
Chapter 62: Lama Tak Bertemu.
"Kau tidak lupa dengan dirimu sendiri?" tanya Doe.
"Entahlah. Mungkin kau juga lupa denganku" kata Doe.
"Apa aku juga jahat?" tanya Red.
"Kamu menyegel arwah ku!" kata Doe.
"Kau pasti lupa" kata Doe.
"Sudah seharusnya karena kau selalu menganggu ku" kata Red.
"Aku salah. Aku hanya ingin menjadi temanmu" kata Doe.
"Teman kamu bilang. Selamat kau membuat ku tak memiliki teman selama beberapa tahun" kata Red.
"Jika di hitung mungkin tujuh tahun" kata Doe.
"Terserah kau sajalah. Mau apa kau datang kemari" kata Red.
Doe tak mau menjawab pertanyaan dari temannya itu.
"Kalau tak mau jawab. Aku akan pergi" kata Red.
"Kakak merindukan mu" kata Doe.
"Hentikan itu. Berapa usia mu" kata Red.
"Aku memang sudah tua dari awal aku meninggal kira kira begitulah" kata Doe.
"Kau terlihat sedang kesal" kata Doe.
"Kamu memang serba tahu" kata Red.
"Ya, kenapa tidak. Aku mengenal mu sejak kecil" kata Doe.
"Aku heran kenapa kamu selalu awet muda. Sejak dulu pasti seperti ini" kata Red.
"Panggil saja aku kakek sekalian" kata Doe.
"Aku sedang memuji mu. Kenapa kau selalu mudah marah?" tanya Red.
"Oh ya. Boleh kasih tahu aku tentang Flow?" tanya Doe.
"Aku akan dimanfaatkan" kata Red.
"Kau sudah tahu. Ayo, cerita sedikit tentang Flow" kata Doe.
Doe menarik tangan Red seperti anak kecil.
Sedangkan untuk Red lebih memilih memakan manisan di tangannya.
Akhirnya, Doe menyerah bertanya tentang Flow kepada Red melepas tangannya dan kembali tenang diatas jembatan sungai yang indah dan tinggi penuh lampu sebagai penerang.
"Terimakasih sudah mengunjungi ku" kata Doe.
"Aku hanya sedang kesepian. Jadi datang kemari" kata Red.
"Hera juga sudah jarang kemari" kata Doe.
"Dia sedang bekerja" kata Red.
"Berikan aku pekerjaan. Aku ingin mengumpulkan banyak poin agar cepat pulang di alam ku" kata Doe.
"Aku sudah menghitung poin mu. Tinggal beberapa lagi, kakak akan pulang" kata Red.
"Jangan menangis sendirian. Itu sangat menyedihkan" kata Doe.
"Aku tidak menangis" kata Red.
"Tapi, hatimu selalu menangis" kata Doe.
"Aku memalukan. Iya kan?" tanya Red.
"Tidak" kata Doe.
"Hanya saja orang orang akan menganggap mu lemah" kata Doe lagi.
Jembatan gantung sungai indah di siang hari lebih indah lagi ketika datang waktu malam. Bukan hanya Red yang ada disana melainkan banyak orang orang datang meramaikan jembatan itu.
Mereka tidak lupa dengan banyak kejadian tentang kasus bunuh diri di sungai itu tapi mereka tak bisa terus meninggalkan bangunan diatas air itu selalu sendirian didalam kesunyian setiap hari.
Cerita akan berbeda jika seseorang itu tidak melakukan bunuh diri disana.
Mungkin Doe dan Red tak akan saling kenal dan bertemu menjadi sahabat hingga sekarang. Semua akan berbeda cerita.
"Kau sudah punya teman baru?" tanya Doe.
"Ya. Untuk sekarang, dia temanku" kata Red.
"Dia manis dan lucu sekali" kata Doe.
"Dia pernah menghajar pacarnya sendiri saat bertengkar hebat" kata Red.
"Siapa pemenangnya?" tanya Doe.
"Keduanya sama sama ahli bela diri. Sayangnya, pihak wanita jauh lebih hebat. Kau tahu siapa pemenangnya" kata Red.
