
Chapter 83: Baby Only You.
"Mau pergi tidak?" tanya Jun.
Jamie pergi dari Jun dan teman temannya.
"Kau seperti melepaskan tawanan mu" kata Good.
"Ayo kita pergi!" kata Jun.
Jun ikut dengan Wren kembali ke restoran Good.
"Ben" kata Wren.
"Ya. Aku disini" kata Ben.
"Tidak jadi" kata Wren.
"Dewa langit mulai lagi" kata Ben.
Sampai di restoran.
Rambut wavy berwarna milk tea ash dengan anting kristal putih gaun putih sepatu kitten heels hitam.
Flow mengambil ice cream avocado di meja prasmanan.
"Dia pergi kemana?" tanya Flow.
Flow mencari teman kuliah yang katanya akan datang juga di pesta pernikahan teman kuliahnya.
"Flow" kata teman kuliahnya yang ia cari.
Dia datang dengan seorang pria.
"Hey. Macy" kata Flow.
"Kau sendirian?" tanya Macy.
"Begitulah" kata Flow.
"Kau cantik sekali pasti nggak mungkin masih sendiri kan?" tanya Macy.
Flow menganggap ini hanya obrolan biasa bersama dengan teman lama.
Mungkin.
"Kita pergi dulu yah" kata Macy.
Mereka berdua pergi dari dekat Flow.
Canggung.
"Kok ada yang aneh?" tanya Flow.
Di tempat lain Jax sedang ada di depan sebuah hotel.
Dia bertemu dengan teman temannya yang lain yang juga datang disebuah pesta pernikahan teman kuliah mereka.
"Jax kau tidak bersama Sima?" tanya salah satu temannya.
"Tadi kamu bicara apa?" tanya Jax.
"Tidak. Tadi, aku tidak bicara apa apa" kata teman Jax yang berjas putih.
Jax terdiam sejenak dan kemudian berkata lagi, "Apa kita akan tetap disini?".
"Ku rasa kita harus masuk kedalam" kata temannya yang berjas putih.
Mereka berlima datang bersamaan datang ke pesta tersebut.
Disaat masuk dari pintu masuk Jax memilih untuk memisahkan diri tanpa berjalan bersamaan dengan keempat teman Jax.
Keempat teman Jax melihat kearah Flow dan tentunya datang ingin mengajaknya mengobrol.
"Wahh. Ini teman kita?" tanya teman Flow.
Flow melihat teman temannya datang.
Flow memberikan senyum sapa kepada mereka.
"Kau selalu cantik" kata teman Flow berjas hitam.
"Terimakasih" kata Flow.
Jax melihat kearah Flow.
Dia mengambil satu gelas cocktail non alcohol dan terus mengawasi.
Mendengar dan mendengar.
"Sekarang kau tinggal dimana?" tanya teman Flow.
Jax datang menghampiri Flow.
Radan juga datang bersamaan dengan Jax.
Mungkin tak ada yang mengenal Radan tapi itu tidak masalah jika Flow yang hanya mengenalnya. Itu sudah cukup.
"Aku mencari mu" kata Kedua pria ini.
Flow terlihat melihat keduanya.
"Apakah aku harus memilih?" tanya Flow.
Radan dan Jax melepaskan lengan kiri tangan Flow.
"Aku tidak perlu memperkenalkan Radan kepada mereka. Mereka bukan temanku" kata Flow.
Radan mendengar apa yang di katakan oleh Flow samar berbisik.
Jax juga mendengar ini. Dia hanya memberi respon dengan biasa saja.
Apa menjaga pacar orang lain berlaku disini untuk keduanya?.
Apa tidak apa apa jika demikian?.
Mungkin ini menyakitkan jika terjadi?.
Ini yang akan terjadi kepada mereka berdua.
Bob datang terlambat di pesta pernikahan temannya.
"Aku lupa dia juga akan datang" kata Flow.
Mood wanita yang bernama Flow ini berubah ketika pria yang orang bilang sebagai idola datang.
Bob melihat semua orang yang sedang melihat kedatangannya disana tapi dia hanya melihat seseorang yang ia anggap bukan hanya menarik tapi sudah ia kejar sejak masa kuliah dulu.
