya Ben.


"Bagaimana ke Dubai?" tanya Ayahnya Ben lagi.


 Ben berbalik dan berteriak kepada Ayahnya.


"Tidak" kata Ben.


 Teriakan bukan marah ia tunjukan kepada Ayahnya itu yang terdengar.


 Ayahnya bertambah heran dengan tingkah anaknya kali ini.


"Bukankah dia suka dengan tempat tempat itu" kata Ayahnya Ben.


"Kau bisa ikuti dia mulai detik ini" kata Ayahnya Ben.


 Dia menyeruput teh hangat dari bodyguard yang ada di sebelahnya.


"Secara diam diam ikuti dia" kata Ayahnya Ben.


 Ayahnya Ben merasa teh yang ia minum dari dalam termos dari bodyguard nya saat ini terlalu manis.


"Buang saja ini!" kata Ayahnya Ben.


"Tapi ini buatan Ibu" kata Bodyguard Pria berambut keriting sebahu.

__ADS_1


"Jangan jangan!" kata Ayahnya Ben.


 


__ADS_2