Dia berlari di pinggir jalan untuk pejalan kaki di pinggir pembatas jembatan menghampiri Red yang sedang melambaikan kedua tangannya kepada Sammy.
"Red!" kata Sammy berteriak.
Red memukul tangan Doe dengan penuh semangat.
"Jangan katakan aku tidak punya teman. Semua karena kau selalu menjauhkan ku dari mereka" kata Red.
"Sorry!" kata Doe.
Hantu ini berteriak sangat keras di samping Red.
Red sedikit lebih pusing tapi untungnya bisa ia kendalikan saat itu juga.
"Aku tidak terlambat kan" kata Sammy.
"Kamu tepat waktu" kata Red.
Doe langsung memindahkan tubuhnya sebagai tameng saat itu juga dalam gerakan per detik.
Satu serangan datang mengarah kepada Doe tepat di punggung Doe.
Red langsung segera melepas pelindung dengan dua gerakan jemarinya melindungi melilindungi mereka dari serangan lain yang masih terus datang.
Sammy bisa melihat Doe saat dia menahan rasa sakit akibat kekuatan misterius itu. Doe menahan serangan tubuhnya berubah warna cahaya putih. Kedua mata memutih dia seperti api yang berwarna putih. Serangan kekuatan yang berbentuk cahaya putih lenyap dengan perlahan menghilang dari punggung Doe.
Hantu itu kembali tak terlihat oleh Sammy.
Sammy pingsan saat melihat dia datang dan pergi dengan tiba tiba.
"Akhirnya, dia melihat ini" kata Red.
__ADS_1
"Kita harus mencari tempat yang lebih aman untuk dia menyadarkan diri" kata Doe.
Doe berhenti dan merasakan sesuatu.
"Tunggu. Dia pura pura pingsan" kata Doe.
"Benar dia pura pura pingsan" kata Red.
Sammy hanya tak ingin melihat sosok Doe yang ia anggap sebagai hantu.
"Bangun. Aku lupa kau mantan trainee" kata Red.
"Kau juga" kata Sammy.
"Bangun" kata Red.
"Aku tak mau melihat hantu didepanku" kata Sammy geleng geleng kepala.
"Kau tidak perlu takut. Aku hantu tampan" kata Doe.
"Hentikan itu Doe" kata Red.
"Baiklah. Aku akan pergi" kata Doe.
"Hey. Tunggu!" kata Red.
Doe akan pergi menghilang dari hadapan dua gadis itu.
"Aku tidak bisa menghilang" kata Doe.
"Itu karena pelindung yang aku buat barusan" kata Red.
Pelindung yang Red buat memberikan efek mereka akan tak terlihat oleh manusia yang masih hidup untuk sementara waktu.
Red kemudian menggunakan kekuatan teleportasi untuk membawa mereka bertiga pergi dari tempat itu menghindar dari serangan misterius itu.
Suara teriakan tak bisa tak didengar oleh ketiganya saat itu juga pemilik kekuatan itu marah kepada Red.
"Serahkan gadis ini padaku" kata Doe.
"Tidak. Aku akan menyelematkan dia" kata Red.
Red sudah di suatu tempat dimana seseorang sedang memakan es krim sampai terjatuh dari tempat duduk.
"Aku harap ini mimpi" kata Ben.
Ketiganya telah berhasil menggunakan kekuatan teleportasi yang Red keluarkan tadi.
Ben masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.
"Untung saja dia tidak pingsan" kata Red.
"Akan ku buat mereka tertidur" kata Red.
Sammy dan Ben dibuat tertidur setelah kejadian ini.
Untuk Sammy, Red sudah memindahkan dari tempat awal dia di kursi tunggu agar dia duduk dan tertidur di sofa disebelah Red yang juga duduk di sofa yang sama.
Doe menuntun Ben masuk ke ruang kasir tempat gym miliknya.
Dari mulai pukul setengah tujuh malam hingga pukul sepuluh malam mereka belum sadar juga dan selama itu pula Red yang menjaga tempat gym milik Ben.
"Apa mereka akan menggaji mu?" tanya Doe.
"Aku harap begitu" kata Red.