"Jika aku jadi Flow. Aku akan menampar wajah pria itu" kata Hera.
Dia ada disebelah kiri Radan.
"Sayangnya. Dia bisa melakukan hal lebih dari itu" kata Radan.
Flow sebelum Bob datang untuk mendekat menghampirinya dia lebih awal meninggalkan tempat ia berdiri saat itu.
Gelas yang ia pegang ia taruh diatas meja prasmanan pesta.
"Dia masih marah padaku" kata Bob.
Dia pergi dari pesta itu.
Namun, Bob terlihat tak mau kehilangan wanita yang ia sayang. Dia tak langsung mengejar Flow seperti sebelumnya.
"Aku akan coba saran dari Jun" kata Bob.
Jax dan Radan tanpa perlu saran dari Jun sudah melakukan apa yang dilakukan oleh Bob.
Radan tiba tiba sudah menghilang dari mata Jax disaat ia melihat disisi kirinya setelah Flow pergi.
__ADS_1
Bob datang bergabung dengan membawa hadiah kepada pasangan pengantin.
Dia tahu wanita yang ia sayang tidak akan pergi jauh darinya.
Setelah memberikan hadiah kepada pasangan pengantin dan membuat salam sapa kepada mereka. Bob mencari Flow yang ia tahu tidak akan pergi jauh darinya.
Dia menemukan wanita yang ia cari.
"Jangan jauh jauh dariku" kata Bob.
Dia menggenggam tangan Flow dengan erat.
"Biarkan aku pergi dari tempat ini" kata Flow.
"Aku bisa berbohong untuk mu meski kau menolaknya" kata Bob.
Bob menarik paksa Flow untuk tetap datang mengikuti pesta pernikahan ini. Jemari tangan Flow ia genggam erat di hadapan teman teman mereka.
"Kita berdua pandai berakting kan. Maka lakukan itu" kata Bob.
"Sorry" kata Bob.
Keduanya terlihat sebagai pasangan sempurna dengan setelan jas berwarna hitam. Bob.
"Dia akan selalu menghina mu jadi tetaplah denganku" kata Bob berbisik.
"Apa aku berhutang dengan mu?" tanya Flow.
"Tidak. Maafkan aku" kata Bob.
"Pertolongan bersyarat" kata Flow.
"Aku tidak akan membiarkan dia menghina mu terus" kata Bob.
Orang yang Bob maksud sudah datang setelah Bob datang. Pandangan orang itu terus melihat mereka berdua yang bagaikan bintang di pesta ini.
Jax juga ikut menghilang di pesta ini seperti Radan yang sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu.
Orang yang Bob maksud datang menemui Flow dan Bob.
"Kalian berpacaran?" tanya mantan kekasih Flow.
"Tidak" kata Flow.
Bob ingin marah tapi tidak mungkin.
"Tapi, kalian seperti sepasang kekasih" kata pasangan mantan kekasih Flow.
"Aku selalu menunggunya" kata Bob.
Bob menggenggam erat tangan Flow lebih erat.
"Benarkah?" tanya mantan kekasih Flow.
"Kau tahu sejak dulu masih seperti itu" kata Bob.
"Kau belum menyerah rupanya" kata mantan kekasih Flow.
"Dia selalu yang ku cintai" kata Bob.
Karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi oleh Bob, dia membawa Flow pergi dari pesta setelah pernyataan yang ia katakan didengar oleh teman temannya yang ada disana.
"Apa kau lapar?" tanya Bob.
"Tidak" kata Flow.
"Lalu kita akan pergi kemana?" tanya Bob.
"Aku ingin pulang" kata Flow.
"Pulang?" tanya Bob.
"Iya. Pulang" kata Flow.
"Baiklah. Kita pulang" kata Bob.
Perut Flow berbunyi.
"Bagaimana kalau makan di kedai waktu kita kuliah dulu?" tanya Flow.
"Ok" kata Bob.
Di asrama sekolah.
Jamie masih dengan sepeda miliknya baru sampai dari sebuah tempat yang masih ingin ia tak mau cerita kemana ia pergi.
"Dia memang menyebalkan" kata Red.
"Aku?" tanya Jamie datang.
"Bukan kamu" kata Red.
"Aku bawakan infus water untuk mu" kata Jamie.
Jamie menaruh infus water yang ada di tumbler milik Red yang ia pinjam tadi pagi.
"Kapan kau lepaskan hantu itu?" tanya Jamie.
"Hantu di sebelah lemari kita?" tanya Red.
"Mmm" kata Jamie.
"Kau juga bisa melakukannya" kata Red.
"Kau saja. Aku malas" kata Jamie.
Hantu itu buka suara.
"Tidak usah basa basi. Kalian sama saja" kata hantu itu.
Hening selama dua menit.
"Apa kau kenal Ben?!" tanya Jamie.
"Dia teman sekelas ku. Kenapa?" tanya Red.
"Bukankah dia populer" kata Jamie.
"Ya. Aku unpopular" kata Red.
"Aku lupa. Hari ini bukan waktunya untuk bicara dengan mu" kata Jamie.
"Kenapa diam?" tanya Red.
"Ngantuk!" kata Jamie.
"Mantan Ben memang selalu tegas" kata Red.
"Mantan Ben?" tanya Jamie.
Red tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Jamie. Dia berusaha untuk tidur.
Hari kembali disaat Jun melihat hantu yang ia anggap mirip dengan kekasihnya yang telah meninggal.
Dia sedang tawuran.
Ketika ia sedang menggunakan alat pukul untuk tawuran ia melihat hantu itu dari arah kirinya.
Disebuah jalan yang biasa mereka gunakan untuk tawuran.
"Aku ingin menjadi manusia lagi" kata Bay.
Atau bisa di panggil Bling sebuah nama yang biasa Red gunakan untuk memanggil hantu ini.
Mendengar kalimat ini membuat Jun memunculkan sebuah ide untuk menggunakan obat yang ia dapat yang berwarna biru menyala itu bisa ia berikan kepada seorang gadis agar hantu yang mirip dengan Bay bisa merasakan hidup kembali.
"Aku juga membutuhkan teman" kata Jun.
Seringkali Jun mengikuti kemana perginya hantu itu bernama Bling itu pergi. Ya, tentu untuk membantunya mewujudkan mimpinya agar bisa menjadi manusia lagi.
Jun sudah mewujudkan mimpi hantu yang ia anggap mirip dengan Bay. Tapi, melihat kenyataannya ini di luar dugaannya. Tanpa sepengetahuan Jun, obat yang sudah masuk kedalam raga Red yang juga masuk kedalam raga Jun ternyata bisa membuat nyawanya terancam menghilang.
__ADS_1
Darimana Jun tahu semua ini?".
Dia tahu semua ini atas hasil penyelidikan dari Ran setelah ia mendapatkan teguran langsung dari Ran di waktu yang sudah berlalu lama ketika Ran tahu bahwa Bay menginginkan menjadi manusia dan obat itu memilih Ran secara tidak sengaja jatuh ketika Jun membawanya didalam tas ransel miliknya jatuh diatas kursi bus dan diambil oleh Bay dan obat itu memilih siapa yang akan menerimanya.
Mulai hari itu Ran terus menyelidiki Jun kemanapun remaja laki laki ini pergi.
"Aku begitu kekanak-kanakan" kata Jun.
"Kau memang masih anak anak" kata Doe.
Flow dan Bob sudah ada di sebuah kedai.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Flow.
"Aku akan makan" kata Bob.
"Tidak diet kan?" tanya Flow.
"Aku sedang diet. Tapi, hari ini tidak" kata Bob.
"Jangan bilang karena aku" kata Flow.
"Itu memang" kata Bob.
Mereka berdua memesan dua mangkuk sup jamur beserta ikan dan ayam goreng serta nasi hangat.
"Ini ice tea milik mu" kata Flow.
"Makasih" kata Bob.
Semua menu yang sudah ada di meja makan mereka berdua masih sangat panas.
Mereka menunggu sejenak dengan membuka beberapa topik obrolan.
"Ini coba. Sup ini sudah hangat" kata Flow.
"Aku coba" kata Bob.
"Masih sedikit panas" kata Bob.
Flow mencobanya.
"Menurut ku tidak juga atau karena udara sedang dingin" kata Flow.