"Kau sekarang lebih materialistis" kata Doe.
"Sudahlah. Aku takkan bertengkar lagi. Ini sudah malam" kata Red.
"Tempat ini akan tutup jam berapa?" tanya Doe.
"Jam dua pagi" kata Red.
"Kau memang bertanggung jawab" kata Doe.
"Terserah apa kata mu" kata Red.
"Makin malam makin marah" kata Doe.
Sebagian wanita akan marah jika dikatakan materialistis begitu juga dengan Red meski ada sebagian yang tidak merespon seperti itu.
"Jika kau membunuh hantu seperti ku. Kau akan rugi" kata Doe.
"Ada pelanggan datang. Kau jaga Sammy saja. Jangan ganggu aku kerja" kata Red.
Doe menuruti perkataan dari Red.
Hari ini tempat usaha Ben sangat ramai melebihi hari biasanya.
Red masih memikirkan siapa yang mencoba melukai mereka beberapa waktu lalu. Apa yang dilakukan oleh Doe disana di sebelah Kanan Sammy. Dia sedang bermeditasi.
Red melihat kearah Ben kemudian ke Sammy.
Ben belum sadar juga dia ada di bagian kasir di sebelah Red. Dia terlihat seperti sedang tidur.
Red sedang melanjutkan membaca buku tentang teknik lobi dan negosiasi milik Kak Sew.
Suara ramai motor sudah terdengar dan ia tahu karena usaha gym ini dekat jalan raya sudah pasti ramai.
Wajah Red tertutup buku yang ia baca.
"Ben kita numpang tidur disini" kata Jun.
"Dia lagi tidur" kata Red.
"Red?" tanya Jun.
Kemudian, Good datang.
"Aku akan menginap disini juga" kata Ben.
"Sejak jam berapa kamu menggantikan Ben" tanya Jun.
"Kau mau menggantikan ku?" tanya Red.
Good juga melihat ada Sammy juga ada didalam ruang tunggu gym tersebut.
Kemudian, dia mengambil selimut di tas miliknya yang kemudian ia selimutkan kepada Sammy.
"Ben tidak perlu selimut" kata Jun.
"Aku akan panggil kan taksi" kata Jun.
Jun memesan taksi lewat aplikasi online dari ponsel untuk Sammy dan Red.
"Jika kau memanggil kami lebih awal pasti kalian bisa langsung pulang" kata Good.
Menunggu beberapa menit akhirnya taksi datang dan Sammy dibantu oleh Red dan Jun dibawa masuk kedalam taksi.
Mereka pulang menuju rumah.
__ADS_1
Mulai disaat Jun menutup pintu taksi di mulai waktu itu Red menghapus ingatan mereka semua termasuk Sammy dengan mata birunya yang menyala mengarah menyeluruh ke setiap Red memandang.
Mereka berbicara tanpa suara.
"Red kau tadi melihatnya kan?" tanya Bling.
"Aku melihat Dree ada disebelah Jun" kata Red.
"Apa dia akan terlepas dari dakwaan kita?" tanya Bling.
"Kita melihatnya menghilang benar benar menghilang. Dia sudah tersegel oleh Hera" kata Red.
"Kita juga melihat itu didepan kita" kata Bling.
"Lehernya melingkar cahaya putih yang menandakan dia tidak bersalah seperti hantu hantu sebelumnya dalam kasus yang berbeda" kata Red.
"Jadi, Apa makna dari peristiwa ini?" tanya Bling.
"Kenapa mereka semua bisa meninggal. Apa ini yang disebut takdir dari Tuhan" kata Red.
"Tanpa kita harus membalas perbuatan mereka" kata Bling.
"Lalu serangan misterius tadi" kata Red.
"Mencurigakan" kata Bling.
Terlepas dari itu Red berpikir sekali lagi sahabat sahabatnya itu bahwa mereka peduli kepada Red dan Sammy.
"Memiliki teman teman yang baik juga termasuk rezeki" kata Red.
Bling menanggapi komentar yang Red katakan itu.
"Kau sedang berbicara apa?" tanya Bling.
"Nanti kau akan mengerti dengan sendirinya" kata Red.