"Mungkin. Tapi, pakai ini" kata Bob.
"Kau tidak sedang merayuku kan" kata Flow.
"Baju mu terlalu bagus. Jadi, kau butuh jas ku" kata Bob.
"Bilang saja terlalu tipis itu penyebab aku kedinginan" kata Flow.
"Sungguh. Aku boleh mengatakan itu" kata Bob.
"Tentu" kata Flow.
"Tapi, aku tidak mau melakukan itu" kata Bob.
"Alasannya?" tanya Flow.
"Aku takut kehilangan mu" kata Bob.
"Oh. Hatiku tersentuh" kata Flow.
Disaat dua sahabat ini sedang makan malam di kedai itu dunia sedang memperhatikan mereka berdua asik mengobrol dan mereka seperti seakan tak peduli. Apalagi dengan Bob yang terang terangan memberi kesan hangat dan manis selalu ia berikan kepada wanita di depannya.
"Kau suka masak dirumah?" tanya Flow.
"Sepertinya biasa. Itu yang kulakukan" kata Bob.
"Biasanya Jun selalu memasak untuk ku" kata Bob.
Bob mengantar Flow pulang ke rumah.
Turun dari mobil.
"Kau sedang bersedih?" tanya Flow.
"Kau dengan mudah membaca diriku" kata Bob.
"Entahlah. Aku hanya sudah terbiasa" kata Flow.
"Aku sedang libur hari ini" kata Bob.
"Jangan katakan karena ingin bertemu dengan ku" kata Flow.
"Aku tidak jadi berbohong" kata Bob.
"Kau suka pria seperti itu kan. Sekarang, aku tidak berbohong" kata Bob.
"Lalu?" tanya Flow.
"Maaf. Maaf untuk hari itu" kata Bob.
"Aku akan memaafkan mu jika sekarang kamu pulang istirahat" kata Flow.
"Sudah pulang. Kau harus istirahat" kata Flow.
"Aku pergi" kata Bob.
Bob pergi setelah mengantar pulang Flow setelah bertemu di pesta pernikahan temannya tadi dan makan malam bersama di kedai yang biasa mereka kunjungi semasa kuliah.
"Apa dia akan lebih memilih Paman ku?" tanya Jax.
Dia sedang melihat ke arah luar gedung.
Lampu lampu malam terlihat seperti bintang berwarna warni dari dalam kantor tempat saat ini Jax melihat keluar jendela ruang kantornya bekerja.
"Apa mereka sudah jadian?" tanya Jax.
"Tapi mereka terlihat seperti bukan sepasang kekasih. Mereka masih sama seperti dulu saat masih berkuliah" kata Jax.
Disaat Bob menggandeng tangan Flow dengan erat disaat itulah dari kejauhan Jax melihat dan memperhatikan segala gerak yang mereka berdua ciptakan hanya sebuah akting semata bukanlah menunjukkan status mereka yang sebenarnya.
Karena dia tahu mereka adalah dua mahasiswa didalam bidang mereka meski terlihat sangat natural tapi Jax tidak bisa di bohongi oleh Bob dan Flow.
"Terlihat menyedihkan" kata Radan.
"Siapa?" tanya Leo.
"Aku" kata Radan.
"Kau hebat" kata Leo.
"Jika aku memaksakan untuk terus maju. Aku akan menyiksa hati wanita itu" kata Radan.
"Kau sedang patah hati?" tanya Leo.
"Tidak" kata Radan.
"Katakan saja bahwa kau menyukai Flow" kata Leo.
"Darimana kau tahu?" tanya Radan.
"Anak kecil pun bisa langsung tahu. Kalau kau menyukainya" kata Leo.
"Kenapa aku begitu memalukan?" tanya Radan kepada dirinya sendiri.
"Kenapa harus pesimis harus optimis kawan?" tanya Leo.
Flow dengan masker yang sudah ia pakai ketika akan tertidur berbaring dengan selimut hijau tebal.
Memikirkan tentang kisah percintaan sendiri.
Dia sedang memikirkan siapa di antara mereka jika ia memilih salah satu dari mereka memiliki resiko yang bisa ia tangani.
"Apa aku terlalu pemilih?" tanya Flow.
__ADS_1