Setelah delapan belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah.
Di jam pertama istirahat sekolah.
Good membuka jendela kelas.
Red masih duduk di kursi kelas miliknya.
"Kau tidak lapar?" tanya Good.
"Aku ingin tidur" kata Red.
"Baiklah. Aku akan pergi sendiri" kata Good.
Di kelas tinggal beberapa siswa dan siswi didalam sana termasuk Red.
Hera datang mengagetkan Red dan Bling.
"Kau membawa dia juga?" tanya Red.
Ada Doe datang di sekolah Red.
"Anak ini memang" kata Doe.
Hera dan Doe ada di sisi dalam jendela kelas dengan posisi Hera berdiri di sisi kiri Red persis di sebelahnya sedangkan yang sedang duduk Doe di jendela melihat arah luar kelas.
"Siapa yang mengembalikan arwah hantu bergaun hitam ke tempat hantu itu sebenarnya tadi malam?" tanya Hera.
"Hera" jawab Red lirih.
"Lalu, siapa yang menyegel hantu itu sekaligus?" tanya Hera.
"Hera" jawab Red.
"Itu kau sendiri" kata Hera.
"Aku lupa. Apa aku melakukan itu" kata Red.
"Aku seorang hantu biasa mana mungkin bisa menyegel hantu" kata Hera.
"Anggap saja bisa" kata Red.
"Jadi, menurut mu dia bukanlah pelakunya?" tanya Hera.
"Kau sudah tahu jawabannya kenapa tanya terus" kata Red.
"Ada apa dengan mu hari ini?" tanya Hera.
"Aku ngantuk" kata Red.
Semalam dia melakukan meditasi setelah ia berhasil menyegel dan memindahkan hantu bergaun hitam ke tempat ia seharusnya tinggal.
"Sorry. Aku sengaja mengganggu mu. Aku pergi dulu" kata Hera.
"Kau juga harus pergi" kata Hera pada Doe.
"Tidak. Kau saja yang pergi" kata Doe.
Doe pergi menelusuri seisi kelas berpindah dengan sangat cepat dan sekarang dia sudah berpindah di lapangan sepak bola sekolah.
Red melihat ke arah Doe duduk di jendela.
"Kemana dia pergi. Jangan sampai dia berulah lagi" kata Red.
Di tempat lain disebuah bangunan terbengkalai masih berada di daerah kota.
"Dree tersegel dan mati" kata seseorang berjaket hoodie hitam.
"Akhirnya, dia lepas dari segala tuduhan" kata seseorang yang lain yang berusia cukup renta.
"Berarti benar, dia bukanlah pelakunya?" tanya seorang pria berjaket hoodie hitam.
"Mereka semua yang telah meninggal memang sudah di takdir kan meninggal" kata seorang pria yang cukup renta tersebut.
"Bagaimana dengan ramuan merah yang anda maksud itu?" tanya seorang pria berjaket hoodie hitam lagi.
"Sampai saat ini, obat itu belum memberikan dampak yang negatif" kata seorang pria yang cukup renta tersebut.
"Baiklah. Saya akan pergi melanjutkan tugas saya kembali" kata seorang pria berjaket hoodie hitam.
Pria itu keluar dari bangunan terbengkalai kemudian pergi menggunakan mobil hitam yang terparkir di luar bangunan tersebut.
"Coba ku lihat dia sedang apa sekarang" kata Red.
Gadis ini memeriksa Doe yang sedang bergabung dengan siswa dan siswi lain di lapangan sepak bola sekolah dari dalam jendela kelas.
"Kenapa dia tiba tiba ada disini?" tanya Red.
"Dia dengan segala kemampuan skills yang dimiliki tak mungkin datang kemari hanya karena ingin bertemu dengan ku" kata Red.
Gadis ini sedikit curiga dengan Doe.
Doe melihat ke arah kelas Red dari lapangan sepak bola sekolah melambaikan kedua tangannya kepada Red.
"Dia belum berubah" kata Red.
__ADS_1
Siapa yang terjatuh hanya karena seseorang melewati dan menembus raga Sima. Red melihatnya dari dalam kelas. Itu adalah Doe.